
“Kalau begitu kau tidurlah di kamar sebelah. Tuan Hazar akan tidur di sini.”
Kata-kata Bibi Yona barusan terdengar jelas oleh Alin “jadi inilah alasannya memindahkan kamar bibi Fatma.” Rutu Alin.
“Baik Bibi.” Jawab Bibi Fatma.
Dengan malasnya Alin pun bangun. “Aku akan ke atas.” Ujar Alin, berjalan dengan menghentakan kakinya. Ia terlihat sangat kesal sekarang. Ia pergi dari sana, tanpa menyapa Bibi Fatma dan Bibi Yona yang masih berdiri di dekat pintu.
***
“Hoaaah...!” Alin kembali menguap, matanya sudah tampak berair.
“Kalau kau masih mengantuk, lebih baik kau tidur saja lagi.” Ujar Hazar yang sudah duduk di meja makan. Alin yang baru datang pun ikut menyusul duduk di samping Hazar. Matanya yang tampak lelah melototi Hazar sejenak, kemudian menenggelamkan mukanya pada lengannya yang terlipat di atas meja.
Hazar mengusap kepala Alin yang tertelungkup di atas meja “Apa perlu aku yang menghubungi Papa Haris?” Tanya Hazar.
Alin menepis tangan Hazar dari kepalanya “Kakak diamlah! Aku sedang tidak ingin mendengar suara kakak!” Alin kembali menelungkupkan kepalanya.
“Kau terlihat sangat kelelahan, tidak baik jika kau paksakan untuk tetap bekerja saat ini.” Hazar menyeringai.
Alin mengangkat kepalanya “Sudah tahu kalau semua ini tidak baik. Tapi masih saja mengganggu tidurku.” Alin mendengus.
“Hahaha, apa aku mengganggu tidurmu? Tanya Hazar terkekeh. Tawa Hazar terhenti oleh getaran ponselnya, tanda ada sebuah panggilan masuk dari Pak Naf. Hazar bangkit dari duduknya berjalan agak menjauh dari Alin.
Alin tidak menghiraukan kepergian Hazar, ia tetap melanjutkan sarapannya “Mengapa rasa susunya sangat aneh!” Alin kembali meletakan gelas susu yang baru diminumnya seteguk.
“Mengapa tidak kau habiskan!” Terdengar suara Hazar dari belakang.
“Rasanya sangat aneh.” Ujar Alin.
“Meski rasanya aneh, kau harus tetap menghabiskannya.” Hazar kembali duduk di tempatnya.
“Akan aku minum nanti.” Alin kembali sibuk dengan sendoknya.
“Aku akan berangkat sekarang” Hazar menatap Alin, yang terlihat tidak tertarik dengan keberadaannya. Hazar menghela napas, lalu berdiri dan meraih wajah Alin dengan kedua tangannya, mengalihkan wajah itu untuk beralih menatap wajahnya “Apa kau tidak mendengarku?” Tanya Hazar.
“Ya, Kakak pergilah. Aku masih belum selesai” Jawab Alin dengan mulut penuhnya, sambil mengacungkan sendok di tangannya.
“Ya habiskanlah sarapanmu” Hazar mengusap saus tomat yang menempel di sudut bibir Alin dengan jarinya, kemudian memberi sebuah kecupan di sana “Aku pergi” Lanjut Hazar.
Kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Alin hanya mendengus, kemudian menjilati sudut bibirnya bekas usapan dan kecupan Hazar, dan kembali melanjutkan sarapannya.
“Bibi!”
“Iya Nona.” Bibi Yona datang dari pintu belakang “Ada yang bisa saya bantu Nona?”
“Iya ada Bibi” Alin menghabiskan sisa susu di gelasnya “Siapa yang membuatkan susu ini?”
“Fatma yang membuatnya Nona.”
“Hmmm, mengapa rasanya agak aneh, tidak seperti yang biasanya.” Gumam Alin.
“Kami menggantikan merek susu Anda Nona.” Ujar Bibi Yona, yang bisa mendengar gumaman Alin barusan.
“Mengapa kalian menggantikannya? Ini sangat tidak enak.”
“Tuan Hazar yang memintanya Nona.”
“Cih, dia lagi.” Rutu Alin.
***
Saat tiba di rumah sakit Alin langsung menuju lantai paling atas, tempat ruangan Papanya berada.
“Su-sudah Nona” Dina gelagapan oleh kemunculan mendadak Alin, dia langsung berdiri.
“Terimakasih, Mbak Dina boleh kembali bekerja.” Alin langsung membuka pintu ruang kerja Papanya, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Haris yang sudah bisa mendengar suara Alin dari dalam, tidak terlalu terkejut oleh kemunculan putrinya itu. “Ada perlu apa kau kemari?” Tanya Haris.
“Perkerjakan kembali dokter ini” Alin meletakan selembar kertas ke atas meja Haris.
