
Alin langsung terdiam, tiba-tiba saja Hazar menegak dan menangkup pundaknya, membuat posisi mereka saling berhadapan.
“Dengarkan aku, baik-baik! Sebelum bertemu denganmu, tidak ada yang namanya wanita dalam hidupku. Kau yang pertama, hanya kau wanitaku saru-satunya! Dan hanya kau wanita yang pernah menolakku!” Mata Hazar menatap Alin penuh keseriusan.
Alin tertegun, seluruh tubuhnya meremang mendengar ucapan Hazar barusan. Mata dan hidungnya dijalari rasa panas hingga wajah Hazar yang dipandanginya terlihat membayang sebab matanya telah berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Hazar akan mengungkapkan perasaan padanya.
Kepala Alin tertunduk, sambil mengusap air matanya. “Tetap saja Kakak harus menikahi wanita lain.” ujar Alin.
Hazar melepaskan tangannya dari pundak Alin. Ia langsung membuang muka. Mengapa topik yang sangat dihindarinya ini harus terkuak juga.
“Istirahatlah, ini sudah malam.” Hazar bangkit dari duduknya. Ia masih menghindar dari masalah ini. Sebab ia masih tidak memiliki cara untuk meyakinkan Alin, kalau mereka akan tetap bahagia menua bersama, meski tanpa kehadiran seorang anak.
“Aku tahu, kalau Kakek Tomi sedang dirawat di rumah sakit teman Papa, sekarang!”
Hazar memejamkan mata, langkahnya langsung terhenti saat mendengar penuturan Alin.
“Kakak tahu... bagaimana menyedihkannya menjadi aku, saat Mama dan Papa berusaha membohongiku sebelum mengantarkan Kakek ke rumah sakit. Mereka terus saja memaksa tersenyum dengan muka kaku mereka. Apa Kakak pikir itu semua tidak menyakitkan bagiki! Aku juga terpaksa mengikuti permainan mereka, aku ikut berpura-pura tidak tahu. Aku bahkan tersenyum mengantarkan kepergian Kakek!”
Hazar membalikkan badannya, menatap Alin yang menangkupkan wajah ke telapak tangan, punggung istrinya itu terlihat naik turun disertai dengan suara isakan yang memilukan.
“Apa kau pikir, dengan aku menikah lagi, akan membuat Kakek sembuh?”
Alin mengangkat wajahnya, menatap pada Hazar. Mata suaminya itu terlihat sudah memerah dengan rahang yang mengeras.
“Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Apa kau pikir mudah bagiku untuk menikah lagi! Kau anggap apa, aku? Kau dengan mudahnya mengatakan kepada Mama kalau kau mengizinkanku untuk menikah lagi. Apa pernikahan ini samasekali tidak ada artinya bagimu? Apa kau juga berpikir kalau pernikahan ini hanya sebatas kontrak kerja sama!” Muka Hazar tampak memerah, menatap Alin dengan sorot mata gelap, napasnya terbuang dengan cepat dan pendek.
Hazar menghempaskan pintu kamar dengar keras. Ia tidak bisa menyelesaikan masalah ini seperti yang Papa Adi sarankan padanya tadi sore. Yang mengatakan, untuk tidak keluar dari kamar sebelum masalah mereka tuntas. Ia sangat takut sekarang, ia takut tak akan bisa mengendalikan dirinya, ia takut tidak akan mampu mengendalikan emosinya. Sebab banyak rasa yang berkecamuk di dadanya sekarang. Rasa marah, putus asa, tak dicintai, dan hampa melebur memenuhi relung dadanya.
Tangisan Alin kembali pecah melihat kepergian Hazar dalam keadaan marah padanya. Bunyi hempasan pintu yang keras seakan memberi pukulan pada dadanya yang sesak. Alin merosot ke lantai. “Bukan ini yang aku inginkan.” Alin terisak.
