
Siang ini Farzan dan Nasha memutuskan untuk bersantai di dalam kamar. Sebelumnya mereka baru saja menyelesaikan makan siangnya, tentu saja dengan Nasha yang di suapi agar bisa menghabiskan banyak porsi makan.
Saat ini mereka hanya berdiam di atas kasur dengan TV menyala menayangkan film kartun anak spons yang hidup di laut.
“Eh iya katanya Kakak mau kasih tahu kenapa bisa punya ruangan pribadi di rumah sakit tadi,” tanya Nasha dengan kepala yang mendongak melihat ke arah Farzan yang tidak lepas menatap dan memeluknya sedari tadi.
Nasha yang sedang menonton tiba tiba ingat tentang hal yang akan Farzan ceritakan juga. Nasha memang masih penasaran akan hal itu, hanya saja tadi terlupakan karena mereka membicarakan masa lalu.
“Rumah sakit itu milik kamu,” jawab Farzan santai, Nasha yang mendengar itu membelalakkan matanya kaget.
Siapa yang tidak kaget mendapat kabar seperti itu kan? Jika orang yang berada dan memang ahlinya sih wajar, tapi kan Nasha hanya seorang office girl di perusahaan Zeroun dulu, masa iya tiba tiba punya rumah sakit, kan aneh, pikir Nasha.
“Hehe mukanya kenapa malah gemesin sih? Haha,” ucap Farzan terkekeh dan malah lanjut tertawa.
“Ya masa aku tiba tiba jadi pemilik rumah sakit. Aneh ih. Oh atau sebenarnya itu punya kamu ya?” selidik Nasha karena masih tidak habis pikir.
“Haha. Bukan begitu Sayang. Jadi selama aku belajar di negara lain, aku juga fokus untuk membuat perusahaanku sendiri. Aku di bantu beberapa sahabatku yang menjadi orang kepercayaanku sekarang. Apalagi Brady yang malah ingin jadi asistenku padahal aku sudah menawarkan memegang perusahaan yang aku kelola dulu sebelum mengambil alih perusahaan Daddy,” jelas Farzan menjeda kalimatnya untuk mengambil Nafas.
“Dulu aku berambisi membuat perusahaan agar lebih mudah mencari dan menemukanmu nantinya. Apalagi aku juga ingin langsung menjadikanmu ratu dalam hidupku. Aku ingin kamu tidak kekurangan apa pun saat bersamaku nanti,” lanjutnya sambil memperhatikan berbagai ekspresi yang Nasha perlihatkan.
“Lalu?” gumam Nasha masih penasaran.
“Aku membuat perusahaan keamanan, pusat perbelanjaan, sekolah, perumahan, rumah sakit dan beberapa lainnya.”
“Daddy belum tahu akan hal ini. Aku juga memakai nama ARC Coporation untuk melabeli semua bidang. Hanya pusat perbelanjaan yang memakai nama ARCHA agar aku bisa selalu mengingatmu.”
“Saat membangun semua itu, aku tidak pernah menggunakan namaku dalam sertifikat kepemilikan. Semua itu atas nama panggilan kamu ‘Acha’, tapi sekarang semua sudah menjadi nama lengkap kamu,” Farzan terus menceritakan tentang dirinya dulu untuk bisa membangun setiap tempat yang bisa memperkerjakan banyak orang itu.
“Kenapa? Aku rasa aku tidak pantas untuk semua itu Kak,” lirih Nasha terharu sekaligus tidak percaya ada orang yang sampai rela berkorban hanya untuk dirinya yang bukan siapa siapa.
“Kata siapa? Kamu adalah mentari dalam hidupku. Dulu aku tidak memiliki teman karena memang kebanyakan dari mereka hanya melihat dari hartaku saja, dan kamu menjadi teman pertama yang langsung menduduki tahta di dalam hatiku. Tidak ada yang bisa membuatku nyaman selain dengan keluargaku. Hanya kamu,” ucap Farzan serius dengan tangan menangkup kedua pipi Nasha, menghapus air mata yang tiba tiba saja meluncur dengan bebas.
“Berarti jika aku ternyata bukan orang yang Kakak cari semua itu akan menjadi miliknya?” tanya Nasha yang sedikit tidak nyaman jika itu memang benar.
