Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Tidak mau ditinggal


__ADS_3

Dalam waktu 20 menit mereka sudah sampai di AR Medic. Billa langsung di tangani oleh dokter yang entah tahu dari mana, karena mereka menunggu di gedung UGD.


Tapi saat datang tadi mobil yang dikendarai Reno dan juga Farzan sudah lebih dulu tiba, jadilah Reno menunggu di samping para dokter.


"Shh.. sakit," lirih Billa saat Reno sudah membopongnya untuk tiduran di bangkar.


"Aku di sini," ucap Reno yang juga berbisik dan mengecup kening Billa.


Bangkar di bawa menuju ruangan untuk di periksa lebih lanjut. Jika memang hari ini bayi mereka lahir maka Billa akan di pindahkan ke gedung sebelah.


"Kita sebaiknya tunggu di kursi sana," tunjuk Farzan pada kursi tunggu yang ada di sebelah kiri ruangan.


Nasha sedari tadi terdiam menahan rasa sakit yang tiba tiba datang. Mungkin anaknya kaget karena dia panik tadi, apalagi dia sedikit berlari menuju mobil tanpa memperhatikan jika dia juga sedang mengandung. Efek panik, membuatnya lupa.


"Maaf Sayang. Bukan maksud aku untuk melarang sedari tadi. Hanya saja tadi sudah terlalu larut dan juga kamu sedang mengandung jadi tidak mungkin aku membiarkan dirimu kelelahan," ucap Farzan panjang menjelaskan penolakannya tadi.


Farzan membawa Nasha duduk di dekat taman gedung ini, sedikit menjauh dari yang lainnya. Mereka juga sama sama sedang menenangkan pasangan masing masing.


Nasha hanya mengangguk saja sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling meremat guna mengalihkan rasa sakit yang masih tersisa.


"Sayang maaf ya, jangan diem aja," mohon Farzan yang belum menyadari karena masih fokus pada kepala Nasha.


Ketika Farzan akan berbalik menengok ke arah depan barulah Farzan menyadari jika kedua tangan Nasha begitu kuat saling meremat.


"Eh kamu kenapa Cha?" kaget Farzan dan memegang kedua tangan Nasha agar tidak saling meremat karena bisa membuatnya terluka.


"Sa kit," jawab Nasha terbata. Sedari tadi dia tidak membuka suara, bahkan saat sudah di dalam mobil dia menjadi diam karena sudah merasa sakit.


"Maaf aku kurang peka. Anak kita sepertinya ikut panik tadi. Apalagi Maminya bawa dia lari lari," ucap Farzan bercanda untuk menenangkan Nasha dan terus mengusap sayang perut buncit istrinya.


"Maaf," lirih Nasha yang merasa bersalah. Nasha mengira Frzan sedang menyindirnya yang kurang hati hati tadi.


"Ngga Sayang. Aku sama sekali ngga marah. Wajar kok kalau kamu panik seperti tadi. Kalau kamu yang ada di posisi itu juga yang lain bahkan aku pun akan panik," ucap Farzan menenangkan, sebelah tangannya terangkat untuk menghapus setitik air mata yang jatuh dari mata Nasha.


"Maaf aku nakal," ucap Nasha dengan isakan yang mulai ikut terdengar.


Nasha masih takut jika anaknya kembali dalam posisi kandungan lemah seperti awal awal kehamilan dulu. Nasha juga takut anaknya kenapa napa.


"Hey, ngga Sayang. Kamu tenang ya, ada aku di sini," ucap Farzan membawa Nasha ke dalam pangkuannya.


"Stt.. tenang ya, ngga akan terjadi apa apa. Kamu dan dia kuat," bisik Farzan menenangkan.


"Kalau kamu ngga percaya nanti kita cek ya?" bujuk Farzan karena Nasha masih sesenggukan.


Nasha mengangguk saja, sedikit sedikit isakannya juga berkurang dan hampir menghilang.


"Kita pulang ya?" ajak Farzan melihat sekarang sudah hampir jam 9 malam.

__ADS_1


"Mau nunggu kabar," cicit Nasha takut dimarahi.


"Hah.. yaudah kita tunggu di gedung utama ya. Kamu butuh istirahat," ucap Farzan tidak mau di bantah karena kondisi Nasha sempat seperti tadi.


"Yang lain?" tanya Nasha dengan mengangkat kepalanya menatap mata Farzan.


"Mereka ada ruangan di gedung ujung sana, di lantai atas. Ada lorong juga yang menyambung ke ruangan kita," ucap Farzan meyakinkan Nasha.


Letak gedung ujung atau gedung rawat inap memang mempunyai koneksi di setiap lantai gedung utama, hanya saja lantai paling atas khusus untuk para sahabat juga keluarga Farzan.


Akhirnya Nasha mengangguk dan mau di bawa menuju kamar yang ada di ruangan Farzan.


"Kalian istirahat di kamar atas aja," ucap Farzan sambil berlalu melewati mereka menuju gedung utama dengan menggendong Nasha.


