Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Bertemu Reno


__ADS_3

Sampai di ruangan yang tadi ternyata Reno belum datang, bodyguard nya menyampaikan jika Reno sedang melakukan rapat rutin untuk memantau semua pekerjaan sesuai dengan yang seharusnya.


“Itu kenapa ada buah?” tanya Nasha yang melihat di atas meja ada susunan buah seperti parcel, padahal sebelumnya tidak ada.


“Mungkin tadi ada yang bawa,” jawab Farzan melirik sekilas dan menciumi pucuk kepala Nasha.


“Oh iya, ini ruangan aku di rumah sakit,” seakan ingat pertanyaan Nasha tadi Farzan langsung berkata seperti itu.


“Kok kamu punya ruangan di sini?” tanya Nasha dengan dahi mengernyit bingung.


“Nanti aku ceritain semuanya di tempat yang mau kita datengin,” ucap Farzan yang tidak mau menjelaskan sekarang. Nasha hanya mengangguk saja karena tidak tahu harus berkata apa.


Tok.. tok.. tok..


“Masuk,” Farzan mempersilahkan orang di luar untuk masuk.


“Assalamualaikum,” salam Reno ketika membuka pintu.


“Wa ‘alaikumsalam, gimana kabar Lo?” jawab salam dari Farzan dan Nasha diakhiri pertanyaan dari Farzan.


“Baik. Lo sendiri?” ucap Reno sambil duduk di sofa single sebelah kanan Farzan.


“Seperti yang Lo liat,” jawab Farzan acuh. Farzan lebih suka memeluk erat Nasha yang sedari tadi sudah tidak enak karena dilihat oleh teman Farzan ini.


“Brady bilang Lo kemarin masuk rumah sakit kan. Berarti Lo masih belum sehat?” pancing Reno santai melihat reaksi orang yang sedang bucin di depannya ini.


Nasha yang mendengar itu pun membelalakkan matanya kaget. Kenapa dia tidak tahu dengan keadaan Farzan dan malah sibuk dengan keadaannya sendiri.


“Apaan sih Lo. Gue udah sehat. Kemarin cuma kecapean aja,” Farzan melirik Reno sinis karena membuat tubuh Nasha tadi menegang. Setelah ini pasti dia berpikir macam macam lagi.


“Ya ya ya, terserah Lo aja,” ucap Reno malas.


“Kenapa Lo panggil Gue?” tanya Reno karena dia masih harus menemui istrinya di lantai 2. Billa bekerja di rumah sakit ini, dan lantai 2 khusus pemeriksaan kesehatan jiwa. Sedangkan lantai 3 sampai 6 itu terdiri dari periksa umum, anak, kandungan, gigi, dan sebagainya.


Dan lantai dimana Farzan sekarang itu lantai 9 dan di atas ada 1 lantai lagi untuk ruang rawat, ICU dan yang lainnya khusus keluarga pemilik.


Untuk dokter ahli atau spesialis ada di gedung tengah di belakang. IGD/UGD ada di gedung sebelah kanannya. Ruang rawat umum ada di gedung sebelah kiri.


Lantai 7 dan 8 di gedung utama digunakan untuk tempat istirahat dokter dan juga ruangan untuk direktur dan para staf yang lain. Di sana juga merupakan tempat ruangan rapat untuk membahas berbagai hal.


“Ngga ada. Cuma Gue mau minta tolong sama Lo, kumpulin anak anak. Ada yang mau Gue sampein,” ucap Farzan.

__ADS_1


“Lo kan bisa ngomong sendiri. Aneh banget sih,” kesal Reno karena baginya Farzan hanya membuang waktunya.


“Ya kan sekalian Gue di sini. Jadi mending Lo aja yang kabarin mereka. Ajak Ergi sama Mita juga,” ucap Farzan santai. Berhubung dia kesal tadi karena Reno membahas tentang sakitnya jadi dia balas dendam dengan cara ini.


“Ck. Oke fine. Udah kan? Gue harus ke ruangan istri sekarang,” walaupun kesal Reno juga tidak bisa menolak titah dari Farzan. Bukan takut atau apa, tapi memang sedari dulu tidak ada yang bisa menolak perkataan Farzan, bahkan sahabat sahabatnya yang lain sekalipun.


“Ya Gue juga harus pergi,” ucap Farzan sambil berdiri menggendong Nasha.


“Btw tadi dokter Jane bilang istri Lo lagi hamil? Selamat ya,” ucap Reno ikut bahagia.


“Ya terima kasih. Tapi kandungannya sedikit lemah jadi tidak boleh banyak pikiran,” ucap Farzan sambil berjalan menuju lift.


“Lo lupain dia. Fokus sama keluarga Lo,” ucap Reno berbisik pelan di telinga Farzan.


“Nanti Gue cerita. Ini juga yang mau Gue sampein ke kalian,” ucap Farzan tenang.


...----------------...


Ting..


“Kalau gitu Gue duluan. Bye Nasha,” pamit Reno pada keduanya. Nasha juga hanya mengangguk saja karena bingung harus seperti apa.


DI dalam mobil Nasha tetap di pangku oleh Farzan agar tidak sampai muntah kembali. Farzan tidak tega melihat Nasha menjadi lemas tak bertenaga setelahnya.


“Di sini aja. Aku juga udah sembuh kok. Kalau ngga percaya pegang aja dahi sama leher aku, panas ngga?” ucap Farzan membawa tangan Nasha pada dahi dan juga lehernya.


