Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Garden Party


__ADS_3

Dalam perjalanan Nasha hanya melihat ke arah jendela sembari menangis tanpa suara. Yang ada di pikirannya saat ini hanya perkataan dan juga setiap perbuatan orang tuanya dari dulu hingga tadi. Dan Farzan hanya melirik sesekali dan menghembuskan nafas dengan menahan emosi yang sejak tadi belum hilang, namun sekarang emosi itu sedikit tersingkir dan menyisakan sesak yang teramat karena melihat Arfa-nya seperti itu.


Sekian lama menempuh perjalanan sekarang mereka sampai di sebuah rumah besar yang terlihat simpel tapi terlihat begitu mewah. Itu adalah rumah yang Farzan persiapkan untuk gadis kecilnya. Tadinya dia pikir tidak akan mengajak Nasha ke sana tapi entah kenapa dia malah mengajaknya.


“Sudah sampai,” ucap Farzan sambil membuka pintu Nasha.


“Oh, iya,” balas Nasha yang sempat terkejut karena dia dari tadi melamun.


Mereka berdua berjalan melewati undakkan tangga yang membawanya pada pintu masuk yang tinggi tapi juga sangat cantik. Sejenak Nasha melupakan kesedihannya dan memandangi pintu tersebut hingga ada seseorang dari dalam yang membukakan pintu tersebut.


“Selamat malam Sir,” sapanya sembari menunduk hormat.


“Malam, Bu Ti,” balasnya datar dengan sedikit anggukan kepala.


“Saya minta tolong untuk siapkan kamar di sebelah kamar utama untuk tempat dia sementara,” ucap Farzan pada Bu Ti kepala asisten di rumahnya sembari melirik Nasha yang ada di sebelahnya.


“Baik Sir, Apa ada lagi yang lain?” tanyanya memastikan sebelum beranjak.


“Untuk sementara tidak ada,” jawabnya.


“Baik Sir, saya permisi,” ucap Bu Ti dan berlalu untuk mengerjakan tugas yang diberikan tadi.


Setelah Bu Ti pergi, Farzan mengajak Nasha untuk duduk di ruang keluarga sambil menunggu kamarnya siap digunakan.


“Apa kamu tidak apa apa?” tanya Farzan, padahal dia tau pasti semuanya tidak akan baik baik saja.


“Mm.. mungkin, haha. Aku minta maaf ya atas perlakuan keluargaku. Jika karena ini kamu membatalkan rencana ini tidak apa kok, aku masih memiliki pilihan lain kan kemarin, mungkin pilihan terakhir bisa bapak lakukan. Bicaralah pada semuanya, lagi pula saya sudah tidak akan kembali lagi ke sana, sekarang saya hanya perlu mengumpulkan banyak uang agar bisa mengganti biaya sekolah dan keperluan saya yang lain, tapi memang tidak semua bisa diganti dengan uang, hanya saya akan berusaha agar saya tidak terlalu mengecewakan,” jawab Nasha dengan senyum getir dan juga setitik air mata yang menetes. Rasanya sungguh sangat menyesakkan, batin Nasha.


“Apa maksudmu?” tanya Farzan lagi dengan sedikit bentakan karena merasa kesal.


“Mm.. maaf Pak sekali lagi maaf, saya tidak bisa melanjutkan semuanya. Saya hanya takut jika hal ini akan merugikan banyak pihak, terutama Bapak dan keluarga. Saya tidak mau menambah masalah baru lagi,” jawabnya dengan tatapan lurus yang terlihat kosong dan juga air mata yang terus mengalir tanpa adanya isak tangis.


“Ada apa dengan dia? Sebegitu sakitnya kah? Kenapa aku pun merasakan rasa sakit itu? Sungguh menyesakkan melihatnya menahan segala emosi yang berada dalam dirinya. Kenapa dia begitu tidak ingin merugikan orang lain?” batin Farzan.


“Saya tidak ingin dengar apa pun sekarang. Bu Ti antar dia ke kamar,” ucap Farzan dingin dan langsung meminta Bu Ti mengantar Nasha ke kamar, ketika melihat Bu Ti menuruni anak tangga.


Tanpa berbicara lagi Nasha berdiri dan mengikuti langkah Bu Ti menuju kamar yang akan dia pakai. Entahlah suasana hatinya sedang sangat tidak baik jadilah dia malas menanggapi apa pun. Yang dilakukannya dari tadi hanya menatap kosong ke depan.


“Silahkan Ma’am,” ucap Bu Ti ketika sudah membukakan pintu kamar.


“Terimakasih Bu, maaf sudah merepotkan,” ucap Nasha yang tadi sedikit tersentak karena dia melamun di sepanjang jalan.

__ADS_1


“Tidak sama sekali Ma’am, ada yang bisa saya bantu lagi?” tanyanya sebelum undur diri.


