
Hampir dua minggu Nasha memejamkan matanya. Keluarga Lakeswara sedih karena menantunya tidak kunjung bangun dan juga mereka kehilangan janin yang tadinya akan menjadi cicit pertama keluarga ini.
Tapi mereka bersyukur Nasha masih diberi keselamatan walau kondisinya sekarang masih kritis bahkan bisa di bilang koma.
Farzan masih setia menemani Nasha yang terus memejamkan matanya sambil sesekali Brady datang dan membawa berkas yang harus di tandatangani. Bahkan rapat yang harus dilakukan di ganti menjadi rapat online agar bisa tetap berjalan.
Semua tidak keberatan, selain karena kinerja Farzan yang selalu baik dalam kondisi apa pun, Farzan juga orang yang dapat di percaya. Terkadang walau selalu datar, Farzan di sukai banyak perusahaan karena cara bicara dan penjelasan yang selalu mudah dipahami.
“Sudah dua minggu kamu tertidur, apa tidak ada niatan untukmu bangun? Hm?” monolog Farzan pada Nasha yang tidak akan di jawab.
“Aku baru saja bertemu denganmu satu hari. Walau kita bersama sudah lebih dari 2 bulan, tetap saja ada rasa lain saat tahu jika yang aku cari adalah kamu,” ucap Farzan sambil menciumi tangan Nasha.
Farzan memang terkadang sering mengajak Nasha berbicara, katanya itu bisa merangsang orang yang sedang koma terbangun karena mendengar ucapan dari orang tersayangnya.
Farzan juga setiap hari membacakan ayat suci selesai menunaikan ibadah wajibnya. Setidaknya selain membuat dirinya tenang itu juga bisa membuat Nasha lebih cepat bangun.
Tapi memang sepertinya Nasha masih nyaman dengan tidur panjangnya, jadi Farzan hanya bisa berdoa dan berusaha memberikan perawatan terbaik yang dimiliki rumah sakit miliknya ini.
...----------------...
Berbeda dari hari sebelumnya, hari ini Farzan harus bertemu langsung dengan klien dari negara F untuk membicarakan proyek baru perusahaan yang memiliki kendala dengan warga sekitar lokasi.
Mau tidak mau Farzan harus pergi meninggalkan Nasha sendiri hari ini. Tapi Farzan usahakan hanya keluar sebentar dan membiarkan Nasha sendiri, sementara hanya di jaga bodyguard di depan ruangannya.
Tadinya Farzan ingin meminta tolong pada Momy atau Aletta, tapi yang Farzan tahu mereka berdua sedang menyelesaikan masalah masing masing. Zetta dengan butiknya dan Aletta dengan kampusnya.
Pagi ini juga Farzan melewatkan pemeriksaan rutin Nasha dan juga penggantian infus yang sudah habis oleh perawat.
Saat ruangan masih sepi, kedua mata Nasha mulai terbuka perlahan dan menyesuaikan penglihatannya yang memburam akibat menutup terlalu lama.
Nasha memperhatikan sekeliling ruangan asing yang dia tebak adalah rumah sakit karena tangannya di pasang infus dan alat lainnya.
Nasha masih terdiam mengedarkan pandangan pada sekeliling, tidak lama pintu di buka dan terdengar ada beberapa orang masuk sambil berbicara satu sama lain.
Nasha memejamkan kembali matanya karena tadi dia sempat mendengar namanya dibawa bawa. Entah kenapa Nasha merasa dia akan mengetahui kondisinya dari orang orang itu.
“Nona memang selalu di temani oleh Tuan selama ini. Tapi sayang mereka harus kehilangan janin yang dikandung Nona karena terkena benturan dan juga kondisi janinnya lemah pada saat itu. Sepertinya mereka sedang dalam masalah,” ucap wanita yang sedang mempersiapkan alat dan obat dalam wadah besi.
“Iya kasian yah, katanya sih yang nabrak sudah di tangkap oleh suruhan Tuan langsung. Jahat banget orang yang sengaja nabrak,” ucap wanita yang satu lagi sambil memeriksa infus dan segala macam.