“Tentu saja tidak. Sebelum aku tahu kamu adalah orang yang sama dengan dia pun, aku sudah lebih dulu menggantinya dengan namamu. Kamu yang sekarang sudah menjadi pendampingku jadi sudah seharusnya itu semua menjadi milikmu. Kalaupun kamu bukanlah dia, aku tetap akan menggantinya dengan namamu. Nyatanya kamu adalah dia,” ucap Farzan meyakinkan. Kadang memang Farzan harus memaklumi pikiran Nasha yang seperti ini, Farzan merasa beruntung Nasha mau membicarakannya dan tidak memendamnya seperti tadi.
“Terus Kakak kerja ngga dapet apa apa dong?” nah kan ada saja pertanyaannya.
“Ya banyak dong Sayang. Selain perusahaan aku juga menggantikan Daddy kan. Belum lagi aku juga akan dapat bagian atau bisa di sebut gaji dari setiap perusahaan. Tapi kamu yang mendapatkan hasil tertinggi dari yang aku hasilkan,” jelas Farzan.
__ADS_1
Setelah itu masih banyak pertanyaan lain yang membuat Nasha penasaran. Terkadang bahkan pertanyaannya tidak masuk di akal. Tapi Farzan dengan sabar memberikan jawaban yang sedikitnya mengurangi rasa penasaran Nasha.
...----------------...
Matahari mulai terbenam memberikan suasana senja yang begitu indah karena langit sedang cerah. Dua orang yang sedang dalam perjalanan itu menikmati pemandangan sore menjelang malam di dalam mobil yang sedang terjebak kemacetan lalu lintas karena sekarang memasuki waktu pulang kerja bagi beberapa perusahaan di sekitarnya.
Mobil itu di bawa oleh sopir karena Farzan sedang ingin fokus pada Nasha walau sebenarnya wanita itu tertidur sedari mobil keluar dari perumahan. Dan sekarang Farzan hanya memandangi wajah Nasha, sesekali mencium kening atau pelipisnya.
Ckitt..
Suara decitan antara ban dan juga aspal terdengar nyaring karena tuas rem yang di gunakan mendadak karena ada yang menghalangi jalannya sebuah mobil, membuat orang yang ada di dalamnya hampir saja terjungkal atau bahkan terluka. Tak lupa suara klakson menghiasi adegan mencekam itu.
“Ada apa?!” tanya Farzan dengan nada teramat datar, bahkan atmosfer yang tadinya hangat berubah dingin seketika.
“Maaf Tuan, di depan ada seorang wanita yang sengaja ingin menabrakkan dirinya,” lapor sopir sedikit takut akan kemarahan Tuannya.
Shh.. awh..
Suara rintihan terdengar di balik tubuh yang Farzan lindungi karena tadi dia langsung mengubah posisi di hadapan Nasha dengan kedua tangan melindungi setiap sisi agar Nasha sama sekali tidak terluka atau terbentur.
Paling hanya terkena tubuhnya, walau tubuhnya juga keras setidaknya tidak akan sesakit menabrak meja watau bahkan dashboard mobil karena terpental.
Tapi sepertinya karena hal ini membuat Nasha yang tadinya tertidur menjadi kaget dan membuat perutnya terasa kembali sakit.
“Pe rut,” dengan menahan rasa sakitnya Nasha menjawab pertanyaan Farzan.
“Maaf ya? Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Farzan lembut meminta persetujuan, dia tidak ingin egois dengan memaksa Nasha ke rumah sakit jika memang tidak mau. Kecuali jika sudah sangat darurat maka Farzan akan mengambil langkah itu.
Kedua tangan Farzan sama sama mengusap tubuh Nasha, satu di atas perut dan satu lagi di punggung dan lengan Nasha. Walau khawatir karena Nasha tidak kunjung menjawab, Farzan membiarkan Nasha tenang terlebih dahulu agar tahu apa yang harus dia lakukan setelahnya.
“Sudah membaik?” tanya Farzan begitu cengkeraman tangan Nasha mengendur. Tadi setelah di pangku Nasha langsung mencengkeram kemeja Farzan dan sedikit mengenai kulit perut Farzan. Tapi Farzan tentu tidak mempermasalahkannya, rasa sakit yang dia rasakan tidak sebesar rasa sakit Nasha, begitu pikirnya.
