Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Ternyata!?


__ADS_3

Nasha sedikit berlari ke arah jalan raya agar bisa mencari taksi atau angkutan umum untuk bisa pergi ke tempat dimana dia bisa bercerita entah pada siapa.


Taman. Ya, taman ini dulu jadi tempat dimana Nasha tidak lagi kesepian dan juga merasa nyaman karena ada seorang laki laki yang lebih besar darinya yang selalu menenangkan saat dia merasa takut.


Hanya butuh 10 menit karena tadi jalanan tidak macet, dan Nasha memilih menggunakan ojek agar lebih cepat sampai.


Nasha duduk di kursi melingkar yang tertutup atap, tempat dimana dia selalu merasa aman.


“Kak Arza,” lirih Nasha sambil meneteskan air mata.


“Aku benar benar butuh Kakak sekarang, hiks,” gumam Nasha terus menangis tanpa bisa dihentikan.


“Kenapa takdirku begitu menyakitkan,”


“Apa aku memang tidak pantas bahagia?” tanyanya entah pada siapa.


Menurut Nasha sedari di tinggal pergi oleh Arza dia tidak pernah lagi merasa aman dan terus ketakutan bahkan perkataan menyakitkan sekecil apa pun. Rasa takut akan kekerasan juga terkadang tidak bisa Nasha kontrol karena bayangan yang sulit hilang dari kepalanya terus datang.


Sekarang saat baru saja Nasha merasa nyaman, dia kembali harus mengikhlaskan semuanya dan kembali dalam ketakutannya sendiri.


“Kakak tahu? Aku sekarang sedang mengandung,” lirih Nasha sambil mengelus perutnya dan sedikit tersenyum.


“Setidaknya dengan dia aku tidak merasa sendiri lagi, haha,” ucap Nasha dengan tertawa getir.


“Jika aku tidak bisa bertemu Kakak lagi. Tidak apa. Aku juga mungkin akan menjauh dari sini. Sepertinya kita memang tidak pernah bertemu lagi dan menjalani hidup masing masing. Sudah cukup aku berharap dan aku ingin mengakhiri semua ini,” ucap Nasha sambil menunduk juga memejamkan matanya yang terus mengeluarkan airnya itu.


“Cha,” gumam suara yang Nasha tunggu sejak lama.


“Kak Arza!” semangat Nasha mendongakkan kepala ke depan dan berdiri sebelum berbalik ke arah asal suara yang ada di belakangnya.


“Acha,” suara itu semakin jelas dan membuat Nasha buru buru memalingkan wajahnya.


Nasha berbalik dan melihat sepasang sepatu hitam mengkilap juga celana bahan, kemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku. Baru melihat ke arah wajah orang itu.


“Mas Farzan?!” kecewa. Lagi lagi Nasha hanya terlalu berharap dan malah mendapat kenyataan yang sebaliknya.


Ya di hadapannya sekarang ada Farzan yang masih dengan setelan kerja walau tidak memakai jas dan dasi.


“Bukan,” ucap Farzan.


“Aku bukan Farzan. Di hadapanmu sekarang ini adalah Arza,” ucap Farzan lirih karena terkejut dan bahagia. Dia selama ini memang sudah mencintai Nasha yang merupakan orang dari masa lalunya.


Kalau kalian tanya kenapa Farzan bisa di taman hari ini, kita lihat satu hari sebelumnya.


...----------------...

__ADS_1


Flashback On


Malam itu semua urusan di dua negara berbeda sudah terselesaikan. Farzan dan Brady sudah bersiap untuk pulang menggunakan pesawat pribadi milik Farzan.


“Lo beneran ngga menghubungi Nasha lebih dari satu minggu ini?” tanya Brady yang sedikit banyak tahu Farzan sengaja menyibukkan diri agar bisa pulang lebih awal tapi ternyata tetap tidak bisa.


