
10 hari berlalu dengan sedikit lama menurut Nasha. Bukan karena dia yang kebosanan, melainkan tidak adanya Farzan yang menemaninya juga memberi kabar. Hanya 2 kali Farzan menghubunginya saat pertama menanyakan sarapan dan juga besoknya menanyakan hal yang sama. Sesudah itu tidak ada lagi telepon atau bahkan pesan singkat sekalipun.
Farzan juga bilang jika dia hanya pergi satu minggu, namun sampai saat ini belum ada tanda jika Farzan sampai di negara ini. Nasha sedikit kecewa karena ucapan Farzan lagi lagi tidak di tepati. Tapi Nasha juga merasa dia tidak ada hak apa apa untuk merasa marah atau kecewa.
Kemarin malam Nasha mendapat pesan singkat dari nomor tidak di kenal yang mengatakan ingin bertemu dengannya siang hari ini. Nasha tadinya ingin menolak, namun nomor itu menghubunginya dan mengatakan jika dia merupakan orang di masa lalu Farzan.
Dengan berat hati dan juga rasa penasaran akan siapa orang itu dan juga apa maksud dari keinginannya, Nasha mengiyakan dan mereka akan bertemu di taman yang terletak di tengah perumahan Nasha. Katanya di sana sepi dan sejuk juga tidak banyak orang jadi mereka memiliki privasi.
Selesai sarapan Nasha bersiap dan beralasan bertemu teman lama di taman perumahan. Untungnya bodyguard dan penjaga di depan mempercayainya saja, toh hanya di taman perumahan jadi masih terjamin keamanannya.
“Aku mungkin hanya pergi sebentar. Oya tidak perlu masak untuk makan siang, aku sepertinya ingin makan di street food dekat sini,” ucap Nasha pada kepala pelayan yang menunggu di dekat pintu.
“Baik Nona,” sahut Erni sambil menganggukkan kepala.
Nasha di antar menuju taman oleh salah satu sopir yang bertugas. Walaupun dalam perumahan tetap saja jarak dari mansion ke sana jauh. Jadi Nasha memilih minta tolong untuk di antar tapi tidak usah di tunggu.
Jadi setelah sampai taman, sopir kembali lagi ke mansion dan berpesan pada Nasha jika ingin di jemput tinggal menghubungi mansion saja, Nasha mengiyakan dan berterima kasih sebelum turun.
...----------------...
Orang yang ingin bertemu dengannya bilang dia masih di jalan dan terjebak macet, jadi meminta Nasha tunggu sebentar lagi. Nasha hanya mengiyakan dan duduk di antara pohon agar tidak kepanasan.
Tidak ada yang Nasha lakukan, hanya melamun dan memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Nasha juga memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Keluarga Farzan belum di beritahu tentang kehamilan Nasha, karena Farzan juga tidak bicara padanya jika harus memberi kabar pada mereka. Bukan apa, Nasha hanya tidak ingin lancang ditambah menurutnya bukan waktunya untuk memberitahu mereka. Nasha takut dia harus pergi dan malah mengecewakan mereka.
“Permisi,” di tengah lamunannya terdengar suara seorang wanita menyapa yang seketika membuyarkan segala lamunannya.
“Ya? Grasya?” ucap Nasha saat sepertinya dia mengenali wanita di hadapannya ini.
“Iya Kak,” ucap wanita itu mengiyakan.
Grasya Amalia gadis yang seusia dengan Ucan yaitu 18 tahun dan menjadi sahabat baik Ucan sejak SMP. Sya panggilan akrabnya yang hampir mirip dengan panggilan Nasha, merupakan anak dari orang berada yang kabarnya orang tuanya meninggal satu tahun lalu karena kecelakaan saat melakukan perjalanan bisnis.
Orang tuanya ternyata meninggalkan banyak hutang pada perusahaan dan mengakibatkan seluruh hartanya di sita kecuali barang pribadi milik Sya yang di pakai dan juga pakaiannya, memilih tinggal di satu kontrakan kecil sebelum pindah ke kontrakan yang lumayan bagus beberapa bulan lalu.
Nasha tidak tahu apa pekerjaan Grasya sekarang sampai bisa pindah tempat dan membiayai hidupnya, yang dia tahu Grasya sering pergi main dan liburan bahkan sampai keluar negeri setiap 3 bulan sekali.
Nasha selalu berpikir jika memang pekerjaan Grasya itu memang perusahaan yang memberikan reward berupa liburan setiap beberapa bulan sekali agar para pekerjanya semangat kembali nantinya.
“Ada apa kamu meminta bertemu? Kenapa nomormu beda dari sebelumnya?” tanya Nasha yang heran dan juga dia memang punya nomor Grasya untuk menanyakan adiknya saat di sekolah.
__ADS_1
“Iya Kak aku ganti nomor karena yang itu hangus,” jawab Grasya sambil duduk di sebelah Nasha.
“Jadi ada apa?” tanya Nasha langsung tidak mau banyak basa basi.
“Maaf sebelumnya Kak, dulu aku punya teman bermain yang selalu menemaniku,” ucap Grasya pada awalnya.
“Dia bilang harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Kami berpisah setelah itu. Tapi beberapa minggu yang lalu ada orang yang datang dan bilang kalau ada yang ingin bertemu denganku,”
“Ternyata orang itu adalah orang yang sama dengan teman bermainku dulu. Kami dulu berjanji akan bertemu lagi dan tidak akan berpisah setelahnya,”
“Dan orang itu adalah Kak Farzan,” jelas Grasya dengan raut wajah berubah ubah, kadang senang kadang sedih.
