Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
ARCHA MALL


__ADS_3

Selesai dengan sarapan yang penuh dengan drama, mereka kembali dengan aktivitasnya masing masing. Berhubung Nasha diajak pergi tadi oleh Farzan, jadi dia memutuskan kembali ke kamar Farzan untuk bersiap siap, sekalian juga mengambil hp agar tidak jenuh sembari menunggu waktu berjalan.


Tapi sayangnya, ternyata Farzan mengikutinya ke kamar masih dengan wajah datarnya yang menyebalkan. Ingatkan Nasha jika dia juga marah karena sekarang perutnya begah karena kekenyangan, tapi orang di depannya seolah tidak peduli dan akan bersiap menceramahinya karena masalah tadi.


“Apa?!” ketus Nasha saat melihat muka Farzan.


“Aneh,” gumam Farzan.


“Emang, kenapa? baru nyesel sekarang? Yaudah gausah ...,” ucap Nasha terhenti karena Farzan sudah berdehem dengan wajah yang merah padam menahan amarah.


“Sudah? Masih mau ngomong lagi?” tanya Farzan dengan suara datar. Nasha hanya bergumam sebagai jawabannya.


“Ikut saya,” titah Farzan sambil berjalan menuju balkon kamar. Nasha hanya mengikutinya saja, malas diomeli lagi.


“Duduk,” suruhnya lagi.


“Ada alasan saya melarangmu. Sekarang kamu adalah tanggung jawab saya. Saya ingin kamu menikmati semua kerja keras saya tanpa harus memikirkan pekerjaan lagi. Perlu kamu ingat, sejak saya memintamu kemarin di hadapan banyak orang, saya akan berusaha menerimamu, menyayangi dan juga mencintaimu. Saya tau itu sulit, bukan tidak mungkin semua itu akan berlangsung lama, bisa sampai berbulan bulan bahkan sampai bertahun tahun. Tapi yang perlu kamu tau, saya tidak akan berpaling. Saya sadar, pernikahan bukan untuk dipermainkan. Maka dari itu saya melakukan hal ini. Saya harap kamu juga bisa menerima semua ini. Saya ingin kita berjuang bersama mulai saat ini. Apakah kamu bersedia menemani saya sampai ajal menjemput nanti?” ucap panjang Farzan dengan diakhiri pertanyaan. Semoga saja ini awal yang baik bagi kami, batin Farzan.


“A..aku tidak tau. Jika boleh jujur, ada seseorang yang sedang aku tunggu, tapi sepertinya dia tidak akan pernah datang. Jika memang ini yang di takdirkan untukku, maka aku akan menerimanya. Dan benar katamu tadi, ini akan membutuhkan waktu yang lama. Entah sampai kapan, tapi nanti pasti akan ada jalan untuk kita. Ikuti saja alur yang sudah ada. Baik atau buruk, suka maupun duka, semoga ada akhir yang bahagia untuk kita nanti,” entah keberanian dari mana, tapi Nasha berkata panjang lebar seperti itu. Jujur saja awalnya dia ragu untuk berucap, tapi tiba tiba dia memiliki keberanian mengungkapkan semua itu. Semoga ini awal yang baik, aku rasa sudah waktunya untuk melupakan Kak Arza, pepatah mengatakan bahwa tidak semua yang kita inginkan selalu akan menjadi kenyataan, tapi pasti ada hikmah dibalik semuanya, batin Nasha.


Walau keraguan itu masih ada di hati masing masing, tapi harapan pasti selalu ada. Dan harapan mereka, semoga semuanya berjalan dengan lancar, walaupun ujian dan rintangan selalu ada, semoga mereka bisa melewatinya dengan baik.


“Lebih baik kita siap siap sekarang, jika terlalu siang kita bisa pulang larut,” ucap Farzan sambil berjalan keluar kamar, membiarkan Nasha bersiap siap.


Farzan sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama, hanya saja dia sudah bertekat untuk melupakan masa lalu dan melihat masa depan. Baginya jika Dia bukan takdirnya, maka sekuat apapun dia mencari tidak akan menemukan jalan untuk bertemu denganya.


...----------------...


Selesai dengan bersiapnya, walau hanya membenarkan kerudung yang Nasha pakai dan mengambil tasnya saja, sekaligus berpamitan pada orang rumah, mereka menaiki mobil dan Farzan mulai melajukan mobilnya menuju salah satu Mall miliknya. Tanpa diketahui oleh Nasha jika tempat itu milik Farzan.


Sedikit hening di dalam mobil sebelum Nasha mengeluarkan pendapatnya tentang..


