Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Sarapan dan sedikit perdebatan


__ADS_3

Entah kebetulan atau memang adiknya baru saja keluar dari kamarnya.


“Eh aku kira kalian udah duluan ke bawah,” ucap Aletta yang kelihatan kaget karena dia pikir hanya dia yang terlambat.


“Loh, malah aku kira kamu yang udah duluan sama yang lain,” balas Nasha yang juga ikut kaget.


“Kenapa kalian kaget sih?” heran Farzan melihat dua wanita yang berhadapan itu.


“Iya juga yah, kenapa malah kaget sih,” ucap Aletta yang lebih terdengar seperti pertanyaan.


“Ish, udahlah mending kita turun aja,” ucap Nasha yang tidak mau pusing.


Mereka bertiga turun menggunakan lift yang berada di tengah tengah lorong.


“Kemarin aku nemu resto baru lagi loh Kak,” ucap Aletta antusias.


“Oh ya? Dimana?” balas Nasha tak kalah semangat.


“Di Mall baru sih. Apa ya nama Mall nya tuh,” ucap Aletta sambil melihat ke atas.


“Oh cabangnya ARCHA Mall kayanya. Ehm deket sama kantor Daddy deh, eh sekarang udah jadi kantor Kak Arza,” lanjut Aletta saat sudah ingat dimana tempatnya.


“Wah boleh di coba tuh,” ucap Nasha sambil menaik turunkan alisnya.


“Tidak ada yang akan izin ke saya gitu?” potong Farzan yang merasa seperti tidak dianggap dari tadi.


“Ya nanti aja izinnya, lagian juga perginya gaakan hari ini, iya ngga Kak Sha,” ucap Aletta santai sambil meminta persetujuan Nasha.


“Betul itu,” ucap Nasha sedikit canggung.


Tidak terasa mereka sudah sampai di resto hotel. Di sana juga Keluarga Farzan dan beberapa Keluarga Nasha sudah berkumpul dan memakan sarapannya.


“Loh kok kalian bisa bareng ke sininya?” tanya Zetta heran.


“Emang gaboleh Mom?” tanya Aletta sedikit ngegas.


“Ih kan Mom cuman nanya,” geram juga kan Zetta. Anaknya satu itu kadang bikin “gemas” memang.


“Tadi kita ngga sengaja ketemu pas baru keluar kamar Mom,” lerai Nasha agar tidak berlanjut.


“Oalah pantesan. Yaudah sana kalian ambil dulu makanannya,” suruh Zetta agar tidak ada yang terlambat sarapan.


“Iya Mom, kita ke sana dulu,” izin Nasha.

__ADS_1


Mereka bertiga jalan ke arah stand makanan yang di sediakan pihak hotel. Dengan Nasha dan Aletta yang asik ngobrol berdua.


“Kamu mau makan pakai apa Mas?” tanya Nasha pelan.


“Cie yang panggilannya udah Mas,” ledek Aletta yang ternyata masih mendengar.


“Apa sih kamu tuh,” ucap Farzan yang malas menanggapi adiknya itu.


“Nasi goreng sama telur mata sapi aja deh,” lanjut Farzan pada Nasha.


Nasha dengan sigap mengambilkan apa yang Farzan minta sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Selesai dengan makanan yang sudah berada ditangannya, mereka berjalan menuju meja yang diisi Zeroun dan Zetta.


Mereka makan dengan sesekali di selingi obrolan santai tentang hal random. Apalagi Nasha juga sudah tidak secanggung saat awal pertemuan.


“Kita nanti anter dulu Keluarga Nasha ke bandara, baru abis itu pulang ke mansion masing masing,” ucap Zetta setelah selesai makan.


“Iya Mom, nanti abis dzuhur aja biar tenang juga,” balas Farzan mengiyakan.


“Kak Sha langsung ke rumah Kak Arza ya?” tanya Aletta dengan dibuat buat seolah sedang sedih, walau memang terlihat sedikit sendu.


“Iyalah, masa mau pisah rumah,” sewot Farzan menanggapi adiknya satu itu.


“Nah kan kadang ini dua kaya ngga kenal kadang kaya gini kalau ketemu berantem,” malas Zetta menanggapi kedua anaknya.