***
“Kalau Hazar tidak mau, biar Mama saja yang mencarikan calon istri untuknya!” seru Mama Rosa, berang. Ia dan suaminya sudah bersitegang dari tadi. Ia yang tetap ngotot untuk meminta Hazar nikah lagi, sementara suaminya, selalu membela anaknya dan mengatakan tidak akan mengizinkan Hazar untuk nikah lagi.
“Alin juga sudah mengizinkannya untuk menikah lagi. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan sekarang.” Napas Mama Rosa terbuang dengan cepat, Mata tajamnya menantang Papa Adi yang berdiri di depannya.
“Yang akan menikah lagi itu Hazar, bukan Alin. Kamu yang paling tahu tentang Hazar. Seperti apa anakmu itu dulu sebelum mengenal Alin. Apa kamu pernah berpikir dari sudut pandangnya? Apakah akan cukup dengan hanya dia menikah lagi?” Papa Adi menatap penuh memohon pada Mama Rosa.
“Akan aku carikan wanita yang sama seperti Alin.”
__ADS_1
“Yang disukai anakmu itu Alin, bukan wanita seperti Alin. Meski kamu menemukan seorang wanita yang sangat mirip dengan Alin, bukan berarti wanita itu Alin, yang akan dicintai juga oleh anakmu! Hazar sudah dewasa dia juga sudah menjadi kepala keluarga dalam keluarga kecilnya. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri.”
“Sampai kapan pun Hazar tetaplah anakku, aku memiliki hak atas dirinya. Jika kamu tidak setuju, jangan ikut campur!” sembur Mama Rosa.
Perdebatan mereka semakin memanas, Mama Rosa bahkan sudah mengeluarkan kata “kamu” Pada Papa Adi. Ini adalah pertengkaran terhebat mereka selama menjadi suami istri.
Papa Adi menghela napas panjang. “Terserah kamu mau berbuat apa. Tapi jangan memeper keruh keadaan rumah tangga anakmu. Jangan sampai karna ulahmu rumah tangga Alin dan Hazar jadi berantakan. Kamu sendiri tahu bagaimana gilanya Hazar, jika ia sampai lepas kendali.” Papa Adi langsung keluar dari ruang rawatan Mama Rosa.
Flashback
Hazar remaja.
Tidak seperti remaja pada umumnya...
Yang senang berkumpul dengan teman-teman sejawat. Menjalin hubungan asmara dengan wanita yang disukai. Menghabiskan waktu dengan bermain games dan jalan-jalan bersama orang terkasih.
Itu semua tidak berlaku bagi Hazar...
Menjalin asmara?
Nyaris mustahil.
Hazar menatap sekelompok anak laki-laki yang sedang berkumpul di sudut kelas. “Kalian mau?” Tanpa menjawab dan harus ditanyai untuk yang kedua kalinya. Segerombolan anak laki-laki itu pun berhamburan mengosongkan meja Hazar. Sementara anak perempuan hanya bisa melongos melihat kado mereka yang dibuka oleh orang yang salah. Namun itu tak membuat mereka jera.
Saat kuliah di luar negeri Hazar pernah dibawa ke kantor polisi, dengan tuduhan telah berbuat kasar pada teman perempuan satu kampusnya. Hari itu juga Papa Adi terpaksa harus terbang ke luar negeri untuk membebaskan putranya itu.
Saat Papa Adi menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, Hazar dengan santainya menjawab.
“Dia berusaha melecehkan aku, Pa. Kalau Papa masih tidak percaya, lihatlah sendiri.” Hazar menunjuk petugas polisi yang menginterogasinya tadi.
