
“Ya kurang lebih seperti itu,” selesai Farzan menceritakan pada Zeroun. Biasanya memang pada beberapa waktu Zetta atau Zeroun akan berbicara layaknya teman dengan Farzan atau Aletta. Tapi karena Farzan juga jarang pulang setelah dari luar negeri, waktu bersama anak sulungnya itu juga berkurang banyak.
Dan ternyata Zeroun melewati banyak hal tanpa sadar. Farzan sudah lebih dewasa dari yang dia kira. Parahnya lagi ternyata orang suruhannya sudah diketahui oleh anaknya dan tidak melakukan semua tugasnya. Sepertinya nanti Zeroun akan merombak kembali semua orang orangnya agar lebih kuat dan tidak gampang di belot oleh siapa pun.
“Ternyata Daddy sudah melewati banyak hal,” ucap Zeroun setelah terdiam beberapa saat.
Farzan menceritakan dengan detail tanpa di kurang atau di tambah. Baginya sekarang ini merupakan waktu yang tepat untuk memberitahu ayahnya ini. Dulu dia belum berani karena tidak ingin dikenali dulu, karena Farzan sendiri baru di kenalkan sebagai anak dari Zeroun saat mengambil alih beberapa perusahaan.
“Maaf Dad, bukan aku tidak mau cerita dari dulu, hanya saja aku takut tidak bisa menjalankan semuanya dengan baik,” sesal Farzan setelah melihat ada tatapan kecewa dari ayahnya.
“Dad bukan marah, tapi hanya sedikit kecewa. Ternyata setelah lama tidak bercerita denganmu, banyak yang tidak Dad atau Momy tahu tentang dirimu,” ucap Zeroun dengan suara sarat akan kecewa.
“Tapi dibalik itu semua Dad bangga dengan keberhasilanmu ini. Dad juga hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi anak anak Dad. Tapi Dad minta kamu tetap memegang kendali di LK Corp,” lanjut Zeroun dengan raut wajah yang menunjukkan jika dia bangga.
“Maaf dan terima kasih Dad. Untuk itu Dad tidak perlu khawatir, aku tetap akan ada di LK Corp,” yakin Farzan karena memang dia tidak akan mengembalikan tanggung jawabnya pada Zeroun. Setidaknya dalam perusahaan miliknya banyak orang suruhannya dan juga sahabatnya yang bisa mengurus jadi dia hanya perlu memantau dari jauh.
Tadi setelah selesai bicara sedikit di ruang keluarga, Farzan dan Zeroun memang langsung menuju ruang kerja Zeroun di lantai 2. Tentu setelah mengantar para wanita ke dalam kamar masing masing. Mungkin mereka berdua sudah mengobrol lebih dari 2 jam.
...----------------...
Sementara di dalam kamar Nasha sedari di antar oleh Farzan tadi sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Mau keluar dan ke kamar Aletta juga Nasha ragu, takut dia sudah tertidur.
Tadi dia memasuki kamar sekitar pukul 9 malam kurang, dan sekarang sudah hampir jam 11 malam. Nasha sudah beberapa kali membalikkan badannya tapi tetap saja tidak ada posisi yang membuatnya nyaman dan bisa terlelap.
“Ih kenapa sih? Tadi aja sering tidur, masa sekarang susah tidurnya,” monolog Nasha kesal. Sebenarnya dia mengantuk tapi entah kenapa perutnya terasa tidak enak, makannya dia sulit untuk memejamkan mata dan terlelap.
“Sayang, kita bobo yah? Masa kamu belum ngantuk sih?” entah feeling atau apa, tapi Nasha pikir anaknya belum mau dia tertidur atau belum menemukan kenyamanan untuk bisa terlelap.
“Aku udah ngantuk nih, masa kamu belum sih,” Nasha masih terus mencoba membujuk janin yang masih belum berbentuk itu agar bisa tidur. Jujur saja matanya sudah mengantuk tapi badannya seolah menolak dia tidur sekarang.