“Haha, ngga papa Mom, kadang aku sama Ucan juga gitu kok,” ucap Nasha sambil tertawa dengan diakhiri senyum sendu.


Setelah beberapa saat mereka sudah selesai dengan segala obrolan juga sarapannya. Sekarang mereka berjalan menuju kamar masing masing untuk bersiap chekout dari hotel.


...----------------...


Karena semua sudah di bereskan tadi sebelum sarapan, Nasha memainkan Hp sambil bersandar di atas kasur. Sedangkan Farzan duduk di sofa dengan tablet di tangan kiri serta pencil khusus tab di tangan kanannya.


“Ehm, Kak eh Mas, kalau misalnya nanti aku mau jual makanan boleh ngga?” tanya Nasha tiba tiba. Tadi dia tidak sengaja lihat ada iklan jual makanan online.


“Kenapa?” bukannya menjawab Farzan malah balik bertanya.


“Ehm, ngga papa sih. Cuma kan nanti aku masih cuti kuliah, pasti bosen juga kalau cuma diem aja, hehe,” jelas Nasha sambil terkekeh kecil.


“Liat nanti saja,” balas Farzan singkat. Sepertinya Farzan tidak suka pembahasan mengenai ini, batin Nasha.


“Ya masa liat nanti sih,” kesel Nasha tuh, dia nanya tapi di jawab ngga jelas.

__ADS_1


“Ya terus harus jawab gimana?” ucap Farzan dengan dahi mengernyit bingung.


“Ish tau ah kesel, males,” geram Nasha dan langsung memainkan handphonenya lagi.


“Hahh,” helaan nafas Farzan terdengar saat ekor matanya melihat wajah kesal Nasha.


“Fa,” panggil Farzan tapi tidak di jawab oleh Nasha.


“Arfa.”


“Arfa.”


“Ar..”


“Apa sih,” belum beres memanggil di panggilan ke 4, Nasha sudah menjawab dengan sedikit ketus.


“Bukannya saya tidak mau menjawab. Saya masih harus memikirkan keputusan itu. Buat saya memang tidak masalah jika kamu ingin mengisi waktu luang, tapi beda lagi kalau Mom atau Dad tau. Terkadang mereka mempunyai pemikiran yang saya tidak bisa tebak. Maka dari itu saya masih harus mencari jawaban yang pas untuk permintaanmu tadi,” jelas Farzan panjang dengan bahasa sedikit formal.


“Jangan marah dulu ya. Kalau memang kamu ingin menggunakan waktu luang, kamu bisa ikut saya ke kantor dan membantu di sana sambil mempelajari beberapa hal. Tapi saat di rumah kamu hanya boleh diam dan bersenang senang dalam batas wajar,” lanjut Farzan lagi.


Nasha hanya diam sambil mencerna semua perkataan Farzan. Memang benar, sekarang orang tuanya bukan lagi Ayah dan Ibu saja. Ada Momy dan Daddy. Walaupun apa yang akan di lakukannya baik, tapi memang belum tentu orang lain berpikir begitu. Bisa jadi mereka menyangka Farzan tidak memberi nafkah jadi mengharuskan Nasha berjualan, padahal itu tidak benar.


“Maaf Mas, Nasha salah udah egois,” ucap Nasha sambil tertunduk menyesal.


“Tidak papa, Aku tau maksud kamu,” balas Farzan yang sudah menggunakan bahasa biasa.


“Kalau memang boleh, aku ingin belajar banyak di perusahaan, sekaligus mencari bahan untuk skripsi nanti agar tidak terlalu bingung,” ucap Nasha antusias karena mendengar Farzan sudah melembut kembali.


“Hem.. boleh,” setuju Farzan lembut dengan terkekeh kecil.


“Yeee.. makasiiihhh,” senang Nasha.


Bagi Farzan sekarang Nasha sudah bisa menunjukkan sifatnya yang tertutup karena banyaknya tekanan juga lingkungan sekitar yang mengharuskan dia kuat dan menutupi sifat manjanya.


Setidaknya Nasha bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama dengan Farzan, walau belum sepenuhnya.


...----------------...


maaf kalau ngga nyambung dan sebagainya hehe


semoga bisa menikmati bacaannya😁


sampai jumpa di bab selanjutnya..

__ADS_1


bye bye


__ADS_2