Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Part 100


__ADS_3

Di taman belakang yang menjadi tempat berlangsungnya acara, mereka di kejutkan dengan bodyguard Farzan yang tiba tiba datang dan membawa paksa keluarga Doni.


Padahal mereka kira ucapan dari Zetta dan yang lainnya hanyalah gertakan belaka.


Tapi di sisi lain, Zetta dan yang lainnya malah bingung karena mereka belum bergerak meminta bodyguard membawa keluarga itu.


"Jeng Zetta maaf! Saya tadi hanya asal bicara! Tolong suruh mereka melepaskan kami!" teriak Yuni berontak karena tidak ingin di bawa.


"Bukan kami yang meminta mereka. Tapi mungkin itu memang pantas untukmu dan keluargamu," ucap Zetta santai tak mau ambil pusing.


Lumayan juga sudah ada yang gerak cepat membawa mereka sekeluarga pergi, jadi dia tidak perlu repot, hehe.


"Rasain tuh nenek peyot, dibawa kan akhirnya," ucap Arni puas.


"Padahal pengen tarik dulu rambutnya, tapi nanti tangan aku gatal, ngga papa deh udah di wakilkan mereka juga sepertinya," ucap Fera menambahkan.


"Modelan kaya gitu mau jadi keluarga ini, kacanya kurang kali yah? Cantik doang kaga ada akhlak," cibir Aletta ikut ikutan.


"Suttt udah, jangan ada lagi yang ngomong jelek. Cukup sampai di sini aja," ucap Frans agar tidak ada yang mengatakan hal tidak baik lagi.


"Iya iya," pasrah ibu ibu itu, takut kena marah nanti.


"Eh mau kemana mbo?" tanya Zetta melihat maid yang membawa troli berisi makanan dan bahan masak.


"Kamarnya Tuan Muda, Nyonya," jawab wanita yang sedang bertugas mengantar itu.


"Akhirnya Nasha mau makan juga. Oke deh, sana mbo, hati hati dan terima kasih ya," ucap Zetta senang dan membiarkan wanita tadi pergi.


"Kak Sha udah mau makan ya Mom?" tanya Aletta baru menyadari.


"Sepertinya sih iya. Jangan sampe Sha kaya dulu lagi," ucap Zetta menyendu ketika ingat menantunya tidak makan beberapa hari sampai membuatnya drop.


"Alhamdulillah deh, sekarang giliran kita yang makan," ajak Aletta mengingat yang lain hanya makan cemilan saja sedari tadi, dan hanya diam ketika mendengar suara nenek peyot alias Yuni.


"Loh jadi pada belum makan ini? Yaudah ayo langsung makan dulu," kaget Seno karena dia pikir semuanya tadi sudah makan lebih dulu.


"Urus dulu nenek peyot tadi jadi belum makan," ucap Fera menimpali Seno.


"Yasudah kita ke gazebo saja," ucap Zeroun menggandeng tangan Zetta dan Aletta, berjalan lebih dulu.


Kali ini acara makan memang dilakukan di gazebo agar lebih santai dan suasana juga lebih asri.


Ngomong ngomong, setelah keluarga Doni atau Yuni di bawa tadi, satu persatu para tamu berpamitan karena acara juga sudah selesai.

__ADS_1


Beberapa hampers juga Zetta siapkan untuk para tamu sebagai buah tangan dari tuan rumah.


Hanya hampers berisi ponsel dan juga perlengkapan sholat. Tambah sedikit makanan dari catering yang sama, siapa tahu untuk makan malam nanti atau tadi kirang jadi bisa makan lagi kan. Baik sekali memang Zetta ini. Tapi semua itu pakai uang Farzan kok tenang saja.


...----------------...


"Mau duduk di balkon?" tanya Farzan ketika Nasha sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Mau bawa ini ke bawah dulu boleh? Sekalian kumpul juga," ucap Nasha dengan mata sedikit mengantuk.


"Biar nanti aku taruh di luar, nanti juga bakal diambil sama maid yang lewat atau nanti aku suruh ambil. Ke bawahnya nanti sore atau malam aja ya?" ucap Farzan sudah hafal dengan kebiasaan Nasha sehabis makan akan mengantuk.


"Em iya deh. Ke balkon aja kalau gitu," angguk Nasha mengiyakan karena matanya memberat tapi masih harus duduk. Tidak baik langsung tiduran sehabis makan.


"Oke," Farzan mengiyakan dan menggendong Nasha ke balkon dimana ada sofa tanam yang tidak terlihat dari luar.


"Aku sekalian cek berkas sedikit ngga papa ya?" ijin Farzan sebelum beranjak mengambil laptop, ipad dan juga beberapa berkas.


"Huum," angguk Nasha pada Farzan yang sudah berlalu ke dalam kamar.