“Kak, bisa tidak jika semua orang tadi tidak memanggilku dengan sebutan Nona atau semacamnya?” tanya Nasha, karena saat dia berpamitan semua pekerja yang ada disana menunduk hormat padanya dan juga meminta maaf berkali kali, padahal menurutnya masalah pagi tadi itu bukan kesalahan mereka. Entah apa yang dibicarakan Momy pada mereka sampai mereka ketakutan tadi, batin Nasha.


“Kenapa memang?” tanya balik Farzan. Mereka memang mulai membiasakan diri agar tidak ada kecanggungan lagi.


“Ya gaenak aja gitu dengernya, panggil nama ajalah atau apa gitu gausah Nona Nona, berasa lagi di rumah sakit dipanggil begitu tuh,” jawab Nasha nyeleneh. Emang kadang orang yang keliatannya pendiem di depan orang lain, bisa jadi kebalikannya di depan orang terdekat.


“Hem.. saya suruh mereka panggil kamu nenek kalau begitu,” dengan santainya Farzan membalas perkataan Nasha tanpa melihat wajah Nasha yang mulai memerah karena kesal.


“Nenek Nenek emang muka Aku setua itu apa? Gasadar mukanya lebih keliatan Kakek Kakek bau tanah kali yah,” gerutu Nasha dengan sara sepelan mungkin berharap Farzan tidak mendengarkan gerutuannya. Tapi sayang, pendengaran Farzan terlalu bagus karena dia bisa mendengar jelas gerutuan Nasha.


“Hem iya bau tanah yah, pas dong sama Nenek Nenek bengek kaya kamu,” balas Farzan sengit.


“Ish nyebelin,” kesal Nasha yang langsung memalingkan pandangannya agar tidak melihat Farzan dengan mengarahkan pandangannya pada jendela.


“Nanti saya suruh mereka tidak terlalu formal bicara dengan kamu. Puas?” ucap Farzan yang mengalah karena Nasha ngambek.


“Hm..,” hanya itu saja balasan Nasha, malas berbicara lagi. Farzan juga hanya mendiamkannya saja, nanti juga bicara lagi kalau memang mau, batin Farzan.


Sekitar 45 menit mereka sampai di pusat perbelanjaan tersebut karena jalanan cukup lenggang, sekarang sudah memasuki jam kerja.


Sama halnya dengan jalanan, pusat perbelanjaan yang bernama ARCHA MALL, salah satu pusat perbelanjaan terbesar, lengkap dan juga sangat nyaman dengan di sediakannya taman terbuka di area sekitar serta beberapa tempat istirahat dengan berbagai fasilitas seperti ruangan Menyusui, Mushola di beberapa lantai, Masjid juga tersedia di dekat Taman terbuka, serta beberapa fasilitas lain yang menyebabkan Mall ini banyak disukai oleh berbagai kalangan untuk sekedar jalan jalan atau membeli barang sesuai kebutuhan masing masing.


“Ayo,” ajak Farzan yang entah sejak kapan sudah berada di samping pintu Nasha dan membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


“Eh.. iya,” kaget Nasha yang sepertinya tadi sedang melamun jadi ya seperti itulah.


“Jangan ngelamun makannya,” ucap Farzan yang dibalas dengan deheman malas dari Nasha.


Mereka berjalan menuju lantai dasar dengan menggunakan lift. Tanpa Nasha sadari tempat parkir yang digunakan oleh Farzan merupakan tempat parkir khusus yang tidak bisa ditempati atau diketahui oleh pengunjung biasa. Bahkan lift yang mereka naiki merupakan lift khusus, karena ini lantai tertinggi dari gedung tersebut. (Bisa kalian simpulkan sendiri kan? Hehe)


“Kita bawa troli yang besar atau kecil? Atau keranjang dorong aja?” tanya Nasha setelah mereka berada di depan berbagai macam troli dan keranjang yang disediakan pihak supermarket.


“Pake troli yang besar saja, banyak yang harus di beli juga. Taruh juga keranjang ukuran besar di bawah troli agar tidak perlu bulak balik lagi,” jawab Farzan sambil mengambil keranjang sedangkan Nasha sudah mengambil troli yang diminta Farzan.


“Oke, sekarang kita beli apa dulu?” ucap Nasha ketika mereka sudah berjalan masuk, dengan Farzan yang mendorong troli dan keranjang tadi.


“Beli bahan makanan dulu saja, sekalian lewat daripada bulak balik nanti,” ucap Farzan sambil melihat sekitar apa yang ingin dia beli.