“Tahu dari mana kamu masalah itu?” tanya yang satunya penasaran.
“Itu kemarin aku ngobrol sama satpam di bawah, kan mereka masih satu naungan jadi sering ada kabar. Dia kasih tahu aku karna kita lagi pdkt. Tapi kamu jangan bocor ya, bisa bisa kepala kita di penggal nanti,” ucap malu malu wanita itu.
Mereka berdua mengobrol dengan suara kecil seperti bisikan tapi masih bisa di dengar Nasha karena mereka bicara di antara ranjang pasien.
__ADS_1
“Sutt udah, sekarang kita beresin dulu ini. Jangan sampe ada yang denger dan kita kena imbasnya,” ucap salah satunya dan mereka mulai mengerjakan tugas sebaik mungkin agar cepat selesai.
Jika ada Farzan di sana mereka akan bekerja sambil diam dan ketakutan karena di tatap tajam oleh Farzan. Apalagi Farzan sering memperingati mereka agar Nasha tidak kesakitan walau Nasha sedang dalam keadaan tidak sadar.
Selesai dengan semua tugas, para perawat itu bergegas keluar ruangan dan memberi laporan pada bodyguard di depan ruangan agar memastikan semua aman.
...----------------...
Setelah yakin mereka sudah tidak ada lagi, Nasha yang sedari tadi mendengar menahan rasa sakit dan juga tangisannya agar tidak diketahui siapa pun.
“Jadi dia sudah tidak ada lagi di sini?” lirih Nasha terbata bata karena kondisinya masih lemah.
Tidak ada isak tangis yang keluar, hanya air mata yang tidak bisa berhenti mengucur deras. Dimana ada wanita yang tidak sakit ketika mengetahui anak yang baru saja singgah dalam rahimnya pergi sebelum melihat dunia.
Walau belum terlihat bagaimana bentuknya, tapi Nasha sudah sangat menyayangi anaknya ini. Untuk Nasha, anaknya adalah satu satunya yang dia punya sekarang.
Keluarganya sendiri bahkan sudah tidak mau lagi bertemu dan menganggapnya ada. Farzan juga sudah pasti akan bersama dengan Grasya. Mereka pasti akan menjadi pasangan yang sempurna nantinya.
Lalu sekarang dia harus apa? Apa lagi tujuan dalam hidupnya? Dia sudah tidak sanggup menopang dirinya yang rapuh. Segala rasa sakit yang sering dia dapatkan terlalu membekas dan sulit di hilangkan.
Kemana lagi arah yang harus Nasha ambil. Baginya seluruh tempat akan terasa sama menyakitkannya karena tidak ada lagi tujuan untuknya pulang.
Nasha sudah akan memejamkan matanya kembali. Dia lelah. Berharap kali ini dia tidak akan terbangun lagi dan bisa bahagia bersama anaknya di alam lain nanti.
Ya walau hanya pergi beberapa jam saja, Farzan sudah merindukan Nasha.
Betapa terkejutnya Farzan saat melihat Nasha membuka mata sambil memegangi perutnya. Ada air mata juga yang samar terlihat walau tidak ada isak tangis yang terdengar.
Beruntung Farzan sudah dekat dengan rumah sakit, jadi setelah sampai tanpa banyak kata Farzan berlari menuju lift pribadi dan menekan angka 8 di sana.
Walau banyak yang bertanya tanya kenapa Farzan terlihat terburu buru, tapi mereka tidak berani bertanya, takut Farzan menatap tajam dengan perkataan yang sama tajamnya.
Bodyguard yang ada di depan kamar Nasha langsung menyingkir saat Farzan sampai dan membuka pintu secara kasar.
“Tolong jangan tutup lagi matamu,” lirih Farzan setelah memeluk tubuh Nasha dan membuat Nasha tersentak tidak jadi memejamkan matanya.
“Di dia su dah ti dak ada,” lirih Nasha terbata bata.
“Maaf, maaf. Aku tidak bisa menjaga kalian,” sedikit tertegun dengan ucapan lirih Nasha, Farzan yang memahami maksudnya langsung meminta maaf karena dia tidak becus menjaga Nasha.