Nasha memejamkan mata menikmati angin siang ini yang menyejukkan walau matahari sedang terik.


Tenang saja di bagian sofa ini terdapat penutup yang bisa di buka atau tutup sesuai kebutuhan, jadi saat panas begini Nasha tidak akan langsung terkena sinar matahari. Karena itu Farzan mengajak Nasha diam di balkon.


"Kalau panas bilang ya," ucap Farzan yang sudah kembali membawa peralatannya. Tangan Farzan mengelus singkat kepala Nasha.


"Haha, iya sih. Yaudah kalau mau tidur kamu tinggal senderan aja, kalau mau tiduran di sini juga boleh," ucap Farzan menepuk bahu dan juga pahanya.


"Hu um iya, kamu kerjain aja laporan itu," angguk Nasha sambil mengambil ponsel milik Farzan agar bisa dia mainkan.


Farzan biasa saja melihatnya, karena Nasha sudah Farzan ijinkan memainkan ponsel miliknya. Nasha juga tidak akan sampai mengotak atik ponsel miliknya. Paling hanya untuk pesan makanan, belanja atau bermain game saja.


Tapi kalau pun Nasha melihat lihat hal lain seperti aplikasi chat atau m-banking miliknya dia juga tidak masalah. Hanya memang Nasha tidak melakukan hal itu. Untuk apa juga menurut Nasha.


"Aku download game baru ya?" tanya Nasha saat bosan memainkan game lama di ponsel Farzan.


"Boleh," ucap Farzan mengiyakan, melirik sekilas pada Nasha.


"Tapi berbayar gamenya," ucap Nasha lagi sambil cemberut.


Nasha lihat game ini dari iklan dan ternyata jika ingin download harus membayar lebih dulu.


"Engga papa Sayang, kalau mau top up juga ngga papa," ucap Farzan mengusap pelan pipi Nasha. Kalau tidak begitu Nasha akan terus bertanya meyakinkannya.

__ADS_1


"Yey! Makasih banyak Kak Arza," senyuman Nasha mengembang sempurna setelah Farzan mengucapkan hal itu.


"Anything for you," ucap Farzan dengan senyum lembutnya.


Setelah memastikan Nasha kembali fokus pada ponselnya, barulah Farzan mengerjakan laporan dan memeriksa berkas kembali.


Nasha memainkan game tentang pencarian harta karun, tapi harus menggunakan alat alat agar lebih cepat. Maka dari itu Nasha selalu top up untuk membeli banyak alat tambahan yang mempermudah itu.


Saking mudahnya, baru 10 menit bermain Nasha sudah masuk level 10 di game tersebut. Dengan banyaknya koin dan juga alat alat yang menjadi hadiah tambahan setiap naik level.


20 menit bermain mata Nasha mulai terasa berat, bahkan beberapa kali ponsel milik Farzan akan terjatuh mengenai perutnya jika saja Farzan tidak cepat menaruh bantal di pangkuan Nasha.


"Eh maaf maaf, ponselnya jadi jatuh," kaget Nasha merasa bersalah.


"Perutnya sakit ngga?" tanya Farzan khawatir, takut jadi memar.


"Engga, tapi ponsel Kak Arza takut rusak," cicit Nasha takut Farzan marah.


Farzan mengambil ponselnya dan memperlihatkan pada Nasha jika ponselnya tidak kenapa napa. Maklum di bawahnya ada karpet bulu yang cukup tebal jadi ponselnya masih bisa aman.


"Tuh ngga apa apa kan?" tunjuk Farzan memperlihatkan ponselnya.


"Maaf ya?" ucap Nasha setelah mengangguk. Walaupun tidak papa tapi tetap saja Nasha merasa bersalah.


"Engga papa Sayang. Yang terpenting kamu," ucap Farzan tersenyum lembut.


Tangan Farzan juga menyingkap baju Nasha pelan untuk memastikan tidak ada memar di area perut Nasha. Takut jika terjadi sesuatu.


"Engga apa apa Kak, kan tadi langsung di tutup bantal," ucap Nasha mengelus lembut pipi Farzan yang wajahnya sedang mengecup permukaan perut Nasha.


"Oke aku percaya," angguk Farzan mengiyakan.


"Kalau kamu mengantuk tiduran aja ya? mau main ponsel lagi juga boleh," ucap Farzan membawa kepala Nasha untuk tidur di atas pahanya setelah Nasha mengangguk.


Baru setelah itu Farzan memberikan kembali ponselnya dan dipakai Nasha mendengarkan ayat ayat suci dari aplikasi video di ponsel.


"Sleep well Sayang," bisik Farzan ketika mata Nasha sudah terpejam.


...----------------...


maaf kalau kurang memuaskan dan tidak nyambung hehe,


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2