“Untuk apa kau memperkerjakannya kembali?” Tanya Haris saat melihat biodata orang yang sedang mereka bicarakan.
“Apa Papa butuh alasan untuk memperkerjakan seorang dokter di rumah sakit?” Ketus Alin.
“Dia sudah di pecat karna ulahmu, dan sekarang kau mau memperkerjakannya kembali?” Haris mengerutkan keningnya. Menatap Alin penuh sidik.
“Ya, karna itu aku minta Papa memperkerjakannya kembali. Dia akan bekerja mulai besok pagi, dan siapkan ruangan khusus untuknya. Dia akan menjadi dokter pribadiku.” Ujar Alin.
“Masih banyak dokter spesialis kandungan terbaik di sini. Mengapa kau memilih dia yang baru lulus beberapa tahun ini?”
__ADS_1
“Apa peduli Papa! Cukup turuti apa yang aku mau.” Alin berbalik badan hendak keluar dari ruangan Papanya. “Ah, apa Papa keberatan? Apa perlu Hazar yang menyampaikan permintaanku barusan.” Alin kembali menatap Papanya.
“Apa kau sudah bisa menerima Hazar?” tanya Haris.
“Apa aku pernah menolaknya!” Alin balik bertanya. “ah iya, aku lupa. Dulu aku hanya dipaksa menikahinya.” Alin menyeringai.
“Dia laki-laki yang baik. Jangan membuat kesalahan yang sama sepertiku, kau akan menyesal dikemudian hari.” Haris berkata lirih.
“Memangnya apa yang Papa pikirkan!” Alin kembali mendekat pada Haris.
“Kau pasti memiliki rencana terselubung, dengan memperkerjakan dokter ini.”
“Itu bukan urusan Papa. Dan jangan ikut campur dalam urusanku lagi.” Alin melangkah keluar dari ruangan Papanya.
Saat Alin hendak masuk ke dalam lift. Ia bertemu dengan Amel yang saat itu hendak keluar dari lift. “Apa kabar Tante?” Alin menyeringai. Menyunggingkan senyumannya.
Amel menyipitkan matanya. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Amel sinis.
“Apa lagi yang di lakukan oleh dokter di rumah sakit! Tentu merawat orang yang terluka Tante.” Ujar Alin. Senyuman masih terukir di bibirnya.
“Apa suamimu sudah tidak sanggup lagi memberimu uang?” Amel tersenyum sinis.
“Dugaan Bibi Fatma memang benar. Bahkan kata-katanya hampir sama” Alin membatin.
Alin merogoh tasnya. “Apa tante pernah melihat ini!” Alin mengipas-ngipaskan kartu pemberian Hazar. Mata Amel tampak terbelalak. Dia yang berstatus Nyonya di keluarga besar yayasan SH, belum pernah memegang kartu itu, dia hanya berangan-angan agar bisa memiliki kartu itu saat putranya di angkat kelak.
“Apa Tante belum menyelidiki latar belakang suamiku?” Alin sedikit mendekat pada Amel.
“kekayaan Kakek hanya separuh dari kekayaannya. Oh!” Alin terbelalak, menutup mulutnya. “Tante belum tahu itu!”
“Mama!” David muncul dari lift. “Lo juga disini? Apa Papa sudah memecat Lo!” David menyeringai pada Alin.
“Bukan. Papa hanya memanggil Gue untuk memberitahu, bahwa dia akan kembali memperkerjakan dokter Qori, untuk di jadikan dokter pribadi Gue” jawab Alin. Membalas seringai David.
“Kayaknya Papa masih tidak peduli sama Lo! Masa untuk calon cucunya saja, dia hanya memberikan dokter gadungan seperti itu.”
“Yang gadungan itu Lo!” Alin menunjuk dada David. “Lo lupa. Lo hanya lulus karna Mama Lo, mau aja jadi Baby siternya para dosen. Beda ama dokter Qori, yang lulus dengan predikat terbaik.”
“Kau!”
Alin menahan tangan Amel yang hendak melayang ke pipinya. Menghempaskannya dengan kasar, hingga membentur dinding.
__ADS_1
“Aww!” pekik Amel. Punggung tangannya menghantam dinding dengan keras.
David tentu tidak tinggal diam, saat melihat mamanya di perlakukan seperti itu. Dia hendak mendorong Alin, namun alin kembali bisa menghindar. Amel yang saat itu berada di dekat Alin, kembali bertindak, ia langsung menjambak rambut Alin dengan kasar. Alin tidak menjerit saat kulit kepalanya terasa hampir terlepas, karna kuatnya jambakan Amel. Ia langsung menginjak kaki Amel dengan sentakan kuat, hingga rambutnya pun terlepas, namun kuku Amel tidak dapat Alin hindari hingga melukai pipinya.