Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
111


__ADS_3

Sesuai dengan rencana pada hampir tengah malam mereka beristirahat sejenak di tempat yang sudah ditentukan tadi.


Hampir semua yang berada dalam mobil sudah keluar dan duduk di dalam area resto. Hanya tinggal Farzan dan Nasha yang masih berada di dalam mobil.


Farzan tidak tega membangunkan Nasha yang baru beberapa menit yang lalu tertidur pulas. Sebelumnya ada saja yang Nasha keluhkan, jika tidak punggung maka perut atau posisi duduk yang kurang nyaman. Jadilah Farzan membawa Nasha pindah ke kasur yang berhadapan dengan punya Aletta.


Cukup lama Farzan memandangi wajah Nasha, sebelum akhirnya membangunkan Nasha perlahan. Tujuannya agar Nasha bisa bergerak bebas sebelum kembali berdiam saat mobil berjalan nanti.


"Sayang, bangun dulu sebentar. Kita istirahat di rest area dulu sebentar," bisik Farzan pelan dengan tangan yang mengelus lembut pipi Nasha.


"Hm?" gumam Nasha bingung dengan mata yang masih tertutup.


"hehe, gemesin banget," gumam Farzan pelan dengan senyuman yang mengembang.


"Bangun dulu ya? Nanti kalau sudah mau pergi kamu bisa tidur kembali," ucap Farzan lembut.


"Em.. Gimana kalau Kak Arza aja yang keluar. Nanti aku nyusul," ucap Nasha pelan yang masih menyesuaikan diri. Jujur saja badannya mulai terasa tidak enak dan dia mencoba untuk terlihat biasa sekuatnya.


Nasha bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya pada sekat yang ada di belakangnya, dengan menyingkirkan pelan tangan Farzan yang dia tindih sedari tadi.


"Mana yang sakitnya?" tanya Farzan yang langsung paham dengan keadaan Nasha. Jangan lupakan jika Farzan ini adalah orang yang peka, apalagi dengan keadaan wanita yang dicintainya ini.


"Ini," gumam Nasha seraya menunjuk bagian perutnya yang memperlihatkan tonjolan tonjolan kecil ulah dari anaknya yang sepertinya sedang bermain di dalam sana.


"Hey Nak, lebih lembut bermain disana, kasihan Mommy mu menahan rasa tidak nyaman disini," bisik Farzan di dekat perut buncit Nasha dengan di akhiri beberapa kecupan ringan.


Perlahan tapi pasti tendangan yang dilakukan anak dalam kandungan Nasha mulai memelan, Nasha yang merasakannya tersenyum senang. Senang karena mempunyai pendamping yang selalu mengerti keadaannya dalam hal apapun.


"Terimakasih," gumam Nasha saat Farzan menolehkan wajahnya dari depan perutnya.


"Anything for you," ucap Farzan dengan senyumannya.


"Sekarang kita ke bawah dulu ya? Nanti biar aku gendong setelah di luar, kalau langsung dari sini takunya kamu tidak nyaman karena ruang lingkupnya sempit," sambung Farzan yang mulai berdiri dan membantu Nasha turun dengan perlahan.


......................


Suasana dalam tempat makan disini begitu menenangkan. Apalagi saat tengah malam begini. Walaupun angin malam begitu dingin, tapi pemandangan di luar sayang jika harus dilewatkan begitu saja.

__ADS_1


Bagaimana tidak, di samping resto ini ada sebuah air terjun buatan dengan sungai kecil yang diisi ikan hias yang indah, belum lagi rerumputan buatan juga beberapa tanaman hias yang begitu memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.


Konsep dari resto ini memang unik dan jarang ditemui. Apalagi ini berada di sekitar tempat peristurahatan orang orang yang akan menuju ke kota lain.


Lahan parkir yang luas juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak yang memilih singgah sejenak disini daripada di tempat lain. Walau dengan harga yang cukup menguras dompet.


"Pengen punya taman kaya gitu juga," ucap Nasha tanpa sadar karena terlalu mengagumi tempat yang sedang dia datangi ini.