“Nah aku mau buah naga, pir, semangka, melon, apel, mangga, lengkeng, jeruk, stroberi, anggur ungu, hem.. apalagi yah,” ucapnya lagi sambil mengikuti Nasha yang sedang mengambil buah buahan yang dia sebutkan tadi.


“Ada lagi?” tanya Nasha saat dia sedang memilih buah stroberi kemasan sebagai penutup pengambilan buah.


“Sudah dulu, sekarang ke bagian sayur dan daging, ...,” ucap Farzan dengan mengatakan berbagai keinginannya dan dibalas langkah Nasha mengambilkan apa yang Farzan mau.


Begitu terus sampai mereka selesai dengan bahan makanan segarnya.


Mereka menelusuri berbagai rak untuk mengambil keperluan yang mereka butuhkan. Nasha juga tidak banyak bicara hanya mengambilkan dengan cekatan apa yang Farzan ucapkan. Sejujurnya Nasha biasa melakukan pekerjaan seperti ini baik untuk kebutuhan rumah maupun kantor tempatnya bekerja, walau seharusnya keperluan kantor sudah ada penanggung jawabnya masing masing.


Cukup lama berkeliling, mereka hampir selesai dengan keperluan yang dibutuhkan. Sekarang waktunya untuk mengambil makanan ringan atau minuman. Makanan dan minuman dibeli terakhir agar memastikan barang yang diperlukan memang sudah semua masuk keranjang jadi tidak ada hal yang terlupa, jika hanya makanan ringan atau minuman itu bisa beli menyusul di minimarket atau warung kan.


“Mau beli chiki boleh?” tanya Nasha yang melihat beberapa chiki yang dia suka.


“Hem boleh, ambil aja,” jawab Farzan dengan mengikuti langkah Nasha.


“Eh tapi gajadi deh, aku mau es krim aja, hehe,” ucap Nasha yang berubah pikiran, lebih enak cemilin es krim kan, nanti chikinya beli sendiri aja deh, batin Nasha.


Selesai dengan mengambil minuman dan beberapa es krim yang Nasha mau, mereka menuju kasih untuk membayar semua belanjaan itu.


“Loh kok banyak banget chikinya?” kaget Nasha dengan suara yang agak besar. Membuatnya menutup mulut karena malu.


“Saya juga mau, buat persediaan juga, biar kamu ga keluar rumah lagi,” ucap Farzan menanggapi dengan tersenyum karena melihat kekagetan Nasha tadi.


“Hem iya iya,” ucap Nasha


Setelah semua barang di scan, Farzan memberikan salah satu black card nya untuk membayar belanjaan yang totalnya lebih dari yang kalian kira.


“Gampang banget yah ngeluarin uangnya,” gumam Nasha pelan.


“Ini bahkan lebih sedikit dari pengeluaran bulanan biasanya. Mungkin karena kamu lebih banyak ambil barang promo,” jawab Farzan acuh, karena dia jarang belanja, biasanya sudah ada yang urus. Dan dia juga terlalu sibuk bekerja dan mencari seseorang.


“Hah.. bisa bisanya, bodo amat kali yah duitnya abis juga,” balas Nasha dengan memelototkan matanya.


“Kalau bukan saya yang habisin mau siapa lagi? Saya yakin kamu juga tidak akan menghabiskan uang yang saya kasih nanti,” ucap Farzan sambil mengambil lagi card nya dan tanpa di minta sudah ada 2 orang yang akan membawa belanjaannya tadi menuju tempat parkir. Tapi mereka berdua belum akan pulang, masih akan berkeliling dan juga makan siang.


“Eh kenapa di bawa mereka?” tanya Nasha bingung karena belanjaannya sudah di bawa pergi.


“Mereka memang saya suruh bawa barang barang ini. Sekarang kita keliling dulu, habis itu cari makan,” jawab Farzan yang sedari tadi menahan rasa gemas karena kelakuan Nasha.


“Ada yang mau kamu beli tidak?” tanya Farzan ketika mereka sedang berada di lantai yang khusus perlengkapan wanita.

__ADS_1


“Hm.. engga ada kayanya,” jawab Nasha acuh, dia memang tidak menginginkan apapun, walau ada sebenarnya yang ingin dibeli, tapi keinginannya di urungkan karena tidak ingin dibelikan. Dia masih ada uang untuk membeli barang yang dia inginkan. Dan lagi dia sudah memutuskan untuk berhenti kuliah. Dia juga berpikiran untuk mengembalikan uang yang selalu ayahnya kasih untuk bayar semester, mungkin ini waktu yang tepat kan, pikirnya.


Melihat Nasha yang hanya diam dan melirik saja kanan kirinya, Farzan pun hanya diam dan mengikutinya. Dari yang dia tau tentang Nasha, anak itu pasti sungkan memakai uangnya.