“Hm.. mau gimana lagi, Gue berusaha biar semua beres lebih cepet. Tapi ternyata tetap aja tidak bisa. Orang tua bau tanah itu benar benar menguras emosi, seharusnya dia di buat tamat langsung saja. Sayang Arfa sedang mengandung jadi aku tidak bisa mengotori tangan untuk sementara ini,” ucap Farzan tanpa sadar memberitahu Brady kehamilan Nasha.


“Hah?! Nasha lagi hamil maksudnya?” ucap Brady kaget sekaligus senang karena akan mempunyai keponakan.


“Eh.. huh, iya,” malas Farzan saat sadar dia salah bicara. Bukan maksudnya menyembunyikan, tapi tadinya Farzan ingin memberitahu keluarga intinya terlebih dulu.


“Lo pasti ngga sadar udah ngomong itu,” ejek Brady yang tahu tadi Farzan kelepasan bicara.


“Ya.. gitu. Keluarga belum Gue kabarin soalnya,” jelas Farzan mengiyakan.


“Btw, selamat ya. Jaga mereka, jangan hiraukan orang yang ngaku ngaku itu,” ucap Brady memberi selamat sekaligus mengingatkan.


“Ya Gue tahu. Tinggal tunggu hari dimana mereka membayar semuanya. Untuk sekarang biarkan rencana mereka berjalan sesuai keinginannya,” ucap Farzan dengan raut sedikit marah.


Sedikit banyak ada percakapan kecil sebelum keduanya sibuk dengan keperluan masing masing atau tertidur sebentar sebelum nanti sampai di bandara. Perkiraan mereka akan sampai saat matahari baru terbit nanti atau sekitar pukul 06.00.


Farzan sendiri tidak berniat langsung pulang, melainkan ke perusahaan sebentar lalu datang ke taman yang biasa dia datangi duli. Semoga saja hari ini dia bisa bertemu dengan ‘Acha/Cha’ nya.


Sebelum waktu makan siang, Farzan sudah pergi lagi menuju taman dan mengendarai mobilnya sendiri.


Sesampainya di taman Farzan duduk di kursi yang melingkar dan tertutup atap di atasnya. Tempat dimana dia dan Acha bertemu.


“Kemana sebenarnya kamu? Dulu kita berjanji akan bertemu lagi. Salahku juga yang memilih pergi agar bisa membawamu pergi nanti. Ternyata keputusanku tidak sepenuhnya tepat. Sekarang aku malah kesulitan bertemu denganmu kembali,” monolog Farzan menatap hamparan rumput dan juga beberapa bunga cantik yang ada di depannya.


Menghabiskan waktu sekitar satu jam, Farzan menyudahi acara melamunnya memikirkan kebahagiaannya dulu dan beranjak untuk kembali ke mansion dan bertemu dengan Nasha.


Baru saja menutup pintu mobil dan menelungkupkan kepalanya pada dashboard mobil sebelum menyalakan mesin. Tapi belum sempat mesin mobil nyala, Farzan mendengar suara motor yang lumayan berisik dan berhenti di dekat taman. Sepertinya motor itu adalah ojek karena perempuan yang memberikan helm juga mengambil beberapa lembar uang.


Farzan sedikit berharap akan mendapat satu petunjuk dari perempuan itu. Tapi semakin di lihat perempuan itu mirip dengan Nasha. Jadi Farzan memutuskan untuk turun dan berjalan perlahan mendekati tempat yang baru saja dia duduki tadi.


Farzan mendengar semua gumaman dari perempuan itu. Dari semenjak dia mengucapkan dengan lirih nama yang dia beritahu dulu sampai semua keluh kesahnya. Farzan yakin dia adalah Achanya.


Tapi yang membuatnya heran, perempuan itu semakin terdengar seperti Nasha. Suara bahkan gestur tubuhnya sekalipun.


Farzan memberanikan diri memanggil perempuan itu dengan panggilannya dulu pada Acha. Dan benar saja dia semangat mengucapkan namanya.