“Lalu,” ucap Nasha berusaha tegar. Dalam hatinya Nasha sudah tidak kuat menahan rasa sakit juga tangisannya.
“Aku mau minta Kakak buat lepasin Kak Farzan untukku,” ucap Grasya tanpa ragu dan juga bersalah sedikit pun.
Nasha tersentak karena perkataan Grasya yang to the point. Walau tadi Nasha sudah mempersiapkan semuanya, tapi tetap saja saat ini hatinya terasa sakit dan hancur.
“Tolong Kak, aku tidak punya siapa siapa lagi selain Kak Farzan,” mohon Grasya sambil menangis dan mengepalkan kedua tangannya, karena melihat Nasha hanya diam menatap lurus ke depan.
“Kenapa?” pertanyaan Nasha yang membuat Grasya mengernyit bingung.
“Kenapa kamu harus memohon sama aku yang bahkan tidak ada hubungannya dengan kalian berdua,” lanjut Nasha dengan suara sedikit parau tapi tidak di sadari Grasya.
“Jika kalian memang ingin bersama, maka silahkan. Aku tidak ada hak untuk melarang,” ucap Nasha berusaha baik baik saja.
“Tapi aku tidak ingin menjadi yang kedua,” lirih Grasya berusaha menarik simpati Nasha.
“Jadi apa yang kamu mau?” tanya Nasha memastikan. Walau dalam hati dia sudah tahu apa yang diinginkan Grasya.
“Aku ingin kalian berpisah,” ucapnya dengan sedikit semangat.
“Ma maksudku,” gugup Grasya yang ditatap intens oleh Nasha.
“Tidak apa aku mengerti. Coba saja kamu bicara pada Mas Farzan dan minta dia mengajukan surat. Aku pastikan akan menandatanganinya,” ucap Nasha yang kembali menatap lurus.
“Tapi aku tidak mungkin bicara seperti itu pada Kak Farzan,” terang Grasya yang menginginkan Nasha seolah dia yang meminta pisah.
“Hah,” helaan nafas Nasha terdengar sebelum menjawab.
“Baiklah, aku akan urus semuanya. Semoga kalian bisa bahagia selamanya,” ucap Nasha mencoba ikhlas.
__ADS_1
“Kalau begitu aku permisi, ada hal yang harus aku selesaikan,” pamit Nasha tidak ingin berlama lama di sana.
“Terima kasih Kak. Semoga Kakak juga menemukan kebahagiaan,” ucap Grasya sebelum Nasha melangkah menjauh.
...----------------...
Tanpa Nasha tahu, Grasya tersenyum menyeringai padahal tadi wajahnya begitu menyiratkan rasa sakit dan permohonan.
“Kakak harusnya tidak perlu belajar lagi. Bodohnya dari dulu tidak hilang soalnya, hahaha,” gumam Grasya tertawa jahat.
“Halo, satu langkah lagi rencana kita berjalan dengan lancar,” ucap Grasya pada seseorang di seberang sana.
“Hahaha, mudah sekali dia di bodohi,” balas seseorang di sana dengan tawa jahatnya.
“Dari dulu dia memang sudah bodoh,” ucap Grasya menertawakan juga.
“Tinggal urus adiknya. Tapi kita juga harus menyiapkan rencana ke dua jika nanti ini gagal. Jangan lupa ikuti dia, sepertinya akan ada hal menarik lain nanti,” ucap seseorang itu dengan seringai menyeramkannya.
“Hah. Baiklah, aku akan ikuti dia. Tapi sepertinya butuh waktu karena dia sudah pergi beberapa menit yang lalu,” ucap Grasya mengiyakan walau dengan malas.
“Kita bertemu lagi setelah semua ini selesai,” ucap orang itu dan mereka mengakhiri sambungan teleponnya.
Grasya dengan cepat mengendarai mobil sedan merah miliknya untuk mencari keberadaan Nasha. Grasya yakin Nasha belum jauh karena tadi dia berjalan kaki.
Tapi 20 menit perjalanan Grasya tidak menemukan tanda tanda Nasha berada. Dia bahkan sudah menyusuri tempat tempat yang biasanya di pakai Nasha saat menyendiri.
Jangan tanya dari mana Grasya tahu, semua itu tertulis dalam buku diary yang dia ambil saat bermain ke rumah Ucan satu bulan setelah Nasha menikah.
Grasya yang ikut berganti pakaian di kamar Nasha, menemukan buku dengan kotak yang di gembok di atas meja belajar. Awalnya dia menghiraukan, tapi karena kepo akhirnya dia memasukkan boks itu ke dalam tas belanjanya dan membawanya pulang.
Benar saja, buku itu sangat berguna baginya dan juga orang yang ada di belakangnya untuk menjatuhkan perusahaan Farzan.
Tidak tahu saja Grasya jika Farzan sudah curiga dan mengambil buku itu, karena dua minggu ini dia bersenang senang di luar kota dengan orang yang di teleponnya tadi.
“Tinggal satu tempat lagi yang belum aku datangi, sepertinya dia ada di sana,” gumam Grasya di tengah kemacetan ibu kota yang pasti memerlukan banyak waktu agar bisa sampai tempat itu.
Berdoa saja semoga semua berjalan dengan baik dan rencana jahat Grasya tidak bisa terlaksana.
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe
bye bye