“Setelah akad nanti, awas aja masih sungkan gini,” batin Farzan sedikit kesal.


“Makan aja yuk? Udah laper, hehe,” ucap Nasha tiba tiba. Sebenarnya dia hanya takut tergoda membeli beberapa barang yang menyita perhatiannya sepanjang jalan tadi. Mungkin nanti dia akan ke pasar saja agar bisa mendapatkan banyak. Dia tau harga di sini tidak ada yang murah.


“Boleh, mau makan apa?” tanya Farzan setelah mengiyakan kemauan Nasha.


“Hm.. apa aja deh, aku ikut,” jawab Nasha karena dia tau yang bayar pasti Farzan.


“Yasudah,” ucap Farzan singkat dan berjalan menuju lantai dimana terdapat resto miliknya di sana.


Ini merupakan salah satu resto dengan konsep all you can eat atau bisa disebut bisa makan sesuka hati dengan waktu yang di tentukan, biasanya 60 menit. Harganya pun masih lumayan terjangkau sekitar 200rb tapi bisa bebas mengambil beberapa daging dagingan atau suki dan semacamnya.


“Ada tambahan lainnya?” tanya Farzan setelah mereka duduk dan di hampiri pegawai wanita yang sudah tau Farzan siapa.


“Nanti aja nyusul kalau masih kurang, hehe,” balas Nasha dengan cengirannya.


“Oke. Saya minta latte juga, sekalian nanti ambil daging dan sayurannya masing masing 4 box,” ucap Farzan lagi dan menyuruh wanita tadi pergi menyiapkan yang dia mau.


“Eh.. bukannya kita ambil sendiri yah?” ucap Nasha bingung.


“Hem.. tapi tidak papa, sekali saja, nanti kalau kurang baru kamu ambil sendiri,” balas Farzan yang sekarang sedang memainkan hp nya, mengecek beberapa email yang masuk.


Beberapa orang datang menyiapkan tempat dan berbagai macamnya, serta menaruh setiap pesanan yang di minta Farzan tadi. Mereka sedikit heran sebenarnya, biasanya Farzan tidak makan di meja pengunjung, tetapi di ruangannya yang ada meja khusus untuk makan. Tapi mungkin karena sedang bersama seorang wanita jadi dia memilih duduk di sana.


“Silahkan Tuan, jika ada yang kurang bisa panggil kami lagi,” ucap salah satu pegawai.


“Ya, terima kasih,” singkat Farzan dan membiarkan mereka pergi.


Nasha jangan ditanya. Dia sudah memanggang daging dan memasukkan berbagai sayur ke dalam panci yang berisi 2 kuah berbeda, satu kuah original dan satu lagi mungkin kuah tom yam karena warnanya merah.


“Ini makan, mumpung masih panas, sayurnya juga udah bisa di makan,” ucap Nasha menaruh daging yang sudah dia panggang di mangkuk Farzan yang sudah di beri sedikit nasi. Bagi Nasha nasi itu penting jadi mau makan sebanyak apa pun harus ada sedikit nasi yang masuk ke dalam perut.


“Terima kasih,” balas Farzan tapi tidak langsung mengambil makanan di depannya. Dia masih sibuk memeriksa file yang tadi di kirim asistennya.


Tanpa banyak kata, Nasha menyuapi Farzan makan. Nasha cukup tau jika hari ini merupakan hari kerja yang seharusnya Farzan ke kantor tapi malah pergi dengannya. Jadi dia memaklumi kelakuan Farzan.


“Buka mulutnya,” ucap Nasha yang dituruti langsung oleh Farzan.


Mereka makan dengan Farzan yang di suapi Nasha dan beberapa kali Nasha mengambil aneka daging dan berbagai makanan yang mencuri perhatiannya. Farzan seolah lupa dia berada dimana dan terus asik dengan membaca dokumen dokumen yang ada di hp nya. Membiarkan Nasha mengambil sepuasnya.


Tak terasa ternyata mereka sudah hampir 1 setengah jam berada di tempat tadi. Mengajak Farzan pulang juga sepertinya sulit karena dia masih sibuk dengan dunianya. Mau makan lagi juga tidak mungkin karena dia sudah kenyang. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?


Menyadari kebosanan yang di alami oleh Nasha, Farzan menyudahi membaca dokumennya. Seharusnya dia juga memeriksa laporan resto ini, tapi mungkin itu akan di lakukan nanti saja.


.


.


.


tbc..

__ADS_1


happy reading..


maaf lagi banyak kegiatan di dunia nyata hehe..


__ADS_2