Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Lebih banyak diam


__ADS_3

"Sholat dulu," bisik Nasha sebelum matanya benar benar rapat karena kantuk mulai menyerang.


"Oke," angguk Farzan membawa Nasha ke arah kamar mandi.


Farzan membiarkan Nasha mengambil air wudu sebelum melaksanakan ibadah wajibnya. Farzan juga tetap menunggu agar bisa menjaga Nasha.


"Udah," ucap Nasha menggenggam tangan Farzan agar membantunya berjalan. Tadinya akan di gendong, tapi Nasha menggelengkan kepala menolak, jadi Farzan menggenggam tangan Nasha saja.


"Mukenanya aku ambil dulu sebentar," ucap Farzan berjalan ke arah lemari.


"Ini. Aku di luar ya? Kalau udah selesai panggil aja," ucap Farzan mengecup kening Nasha sebelum berjalan keluar setelah Nasha menjawab dengan anggukan.


Farzan menunggu Nasha di ujung ranjang agar masih bisa memperhatikan dari sana.


Tangan Farzan mengotak atik ponsel genggamnya, meminta beberapa bodyguard langsung membawa keluarga Doni ke satu daerah yang hanya diketahui Farzan dan sahabatnya.


Tempat pengasingan buatan yang sulit untuk dilalui oleh orang yang ada di dalamnya karena bentuknya seperti desa dalam hutan dan jika akan keluar dari sana harus melewati penjagaan yang berlapis.


...----------------...


"Makan dulu ya?" tawar Farzan yang dijawab gelengan kepala oleh Nasha.


Farzan hanya bisa menghela nafasnya pelan melihat Nasha yang masih banyak diam seperti ini.


Bahkan sekarang Nasha memejamkan matanya dan berbalik memunggungi Farzan.


Suasana hatinya belum membaik dan dia sedang tidak ingin bicara banyak pada siapapun. Takut kelepasan bicara yang tidak tidak.


Farzan yang sedang duduk di sebelah Nasha merubah posisinya menjadi berbaring di belakang Nasha agar bisa memeluknya.


Farzan tahu jika Nasha masih merasa begitu sedih karena perkataan Yuni tadi.


Bukan tanpa alasan, dulu bahkan sebelum mereka menikah sampai beberapa bulan setelahnya, keluarganya salah paham dan juga marah padanya. Mereka baru berbaikan setelahnya.


Tapi kecelakaan terjadi saat mereka baru saja berbaikan dan itu membuat Nasha begitu sedih, tidak bisa menerima lebih tepatnya.


Dan sekarang ada orang asing yang tidak mengetahui kehidupannya dan mengatakan hal yang membuat Nasha menjadi kembali merasa bersalah dan sedih.


"Jangan dengarkan, kamu masih punya kita semua. Jangan sedih lagi Sayang," bisik Farzan yang tahu Nasha tidak benar benar tertidur.


hiks.. hiks..


"Ngga papa kalau kamu masih mau nangis, tapi jangan menyiksa diri dengan tidak makan ya? Kasian baby nanti ikut kelaperan," ucap Farzan lagi berusaha membujuk Nasha.


Bisa bahaya kalau Nasha tidak mau makan apalagi jika itu berlangsung berhari hari.


"Makan sedikit ya? Aku buatin sup kentang gimana?" tawar Farzan tak kenal lelah. Membujuk Nasha itu harus terus menerus, agar bisa di respon dan di terima.

__ADS_1


Menunggu sekitar 5 menit, barulah Nasha mengangguk menyetujui tawaran Farzan tadi. Nasha harus sadar jika ada anaknya yang butuh asupan, dia tidak boleh egois lagi seperti beberapa bulan yang lalu.


"Aku ambil bahannya dulu di kulkas ya? Nanti masak di sini," ucap Farzan mengecup pelipis Nasha sebelum beranjak mengambil bahan bahan.


Farzan akan masak di kamar saja, karena ada panci listrik yang bisa dia gunakan. Farzan juga tidak ingin terlalu lama meninggalkan Nasha.


"Sini aja," gumam Nasha terbata, tangannya memegang tangan Farzan agar tidak beranjak.


"Oke. Aku suruh orang aja bawa bahannya ke sini," ucap Farzan tanpa membantah keinginan Nasha.


Farzan berbicara lewat telepon rumah yang menghubungkan langsung dengan bagian dapur di lantai bawah, meminta bahan bahan yang dia perlukan.


Farzan juga meminta tambahan Nasi dan lauk pauk yang lain agar Nasha bisa makan itu lebih dulu.


...----------------...


Beberapa menit kemudian semua bahan dan juga makanan yang Farzan minta sudah tersaji di depan sofa dengan meja kecil yang ada di depannya.


Nasha sebenarnya malas sekali untuk bangun, tapi kalau tidak bangun nanti yang ada dia malah tertidur.


"Mau makan di sofa apa di sana?" tanya Farzan yang sedang memulai memasak.


"Pengen di sini tapi nanti malah bobo," cemberut Nasha dengan mode malasnya.