DI dalam Video memperlihatkan Hazar yang sedang tidur berbaring di kursi panjang di sudut kelas yang kosong. Tiba-tiba si anak perempuan masuk, sebelum menutup pintu anak perempuan itu terlihat celingukan memperhatikan situasi di luar kelas, kemudian mengunci pintu dari dalam. Dengan langkah pelan dan hati-hati si anak Perempuan menghampiri Hazar, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hazar. Hazar yang kaget pun langsung bangkit sebelum wajah si anak Perempuan nyaris menyentuh wajahnya. Alhasil, perbenturan kepala yang cukup keras pun tak bisa dihindari, kepala Hazar membentur hidung si anak perempuan hingga mengeluarkan darah. Si anak peremluan yang juga ikut kaget dan mendapat pukulan yang cukup keras di wajahnya pun oyong dan kehilangan keseimbangan. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, tubuh si anak perempuan terpental jatuh dari tangga kelas. Hingga mengakibatkan luka yang cukup parah.
Meski terbukti tidak bersalah, Hazar tetap harus ditahan selama semalam di kantor polisi. Karna di Video Hazar terlihat hanya melongo memandangi si anak perempuan yang sudah tidak sadarkan diri. Tanpa memeriksa keadaan si anak perempuan Hazar malah langsung keluar dari kelas.
“Kau bisa saja menahan tangan anak perempuan itu agar tidak jatuh, mengapa tidak kau lakukan?” tanya Papa Adi Paginya setelah Hazar dibebaskan, Papa Adi mengajaknya untuk makan disalah satu restoran terdekat.
“Aku tidak suka disentuh dan menyentuh orang asing.” jawab Hazar datar, tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Papa Adi memandang Pak Naf yang saat itu masih menjabat sebagai Sekretarisnya. Seakan mengerti Pak Naf pun pamit meninggalkan ruangan.
Papa Adi meletakan sendoknya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap putra semata wayangnya yang duduk di depannya.
Hazar tak menghiraukan Papanya yang sedang memerhatikannya. Ia tetap melanjutkan sarapannya.
“Apa kau tidak bosan hidup sendirian seperti ini? Tanpa teman dan kekasih,”
“Hidupku akan lebih membosankan jika ada mereka.” jawab Hazar tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Kau hanya belum mencobanya. Kau tidak akan bisa hidup sendirian sampai tua nanti. Kau membutuhkan orang lain, Hazar. Setidaknya kau membutuhkan seorang kekasih, yang nantinya akan kau nikahi dan memiliki anak bersamanya.”
“Aku tidak membutuhkan itu. Aku sudah selesai.” Hazar langsung berdiri. “Aku ada kelas pagi ini.” Tanpa pamit Hazar langsung pergi meninggalkan ruangan.
Setahun setelah kelulusan Hazar, dan dia telah diberikan jabatan oleh Papa Adi di perusahaan.
Melihat putra semata wayangnya telah sukses dan dewasa, Mama Rosa pun mulai menjodoh-jodohkan Hazar. Mulai dari anak sahabatnya, artis, anak pejabat, hingga model, yang ke semuanya tidak diragukan lagi kecantikannya. Dua tahun berlalu, usaha Mama Rosa tak membuahkan hasil. Jangankan untuk sekedar kencan, seperti pergi makan bareng dan pergi ke bioskop. Untuk mempertemukan Hazar dengan wanita saja Mama Rosa tidak pernah berhasil, Hazar selalu saja punya alasan untuk menolak.
Hingga satu bulan setelah kepulangan mereka dari makan malam di rumah dokter Haris, tanpa diminta Hazar langsung menunjukkan foto Alin pada Mama dan Papanya.
“Siapa ini?” tanya Mama Rosa heran, melihat foto Alin.
Hazar menyerahkan sebuah amplop pada Mamanya.
Mama Rosa langsung membuka amplop.
“Anak dokter Haris?”
Hazar mengangguk, “Jaga dia untukku. Aku akan menikahinya setelah dia lulus kuliah.”
Mata Mama Rosa dan Papa Adi sontak terbelalak mendengar ucapan Hazar barusan, disusul oleh senyuman kebahagiaan di bibir keduanya.
“Tidak akan Mama biarkan satu lalat pun yang bisa mendekatinya!” seru Mama Rosa berapi-api.
*
*
*
__ADS_1