
Pukul 2 lewat 30 menit, Farzan baru kembali lagi ke mansion, setelah tadi memastikan anak buahnya membawa orang yang dia curigai pergi.
Nasha masih tertidur dengan nyaman tanpa merasa terganggu lagi, apalagi Farzan selalu menggendongnya saat dia tertidur dalam perjalanan.
Setelah sampai kamar Farzan langsung meletakkan Nasha di atas ranjang dengan perlahan dan menepuk pelan paha Nasha agar tidak terbangun. Seperti menidurkan anak kecil memang.
"Stt.. tidur lagi ya," bisik Farzan pelan.
Farzan dengan perlahan membuka jaket dan juga kerudung Nasha agar bisa tidur lebih nyaman lagi.
Farzan sendiri tidak bisa ikut tertidur karena harus memastikan keselamatan pekerjanya yang tadi membawa orang yang dia curigai.
Selagi menunggu, Farzan memeriksa laporan yang dikirim oleh Brady dan juga Tery agar bisa terselesaikan dengan cepat dan tidak tambah menumpuk.
"Kak Arza," gumam Nasha pelan tangannya mencari keberadaan Farzan yang biasanya memeluknya dari belakang.
"Stt aku di sini Sayang, tidur lagi ya," ucap Farzan bergerak cepat mendekati Nasha karena tadi dia duduk di sofa.
"Peluk," bisik Nasha pelan melilitkan tangannya pada tubuh Farzan.
"Iya Sayang," bisik Farzan sambil mengecup pelan pelipis Nasha.
Farzan melirik jam di atas nakas, dan sekarang waktu menunjukkan pukul 03.00.
Sebelum ikut terlelap, Farzan melihat ponselnya yang berdering, dan itu dari bodyguardnya yang bilang mereka sudah di markas dan menaruh orang itu dalam satu ruangan tertutup. Mereka juga bilang bahwa akan kembali siang nanti setelah beristirahat di sana.
Farzan hanya menjawab seadanya, karena matanya mulai memberat, jadi setelah selesai Farzan menaruh kembali ponselnya dan ikut terlelap dengan tangan memeluk Nasha.
...----------------...
Rasanya Nasha baru saja tertidur sebentar, tapi matanya sudah harus kembali terbuka karena sepertinya sekarang sudah hampir siang.
Apalagi nanti akan ada acara pengajian, jadi dengan sedikit kaget Nasha bangun dan melirik jam di atas nakas.
"Eh kenapa Sayang?" Farzan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Nasha yang kelihatan sedikit kaget dan bingung? mungkin.
"Sekarang jam berapa Kak?" tanya Nasha sedikit tidak santai.
Tadi saat melihat ke arah jam di nakas, matanya seolah terasa kabur dan sulit melihat angka yang tertera di sana.
"Stt.. tenang ya, nanti perutnya sakit loh," ucap Farzan mengusap pipi Nasha juga perut bulatnya.
__ADS_1
Tadi setelah sholat subuh, mereka berdua memang kembali tertidur. Semalam mereka baru saja tidur sekitar jam 3 dan bangun sebentar untuk sholat, jadi lah sekarang mereka berdua sedikit terlambat bangun.
Sekarang sudah hampir jam 8 pagi, dan Nasha harus segera bersiap karena acara akan dimulai jam 9 nanti.
"Hey tenang ya? Kamu juga perlu sarapan dulu, sama minum vitamin, oke? Ngga usah terlalu terburu buru. Terlambat sedikit engga apa apa. Tadi aku sudah bicara pada Momy dan dia bilang ngga papa, kamu yang paling penting, yang lain bisa di urus oleh Momy dan yang lain," jelas Farzan melihat raut wajah Nasha yang tegang. Farzan jadi tidak tega.
"Tapi aku bangunnya kesiangan banget hiks ja di ngga bisa bantu yang lain hiks," isak Nasha pelan takut dimarahi mungkin.
"Eh kok nangis sih, hm? Ngga papa Sayang. Yang lain juga pasti ngerti. Masa mau pengajian kamunya nangis sih? Nanti kalau di liat yang lain terus malah salahin aku gimana? Mereka nanti mikir kamu di apa apain lagi sama aku, hehe," ucap Farzan sedikit bercanda agar Nasha bisa menghentikan tangisnya.
"Ta pi," ucap Nasha terbata, sekarang nafasnya terasa sedikit sesak.
"Stt.. ngga papa Sayang, sudah ya? Nanti tambah sesak," ucap Farzan menenangkan sambil memeluk Nasha dari samping.
Nasha hanya mengangguk dengan tangisan yang mulai mereda. Tapi saat sudah tidak menangis Nasha masih belum ingin melepaskan pelukannya.
"Sarapan dulu ya? Mau pake apa?" tanya Farzan melihat Nasha sudah tenang dalam pelukannya.
"Masih kenyang," gumam Nasha pelan, kepalanya masih nyaman menyandari di dada Farzan, jadi dia belum berniat bangun dan bersiap. Padahal sudah mendekati acara.