Bahkan tanpa sadar matanya sudah berkaca kaca. Sekarang saja baru memasuki semester pertama kehamilan dia sulit untuk menyamankan diri dan beristirahat, apalagi nanti saat sudah mendekati waktu melahirkan, akan sesulit apa yang dia rasakan.
Tanpa sadar Nasha meneteskan air matanya. Entah kenapa sekarang dia lebih sering mengeluh dengan keadaan tubuhnya. Biasanya walau dia sedang tidak sehat dulu, dia masih bisa mengerjakan banyak hal, bahkan bekerja di perusahaan.
“Aku kenapa jadi cengeng sih hiks,” gumam Nasha sambil terus menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.
Lelah menangis Nasha berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar Farzan tidak mengetahui dia menangis. Walau badannya sedikit lemas jika harus berjalan menuju kamar mandi.
“Kamar mandinya jauh, mau jalan ke kasur lagi tapi keburu lemes,” gumam Nasha di depan kaca. Nasha bisa melihat wajahnya yang pucat, matanya sedikit sayu karena lelah, belum lagi rambutnya yang sedikit berantakan.
“Di sini kan ada banyak handuk, tiduran bentar di bathtub deh, semoga aja bisa tidur,” tadi Nasha menatap pantulan cermin yang memperlihatkan bathtub dan ada handuk yang menggantung di sebelah wastafel. Dari situ dia ingat jika handuk selalu di simpan di lemari bawah wastafel dan juga ada di penyimpanan dekat bathtub.
Tanpa banyak diam lagi, Nasha mengambil beberapa handuk dari bawah wastafel dan juga beberapa di dekat bathtub lalu menyusunnya di atas bathtub kering karena memang belum di gunakan. Satu handuk dia jadikan bantal dan satu lagi dia gunakan untuk selimut.
Setelah menemukan posisi yang membuatnya nyaman, yaitu menghadap ke arah kiri membelakangi pintu yang ada di dekat wastafel. Nasha memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpi.
...----------------...
__ADS_1
Mendekati tengah malam Farzan dan Zeroun memutuskan untuk menyudahi obrolan keduanya dan mengistirahatkan tubuhnya agar besok bisa beraktivitas kembali.
“Kita bicara lain waktu, sudah terlalu larut. Momy pasti akan banyak bertanya jika Dad tidak segera ke kamar,” ucap Zeroun sambil beranjak berdiri diikuti Farzan sambil berlalu dari ruangan kerja Zeroun.
“Selamat istirahat Dad,” ucap Farzan sebelum berbalik arah menuju kamarnya dan di balas anggukkan oleh Zeroun.
Farzan berjalan menuju kamarnya dengan sedikit perasaan khawatir, takut jika Nasha tidak nyaman atau membutuhkan sesuatu, karena terlalu lama dia tinggal.
Setelah membuka pintu kamar dan menutup juga menguncinya, Farzan berjalan menuju kasur. Tapi belum sampai kasur, kening Farzan mengernyit bingung karena tidak ada Nasha di sana. Farzan melihat ke berbagai arah takut jika Nasha tidur di sofa atau bahkan di balkon seperti mimpinya dulu, tapi dari semua tempat itu Nasha tidak terlihat.
Hanya ada dua tempat lagi, walk in closet dan juga kamar mandi. Jadi Farzan putuskan untuk mencari ke dua tempat tersebut. Ruangan pertama Nasha tidak di temukan tinggal kamar mandi yang jadi tujuannya.
Tapi dari luar kamar mandi sama sekali tidak terdengar suara air mengalir atau apa pun itu. Dengan ragu Farzan membuka pintu di hadapannya perlahan, tadinya Farzan pikir pintu itu akan terkunci karena biasanya Nasha selalu mengunci pintu jika di dalam kamar mandi kecuali jika sedang mual atau terburu buru.
Ternyata pintu itu tidak di kunci. Farzan sudah takut Nasha pingsan karena terlalu lemas setelah mual. Tapi saat membuka lebih lebar lagi, tidak terlihat Nasha di dekat wastafel atau closet duduk.
