Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 9


__ADS_3

Saat sampai di lobby Hotel pak Rozak sopir kantornya sudah menunggu di sana. “Dimana Pak Sukri?” Hazar menanyakan keberadaan sopir pribadinya.


“Pak Sukri sedang mengantar Tuan Besar dan Nyonya ke bandara Tuan” Jawab Pak Rozak, ia sedikit berlari mengejar langkah Hazar.


Saat sudah duduk di dalam mobil Hazar mencoba menghubungi Mamanya “Halo Hazar! Kamu sudah bangun?” Terdengar suara Mamanya di seberang telepon.


“Mengapa Mama pergi tidak menghubungi aku terlebih dahulu?”


“Kami tidak mau mengganggu pengantin baru!” Ujar Mama “Dimana Alin? Mama mau bicara sama dia”


“Dia lagi ke rumah sakit”


“Rumah sakit! Siapa yang sakit? Dan kamu di mana sekarang?”


“Dia lagi nengokin Bibi pengasuhnya. Aku lagi di jalan mau ke kantor”


“Apa! Kantor kamu bilang?” Teriak Mama dari seberang telepon. Saking kerasnya Hazar bahkan refleks menjauhkan hp dari telinganya “Kamu tuh ya!, masih hangat-hangatnya jadi pengantin baru malah pergi ngantor. Pulang sana!” Hardik Mama “Awas kamu ya! Kalau Mama hubungi orang di rumah jam dua nanti, kamu dan Alin harus sudah ada di sana. Kalau tidak Mama akan tinggal di bersama kalian sampai Alin hamil” Ancaman terburuk yang di lontarkan oleh Mama.


Tinggal satu atap dengan Mama adalah hal yang paling di hindari oleh Hazar sejak dia remaja. Karna Mamanya adalah orang yang cerewet dan banyak maunya, serta memiliki banyak petuah dan larangan jika tinggal serumah bersamanya. Apa pun yang keluar dari mulutnya adalah perintah mutlak yang harus di laksanakan dengan segera. Selain Kakek yang berstatus sebagai Ayah kandung Mama, hanya Papa lah satu-satunya laki-laki yang mampu tinggal serumah dengan Mama, Papa tetap terlihat keren meski hidupnya penuh tekanan dengan menuruti semua perintah dari sang istri tercinta.


Hazar memijat keningnya yang mulai terasa pening, mencoba mencari alasan untuk menolak perintah dari sang kanjeng Mami “Jam lima aku pulang” Ujar Hazar.


“Kamu Ngga dengar! Jam dua Mama bilang”


“Ma aku sudah ada janji ketemu sama klien jam dua nanti, Ngga mungkin dong ngebatalinya sekarang. Udah, jam empat aku pulang” Tawar Hazar.


“Mama sekarang masih di bandara loh A’. Yakin kamu!” Ancam Mama.


“Jam tiga Ma aku pulang”


***


Alin sekarang terlihat sangat senang, akhirnya Bibi Fatma benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter, hanya saja Bibi Fatma masih harus dirawat untuk beberapa hari lagi, untuk memantau hasil operasi pencangkokan ginjalnya. Meski pemulihan Bibi Fatma terbilang lama, namun itu tidak berarti apa-apa, yang penting Bibi Fatma tidak perlu lagi melakukan bermacam-macam terapi dan cuci darah.

__ADS_1


“Bibi jika Bibi keluar dari sini, makanan apa yang ingin Bibi makan terlebih dahulu?” Tanya Alin ia sedang sibuk dengan ponselnya, mencari-cari menu makanan yang enak-enak “Bagaimana dengan ini?” Alin mengarahkan layar ponselnya pada Bibi Fatma. Disana tertera sebuah tulisan yang agak besar “SEBLAK PELAKOR” dengan gambar semangkuk Mie berkuah merah, sangat menggugah selera. Bibi Fatma menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ah iya. Bibi belum boleh makan makanan yang pedas-pedas. Biar ini untuk aku saja, Bibi nikmatilah makanan hambar rumah sakit ini ” Ujar Alin.


“Kalau itu hanya untuk Nona, lalu apa gunanya Nona menanyakan Makanan yang Bibi inginkan tadi”


“Aku hanya ingin memanas-manasi Bibi. Lagian siapa suruh Bibi sakit selama ini, kan Bibi sendiri yang rugi Ngga kebagian makanan enak. Aku akan mengajak Wira nanti. Dah Bibi...!!!” Alin turun dari ranjang, melambaikan tangannya pada Bibi Fatma.


Belum lama pintu tertutup, kepala Alin muncul lagi dari balik pintu “Apa Bibi ingin titip sesuatu?”


“Tidak ada Nona” Jawab Bibi ketus, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Baiklah kal_”


“Bubur ayam” Bibi cepat menjawab, takut jika Nonanya itu sudah menghilang dari pintu.


“Baiklah, akan aku beli kalau aku ingat” Alin menyengir lalu menutup pintu kembali.