"Yaudah, minum susu aja ya? Mau rasa apa?" tanya Farzan tidak ingin memaksa jika Nasha tidak mau makan sekarang.
"Oke. Sekarang mau tiduran lagi? Atau mau senderan aja?" tanya Farzan mengelus pelan lengan Nasha.
"Senderan aja," ucap Nasha mulai melepaskan pelukannya dengan sedikit tidak rela, masih nyaman dia tuh.
Farzan menyiapkan bantal agar Nasha merasa nyaman saat bersandar, baru setelahnya Farzan beranjak menuju meja di sudut ruangan membuatkan Nasha susu.
Selesai membuat, Farzan memberikan gelas berisi susu coklat itu pada Nasha dan segera di habiskan oleh Nasha.
Baru setelahnya Nasha mulai beranjak untuk segera bersiap, mungkin dia akan selesai 30 menit lagi. Tapi tidak masalah, Farzan bilang semua tidak apa apa kan?.
"Ngga usah buru buru oke? Kalau udah beres langsung kasih tau, pintunya ngga aku tutup full," ucap Farzan yang mengantar Nasha sampai ke dalam kamar mandi.
Jika Nasha tidak dia temani atau mereka tidak mandi bersama, Farzan memang tidak menutup pintu dengan baik agar bisa mendengar jika terjadi sesuatu, mencegah lebih tepatnya.
Tenang saja pintu kamar akan selalu terkunci, jadi tidak akan ada yang bisa menerobos masuk.
"Kalau aku kelamaan kamu kasih tahu ya?" pinta Nasha agar bisa lebih cepat bersiapnya.
"Iya Sayang," ucap Farzan mengiyakan, tapi nanti tidak tahu bakal dilakukan atau tidaknya.
__ADS_1
Kalau Nasha tidak di jawab bisa bisa moodnya buruk seharian ini, dan akan sulit juga membujuk Nasha yang sedang bad mood.
Entahlah semakin besar usia kandungan Nasha, maka semakin tidak karuan mood yang dia rasakan. Mungkin karena Nasha juga sedikit lelah membawa bawa perut berat itu kemana mana, tapi bukan berarti Nasha tidak suka atau mengeluh. Hanya lelah. Itu wajar kan?.
"Jangan terlalu dipikirin oke? Aku keluar dulu ya," ucap Farzan dan keluar setelah mendapatkan anggukan dari Nasha.
Farzan harus mengurus berkas baru mengenai rencananya untuk membuat tempat wisata sekaligus hotel di salah satu daerah.
Proyek ini memang tidak akan langsung di kerjakan xekat dekat ini, tapi konsep dan segala macamnya harus segera dia dapatkan dan putuskan, agar nanti mereka bisa segera mencari lokasi yang pas nantinya.
Sembari membaca berkas di tangannya, Farzan sesekali melirik ke dalam kamar mandi, memastikan Nasha masih aman dan tidak apa apa.
"Kak Arza," panggil Nasha dengan suara biasa karena yakin Farzan pasti mendengarnya.
Benar saja, tidak lama kemudian Farzan masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Nasha yang masih memakai handuk kimono juga lilitan handuk di atas kepalanya.
"Aku lama ngga mandinya?" tanya Nasha yang sudah di gendong oleh Farzan.
Padahal Nasha selalu bilang dia bisa berjalan sendiri, tapi memang dasarnya Farzan tidak mau mendengarkan, jadi setiap ada kesempatan Nasha selalu di gendong olehnya.
"Engga kok. Sekarang juga masih jam 9 kurang. Tenang aja ya," ucap Farzan yang memang tidak mengada ada agar Nasha senang atau tidak khawatir.
"Tetep aja, pasti nanti aku pake baju sama kerudungnya lama. Kan harus keringin dulu rambut," cemberut Nasha mengetahui dia itu sangat lama dan tidak bisa tepat waktu.
"Engga kok. Nanti aku yang keringin rambut biar kamu bisa pakai pelembab dan kawan kawannya," ucap Farzan menurunkan Nasha di dekat tempat tidur karena tadi bajunya sudah Farzan siapkan di sana.
Nasha memang tidak akan berdandan berlebihan karena menurut Farzan sekarang saja Nasha sudah sangat cantik, kalau dandan nanti Farzan takut Nasha diambil oleh orang.
Tapi untuk merawat wajah, memanf tidak pernah Farzan larang. Bahkan terkadang Farzan sendiri yang mengajak Nasha ke dokter kecantikan, agar produk yang di pakai Nasha terjamin kualitasnya.
"Oke deh. Nanti kalau udah selesai kita langsung ke bawah ya? Acaranya pasti bakal mulai sebentar lagi," ucap Nasha menganggukan kepalanya.
Nasha sekarang seperti anak kecil yang dibantu memakai pakaian oleh orang tuanya, agar lebih mudah kata Farzan. Awalnya sih Nasha malu, tapi lama kelamaan dia jadi terbiasa, yasudahlah yang penting hanya pakai baju dan tidak menyebar kemana mana haha.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1