Farzan semakin yakin itu suara Nasha, setelah memanggil sekali lagi, perempuan itu berbalik dan benar saja itu merupakan Nasha.


Pantas saja sejak pertama mereka bertemu, Farzan sudah merasa rasa yang tidak bisa di jabarkan. Antara senang dan bingung, juga getaran yang membuat hatinya tenteram.

__ADS_1


Flashback Off


...----------------...


Nasha masih terdiam mematung dengan ucapan Farzan tadi. Nasha masih tidak percaya dengan semua yang terjadi sekarang.


Dengan tiba tiba Farzan mengaku dia adalah Arza orang yang selama ini dia tunggu dan juga dia harapkan.


“Engga mungkin,” gumam Nasha menggelengkan kepala dengan air mata berjatuhan.


“Mas tidak perlu berbohong!” sentak Nasha tidak terima.


“Aku tahu, Mas sudah bertemu orang di masa lalumu. Aku juga yakin Mas bukanlah orang yang selama ini aku tunggu,” ucap Nasha dengan terbata bata karena masih menangis.


“Bukan!” ucap Farzan menolak perkataan Nasha.


“Dia bukan orang yang aku cari. Tapi kamu! Cha kecilku yang selalu merengek dan juga mencari rasa aman saat berada di sini. Cha yang bisa menjadi dirinya sendiri yang cengeng dan juga manja hanya di hadapanku. Cha yang kuat saat ada yang menyakitinya. Cha yang selalu memaafkan mereka yang berbuat tidak baik padanya. Cha yang mengisi hari hariku dan mau berteman denganku yang tidak banyak bicara ini,” ucap Farzan sambil meneteskan air mata dan Nasha yang semakin menangis mendengar ucapan Farzan yang memang terjadi dulu.


“Cha ku sekarang ada di sini. Di hadapanku. Kamu sudah kembali dan aku menemukanmu,” ucap Farzan lagi sambil berjalan mendekat.


“Ngga. Ngga. Ini pasti salah. Semua ini aneh,” geleng Nasha masih memungkiri semua itu. Nasha tidak ingin terlalu berharap.


“Tolong jangan membual. Aku sudah cukup lelah. Wanita itu, dia sudah menemuiku dan aku sedikit banyak mengenalnya karena dia sahabat dari adikku. Dia sudah menemuiku dan bicara agar kalian bersama.”


“Tugasku sudah selesai. Hukuman itu juga sudah aku jalankan. Sekarang Mas Farzan bebas. Aku tidak bisa lagi ada di sini. Aku pamit,” ucap Nasha yang masih tidak percaya.


Dengan langkah pasti Nasha berjalan cepat pergi dari hadapan Farzan dan berlari sekuat yang dia bisa. Walau perutnya terasa sakit, tapi Nasha tetap berlari berharap Farzan tidak mengejarnya.


Tapi ternyata Grasya yang baru saja sampai dan melihat Farzan dan Nasha berbicara berhadapan dengan air mata di kedua mata mereka dapat menebak jika mereka sudah mengetahui yang sebenarnya.


“Ngga mungkin. Semua bisa berantakan jika sampai Farzan tahu semuanya. Tapi sudah terlambat. Sepertinya hanya cara ini yang bisa aku lakukan sekarang,” gumam Grasya dengan menahan amarahnya.


Dengan cepat Grasya menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi dan menabrakkannya pada tubuh Nasha, saat Nasha akan menyeberang jalan sambil berlari.


Kecelakaan pun tidak dapat terelakkan. Farzan yang melihat Nasha sudah berlumuran darah dan juga memejamkan matanya langsung panik, beruntung ada warga yang langsung menghubungi ambulans dan bisa cepat datang karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh.


Farzan hanya bisa menggenggam tangan Nasha seraya berdoa agar Nasha dan juga anaknya bisa di selamatkan. Walau kemungkinannya pasti sedikit.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2