Bibi Fatma bangkit dan duduk di sisi kasur, ia mengusap air matanya, dia menangis karna merasa sangat bahagia sekarang. Sebab dia kembali bisa menemani Alin, menyaksikan bayi malang dari Nona mudanya (Mama Diana) tumbuh menjadi wanita cerdas, cantik dan tegar. Dia sudah berjanji kepada mendiang Nona Mudanya untuk selalu menjaga dan melimpahkan kasih sayangnya pada Nona kecilnya itu.


***


“Oh, adik yang baik. Mengapa kau baru perhatian padaku sekarang? Apa karna aku sekarang sudah menjadi menantu konglomerat kau jadi perhatian begini padaku!” Alin mengerjapkan matanya “Kau tidak perlu menghawatirkan Kakakmu ini, karna sekarang aku lebih kaya darimu. Apa kau mau aku traktir makan ketoprak di depan?” Alin meraih tangan David. Dengan kasar David menghempaskan tangan Alin yang menyentuhnya.


“Dasar wanita gila” David mundur menjauh dari Alin.


Alin malah melangkah mendekat pada David “Kau mau tahu mengapa aku bisa keluyuran sekarang!?. Aku berkesempatan kabur dari suamiku, dia sangat kelelahan, karna semalaman dia terlalu bekerja keras. Sedangkan aku cukup berbaring dan diam saja, Hanya Hazar yang perlu bekerja ekstra semalaman. Wah!!!” Alin membelalakkan matanya dan menutup mulut, mundur satu langkah “Apa kau tidak tahu cara kerjanya!!?. Ckckck” Alin berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya “Kau juga harus menikah segera, agar kau tahu cara mainnya. Tapi, tidak akan ada anak konglomerat yang mau menikah denganmu karna tampangmu ini” Alin meletakan telapak tangannya di bawah dagu David “Kebodohanmu tergambar jelas di wajahmu ini. Hahaha...” Alin terkekeh. Puas membalas David.


David mendong tubuh Alin dengan kasar, hingga Alin hampir kehilangan keseimbangan. Namun ada tangan seseorang menahan kedua bahunya.


“Apa kau sudah lama menunggu?” Tanya Wira, melepaskan tangannya dari bahu Alin.


“Tidak” Jawab Alin “Berkat Lo, Gue jadi punya kesempatan untuk mengobrol panjang dengan adek Gue” Alin mengerlingkan matanya.

__ADS_1


“Baguslah, kalian harus sering-sering ngobrol, karna kalian tidak tinggal bersama lagi” Ujar Wira, mengabaikan wajah sebal Alin.


“Lo akan menghancurkan nama baik suami Lo, kalau sampai ada orang yang melihat Lo jalan sama cowok lain!” Seru David.


“Lo dengar Wir, adek Gue ini bahkan perhatian banget sama kakak iparnya. Cup cup cup” Alin mengerucutkan jari tangannya hendak menyentuh pipi David, namun cepat di tepis oleh David “Anak manis” Alin masih mau menggoda David.


*


Tidak sampai satu jam lamanya Alin dan Wira kembali ke rumah sakit, mereka menenteng banyak kantong plastik.


“Biar saya bantu Nona” Seorang perawat laki-laki mengambil alih kantong yang di bawa Alin.


“Terimakasih” Alin membiarkan si perawat membantunya. Sekarang mereka bertiga berjalan menuju ruang Bibi Fatma.


Setelah meletakan barang bawaannya si perawat meminta izin hendak kembali ke ruang kerjanya.


“Eh, tunggu dulu sebentar!” Alin mengambil sebuah kantong plastik “Terimakasih ya!” Alin mengulurkan kantong plastik pada si perawat “Di bagi ya, sama teman-teman satu timnya” Ujar Alin.


“Tidak usah Nona” Si perawat menolak kantong yang di ulurkan Alin.


“Sudah ambil saja. kalau kau tidak mau kau bisa membaginya untuk teman-temanmu” Ujar Wira si manusia gratisan.


Alin mengerlingkan matanya, menatap sebal pada Wira “Ngga apa-apa kamu bawa aja. Ini aku beli banyak juga untuk dokter dan perawat di ruang ini” Lanjut Alin, memindahkan kantong ke tangan si perawat.


“Terimakasih Nona!” Tidak menolak lagi.


“Sama-sama, Terimakasih juga” Ujar Alin.


“Apa-apaan sih Lo” Alin menatap sinis pada Wira “Lo pikir semua orang sama kaya Lo, yang mau aja nerima barang gratisan” Oceh Alin saat si perawat telah pergi.


“Aku tidak pernah menerima barang gratisan!, Uang dan rumah dari kakek kamu itu aku menjual prestasiku, dan itu tentu bukan murahan, apalagi gratisan” Ujar Wira. Sambil membuka kotak bubur ayam miliknya.


“Itu, yang kamu makan sekarang itu gratisan!” Seru Alin menunjuk bubur ayam yang sedang di makan Wira.

__ADS_1


“Ini ganti bensin mobilku!” Wira masih terus mengunyah.


__ADS_2