“Kenapa bukan aku saja?” ucap Nasha melantur.
“Tidak. Tidak. Jangan bicara begitu. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu juga. Aku mohon tetap di sini,” pelukan Farzan mengerat takut jika Nasha benar benar akan pergi meninggalkannya sendiri. Dia tidak akan sanggup.
“Shh. Aw,” Nasha mencengkeram area perutnya karena rasa sakit yang tiba tiba datang. Badannya juga bertambah sakit entah karena apa.
__ADS_1
“Hey kenapa? Mana yang sakit?” panik Farzan mendengar Nasha kesakitan. Farzan menekan tombol darurat yang ada di belakang ranjang pasien dengan hati yang memaki lambatnya para dokter datang.
Nasha terus mengerang kesakitan dan memejamkan mata dengan kerutan di dahinya. Tak lama cengkeraman tangannya mengendur dan kerutan di dahinya juga ikut menghilang. Nasha kehilangan kesadarannya.
Dokter baru datang saat Nasha sepertinya pingsan. Segala upaya mereka lakukan agar bisa memulihkan kondisi Nasha.
Farzan yang di minta keluar ruangan, bergerak gelisah mengingat mata Nasha kembali tertutup. Farzan hanya takut Nasha tidak berniat untuk bangun kembali nantinya.
...----------------...
Tidak lama para Dokter keluar ruangan dengan raut wajah sedikit takut namun berusaha tetap tenang, untuk menjelaskan keadaan Nasha.
“Bagaimana?” sergah Farzan sebelum mereka sempat berucap.
“Kondisi Nona telah stabil. Tadi Nona hanya syok dan juga terlalu lama menangis yang mengakibatkan kondisinya kembali menurun. Tapi Anda tenang saja semua bisa teratasi. Saat ini Nona hanya tertidur karena efek dari obat yang kami berikan tadi. Beberapa minggu ke depan mungkin Nona bisa pulih kembali. Tapi,” ucapan dokter terhenti untuk memberi kabar lain yang sedikit kurang baik.
“Tapi apalagi?!” tanya Farzan tidak sabaran. Tadi dia sudah lega mendengar kabar jika Nasha sudah membaik, tapi mereka belum menyelesaikan ucapannya sekarang.
“Tapi kondisi kaki Nona tidak baik Tuan. Kemungkinan Nona tidak bisa menggerakkan kakinya selama beberapa waktu. Tapi Anda tenang saja, semua bisa kembali normal jika Nona melakukan terapi secara rutin,” ucap dokter itu dengan wajah takut takut melihat raut wajah Farzan yang tidak terbaca.
“Tapi bisa di sembuhkan kan?” tanya Farzan dingin.
“Tentu Tuan,” tegas dokter yang memang bisa memastikan kesembuhan Nasha.
“Tapi pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar, karena penyembuhan ini tergantung dari rasa ingin sembuh pasien,” lanjutnya lagi.
“Baiklah. Saya percayakan pada kalian,” ucap Farzan mengakhiri pembicaraan itu.
(Penjelasan dokter ini hanya opini penulis, ingat ini hanya fiksi😁)
Dokter dan para perawat sudah meninggalkan ruangan Nasha. Farzan juga sudah kembali duduk di samping Nasha dengan tangan Nasha yang selalu di kecup oleh Farzan.
“Sungguh jika kamu tidak ada, aku belum tentu sanggup berdiri sendiri. Hanya kamu wanita selain keluargaku yang selalu mendukung dan memberi semangat secara tidak langsung. Aku tidak tahu akan sehancur apa hidupku tanpa ada kamu,” gumam Farzan dengan raut sedihnya.
Farzan bukan hanya membual. Baginya, Nasha adalah tumpuannya. Selain dari keluarganya. Nasha yang menjadi tujuan dari semua kekuasaan yang dia bangun. Walau rasa sayangnya tidak bisa melebih pada sang pencipta.
Tapi tanpa Nasha mungkin nantinya dia akan jadi mayat hidup yang menjalani rutinitas harian tanpa ada rasa semangat. Sama seperti sebelum bertemu Nasha dulu.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1