
Usai pertengkarannya dengan Alin, Hazar langsung pergi dari rumah. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kota. Ia bahkan mengabaikan suara deringan dari ponselnya yang sejak tadi berbunyi.
*
“Selamat pagi, Nona.” Sapa Karin saat Alin baru saja keluar dari kamar. Alin terlihat sudah siap untuk pergi bekerja.
“Pagi, Mbak Karin.” Alin terlihat kecapean, ia bahkan menjawab sapaan Karin dengan pelan, tidak bersemangat seperti yang biasanya. bahkan ada lingkaran hitam di sekitar mata Alin. “Apa Mbak sedang menunggu Kak Hazar? Dia tidak ada di dalam.”
“Saya ke sini untuk menemui Anda, Nona. Bukan Tuan Hazar.”
“Aku?” Alin mengerutkan keningnya.
“Iya, Nona. Siang ini Anda dijadwalkan untuk bertemu dengan tim kuasa hukum perusahaan Tuan Hazar.”
“Kuasa Hukum?” Kening Alin tampak berkerut. Berbagai macan prasangka langsung memenuhi kepalanya.
“Iya, Nona.”
Alin menatap wajah Karin dengan saksama. Mencoba mencari jawaban dari ekspresi wajah Karin. Tapi, Karin terlihat biasa saja, tidak ada berekspresi, sama seperti kemarin-kemarin, mukanya selalu datar dan kaku.
Alin pun enggan untuk bertanya.
“Baiklah, di mana aku harus menemui mereka?”
“Mereka akan ke sini nanti siang, Nona.”
“Siang? Aku harus ke rumah sakit untuk bekerja.”
“Maaf, Nona. Tuan Hazar tidak mengizinkan Anda untuk meninggalkan rumah sebelum Anda menemui pengacaranya.”
Alin menghela napas panjang. “Baiklah.” Alin memutar badannya, kembali masuk ke kamar.
Alin terlihat kosong, ia bahkan berjalan dengan mata dan pikiran yang menerawang entah ke mana. Lamunan Alin buyar, sebab ponsel yang ia simpan di dalam tas jinjingnya berdering. Sebelum merogoh isi tas, Alin terlebih dahulu mendudukkan dirinya di atas ranjang. Entah mengapa untuk sekedar berdiri saja ia sudah merasa lelah.
Mama Rosa, begitu nama yang tertera di layar ponselnya.
“Halo, Ma.”
*
“Anda mau kemana, Nona?” Karin mencegat langkah Alin yang nyaris mencapai pintu.
Alin menghela napas, “Aku mau menemui Mama Rosa, apa juga tidak boleh?”
“Tuan Hazar, melarang Anda untuk meluar dari rumah, Nona. Sebaiknya Anda tetap di rumah saja, sebelum Tuan Hazar kembali.”
“Mama Rosa sudah menungguku, dan aku sudah mengiyakan ajakannya untuk bertemu. Yang ingin aku temui mamanya Kak Hazar, bukan orang lain!” Alin sudah mulai terlihat kesal.
Dengan diantarkan oleh Bobi, dan Karin, Alin pun akhirnya bisa keluar dari rumah. Tentu dengan perdebatan dan berbagai macam janji yang Alin kemukakan, agar Karin mengizinkannya menjumpai Mama Rosa di sebuah cafe. Dan putusan terakhir Karin harus ikut serta menemaninya ke cafe.
Saat sampai di tempat yang telah dijanjikan, ternyata Mama Rosa sudah sampai duluan di sana. Alin naik ke lantai dua cafe, Karin masih setia mengekorinya di belakang. Ternyata Mama Rosa tidak sendirian di sana, dia ditemani oleh seorang wanita cantik yang duduk manis di sampingnya. Mama Rosa langsung berdiri menyambut kedatangan Alin, memberi pelukan, cium pipi kanan, dan pipi kiri. Sikap Mama Rosa masih sama, tak ada yang berubah.
Alin duduk berhadapan dengan wanita cantik kenalan Mama Rosa. Wanita itu memandangnya dengan tatapan tak bersahabat, namun Alin tak terlalu ambil pusing. Alin menyapu seluruh cafe dengan pandangannya, cafe terlihat kosong, hanya ada mereka berempat di sana.
“Mbak Karin, duduklah.” Alin meminta Karin untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Tidak usah!” Mama Rosa langsung melarang. “Karin, kamu tunggulah di bawah.” Perintah Mama Rosa.
“Maaf, Nyonya. Tuan Hazar meminta saya untuk selalu berada di dekat Nona Alin jika ke luar dari rumah.”
Mendengar penuturan Karin barusan si wanita cantik langsung tergelak, namun hanya sebentar, ia kembali diam dan berpura-pura tidak ada yang terjadi.
Karin menatap penuh ketidak sukaan pada si wanita cantik itu.
"Karin, tunggulah di bawah." Mama Rosa kembali bersuara.
“Mbak Karin, pergilah. Aku tidak akan bisa pergi ke mana-mana, lagian ada Mama juga di sini.” Alin ikut menimpali, sebab Karin terlihat masih enggan beranjak dari tempatnya.
“Tapi, Nona.”
Alin menatap Karin penuh keyakinan, dan itu berhasil.
“Saya akan menunggu Anda di bawah, Nona.”
Saat hanya tinggal mereka bertiga di sana. Mama Rosa pun mengenalkan Alin pada si wanita cantik berambut panjang itu.
“Alin, kenalkan ini Luna, sepupu Hazar.” Mama Rosa tersenyum pada Alin, kemudian beralih menatap wanita cantik di sampingnya yang ternyata bernama Luna itu. “Luna, ini Alin istri pertama Hazar.” Lanjut Mama Rosa.
Alin memaksakan tersenyum pada Luna yang juga terlihat menyeringai ke arahnya. Mama Rosa memperkenalkannya pada Luna sebagai istri pertama Hazar, apa Luna yang akan menjadi istri kedua Hazar?
“Tante harap kalian bisa dekat dan akrab,” Mama Rosa menatap Alin dan Luna bergantian.
prasangka Alin kembali kuat, saat mendengar ucapan Mama Rosa barusan. Luna lah yang akan menjadi istri kedua Hazar.
Obrolan diantara mereka bertiga pun berlanjut, meski kaku dan kurang mengenakkan. Hanya Mama Rosa yang banyak bercerita, sementara Alin dan Luna hanya sekali-sekali menanggapi. Mama Rosa masih belum menyebutkan pada Alin, bahwa Luna adalah calon istri Hazar.
Saat Mama Rosa telah hilang di balik pintu, Luna pun mengubah posisi duduknya. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman, melipat kakinya dan melipat kedua tangannya, bersedekap, menatap tajam pada Alin.
Alin pun melakukan hal yang sama, hanya ekspresi wajah mereka yang berbeda. Alin hanya menatap acuh pada Luna.
“Gue ngga mau jadi istri kedua. Kalau lo emang sudah mengizinkan Kak Hazar untuk nikah lagi, berarti lo sudah mempersiapkan diri.” Luna diam sejenak. ”Ceraikan Kak Hazar! Tante Rosa dan kedua orang tua gue sudah menentukan tanggal pernikahan. Kami akan menikah minggu besok. Lo bisa menggugat cerai Kak Hazar setelah pernikahan kami.”
Alin terdiam mendengar penuturan Luna barusan.
"Sebenarnya Tante Rosa masih belum ingin memberitahu lo, kalau gue adalah calon istri Kak Hazar. Katanya dia masih merasa kasihan sama lo. Tapi tetap saja, lo harus tahu tentang ini."
Tak lama Mama Rosa pun kembali bergabung dengan mereka. Luna langsung berhenti bicara.
Tepat pukul sebelas Mama Rosa pun pamit pada Alin. Katanya ada suatu tempat yang ingin dikunjunginya bersama Luna. Mereka pun berpisah di cafe.
“Mama pergi dulu, kamu baik-baik di rumah dengan Hazar.” Mama Rosa kembali memeluk Alin.
“Iya, Ma.”
***
Hazar mengerjapkan matanya, ponselnya yang ia simpan di jok belakang terus saja berbunyi. Ia menatap sekeliling, ternyata ia ketiduran di dalam mobil yang terparkir di pinggir danau.
Dengan malasnya Hazar pun meraih ponselnya. Ternyata Papa Adi yang menelepon.
“Halo, Pa.” jawab Hazar parau.
__ADS_1
“Di mana Kamu!” Hazar langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, suara Papa Adi membuat telinganya sakit, saking kerasnya suara Papanya tadi. “Apa kamu sedang bersama Alin?”
Hazar kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Tidak, dia ada di rumah. Memangnya kenapa, Pa?”
“Bodoh! Mengapa kamu tinggalkan dia sendirian di rumah. Sekarang pulanglah, jangan biarkan Mamamu bertemu dengan Alin.”
“Mengapa mereka tidak boleh bertemu?” tanya Hazar bingung.
“Mamamu sudah menentukan tanggal pernikahanmu dengan Luna sepupumu, dan dia ingin mengenalkan Luna pada Alin hari ini.”
Hazar langsung memutuskan panggilan telepon papanya. Ia langsung menghubungi nomer Karin.
“Di mana istriku?”
“Nona sedang bertemu dengan ibu Anda, Tuan.”
Hazar langsung mengumpat. “Bawa istriku pulang ke rumah sekarang juga!” Hazar langsung melempar ponselnya sembarangan, memacu kendaraan dengan kecepatan penuh meninggalkan tepian danau.
***
Karin langsung berlari ke lantai dua.
Kosong! Tidak ada satu pun orang di dalam cafe. Karin berjalan sedikit tergesa menghampiri meja yang tadi diduduki oleh Alin. Ia sedikit merasa lega sebab tas Alin masih tersimpan di atas meja. Namun kelegaannya hanya bersifat sementara. Ia telah mencari Alin di setiap sudut cafe, namun Alin masih tidak ditemukannya.
Karin menanyakan keberadaan ketiga orang yang duduk di lantai dua pada pelayan cafe yang dijumpainya.
“Mereka sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu, Nona.”
Karin langsung berlari keluar cafe. Ia bertemu dengan Bobi di sana.
“Ada apa?” tanya Bobi, ia dapat melihat kekhawatiran dari raut wajah Karin.
“Apa kau melihat Nona Alin?”
“Bukankah Nona Alin masih di dalam?” Bobi malah balik bertanya. “Saya hanya melihat Nyonya Rosa dan temannya saja yang keluar dari cafe.” Lanjut Bobi.
“Hubungi seluruh anak buahmu! Nona Alin sepertinya kabur. Dia tidak ada di dalam.”
Karin teringat akan sesuatu. Ia memeriksa isi tas Alin.
Sial! Ponsel Nonanya malah ada di sana, ia tidak akan bisa melacak keberadaan Alin.
Karin meraih ponselnya, menghubungi nomer Pak Naf. Ia meminta Pak Naf untuk memeriksa CCTV di jalanan sekitar cafe. Ia sendiri akan memeriksa CCTV cafe.
Bobi langsung menghubungi seluruh rekannya. Mereka langsung berpencar mencari Alin.
Sementara Hazar belum tahu tentang itu. Karna dia masih mengabaikan semua panggilan yang masuk ke ponselnya.
*
*
*
__ADS_1