
“Apa Alin pernah melakukan aborsi!? APA KALIAN PERNAH MEMBUNUH ANAKKU!?” Teriak Hazar histeris, kedua bola matanya telah memerah menahan amarah, tubuhnya bahkan bergetar sekarang.
Dokter Qori langsung menggeleng cepat, "Tidak, Tuan. Nona Alin tidak pernah aborsi, Tuan." Air matanya makin menganak sungai.
Dokter Qori meringis kesakitan, cengkeraman tangan Hazar di pundaknya terasa sangat menyakitkan. Dokter Qori kembali tertunduk tidak berani menatap Hazar.
Tak lama cengkeraman tangan Hazar berangsur melemah. Tangan Hazar merosot begitu saja ke bawah dan menyentuh lantai. Ia juga ikut terduduk di lantai tidak jauh dari tempat dokter Qori. Air mata Hazar lolos tanpa permisi. Banyak rasa yang berkecamuk di dalam dadanya sekarang, namun rasa tak berdayalah yang paling mendominasi.
Bobi dan tiga anak buahnya hanya bisa diam di tempat mereka, menatap iba pada pemandangan yang terlihat sangat mengenaskan itu.
Hazar mengusap air matanya, lalu berdiri dan kembali duduk di sofa. Matanya masih menatap marah pada dokter Qori.
“Katakan! Apa saja yang pernah diperintahkan Alin padamu? Jangan ada satu pun yang kau tutupi, bukan hanya kau yang akan hancur, keluargamu pun akan aku hancurkan jika kau menyembunyikan sesuatu lagi.”
Dokter Qori masih kesusahan untuk mengatur napas dan tangisannya, sambil terus memohon ampunan.
“CEPAT KATAKAN!!!” Hazar kembali berteriak. Kesabarannya sudah habis sekarang, untung saja yang terduduk tak berdaya di depannya sekarang adalah wanita, jika laki-laki mungkin tak ada lagi nyawanya orang itu.
“No-Nona Alin meminta saya untuk menyiapkan kontrasepsi suntik untuknya sekali sebulan, Tuan. Dia juga meminta saya untuk membuat diagnosa palsu untuknya. Nona Alin sebenarnya baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan rahim dan kesuburannya. Jadwal datang bulan Nona Alin pun teratur, hanya saja dia mengonsumsi obat penunda sejak menikah dengan Anda, Tuan.”
Hazar tertunduk, menelungkupkan mukanya pada telapak tangan. Apa ia harus bersyukur sekarang? Karna, ternyata Alin baik-baik saja.
Tapi mengapa Alin membohonginya sampai sejauh ini, apa Alin masih belum bisa menerima dirinya sebagai suami? Atau, Alin sudah memiliki laki-laki lain yang disukainya, hingga Alin melakukan semua ini untuk bisa lepas darinya dan akan pergi ke sisi laki-laki yang dicintainya itu.
“Tidak, apa pun yang terjadi aku tidak akan membiarkannya lepas dariku!” batin Hazar.
“Tu-Tuan!” Dokter Qori kembali bersuara, meski tubuh dan suaranya masih terdengar bergetar ketakutan.
Hazar mengangkat wajahnya menatap dokter Qori, pinggiran matanya masih tampak basah karna air mata.
“No-Nona Alin juga pernah meminta saya untuk meneliti sebuah obat, dan laporannya ada dalam ponsel saya.” Takut-takut dokter Qori menunjuk ponsel yang tadi dipegang Hazar.
Tanpa disuruh Bobi langsung meraih ponsel dokter Qori yang tergeletak di lantai. Lalu menyerahkannya pada dokter Qori.
“Ini, Tuan.” Dokter Qori kembali mengangkat ponselnya.
Bobi pun mengambil dan menyerahkan ponsel itu pada Hazar.
“Obat itu gunanya untuk merusak rahim, Tuan, dan dosisnya sangat tinggi. Jika seseorang mengonsumsinya lebih dari tiga, itu akan berakibat sangat fatal, rahim orang itu bisa saja tak akan bisa berfungsi lagi dan membusuk.” terang Dokter Qori.
__ADS_1
Bukan hanya Hazar, semua orang di ruangan itu juga ikut terkejut mendengar penuturan dokter Qori.
“Apa Alin juga mengonsumsi obat ini!?” Hazar menggenggam kuat ponsel di tangannya.
“Nona Alin waktu itu pernah keceplosan bicara dengan saya, dia bilang obat itu dimasukkan oleh seseorang ke dalam minumannya. Beruntung dia cepat mengetahuinya, Tuan, jadi Nona Alin belum pernah meminum obat itu.”
“SIAPA ORANGNYA!?”
Mendengar teriakan kemarahan Hazar, nyali dokter Qori kembali menciut, ia kembali menundukkan kepala dalam-dalam.
“CEPAT KATAKAN, APA KAU TULI!!?”
“Ma-Mama tirinya Nona Alin, dan, dan kepala ko-koki di rumah A-Anda, Tuan.”
PRANKK!!!
Hazar menghempaskan tinjunya pada meja kaca, hingga pecahan kaca berhamburan, dan sebagian ada yang tertinggal di tangan Hazar.
“Aaaa...!!! Ampun, Tuan. Ampun.” Dokter Qori terlonjak kaget, sontak saja ia kembali bersujud dan memohon pengampunan Hazar.
Dan bertepatan dengan itu, pintu apartemen Hazar dibuka seseorang dari luar.
Hazar menatap marah pada Papa Mertuanya.
“Jadi Papa tahu semua ini?”
“Suruh mereka semua keluar.” Papa Haris tidak menanggapi pertanyaan Hazar, dia malah kembali memberi perintah.
“Bobi, kalian semua keluarlah!” Papa Adi yang memberi perintah, sebab Hazar masih dikuasai oleh emosi, anaknya itu bahkan tak memalingkan sedikit pun pandangannya dari Haris.
Mama Rosa mengambil sapu tangan dari dalam tasnya sambil berurai air mata, mendekat pada Hazar. Hatinya kembali sakit, sebab dalam beberapa hari ini Ia selalu mendapati anaknya dalam keadaan terluka.
Hazar menjauhkan tangannya saat Mama Rosa nyaris meraihnya. “Ada perlu apa kalian ke sini?” Hazar membuang muka, tidak mau menatap Mamanya.
Papa Adi menghela napas panjang, menatap prihatin pada anak dan istrinya.
“Sepertinya kamu sudah tahu dari dokter Qori, kalau Alin telah berbohong pada kalian.” Papa Haris menatap Hazar. “Maafkan, Papa. Semua ini salah Papa. Papa juga tidak tahu apa alasannya Alin sampai berbuat sejauh ini. Yang Papa tahu, dia hanya tidak ingin bernasib sama seperti Mamanya.” Mata Papa Haris berkaca-kaca. “Maafkan, Papa.” Papa Haris cepat mengusap air matanya yang jatuh.
Hazar kembali terduduk, menelungkupkan mukanya, ia kembali menangis terlihat dari gerakan punggungnya yang naik turun. Isakannya terdengar sangat memilukan.
__ADS_1
Mama Rosa sudah terisak sejak tadi, ia bahkan terlihat kesusahan mengambil napas.
Sambil mengusap punggung istrinya Papa Adi terus saja mengerjapkan matanya, menengadah, berusaha untuk tidak hanyut dalam tangisan ketiganya.
Mama Rosa menjauhkan tangan Papa Adi dari punggungnya, lalu bergeser mendekat pada Hazar. Mama Rosa menarik punggung anaknya, membenamkan tubuh rapuh itu ke dalam dekapannya. “Maafkan, Mama. Maafkan, Mama.” gumam Mama Rosa sambil menepuk halus punggung Hazar yang masih berada dalam dekapannya.