Tadi Nasha juga ingin berpindah tempat agar tidak menyulitkan Farzan apalagi mendengar Farzan kemarin sakit. Tapi kadang dia juga sedih karena tidak di beri kabar saat Farzan sakit. Tidak penting, mungkin.


“Kemarin Brady ngga ngabarin karena denger kamu susah makan. Apalagi cuma diem di kamar aja. Aku juga ngga mau kamu ke pikiran. Setelah tahu kabar kamu juga aku langsung pulang karena khawatir. Dan bener aja kondisi kamu kurang baik,” jelas Farzan menatap kedua mata Nasha yang tidak lepas menatapnya.


“Semalam juga kamu masih sakit?” tanya Nasha dengan suara bergetar.


“Eh.. engga Sayang. Saat pulang kemarin kondisi tubuhku sudah lebih baik. Apalagi saat bertemu denganmu, sakitku langsung hilang dan lihat sekarang aku baik baik aja kan?” ucap Farzan sambil membawa Nasha ke dalam pelukannya kembali karena matanya sudah berkaca kaca dengan suara yang bergetar tanda akan menangis.


“Hiks.. maaf ta tadi malah marah marah akunya,” ucap Nasha mulai menangis karena tadi dia sudah egois.


“Jangan bilang seperti itu. Kamu punya hak untuk mengekspresikan emosi yang sedang kamu rasakan. Jangan tutupi perasaanmu. Jika kamu marah kamu boleh melampiaskannya padaku. Jika kamu sedih juga menangis saja sampai dirimu merasa lebih baik. Kamu bisa memperlihatkan semua emosimu padaku jika tidak ingin orang lain tahu,” ucap Farzan yang diangguki Nasha.


“Ini kita jadi beli es krim dulu ngga?” tanya Farzan mengalihkan.


“Ja di ih,” ucap Nasha masih tersendat tapi tangisannya sudah mulai berhenti.

__ADS_1


“Haha. Yaudah kita beli dulu es krimnya,” ucap Farzan sambil mulai menyalakan mesin mobil dan berlalu dari rumah sakit.


“Beli banyak boleh?” tanya Nasha sambil melihat ke jendela sebelah kiri dengan kepala masih bersandar nyaman di dada Farzan.


“Beli satu cup sedang dulu ya? Kamu belum makan lagi kan. Nanti sebelum pulang kita ke supermarket beli cemilan yang kamu mau,” ucap Farzan sesekali mengusap punggung Nasha dan meliriknya sekilas sebelum fokus pada jalanan di depannya.


“Oke,” ucap Nasha tanpa protes.


...----------------...


15 menit kemudian mereka sampai di area Mall. Tujuannya hanya stand ice cream setelah itu kembali lagi menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan.


Sepanjang jalan Nasha hanya fokus pada ice cream di tangannya. Sesekali dia menyuapi Farzan tapi lebih banyak untuk dirinya sendiri. Nasha bilang karena Farzan baru sembuh jadi tidak boleh makan ice cream banyak banyak. Farzan juga hanya terkekeh kecil saja mendengarnya. Dirinya juga tidak terlalu menyukai makanan manis itu.


Jarak dari Mall menuju taman lumayan jauh karena memang terletak di dekat perumahannya dulu. Nasha dulu jika ke taman itu juga berjalan kaki cukup jauh atau menaiki delman yang keliling dan turun di sana. Saat sendiri dulu dia pulang berjalan cukup jauh, tapi setelah bertemu Farzan Nasha selalu di antar hanya sampai gang perumahan saja.


“Masih jauh?” tanya Nasha ketika mereka belum sampai juga padahal ice cream nya sudah habis.


“Sebentar lagi. Kamu ngantuk?” tanya Farzan menyadari Nasha mulai memejamkan mata. Untung saja sedang lampu merah jadi dia bisa memperhatikan wajah Nasha.


“Sedikit. Tapi masa aku tidur terus. Kemarin pas di paviliun juga aku banyak tidurnya. Baru makan roti sama main hp sebentar udah ketiduran. Aneh banget ya,” cerita Nasha yang tidak lagi mengantuk.


“Mungkin karna kamu lagi mengandung, jadi sering ngantuk,” ucap Farzan sambil mengecup pelan kening Nasha.


“Tapi kan sebelum itu juga aku tidur mulu. Pas di rumah tuh ya, beres sholat subuh kan tidur lagi, jadi Ayah sama Ibu sering marah sama aku,” ucap Nasha awalnya dia masih biasa tapi mengingat orang tuanya raut wajahnya berubah sendu.


“Padahal Ucan juga kaya gitu. Tapi yang sering di marahi aku,” sendu Nasha.


“Jangan inget itu lagi Sayang. Bersamaku kamu bebas melakukan apa pun. Asalkan tidak melupakan ibadah wajib kalau bisa yang sunah juga,” ucap Farzan dengan diakhiri senyum miring.


“Em.. kan sering sebelum sholat wajib sama kalau malem kamu yang bangunin buat tahajud,” entah Nasha yang polos atau memang tidak mengerti maksud lain dari perkataan Farzan.


“Haha.. iya iya,” Farzan tertawa saja melihat wajah Nasha yang seperti sedang bingung itu. Dan lagi dia tidak mau menjelaskan maksudnya.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2