Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 79


__ADS_3

Saat Alin hampir sampai di dekatnya, Hazar langsung memutar kursinya untuk menyamping dari meja kerjanya. Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Bersiap menanti Alin untuk ikut bergabung dengannya di sana.


Hazar menarik pinggang Alin, mendudukkan Alin di pangkuannya. Ruang kursi yang terasa sempit untuk mereka duduki berdua, itu malah membuat Hazar lebih leluasa untuk bisa menyentuh perut istrinya. Sejak semalaman perut Alin adalah tempat ternyaman bagi tangannya.


“Apa yang Kakak lakukan!?” Alin menggeliat mencoba melepaskan diri. Duduk di pangkuan Hazar dengan posisinya yang membelakangi terasa sangat tidak nyaman. Alin terdiam saat tiba-tiba saja ia merasa punggungnya menghangat. Ternya Hazar sedang bersandar di sana. Ia dapat merasakan helaan napas panjang Hazar dari balik punggungnya.


Alin menyentuh tangan Hazar yang berada di perutnya. “Kakak, capek?” tanyanya.


“Mau aku buatkan kopi?” Alin kembali bertanya, sebab pertanyaan pertamanya tak mendapat jawaban dari Hazar.


“Tidak usah, cukup dengan kau diam saja di sini.”


“Tapi aku mengantuk,” ujar Alin.


Hazar menegakkan punggungnya saat mendengar ucapan Alin barusan. “Mau istirahat?”


Alin menganggukkan kepalanya. “Di sofa saja,” Alin menunjuk sofa tempat duduknya tadi.


“Baiklah.”


“Kakak!” pekik Alin, saat ia telah berdiri pangkuan Hazar dan telah bersiap hendak melangkah, Hazar malah menggendongnya secara tiba-tiba.


***


“Baiklah, aku tunggu di kantor.” Papa Adi menutup panggilan teleponnya.


“Ada apa Haris meneleponmu?” tanya Kakek Tomi yang saat itu juga berada di ruangan Papa Adi.


“Akan lebih baik jika Papa mendengarnya sendiri dari Haris nanti.” Papa Adi menghela napas panjang. “Aku akan menghubungi Rosa dulu.”


*


Sementara itu Mama Rosa sedang berada di tempat penjual rujak. Ia tengah sibuk memilih buah-buah segar yang akan di bawanya pulang untuk menantu kesayangannya. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Alin.


“Jangan terlalu pedas. Menantuku sedang hamil muda, dia tidak boleh diare.” Ujar Mama Rosa pada si penjual rujak yang sedang meracik bumbu di atas ulekan.


“Baik, Bu!”

__ADS_1


“Apa Ibu punya nomer telepon? Biar saya bisa menghubungi Ibu langsung jika menantu saya mengidam rujak lagi. Saya jadi tidak kesulitan untuk mencari Ibu, jika nanti Ibu berpindah-pindah.” Tanya Mama Rosa pada si Ibu penjual rujak. Ya, rujak yang dibeli Mama Rosa saat ini adalah rujak pinggir jalan. Si Ibu menjual rujak menggunakan gerobak, dan tempat mangkalnya selalu berpindah-pindah tak tertentu. Tadi saat Mama Rosa bertanya tentang penjual rujak yang enak, Pak Sukri pun menyebutkan rujak Ibu Suaida. Jadilah hampir satu jam mereka berkeliling gang untuk mencari gerobak si Ibu. Demi Alin dan calon cucunya, apa pun akan Mama Rosa lakukan.


“Ada, Bu. Sebentar.” Ibu Suaida pun merogoh isi tasnya untuk mencari nomer ponselnya, sebab ia tidak hafal dengan deretan dua belas angka itu.


Dan saat itu ponsel Mama Rosa pun berdering. Ada panggilan masuk dari Papa Adi.


***


Hazar benar-benar tak percaya. Hanya dalam waktu beberapa menit istrinya sudah terlelap dalam dekapannya. Tadi mereka sempat berdebat tentang tempat tidur. Istrinya ingin tetap tidur di sofa ruang kerja, dan ia meminta pindah ke kamar. Alhasil mereka sekarang sama-sama terbaring di atas sofa ruang kerjanya.


Hazar merenggangkan dekapannya pada tubuh Alin. Karna ia ingin lebih leluasa untuk memandangi wajah wanitanya. Hazar menyibakkan rambut-rambut halus yang menutupi kening istrinya, kemudian ia meninggalkan sebuah kecupan di sana.


Hazar sebenarnya mau memindahkan istrinya ke kamar mereka. Tapi urung sebab ia takut Alin akan marah dan merasa kecewa saat terbangun nanti mereka malah berada di kamar. Jadilah Hazar membiarkan istrinya itu tetap berbaring di sofa. Hazar bangkit dan keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil selimut dan bantal. Dua menit kemudian ia kembali masuk ke ruang kerjanya.


Hazar mengangkat kepala Alin, menyelipkan bantal di bawahnya, kemudian ia menutupi tubuh istrinya dengan selimut. Ia kembali ke meja kerjanya, mengambil laptop dan ponsel miliknya, kemudian kembali ke sofa. Bukanya duduk di atas sofa, Hazar malah memilih duduk di lantai beralaskan karpet tebal. Ia meraih tangan Alin dan meletakan tangan itu di punggungnya. Sekarang ia akan kembali melanjutkan pekerjaannya sambil ditemani oleh istri dan anaknya. Rasa ini sungguh sangat luar biasa, dan menyenangkan.


Saat Hazar sudah tenggelam dengan kesibukannya, ponsel yang semula ia letakkan di samping laptop pun berdering. Hazar segera menjauh dengan membawa ponselnya. Ia takut suara kebisingan dari ponselnya akan mengganggu tidur Alin.


Tak lama setelah itu Hazar kembali masuk ke ruang kerjanya. Sekarang ia tidak punya pilihan lain. Ia harus memindahkan istrinya ke kamar, karna ia harus pergi ke kantor sebentar. Karna Papa Adi dan Papa Haris sedang menunggunya di sana.


Saat telah memindahkan istrinya ke kamar, Hazar langsung turun ke lantai bawah. Di sana ia sudah ditunggu oleh Karin, Bibi Yona dan Bibi Fatma. “Karin, kau tetaplah di sini. Jaga istriku,” perintahnya.


“Baik, Tuan.”


“Baik, Tuan.”


“Katakan padanya kalau aku hanya pergi sebentar,” Hazar terlihat sangat risau untuk meninggalkan Alin seperti ini. Bagaimana kau Alin merasa sangat kecewa karna ia tidak ada di sani saat dia bangun nanti. Tapi juga tidak mungkin ia membawa istrinya untuk ikut bersamanya saat ini. Sebab istrinya harus istirahat dengan cukup, terlebih lagi ia tidak tega membangunkan tidur lelap istrinya.


“Baik, Tuan.”


“Segera hubungi aku jika dia bangun,” ujar Hazar lagi.


“Baik, Tuan.” Bibi Fatma dan Karin harus berkali-kali menjawab Hazar, sebab pesan-pesan Hazar sangat banyak dan tak ada habis-habisnya.


Dan pesan terakhir Hazar sebelum ke luar dari rumah. “Biarkan dia melakukan apa pun yang dia mau, tapi semua itu harus tetap aman. Jangan sampai membuatnya celaka.”


“Jangan terlalu mengekangnya, dia tidak boleh stres dan galau, turuti apa pun yang dia mau.”

__ADS_1


“Ingat! Hubungi aku jika dia bangun nanti. Dan laporkan semua kegiatannya padaku!”


***


Ternyata kegalauan bukan hanya Hazar sendiri yang merasakan, Mama Rosa pun juga sedang bimbang sekarang. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan rujak pada Alin, tapi ia malah dimintai Papa Adi untuk segera ke kantor.


Dengan berat hati Mama Rosa pun meminta Pak Sukri untuk mengantarkannya ke kantor suaminya. Saat di perjalanan Mama Rosa menghubungi nomer Hazar. Mama Rosa merasa sedikit lega, sebab kata Hazar Alin sedang tidur siang di rumah, mungkin ia tidak terlalu telat untuk memberikan rujak itu pada menantunya nanti. Mungkin Alin baru bangun tidur saat ia pulang nanti. Yang membuat Mama Rosa merasa heran adalah, ternya Hazar juga dimintai hadir di kantor saat ini. Apa ada yang tidak beres dengan perusahaan mereka? Perasaan perusahaan baik-baik saja selama Hazar mengurusnya seorang diri. Mengapa malah bermasalah saat suaminya yang mengambil alih sementara. Apa orang tua itu sudah tidak tahu lagi cara memimpin perusahaan setelah lima tahun pensiun? Mama Rosa berdecak heran sambil geleng-geleng kepala.


Namun semua prasangka Mama Rosa terbantahkan saat melihat Papa Haris juga ada di sana. Ternyata bukan masalah perusahaan melainkan masalah Alin dan Hazar. Mama Rosa mulai merasa gelisah melihat raut kusut semua wajah yang ada di sana. Mengapa sulit sekali rasanya ia untuk melihat Alin dan Hazar berbahagia.


***


Sekarang semuanya sudah berkumpul di ruangan Papa Adi. Mereka berlima duduk mengitari meja kaca. Kakek Tomi duduk sendirian di kursi tunggal, Papa Adi dan Mama Rosa duduk bersebelahan berhadapan dengan Papa Haris dan Hazar. Suasana ruangan tiba-tiba saja menjadi mencekam, karna tak ada seorang pun yang mau bersuara duluan.


Kakek Tomi menghela napas panjang, ia menatap satu-satu kepala yang tertunduk di depannya. Kemudian ia pun mulai angkat suara. “Ada apa dengan Alin?” tanyanya. “Bukankah kata kalian semalam dia baik-baik saja? Jika ada masalah kita hadapi sama-sama. Semua ini pasti ada jalan keluarnya.” Ujar Kakek Tomi penuh ketenangan. Dia yang paling tua di sana, tentu dia yang harus menjadi orang terkuat juga di sana. Anak-anak dan cucunya tidak boleh larut dalam kegalauan panjang ini.


Papa Haris mengangkat kepalanya, menatap satu-satu orang yang ada di sana. Ia menghela napas panjang sebelum kemudian mulai angkat bicara. “Saya minta maaf, karna baru memberi tahu Papa dan semuanya tentang ini.” Papa Haris kembali terdiam, ia kembali menatap satu-satu wajah yang ada di sana. “Saya tidak pernah bercerai dengan Mama kandung Alin. Sampai saat ini dia masih istri saya. Hanya saja kami terpisahkan oleh maut. Dia meninggal sesaat setelah melahirkan Alin.”


Semua mata tampak terbelalak mendengar penuturan Papa Haris, hanya Hazar yang terlihat tak terkejut sebab ia sudah tahu tentang cerita ini dari Bibi Fatma.


“Lalu bagaimana dengan gosip yang beredar, yang mengatakan kalau istri pertamamu telah lari dengan laki-laki lain?” tanya Papa Adi tak percaya.


“ Itu hanya cerita karangan Papa Setyo dan Amel.”


“Mengapa kau diam saja saat mendiang istrimu difitnah orang lain. Dan sampai hari ini kami sebagai besannya masih berpikiran buruk tentangnya.” Mama Rosa langsung naik emosi saat mendengar kelicikan Amel.


“Saya tidak punya pilihan lain. Papa Setyo mengancam akan mencelakai Alin jika saya mengungkapkan kebenaran itu pada publik. Saat itu saya masih terlalu lemah untuk melindungi Alin dari Kakeknya. Saya sudah kehilangan Diana saat itu dan saya tidak mau juga harus kehilangan Alin.”


“Saat Alin masih berusia satu bulan, Papa Setyo dan Amel menculiknya dari saya. Dia mengambil paksa Alin, saat itu hanya ada Fatma dan suaminya di apartemen. Sementara saya sedang berada di luar saat itu.” Papa Haris menghela napas panjang, matanya sudah tampak berkaca-kaca. “Papa Setyo tidak pernah main-main dengan ancamannya. Saat dia menculik Alin, dia benar-benar tidak memberi Alin makan dan minum. Meskipun saat itu Alin masih berusia satu bulan. Hingga akhirnya Alin harus dilarikan ke rumah sakit karna semua kulitnya sudah menguning dan dia mengalami demam tinggi.” Air mata Mama Rosa jatuh seketika itu juga. Ia bahkan sampai terisak. Seluruh tubuhnya bergetar seakan ikut merasakan siksaan yang dirasakan oleh bayi kecil itu.


“Dan saat Alin dirawat di rumah sakit itulah saya diizinkan untuk bertemu dengannya. Tentunya dengan berbagai macam syarat yang harus saya penuhi. Dan salah satunya adalah tetap membiarkan berita buruk tentang Diana, dan merahasiakan Alin dari publik.”


Seketika itu juga Mama Rosa langsung mengumpat, dengan air matanya yang tak henti-hentinya mengalir. Tangan Kakek Tomi dan Papa Adi pun ikut terkepal mendengar penjelasan Papa Haris. Ternyata kehidupan menantu mereka sangat jauh dari kata kebasaan dan kebahagiaan.


Hanya Hazar yang terlihat diam dengan segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Matanya sudah memerah sejak tadi, namun sebisa mungkin ia tidak ingin menangisi nasib istrinya sebelum ia menghancurkan orang-orang bejat yang sudah merenggut semua masa kecil dan masa remaja istrinya itu.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2