“Tidak Bu, sekali lagi termakasih Bu,” ucap Nasha dan Bu Ti hanya tersenyum sembari menundukkan kepala hormat untuk pergi meninggalkan Nasha sendiri di kamar tersebut.


Setelah Bu Ti keluar, yang dilakukan oleh Nasha adalah duduk di tengah ranjang dan melipat kaki dan tangannya serta menundukkan kepala. Menangis. Ya itulah yang dia lakukan. Meratapi kehidupan yang sungguh pelik sendiri itu sulit, sekuat tenaga dia bertahan dengan selalu menampilkan keceriaan atau kegarangannya ketika bersama keluarga besar atau teman temannya. Tidak ada yang tau seberapa tertekannya dia dengan segala keinginan orang tuanya, segala keterbatasan, dan juga kemampuannya yang tak seberapa membuat dia seperti sebuah objek untuk dibandingkan dengan orang lain termasuk adiknya sendiri.


“Apakah tidak ada jalan lain? Sekarang aku harus apa? Kak.. dimana sebenarnya kakak sekarang? Aku sungguh sudah tidak sanggup lagi.. jika mengakhiri hidup tidak berdosa mungkin itu sudah lama aku lakukan.. tapi aku tau itu bukanlah sebuah penyelesaian masalah. Tapi aku sungguh sudah tidak sanggup lagi. Kapan Kakak pulang dan membawaku pergi? Apa kakak tau, sebentar lagi aku akan menikah? Apa kakak rela aku menikah dengan orang lain? Kemana janji kakak dulu? Kakak tidak pernah datang.. kakak hanya berbohong padaku.. aku tidak akan percaya lagi pada kakak. Aku tidak percaya lagi pada manusia, aku tidak lagi percaya,” batin Nasha sembari terus menangis.


...----------------...


Di lain tempat...


Farzan sedang berada di ruang kerjanya yang terletak di lantai 1. Amarah masih melingkupi hatinya. Mendengar Nasha tak ingin lagi melanjutkan pernikahan, entah kenapa membuatnya sangat marah. Bukan karena perjanjian yang batal. Tapi ada hal lain yang belum dia tau apa itu.


“Apa apaan dia?! Kenapa dia berkata seperti itu. Harusnya dia senang karena dengan begitu dia bisa pergi dari rumah. Tapi kenapa juga aku bisa semarah ini padanya? Bukankah ini hanya agar Daddy tak lagi menjodohkanku dengan para gadis bermuka dua di luaran sana. Tapi ada sesuatu yang membuat hati ini ikut terluka karenanya. Di luar dia terlihat tidak ada beban, nyatanya dia orang yang sangat rapuh. Entah kenapa terbesit keinginan untuk membuatnya terlepas dari segala rasa sakit yang dia rasakan. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa karena masih ada Cha di sana. Ahkk... kenapa sulit sekali menemukanmu.. jika saja kamu ada di sini sekarang, semua ini tidak akan terjadi,” marah, kesal, sedih bercampur menjadi satu dalam hati Farzan.


“Baiklah.. aku akan mencoba untuk menghapuskan segala rasa yang kumiliki untuknya. Aku akan menjalankan pernikahan ini. Bukan sekedar drama atau berakhir perpisahan, tapi pernikahan yang membawa kami ke surga-Nya. Memang seharusnya pernikahan tidak dipermainkan. Dan jika suatu saat aku bertemu kembali dengan Cha, kuharap dia juga sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri,” ucap Farzan kembali.


...----------------...


Beberapa hari kemudian...


Nasha tidak tau tentang apa pun. Dia pikir orang tuanya sudah tidak marah lagi. Dia pikir mereka sudah berubah, nyatanya semua tidak sama.


Acara terus berlangsung. Kedua keluarga sudah saling berkenalan. Nasha juga sudah dipasangi liontin berlian berbentuk bulan dan bintang serta cincin di jemari kirinya oleh calon Ibu mertuanya.


“Makasih ya Arfa.. kamu sudah mau menerima anak Mom, semoga semua dilancarkan sampai hari h ya,” ucap Zetta


“Iya Tan.. eh Mom maksudnya, aku yang harusnya bilang makasih karena Mom mau terima aku di keluarga Mom,” ucap Nasha yang awalnya masih kaku memanggil Zetta (istri dari Zeroun), tapi dia mencoba sebisa mungkin untuk tidak mengecewakannya.


“Kamu juga anak Mom sekarang, jadi jangan sungkan lagi yah. Dan mulai hari ini kamu ikut Mom ke rumah sampai waktu pernikahan nanti,” ucap Zetta lagi, karena sebenarnya keluarga Farzan sudah mengetahui semua permasalahan yang terjadi. Baik itu tentang perjanjian sampai keluarga Nasha sendiri. Nasha tidak tau harus berkata apa lagi, jadi dia hanya menganggukkan kepalanya saja.


Acara demi acara berjalan dengan lancar. Rangkaian acara di akhiri dengan makan bersama keluarga besar. Keluarga besar Farzan tentu saja, karena orang tua Nasha sudah pulang lebih dulu bersama dengan para tamu undangan. Mungkin mereka masih kesal atau tak peduli, dan Nasha berusaha biasa saja dengan itu semua, tapi mungkin saat sendiri nanti dia akan menangis lagi.


“Ga nyangka aku kalau Arza duluan yang nikah. Padahal yang udah pacaran lamanya anakku Ema,” ucap adik kembar dari Zetta, Zenna.


“Ya kan kami juga bakal nyusul Ma, tunggu aja tanggal mainnya,” jawab Ema.


“Haha.. Na.. Na.. kamu itu selalu aja begitu, padahal dulu pas kamu lebih dulu nikah aku biasa aja tuh ga marah,” jawab Zetta. Walaupun usia mereka sudah tidak lagi muda, tapi setiap mereka bertemu pasti saja akan ada pertengkaran tidak penting, padahal saat baru bertemu mereka berpelukan seperti teletubbies ditambah sedikit bumbu drama dari mereka.


“Kalian ini selalu begitu jika bertemu, untung saja Zeroun dan Gerald mau menerima kalian yang seperti itu,” ucap Ibu mereka Jasmine.

__ADS_1


“Bunda mah selalu begitu,” rajuk mereka berdua bersamaan.


“Mama sama Teteu kaya anak kecil,” ejek Ema.


“Mom sama Ateu mah udah ga aneh kali Em berantem gitu, kalau jauh kangen sampe nangis nangis tapi udah ketemu di awal aja peluk pelukan tapi sesudahnya kaya gini debat mulu haha,” sambung Farzan ikut mengejek dan yang lain pun tertawa karenanya termasuk Nasha.


“Nah gitu dong Kak Sha ketawa. Kan keliatan lebih cantik kalau kaya gini,” ucap Aletta adik dari Farzan.


“Iya Sha, terus ketawa ya Nak.. inget pesen nenek, kalau sampe Farzan nyakitin kamu dan buat kamu sedih, kamu cari nenek dan nenek akan buat kamu tidak pernah bertemu lagi dengan orang yang menyakiti kamu,” ucap Jasmine pada Nasha. Keluarga Farzan kebanyakan memanggil dia Sha karna lebih mudah untuk diingat hanya Zetta dan Farzan yang memanggil Arfa padanya.


“Hemm.. iya nek, aku bakal inget kata kata nenek. Makasih ya nek,” ucap Nasha sambil tersenyum. Ingin meluk nenek tapi aku canggung dan malu, batin Nasha tak tahan untuk menangis tapi tetap dia tahan.


“Ke Grandma juga loh ya, kita yang bakal lindungi kamu kalau dia buat ulah. Kamu tenang aja,” ucap Cerry Ibu dari Zeroun.


“Makasih Grandma.. nenek.. Mm.. boleh aku peluk kalian?” ucap Nasha ragu.


“Tentu boleh dong sayang, sini,” balas Jasmine dan Cerry berbarengan dan mereka berpelukan bertiga. Jika ada yang melihatnya mungkin seperti seorang nenek yang sangat sayang pada cucu kandungnya. Padahal hanya cucu mantu. Tapi memang karena keluarga ini saling menyayangi satu sama lain, perdebatan kecil memang ada hanya saja itu bisa diselesaikan sesaat dan dalam keluarga mereka jauh dari kata iri atau dengki sesama keluarga. Yang diajarkan oleh orang tua mereka adalah mereka itu sama dan tidak ada bedanya. Jadilah keluarga ini selalu rukun dan tidak ada kesalahpahaman satu sama lain sebab komunikasi penting, setiap satu bulan sekali mereka selalu berkumpul agar selalu terjalin komunikasi yang baik.


“Duh ko aku sirik yah, Kak Sha peluk nenek sama Grandma gampang banget, padahal kita aja kadang suka susah buat peluk mereka, kudu lebaran dulu baru peluk peluk,” ucap Aletta, karena memang setiap ketemu mereka hanya bersalaman, alasannya karena mereka berdua kurang nyaman jika harus peluk peluk jika bertemu, walau jika bersama suami masing masing mereka tidak pernah absen berpelukan.


“Ya gapapa, ini cucu nenek kok, kalo kalian mah pajangan jadi gausah di peluk peluk,” balas Jasmine.


“Iya, kalian cuma boleh peluk pas lebaran aja, hari biasa berlaku hanya untuk Sha aja, keputusan mutlak,” ucap Cerry.


“Huh.. tetua tidak pernah salah,” ucap Ema.


“Hahaha,” tawa semua yang berada disana karena mendengar cucu mereka merajuk pada nenek neneknya.


Keseruan itu masih berlanjut sampai waktu menunjukkan angka 20.30 pm barulah mereka kembali ke rumah masing masing, kecuali Nasha yang pulang ke rumah Zeroun dan Zetta.


.


.


.


.


Tbc..


Happy reading..

__ADS_1


__ADS_2