
Selesai dengan makan dan menunggu cukup lama, dengan suasana yang cukup canggung bagi Nasha, membuat Farzan harus lebih sering mengajaknya berbicara. Padahal jika di luar, Nasha lebih berani dan bisa menempatkan diri. Tapi mengingat situasi yang sedikit berbeda jadilah dia kembali menjadi orang yang pendiam.
“Oh ya, kalau disini Masjid yang dekat dimana? Sudah mendekati waktu sholat Ashar,” ucap Farzan karena waktu menunjukkan hampir pukul 3.
“Mm ada dekat lapangan yang lumayan dekat dari sini, tinggal belok kiri nanti di depan belok kanan, Masjidnya ada di sebelah kanan persis depan lapangan,” terang Nasha.
“Atau mau saya antar saja? Kebetulan saya sedang halangan jadi saya bisa menunggu di dekat lapangan nanti,” lanjut Nasha, sekalian sambil nenangin pikiran kan, lanjut batin Nasha.
“Boleh, dari sini dekat kan? Tidak perlu membawa kendaraan berarti?” tanya Farzan lagi. Kalau kalian penasaran gimana dengan orang suruhan Farzan, mereka akan bergantian untuk istirahat dan juga sholat, karena rata rata mereka beragama muslim.
“Iya, tidak perlu,” jawab Nasha sambil membereskan sedikit barang barang tadi. Selesai dengan itu semua mereka mulai berjalan meninggalkan rumah untuk menuju ke Masjid yang berada di perumahan tersebut.
“Apa kamu ingin berbagi cerita kepada saya?” tanya Farzan selagi mereka berjalan.
“Tentang?” tanya Nasha balik, karena dia bingung mau bercerita tentang apa.
“Orang tua kamu misalnya,” tawar Farzan agar Nasha banyak berbicara.
“Hm, saya rasa tidak ada yang ingin saya ceritakan. Kamu bisa menilainya langsung nanti, saya tidak memiliki hak untuk menyampaikan pendapat saya,” jawab Nasha dengan lirih. Dia bukan bermaksud menolak, hanya saja menurutnya bukan ranahnya untuk membicarakan mereka, biarkan orang tau dengan sendirinya.
“Baiklah jika itu maumu, tapi saya harap kamu tidak membenci permintaan saya ini,” ucap Farzan yang tau jika Nasha tidak ingin membicarakan orang tuanya, dia tau Nasha menyimpan begitu banyak luka dengan mereka yang harus dia cari tau nanti.
“Saya tidak membencinya, hanya saja memang sejujurnya saya mempunyai rencana dulu, namun tidak apa, mungkin ini memang jalannya, jadi saya ikhlas menerima semuanya,” ucap Nasha yang memang akan menerima semuanya, karena yang dia tau takdir setiap manusia sudah di atur oleh Allah SWT dan sebagai manusia dia hanya bisa menerimanya saja.
“Ya benar, dan untuk ucapan saya waktu itu tentang seseorang di masa lalu saya, saya usahakan tidak mengecewakanmu, saya sudah memikirkan ini dan menurut saya akan tidak adil jika saya memanfaatkan orang seperti dirimu, kita sama sama belajar ya?” ucap Farzan yang memang akan mencoba untuk mengikhlaskan masa lalunya, bukannya dia menyerah hanya saja tidak baik jika dia mempermainkan sebuah ikatan suci seperti pernikahan.
“Ya, kita sama sama belajar,” ucap Nasha sambil tersenyum pada Farzan.
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan dan mereka menuju tempatnya masing-masing. Disadari oleh Nasha jika perkataan Farzan tadi membuatnya merasa lebih tenang, setidaknya dengan ini juga dia bisa meninggalkan rumah tanpa harus memiliki alasan yang rumit.
Waktu berjalan dengan sedikit cepat. Banyak yang telah mereka berdua bahas selama menunggu di sekitar lapangan dan saat memasuki jam 5 sore di sana banyak yang berjualan mulai dari makanan ringan, makanan berat, dan minuman. Alasan mereka tidak langsung pulang yang pertama karena takut menjadi perbincangan tetangga sekitar, kedua karena menurut mereka lebih efektif menunggu di lapangan agar dekat ke Masjid dan mereka juga bisa membeli makanan agar tidak bosan.