Tadinya Farzan akan langsung mencari ke luar ruangan, tapi dari cermin terlihat gundukan handuk berbeda warna di pinggir dan dalam bathtub. Penasaran, Farzan mendekati bathtub dan menemukan istrinya yang ternyata sedang terlelap di atas tumpukkan handuk handuk itu.
“Aku pikir kamu keluar kamar atau terjadi sesuatu denganmu, ternyata kamu malah terlelap di sini,” gumam Farzan terkekeh geli dengan tangan mengusap pipi Nasha.
Nasha yang terganggu karena pipinya terus di usap menggeliat kan badannya tak nyaman dan mulai membuka mata dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Tidak lama setelah kedua mata Nasha benar benar terbuka, isak tangis terdengar dengan di sertai air mata yang mulai mengalir.
“Hey, stt.. kenapa menangis?” Farzan tentu merasa bersalah dan bingung karena Nasha tiba tiba menangis. Tapi niat Farzan juga memang agar Nasha bangun dan pindah ke dalam kamar, tidak di sini.
“Hiks hiks a aku ba hiks ru tidur hiks hiks tapi kamu ganggu hiks hiks hiks,” kesal Nasha sambil terus menangis, dia kesal karena baru saja mendapat kenyamanan untuk terlelap tapi malah di ganggu oleh Farzan.
“Jahat hiks hiks kamu jahat,” bukannya berhenti tangis Nasha malah semakin menjadi karena dia pasti akan sulit terlelap kembali.
“Iya Sayang iya. Maaf ya,” Farzan sekarang bingung harus bagaimana menghadapi Nasha yang seperti ini. Dia juga merasa bersalah membuat Nasha menangis.
“Ka kamu hiks kalau mau ti dur sana aja sendiri hiks jangan ganggu aku hiks,” kesal Nasha menepis tangan Farzan dan sedikit mendorongnya agar keluar, walau tidak akan ada pergeseran apa apa karena tenaganya tidak banyak.
“Hey.. masa aku tidur di kasur, tapi kamu tidur di sini sih, hm? Kita ke dalam sama sama ya?” ajak Farzan dengan sabar.
“Eng ga mau hiks,” Nasha ingin memejamkan matanya kembali, tapi seperti di kamar tadi, sekarang dia sulit mendapat kenyamanan untuk bisa terlelap.
“Tuh kan ngga bisa tidur lagi hiks hiks kamu keluar sana,” bukannya berhenti kekesalan Nasha malah bertambah berujung tangis yang sedikit mereda tadi kembali lagi dan malah semakin keras. Bahkan tangan Nasha pun mencengkeram handuk, menyalurkan kekesalannya.
“Eh stt.. iyaa maaf maaf Sayang. Jangan seperti ini please,” mohon Farzan sambil membawa Nasha ke dalam pelukannya, walau Nasha memberontak ingin menjauhkan diri dengan tangan yang memukul punggung Farzan tanpa tenaga.
“Maaf ya Sayang. Maaf,” bisik Farzan mengeratkan pelukannya agar Nasha bisa tenang kembali.
“Ja hat hiks hiks,” gumam Nasha terus menerus karena terlampau kesal. Mungkin tadi Nasha baru terlelap sekitar pukul 11 lebih dan sekarang baru mendekati tengah malam, jadi dia baru saja terlelap beberapa puluh menit.
“Iya aku jahat. Aku minta maaf,” gumam Farzan agar Nasha lebih tenang karena sekarang Nasha sudah tidak lagi memberontak dan juga memukul kecil punggungnya. Sekarang Nasha bersandar sepenuhnya dalam pelukan Farzan.
__ADS_1
“Pindah ke kamar ya?” ajak Farzan selembut mungkin agar Nasha tidak lagi menangis.
“Engga mau. Nanti susah tidur,” geleng Nasha pelan dengan suara lirih sedikit terbata karena isak tangisnya.
“Engga akan Sayang,” ucap Farzan meyakinkan.