"Haha, engga dong, kan makannya sambil duduk," ucap Farzan tertawa, langkah kakinya mendekati Nasha membantunya untuk duduk dengan nyaman dan menyimpan meja lipat untuk Nasha gunakan.


"Aku bikin dulu ini ya? Nanti udahnya aku makan," tolak Farzan lembut agar bisa menyelesaikan masakannya dengan cepat.


"Hm," dehem Nasha malas. Farzan tahu ini tandanya Nasha ngambek.


Mau tidak mau Farzan ikut duduk di samping Nasha dan menyuapinya bergantian dengan dirinya sendiri. Nasha yang tadi malas langsung kembali lagi tersenyum karena Farzan lagi lagi mengalah.


"Makan di sofa aja deh, kasian Kak Arza bulak balik terus," ucap Nasha di sela kunyahannya. Farzan memang bulak balik untuk mengecek masakannya.


"Ngga papa Sayang, lagian ini deket juga," ucap Farzan sambil menyuapi kembali Nasha.


Nasha hanya mengangguk angguk saja dengan pandangan selalu tertuju pada Farzan yang sebentar lagi selesai memasak.


"Mau pedes boleh ngga?" tanya Nasha.


"Sedikit aja ya?" sebenarnya Farzan ingin menolak, tapi tidak bisa karena takut Nasha tidak mau makan.


Padahal sedari tadi usahanya membuat Nasha makan itu sudah sulit, sekarang saja Nasha tanpa sadar sudah menghabiskan satu setengah porsi makanan yang tadi lebih dulu di bawakan maid.


"Em, iya deh," angguk Nasha, dari pada tidak sama sekali kan.


"Tapi dikitnya satu sendok ya?" tambah Nasha tidak ingin menyerah.

__ADS_1


"No. Kebanyakan itu, setengahnya aja ya," ucap Farzan menolak, takut Nasha sakit perut nanti.


"Hah.. yaudah deh," pasrah Nasha tidak mau menawar lagi.


"Aku tambah sosis sama telor mau?" tanya Farzan mengalihkan.


"Mau mau, yang banyak ya!" jawab Nasha antusias. Sedikit sedikit Nasha melupakan permasalahan tadi dan mulai kembali ceria.


Gampang sekali memang membuat Nasha kembali tersenyum dan melupakan masalah, tapi prosesnya memang tidak semudah itu.


"Sosis asam manis?" tawar Farzan melihat Nasha antusias.


"Iya!" angguk Nasha semangat.


"Oke. Sebentar lagi semuanya siap dihidangkan," ucap Farzan membungkukkan seperempat badannya seperti orang yang melayani ratu. Tapi Nasha memang ratunya sih.


Nasha memang butuh pengalihan agar bisa sedikit melupakan perkataan buruk dari orang lain. Dan untuknya sendiri, makanan adalah salah satu cara peralihan tersebut.


Tapi saat mood makannya tidak ada, jangan harap Nasha bisa antusias saat mendengar makanan makanan yang di tawarkan. Harus melewati berbagai bujukan agar moodnya kembali ada.


Sekarang lebih mudah di bujuk karena ada baby yang dikandungannya bisa dijadikan alasan, tapi mungkin setelah baby lahir nanti Farzan perlu bujukan ekstra.


Tapi itu masih beberapa bulan lagi, jadi Farzan bisa memikirkannya nanti. Sekarang yang penting Nasha sudah bisa kembali tersenyum.


"Ini makanannya ratuku," ucap Farzan menghidangkan satu mangkuk sup kentang dan juga tambahan sosis asam manis serta telur.


"Yey! Makasih Kak Arza," senang Nasha mengecup pipi Farzan sebagai rasa terima kasihnya.


"Kurang. Masa cuma sebelah pipinya sih, nanti yang sebelah lagi sirik," modus Farzan agar mendapat kecupan tambahan.


Nasha langsung saja mengecup kembali sebelah pipi Farzan agar Farzan senang, dengan tambahan mengecup kening dan juga bibir Farzan sekilas.


Farzan tentu saja senang dengan perlakuan Nasha ini, apalagi tingkahnya yang begitu menggemaskan membuat Farzan balas mengecup seluruh sisi dari wajah Nasha tanpa terlewat.


"Hehehe, udah ih, aku mau makan," tawa Nasha geli karena Farzan malah terus mengecup wajahnya.


"Hahaha, gemesin banget sih kamu," gemas Farzan yang menghentikan kecupannya namun beralih memeluk gemas Nasha.


"Udah sana dimakan," ucap Farzan melepas pelukannya dan membiarkan Nasha memakan hidangan yang tersaji di depannya.


Melihat Nasha kembali tersenyum dan tertawa membuat Farzan ikut bahagia. Farzan memang tidak bisa mencegah datangnya kesedihan, tapi Farzan akan berusaha mengembalikan senyum dan tawa setelah kesedihan itu terlewati.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..

__ADS_1


bye bye


__ADS_2