Selesai melaksanakan sholat Isya, Farzan dan Nasha pun langsung menuju ke rumah agar bisa langsung bertemu kedua orang tuanya. Semakin mendekati rumah, rasanya jantung Nasha seperti berpacu di arena balap atau seperti menonton film action atau horror yang sangat menegangkan, karena takut dimarahi mereka nantinya.
“Semua akan baik baik saja. Percaya pada saya,” ucap Farzan seperti mengerti apa yang Nasha rasakan karena sebenarnya dia juga sedikit merasa takut.
“Hm, iya,” ucap Nasha yang sedikit lebih tenang.
...----------------...
Rumah...
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap Nasha dan Farzan berbarengan sambil berjalan untuk bersalaman dengan kedua orang tua Nasha.
“Wa ’alaikumsalam,” jawab Ayah dan Ibu yang ada di ruang depan.
“Silahkan duduk,” ucap Ibu Nasha dan mengisyaratkan kepada Nasha untuk mengikutinya ke dapur, membuat minum dan dibalas anggukan oleh Nasha.
“Cari siapa? Dan ada perlu apa ya?” ucap Ayah Nasha karena biasanya sering banyak yang salah alamat atau menawarkan kredit card atau hal semacamnya di daerah sini.
“Perkenalkan saya Farzan Adya Lakeswara, dan maksud saya kemari adalah untuk melamar putri Bapak yang bernama Zaina Arfha Nashafa sebagai pendamping hidupnya,” ucap Farzan langsung tanpa ingin berbasa-basi.
Nasha yang baru kembali dari dapur bersama Ibunya pun sedikit terkejut karena dia pikir Farzan tidak akan langsung berbicara seperti itu. Reaksi Ayah dan Ibu sama yaitu terkejut. Bahkan mereka saling tatap beberapa saat karena merasa aneh.
“Sebentar, apa Anda mengenal putri saya? Saya pikir ini terlalu mendadak dan sedikit aneh,” ucap Ayah Nasha yang sudah mulai kembali dari keterkejutannya.
“Loh Sha kok ga bilang apa apa sih? Kenapa?” timpal Ibu Nasha.
“Apa kamu membuat kesalahan fatal Zaina?” bentak Ayah Nasha dengan muka memerah menahan amarah. Nasha hanya bisa menunduk, dia sudah memperkirakan ini semua. mau bicara apa pun aku pasti terlihat salah, lebih baik aku diam saja, batin Nasha.
“Bukan. Ini sama sekali bukan karena sebuah kesalahan atau apa pun itu. Saya sudah mengenal putri Bapak dan Ibu sejak lama, dan saya memantapkan hati untuk meminangnya,” jelas Farzan dengan tenang.
“Maaf sebelumnya, bukannya saya lancang dengan berbicara langsung seperti tadi, hanya saja jika saya bertele tele maka saya akan seperti seorang yang mempermainkan orang lainnya. Dan saya bukan orang yang pandai merangkai kata indah,” tambah Farzan
“Haha.. bahkan saat seperti ini pun aku masih di salahkan. Betapa memang aku tidak diharapkan disini. Ingin menangis tapi belum saatnya, sabar Cha sabar,” batin Nasha.
“Ternyata begini sifatnya, aku sengaja seperti itu untuk menelaah siapa orang tua dari Nasha, ternyata sesuai dengan apa yang Saka laporkan. Baiklah aku akan membuatmu secepatnya pergi dari sini,” batin Farzan.
“Kenapa ini? Siapa dia Yah Bu,” ucap Ucan yang mendengar keributan di ruang depan jadi dia melihatnya.
“Sepertinya dia membuat masalah lagi, dan pria itu ingin menikahi Kakakmu,” jelas Ayah. Ucan yang sejak melihat Farzan sudah terpukau karena ketampanannya, bahkan dia sedikit tidak fokus dengan apa yang Ayahnya bicarakan.
“Wah tampannya, usianya mungkin di atasku sih, tapi sepertinya dia masih cocok untuk jadi pacarku,” batin Ucan senang.
“Hah apa? Dia ingin melamar Kakak maksudnya?” tanya Ucan yang baru selesai dengan acara melamunnya.
“Hm,” jawab ketus Ayah dan Ibu.
“Padahal Kakak ganteng, kenapa mau sama Kakak tengil ini,” ucap Ucan sambil menunjuk Nasha.
“Kamu ini, lagi pula kita belum mengetahui latar belakang dia seperti apa, harus di waspadai,” ucap ibu Nasha dengan nada kesal pada putri bungsunya.
“Tapi dia ini sepertinya orang baik loh Bu Yah, lebih baik dia sama aku aja, sebentar lagi aku beres sekolah tinggal kuliah jadi aku ga ngebebani kalian kan, hehe,” ucap Ucan yang terang terangan menunjukkan bahwa dia tertarik pada Farzan.
__ADS_1
“Mungkin nanti aku akan disuruh mengalah untuk Ucan, dan mungkin juga Farzan akan lebih memilih Ucan yang memang lebih segala galanya dari pada aku yang seperti ini, haha,” batin Nasha getir.
“Maaf saya menyela, ini tidak ada hubungannya dengan sebuah kesalahan, dan ini murni karena kami memang tidak ingin menjalani hubungan seperti anak jaman sekarang yang dikenal dengan istilah pacaran, karenanya saya langsung meminang putri kalian,” sela Farzan agar tidak meluas kemana mana, karena ketertarikan adiknya Nasha akan mempersulit semuanya nanti.
“Baiklah, mungkin memang benar seperti itu, dan terserah kalian mau bagaimana, kami tidak begitu peduli,” sanggah Ayah Nasha yang terlihat sudah tidak terlalu emosi.
“Tapi kan Yah,” ucap Ibu dan Ucan berbarengan.
“Tidak usah tapi tapi, kita biarkan saja, semoga keputusan Dia itu memang baik,” ucap Ayah sambil menunjuk Nasha.
“Lagi pula seharusnya jika memang tidak ada kesalahan, dia datang bersama dengan keluarganya, tapi nyatanya dia hanya sendiri,” ucap Ayah sinis.
“Maaf Pak, saya bukannya tidak ingin membawa keluarga besar saya, hanya saja mereka baru akan datang di acara lamaran nanti. Karena Bapak sudah mengijinkan saya, jadi hari minggu nanti kita bertemu kembali dengan Keluarga Besar saya di sebuah tempat yang saya persiapkan, tenang saja nanti akan ada yang menjemput kemari,” ucap Farzan tenang dengan menekan kata Keluarga.
“Orang seperti ini memang harus di buat seperti itu agar bisa belajar, walau tidak tau nanti akan terulang atau tidak, yang jelas sudah pernah di beritahu,” batin Farzan kesal.
“Ya terserahmu saja,” ucap Ayah masa bodo.
“Semuanya sudah saya persiapkan, dan Arfa saya minta tolong bawa paper bag itu kemari,” ucap Farzan pada Nasha. Tanpa berkata apa apa Nasha berjalan menuju kamarnya dan membawa apa yang di minta Farzan.
“Ini untuk kalian pakai nanti, saya harap kalian suka,” ucap Farzan acuh. Mereka hanya melirik sebentar tanpa ingin membuka apa isi dari paper bag tersebut. Menurut mereka itu tidak begitu penting, walau nanti tetap di pakai.
“Terserah saja dia mau bagaimana, sudah seperti ini hanya membuat malu saja anak itu,” batin Ayah Nasha.
“Kalau begitu saya pamit, dan saya ingin membawa Arfa untuk bersama saya sampai waktunya tiba nanti. Bawa itu dan kita pergi sekarang,” ucap Farzan pada mereka dan menunjuk paper bag yang isinya gaun yang akan dipakai Nasha nanti.
“Ta tapi,” gugup Nasha menahan sesak.
“Tidak apa, kita pergi sekarang,” ucap Farzan langsung membawa paper bag dan menarik tangan Nasha.
“Silahkan bawa saja, kami hanya akan datang bertiga, tidak perlu menjemput segala, kami tau kamu belum bisa apa apa, dan untuk kamu Zaina terserah padamu saja, jika hidupmu susah nanti jangan pernah datang kemari untuk meminta bantuan kami,” ucap Ayah Nasha tanpa repot repot melihat ke arah mereka berdua.
.
.
.
tbc
happy reading :)
__ADS_1