"Hm, sebentar lagi kita ke sana," ucap Zargio mewakili yang lain.


"Lo sekarang, kasian Elhan bingung," ucap Farzan menyadari ada Elhan yang ikut karena Mamanya panik.


Untungnya lantai atas aman dan tidak di gunakan untuk orang sakit selain keluarga dan sahabatnya, jadi kesehatan baby Elhan terjaga, namun tetap saja lebih aman di rumah.


"Besok aja baliknya udah malem kasian," lanjut Farzan yang diangguki Ergi.


Mereka naik ke kamar masing masing untuk mengantar istri masing masing, sebelum kembali lagi dan menemani sahabat mereka, Reno.


...----------------...


"Sttt.. kenapa hm? Aku di sini Sayang," ucap Farzan menenangkan dengan mendekap kembali Nasha dan mengelus punggungnya.


"Jangan pergi," gumam Nasha dengan memegang erat kemeja Farzan.


"Aku ngga kemana mana Sayang," ucap Farzan sambil mengecupi pucuk kepala Nasha.


Farzan menunggu sampai Nasha benar benar terlelap agar tidak rewel saat ditinggal ke bawah sebentar nanti.


15 menit berlalu Nasha masih memegang erat kemeja milik Farzan walau mata tertutup dengan nafas yang mulai teratur tapi Nasha masih begitu erat menggenggam bahkan meremat.


Pelan pelan Farzan mencoba melepaskan genggaman Nasha agar bisa menemui yang lainnya, karena mereka sudah sampai di bawah 5 menit yang lalu.


Walau cukup sulit juga untuk mereka meninggalkan istrinya masing masing. Tapi mungkin karena kelelahan jadi para istri lebih mudah terlelap.


...Deon...


Dimana


^^^Kamar^^^


Reno di luar

__ADS_1


^^^Hm, bentar lagi^^^


Hm


Sedikit percakapan antara Farzan dan Deon yang sama sama irit bicara namun mengerti maksud dari perkataan satu sama lain itu membuat Farzan yang sudah berhasil melepas genggaman Nasha perlahan beranjak menuju lantai dasar kembali.


Namun baru saja 4 langkah sudah terdengar kembali suara isak tangis yang terdengar di susul suaranya yang bergetar.


"hiks mau hiks kemana," ucap Nasha terbata, dia sepertinya masih merasa Farzan marah dan akan meninggalkannya sendiri.


"Eh, hey kenapa? Aku cuma mau ke bawah Sayang," ucap Farzan duduk di samping Nasha kembali.


"Ikut hiks hiks," masih dengan sesenggukan Nasha meminta dan kembali mendekap Farzan tanpa mau melepas.


"Hah," helaan nafas Farzan keluarkan dengan sepelan mungkin agar Nasha tidak salah paham.


"Kamu istirahat ya? Aku cuma mau cek keadaan Reno dan Billa aja," ucap Farzan membelai wajah Nasha yang sudah menatap ke arahnya.


Namun Nasha menggeleng dengan mata yang kembali berkaca kaca seolah Farzan akan meninggalkannya begitu jauh.


"Yaudah, kalau mau ikut harus pake selimut ya?" pasrah Farzan yang lebih baik mengajak Nasha kembali turun dari pada di tinggal sendiri dalam kondisi menangis seperti ini.


"Engga marah?" tanya Nasha pelan merasa jika Farzan terpaksa.


"Hah.. bukannya marah Sayang, aku cuma khawatir," helaan nafas terdengar sebelum Farzan menjawab pertanyaan istrinya itu.


"Masih mau ikut?" tanya Farzan kembali dengan menatap mata istrinya ini.


Nasha mengangguk dengan wajah menggemaskannya. Bagaimana tidak, lihat saja dari pipi yang memerah, hidung yang sama merahnya, mata yang sudah terlihat sipit karena terlalu banyak menangis, dan juga suara sesenggukan yang sesekali masih terdengar, satu lagi jangan lupakan bibirnya yang maju beberapa senti ke depan karena takut di tolak.


"Hehe.. yaudah sekarang kita ke bawah ya," ucap Farzan lembut dengan tangan yang membelit tubuh Nasha dengan selimut agar tidak kedinginan nanti.


Nasha yang di perlakukan seperti itu hanya diam tanpa protes agar tidak di tinggal.


Setelah di angkat oleh Farzan, Nasha menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Farzan dengan mata terpejam.


Farzan langsung saja berjalan menuju ke arah lift yang di tunggu oleh bodyguard dan membantunya menekan tombol angka karena tangannya menahan tubuh Nasha yang sepertinya kembali terlelap.


"Ini anak Papi atau Maminya yang mau manja ya? Masa tinggal sebentar aja nangis sih hehe," batin Farzan terkekeh gemas dengan kelakuan Nasha ini.


Farzan sama sekali tidak marah, hanya sedikit khawatir dengan kesehatan Nasha saja.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..

__ADS_1


bye bye


__ADS_2