Papa Haris meletakkan secarik kertas ke atas sofa di samping Hazar. “Ini alamat vila Mama Diana, Alin ada di sana sekarang.”
Hazar langsung menegakkan kepalanya, mengambil kertas alamat vila tempat istrinya berada.
Papa Adi, Mama Rosa, dan Hazar serentak menatap ke arah Papa Haris. Mengapa baru memberitahu mereka sekarang? Mungkin itulah arti tatapan ketiganya.
Hazar tidak mau berlama-lama lagi membuang waktu, dengan diantarkan oleh pak Sukri Hazar langsung meluncur menuju vila.
***
Mama Rosa.
Terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga konglomerat, menjadikannya sebagai pribadi yang kuat dan memiliki ambisi yang besar. Ia sudah dilatih oleh Mama dan Papanya sejak ia kecil untuk menjadi pemimpin masa depan perusahaan keluar mereka. Dalam dunia bisnis tentu banyak hal buruk yang dapat terjadi, seperti kasus penculikan anak konglomerat, sakit hatinya para karyawan yang sudah dipecat, atau dendamnya lawan bisnis, membuat papa Tomi khawatir akan keselamatan anak gadisnya. Karna itulah Mama Rosa juga dilatih dalam ilmu bela diri. Sejak seumur hidupnya Mama Rosa terbilang sudah empat kali ikut turun tangan dalam perkelahian menghadapi preman bayaran lawan bisnisnya, dan dia juga pernah mengalami luka berat di beberapa bagian tubuhnya.
“Sudahlah, Ma! Biar Bobi saja yang membereskan Amel dan Angel. Ini bukan bagian yang harus Mama urus.” Papa Adi mencoba membujuk Mama Rosa yang sedang dikuasai emosi setelah mendengarkan penjelasan dokter Qori tentang obat mandul yang diberikan oleh Angel dan Amel pada minuman Alin.
Papa Adi hanya bisa menghela napas, kalau istrinya kembali ke jalan labrak-melabrak sudah bisa dipastikan akan banyak yang terluka nantinya. “Balas dendam harus sepuluh kali lipat lebih kejam dari kejahatan yang sudah orang itu perbuat.” Ini adalah moto balas dendam yang tertanam dalam kamus istrinya.
Papa Haris pun juga baru mengetahui tentang obat itu, yang ia tahu selama ini hannyalah tentang alat kontrasepsi dan pemalsuan rekam medis Alin. Dia sama sekali tidak diberi tahu oleh dokter Qori tentang obat itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Amel adalah dalang dibalik semua ini. Awalnya tadi Papa Haris ingin langsung pulang dan melabrak wanita itu, tapi urung karna Mama Rosa memiliki rencana lebih indah dari pada langsung main labrak.
“Ma, ingat Angel adalah anaknya Pak Naf, dan Amel adalah besan Mama.” Papa Adi masih berusaha mengurangi resiko terjadinya balas dendam sepuluh kali lipat.
“Apa mereka tidak berpikir sebelum memberi obat itu pada Alin. Angel apa dia tidak berpikir, bahwa Alin adalah istri dan menantu dari keluarga yang sudah membiayai hidupnya, dan Amel apa dia tidak berpikir kalau Alin adalah anak suaminya!” Emosi Mama Rosa malah makin tersulut. “Bahkan dengan menguliti mereka hidup-hidup tidak akan menghapus dosa mereka pada Alin.”
“Tapi, Alin sama sekali tidak pernah meminum obat itu.”
“Papa, diamlah!” seru Mama Rosa berang. Papa Adi langsung terdiam, dan tidak berani bersuara lagi. Semangat hidup istrinya yang hilang beberapa hari ini, langsung kembali dengan emosi yang membuncah.
*
*
*
__ADS_1