Setelah beberapa saat terdiam Nasha akhirnya mengangguk karena tidak ingin Farzan malah sakit karena duduk di lantai kamar mandi yang sudah pasti dingin. Biarlah nanti dia pikirkan cara agar bisa tertidur. Nasha juga tidak boleh egois kan.
Tanpa kata Farzan langsung bangun dengan Nasha di gendongannya dan melangkah keluar menuju kasur dan menaruh Nasha di atasnya.
“Aku ganti baju sebentar,” ucap Farzan sebelum beranjak menuju walk in closet.
Nasha hanya mengangguk saja membiarkan Farzan pergi sambil menyandarkan kepala di sandaran kasur dengan mata terpejam. Ingin terlelap dengan posisi ini, tapi nanti Farzan menyuruhnya berbaring. Jadi Nasha hanya diam saja menunggu.
“Tidurnya yang bener ya?” ucap Farzan mengelus rambut Nasha lembut.
Tak ingin banyak bicara Nasha langsung berbaring dan memunggungi Farzan agar Farzan juga bisa beristirahat langsung. Besok dia masih harus bekerja kan. Sedangkan dia hanya di rumah saja, jadi jika sekarang tidak bisa tidur pun dia masih bisa tidur besok.
Farzan yang melihat Nasha pun hanya menghela nafas saja. Dia juga tidak bisa memaksa Nasha karena tadi dia juga sudah mengganggu Nasha. Walau memang jika di kamar mandi bisa membuat tubuh Nasha sakit saat bangun nanti.
“Tidur yang nyenyak Sayang,” ucap Farzan sambil mencium pucuk kepala Nasha sebelum menaikkan selimut dan mulai memejamkan matanya.
Beberapa saat berlalu, Farzan sudah mulai terlelap dengan nafas teratur. Berbeda dengan Nasha yang tidak tahu harus melakukan apa agar bisa beristirahat. Jujur saja tubuhnya sudah lelah belum lagi rasa tidak nyaman di perutnya kembali terasa.
Tidak ingin mengganggu Farzan dengan isakkannya Nasha menggigit bibirnya dan dengan perlahan beranjak dari kasur untuk duduk di sofa. Tapi belum sampai kakinya menyentuh lantai, Farzan sudah memegang tangannya dan menariknya kembali dalam pelukannya.
“Stt.. apa yang tidak nyaman?” tanya Farzan lembut, tadi dia hanya berpura pura saja, karena dia tahu Nasha merasa tidak nyaman dan sulit terlelap. Tadi Farzan juga tidak ingin Nasha tidak nyaman makannya membiarkan Nasha sebentar.
“Hiks pe rut hiks,” Nasha menjawab sambil balas memeluk Farzan mencari kenyamanan di sana.
“Stt.. tidak apa, aku usap usap ya?” bujuk Farzan agar Nasha tidak lagi menangis, sedari siang Nasha sudah banyak menangis dan Farzan khawatir jika terus seperti itu.
Tangan Farzan mengusap lembut perut Nasha dari dalam piyama Nasha, menyentuh langsung perut Nasha yang masih rata itu.
“Masih tidak nyaman?” tanya Farzan lembut. Nasha hanya menjawab dengan menggelengkan kepala saja.
“Sekarang sambil baring ya? Biar enak tidurnya,” ucap Farzan yang diangguki pelan oleh Nasha.
Nasha yang sudah merasa nyaman mulai memejamkan mata dan terlelap dengan nafas teratur juga sisa sesenggukan bekas menangis tadi. Farzan yang melihat itu hanya tersenyum saja sambil mencium gemas pelipis Nasha.
“Anak kita kayanya ngga bisa tidur kalau ngga sama aku ya? Jadi kamu uring uringan kaya gini,” Farzan terkekeh geli karena Nasha sedari tadi tidak mau bicara apa yang membuatnya tidak nyaman. Padahal jika dia bilang sedari tadi, Farzan pasti melakukan apa yang sedang di lakukannya sekarang.
“Selamat tidur Cha,” ucap Farzan sebelum ikut terlelap dengan tangan yang masih berada di atas perut Nasha.
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye..