
Satu minggu berlalu tanpa ada kabar apa pun dari Farzan. Nasha yang sebenarnya khawatir tapi berpikir jika Farzan sedang bahagia bersama wanita itu.
Beberapa hari ini Nasha merasakan mual di pagi dan sore hari, membuatnya terkadang tidak keluar dari paviliun.
Rasa mual juga selalu datang di saat dia melihat olahan daging laut dan nasi dalam bentuk apa pun.
Nasha masih tidak tahu dia kenapa, jadi hari ini dia memutuskan untuk pergi ke klinik agar bisa mengatasi rasa mual yang teramat mengganggu aktivitasnya.
Dengan sedikit kebohongan pada beberapa orang yang bertanya dengan mengatakan dia hanya akan pergi ke pusat perbelanjaan karena membutuhkan suatu barang dan juga membeli beberapa camilan untuk semua yang bekerja nanti.
Memang sehabis dari klinik Nasha akan membeli camilan, karena dia juga terkadang mencari makanan di tengah malam.
“Aku mau ke supermarket dulu ya, ada yang mau sekalian di beli ngga?" tanya Nasha pada beberapa orang yang sedang berkumpul di ruang makan paviliun.
"Tidak ada Nona, semua kebutuhan dapur di sana sudah di beli kemarin oleh Diba,” jawab Lia.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya,” pamit Nasha secara tidak langsung.
“Apa perlu siapkan mobil Nona?” tanya Eby memastikan.
“Tidak usah, aku mau sambil olahraga. Nanti di depan juga bisa naik taksi,” balas Nasha dan berjalan keluar, tidak ingin lagi membahas masalah antar atau jemput nanti.
...----------------...
Jalan dari paviliun belakang sampai gerbang utama begitu jauh, di tambah dengan kondisinya yang kurang fit membuat Nasha yang baru jalan sebentar sudah begitu kelelahan.
Karena tidak kuat lagi berjalan sampai depan gerbang, Nasha memutuskan duduk di teras depan mansion dan memesan taksi online.
Tidak lama ada notifikasi pemberitahuan jika taksi onlinenya sudah ada di gerbang dan kesulitan masuk. Penjagaan memang begitu ketat agar tidak terjadi masalah atau kekacauan di dalam nantinya.
“Maaf Nona, di sini ada taksi online dengan nama X yang katanya di pesan oleh Nona untuk tujuan supermarket,” jelas penjaga di depan melalui sambungan telepon.
“Iya Pak, boleh di suruh masuk saja?” tanya Nasha takutnya memang tidak di ijinkan.
“Maaf Nona, kenapa tidak di antar oleh supir yang sudah Tuan siapkan?” penjaga itu takut nanti tidak bisa menjelaskan jika Tuannya marah.
“Tidak apa, tadinya aku mau sambil olahraga, tapi jalan ke depan jauh jadi mesen taksi online deh, lupa kalau ada supir hehe, biarin masuk ya Pak,” jelas Nasha yang memang benar begitu.
__ADS_1
"Atau nanti suruh saja orang jemput saya di sini pakai motor sampai depan agar mobilnya tidak perlu masuk,” lanjut Nasha yang memiliki opsi lain.
“Apa tidak apa begitu Nona? Maaf kami hanya takut terjadi hal yang tidak di inginkan di sana nanti,” ucap penjaga tidak enak.
“Iya tidak apa apa. Tolong suruh Bapak tadi tunggu,” ucap Nasha sebelum mengakhiri panggilan.
...----------------...
Tidak lama bukannya motor yang di depan Nasha melainkan mobil hitam keluaran terbaru beserta dua orang bodyguard dengan satu orang yang mengendarai mobil.
“Silahkan naik Nona,” ucap salah satu yang bernama Tio sambil membuka pintu belakang mobil.
“Loh kok malah jadi di anter sih?” bingung Nasha dengan menatap mobil di depannya heran.
“Demi keamanan Nona,” jawab Tio dengan wajah menunduk. Bisa di marahi Farzan jika melihat miliknya itu.
"Terus taksi tadi gimana? Kasihan sudah nunggu,” ucap Nasha beralibi.
“Sudah kami bayar 3 kali lipat dari yang seharusnya di bayar, Nona tenang saja, lebih baik Nona pergi bersama dengan kami,” jelas Tio yang tadi sudah bekerja sama dengan penjaga gerbang.
Beberapa hari yang lalu Farzan berpesan setelah melakukan rapat jarak jauh dan menjelaskan pada semua yang bekerja di dalam kawasan mansion untuk terus menjaga Nasha dan membiarkan Nasha melakukan hal sesukanya asal tidak membahayakan.
Farzan juga tahu Nasha yang pindah ke paviliun saat mendapat laporan dari Erni, Ketua pelayan.
Karena itu Farzan membiarkan sampai dia bisa menjelaskan kesalah phaman yang terjadi antara keduanya.
Farzan juga tidak ingin menjelaskan melalui ponsel karena takut brtambah runyam.
“Baiklah, tapi saat belanja nanti aku tidak ingin di temani siapa pun,” ucap Nasha mutlak. Dia kan risih kalau harus di ikuti, apa lagi tujuan utamanya adalah klinik.
Untung saja di dekat pusat perbelanjaan ada satu rumah sakit swasta yang cukup terkenal bagus dengan alat alat canggih yang sudah tersedia di sana.
“Tidak apa mahal sedikit yang penting nanti sembuh,” batin Nasha sambil memandang luar jendela.
Karena jam 9 pagi ini jalanan mulai sepi jadi perjalanan hanya terhenti ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah saja. Sisanya tidak ada hambatan yang berarti.
Jarak rumah sakit dan juga pusat perbelanjaan hanya sekitar 15 menit tanpa ada kendala.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu utama, pintu mobil di bukakan oleh Tio dan Nasha langsung turun.
“Nanti kalau sudah selesai aku kasih kabar, kalian bisa bebas pergi kemana saja sekarang,” ucap Nasha sebelum berjalan pergi yang ternyata di ikuti diam diam oleh mereka berdua.
“Ini kalau terus di ikutin kapan ke rs nya coba,” batin Nasha kesal.
“Beli es krim dulu aja kali yah,” gumamnya agar tidak terlalu kesal, sambil memikirkan cara agar bisa terbebas dari Tio dan Juan.
“Silahkan, mau pesan yang mana?” tanya penjual di stand tersebut.
“Em.. mau yang rasa vanila dan coklat deh, di cup sedang ya,” ucap Nasha menyebutkan yang dia mau.
“Baik ditunggu sebentar nanti kami antar,” ucapnya sebelum pergi menyiapkan pesanan.
“Loh masa ngga bayar dulu,” aneh Nasha. Padahal tadi orang sebelumnya akan di suruh membayar terlebih dahulu.
Nasha memang mendatangi ARCHA Mall karena berdekatan dengan ARC Medic. Tapi karena di sini semua lengkap dengan variasi harga berbeda untuk kelas menengah sampai atas yang memang memiliki harta berlimpah.
Tidak tahu saja jika semua karyawan di seluruh Mall sudah di peringati oleh Zargio, yang merupakan orang kepercayaan Farzan untuk mengurus Mall ini, jika Nasha akan datang karena dapat pemberitahuan dari Tio.
Untuk para pekerja dalam mansion, bodyguard dan juga beberapa orang kepercayaan Farzan dari berbagai bidang usahanya memang saling mengenal, karena sering di kumpulkan bersama agar mereka juga bisa mengenal satu sama lain saat berada di situasi genting. Juga agar dapat berkoordinasi dengan baik seperti saat ini.
Hampir seluruh outlet tahu siapa Nasha tapi tetap melakukan pelayanan yang wajar agar tidak di curigai oleh Nasha sendiri.
“Ini pesanan anda, selamat menikmati,” ucap seorang wanita yang mengantar dan langsung berpamitan.
“Oh mungkin di sini makan dulu juga boleh nanti bayar belakangan,” ucap Nasha tak ambil pusing.
Alasan Farzan melakukan hal seperti ini, karena dia tahu jika Nasha masih sungkan jika harus mengambil uang yang diberikan darinya, padahal itu merupakan haknya sebagai seorang istri.
Jadilah dia berpesan, kemana pun Nasha pergi nanti jika masih dalam lingkup kekuasaan miliknya maka tidak boleh ada uang yang diterima jika itu bukan bersama Farzan.
...----------------...
maaf kemarin kemarin susah dapet ide hehe..
baru bisa update sekarang deh..
__ADS_1