Nasha hanya mengangguk perlahan sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan. Nasha sedikit takut karena dia sudah sering merasa sakit di area perutnya. Belum lagi tadi dokter bilang kandungannya lemah, dia jadi semakin takut.
“Hey, tenanglah anak kita akan baik baik saja,” bisik Farzan menenangkan seolah tahu apa yang sedang Nasha pikirkan.
“Ta kut hiks dok ter bil hiks lang a an nak hiks hiks,” Nasha tidak bisa melanjutkan ucapannya memikirkannya saja sudah membuatnya sangat takut.
“Stt.. tidak akan terjadi apa apa Sayang. Atau kamu mau kita ke rumah sakit saja hm?” ajak Farzan lembut agar Nasha bisa lebih tenang. Walau dalam hati dia juga khawatir tapi Farzan lebih khawatir pada Nasha.
__ADS_1
“Eng ga m mau,” masih dengan sesenggukan Nasha menjawab, Nasha tidak suka berdiam di rumah sakit, apalagi nanti dia pasti merepotkan banyak orang.
“Stt.. ya sudah kalau tidak mau, tidak apa. Nanti biar dokter yang datang saja bagaimana?” ucap Farzan menenangkan dan Nasha hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Sopir tadi sudah keluar untuk mengetahui yang terjadi karena kebetulan di sekitar jalan ini ada petugas kepolisian yang memang berjaga. Wanita itu juga bukanlah musuh atau orang yang menginginkan simpati dari Farzan, dia hanya wanita kepala 4 yang sedang frustrasi di tinggal oleh suaminya dan akhirnya nekat menabrakkan diri di jalan umum.
Farzan hanya memperhatikan dari dalam mobil sambil terus memberikan kenyamanan untuk Nasha. Kedua tangannya pun tidak henti mengelus punggung dan perutnya sampai Nasha berangsur tenang kembali.
“Mau minum,” lirih Nasha dengan sedikit terbata karena masih ada sedikit sisa tangis.
Farzan mengambil air mineral botol yang selalu tersedia di dalam mobil dan membukakan tutupnya agar Nasha bisa langsung meminumnya.
Nasha yang kehausan menghabiskan 1 botol kecil air mineral sekaligus. Farzan yang melihatnya hanya tersenyum hangat dan mengambil botol yang sudah kosong itu untuk di buang ke tempat sampah yang tersedia.
“Udah?” tanya Farzan memastikan.
“Iya,” jawab Nasha kembali bersandar di dada Farzan sambil melihat ke arah depan untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Tadi ada perempuan yang mau menabrakkan dirinya di depan mobil. Sopir yang kaget langsung injak rem mobil sekaligus jika tidak mungkin keinginan wanita tadi terkabul,” jelas Farzan tanpa harus mendengar Nasha bertanya terlebih dahulu.
“Kayanya dia punya masalah,” gumam Nasha karena masuk dalam mode malasnya.
“Hm, sepertinya. Biarkan itu jadi urusan mereka,” ucap Farzan tidak mau ikut campur, baginya bawahannya saja yang turun sudah bisa mengatasi semuanya. Tidak perlu dia sendiri yang turun tangan. Alasan lainnya karena tidak ingin meninggalkan Nasha.
Tidak lama sopir kembali masuk dan duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan kembali mobil menuju kediaman utama Lakeswara.
“Bagaimana?” tanya Farzan menatap sopir dari kaca spion tengah.
“Sudah selesai Tuan. Wanita tadi depresi ditinggal suaminya menikah dengan orang lain,” jelas sopir tenang.
“Kasian,” lirih Nasha yang hanya di dengar Farzan. Farzan hanya mengusap kepala Nasha yang sedang menelungkup di antara ceruk lehernya.
Farzan juga hanya mengangguk kecil tanda mengerti dan sopir yang mengerti tanda itu juga kembali fokus pada jalanan di depannya tidak seperti tadi yang sesekali melirik ke arah Farzan.
...----------------...
maafkan dua hari kemarin lagi ngga mood buat nulis, hehe😁✌
oke deh, happy reading..
__ADS_1
tandai typo, oke? hehe
bye bye