Farzan yang mendengarnya hanya tersenyum dengan otak yang mulai menyusun rencana agar bisa mewujudkan keinginan Nasha saat sampai rumah nanti.


"Nah itu Kak Arza baru turun sama Kak Sha," ucap Aletta yang entah tadi mengobrol apa dengan orangtuanya.


"Maaf ya semuanya, tadi aku ketiduran, hehe," ucap Nasha yang sudah duduk di samping Aletta.


"It's Ok sayang," ucap Zenna menenangkan dengan senyum keibuannya. Yang lain juga mengangguk sebagai tanggapan.


Banyak yang mereka obrolkan selagi beristirahat di tempat ini. Ada juga beberapa yang duduk di kursi pijat yang tersedia khusus untuk pelanggan yang tidak dipungut biaya sama sekali.


Memang tidak rugi mereka datang ke tempat ini dengan segala fasilitas yang mampu membuat orang yang sudah beristirahat mempunyai banyak tenaga lagi untuk kembali melanjutkan perjalanan.


......................


Kali ini semua sudah kembali menuju kasurnya masing masing karena memang sudah waktunya untuk tidur.


Walau begitu Nasha sebenarnya hanya berpura pura memejamkan mata dengan deru nafas yang dia buat seteratur mungkin.


Nasha tidak bisa tidur karena sekarang giliran kakinya yang terasa pegal. Mungkin karena sejak tadi dia melihat lihat ke beberapa tempat yang menurutnya menarik, jadi sekarang bagian kakinya yang sepertinya sudah bengkak.


Kebetulan Farzan sudah tertidur karena sedari tadi dia terjaga dan memperhatikan Nasha yang terkadang gelisah.


Sebelum benar benar terlelap Farzan lebih dulu memastikan jika Nasha sudah tertidur barulah dia menyusul.


Sayangnya kali ini Farzan kurang peka, entah karena sudah terlalu mengantuk atau karena yakin jika Nasha memang sudah tidur.


"Kak Arza tidurnya pules banget, aku pengen keluar buat renggangin kaki, tapi takut Kak Arza kebangun. Biasanya dia kan suka langsung bangun kalo aku gerak dikit aja," batin Nasha sambil memandangi wajah Farzan.


10 menit berlalu, nyatanya Nasha tidak sanggup menahan rasa tidak nyaman yang dia rasakan. Dengan perlahan Nasha bangun sesekali melirik ke arah Farzan yang terlihat masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Setelah yakin Farzan masih tertidur, Nasha berjalan menuju kursi tengah yang tadi di gunakan untuk menonton Tv.


"huh.." Nasha merasa sudah terlalu lama berjalan, walaupun sebenarnya hanya berjalan sebentar.


......................


"Kenapa?" bisik Farzan yang ternyata sudah berada di sampingnya entah sejak kapan.


"Loh? Kak Arza kok bangun," heran Nasha dengan kernyitan di dahinya.


"Kamu ngga ada di samping aku tadi, jadi kebangun. Kayanya juga kamu udah lumayan lama tidur jadi ngga kerasa kalau aku udah di sini," jelas Farzan yang memang sudah ada disamping Nasha sedari 15 menit yang lalu.


Walau tadi Farzan akui dia terlalu lengah jadi tidak merasakan saat Nasha berjalan keluar.


"Tadi aku liat kamu udah ngga nyaman makannya aku tanya, kenapa?" lanjut Farzan menjelaskan karena Nasha seperti tidak percaya.


"Ternyata dari tadi aku ketiduran," gumam Nasha setelah terdiam cukup lama.


"Iya, kamunya juga ngga sadar kan? Haha," jahil Farzan setelah mendengar gumaman Nasha.


"Kak Arza mending balik ke sana aja deh," sebal Nasha yang merasa diledek.


"Haha.. Oke oke aku ngga ledekin kok. Sekarang kamu bersandar dulu," ucap Farzan mendorong pelan bahu Nasha agar bersandar dengan nyaman.


Setelahnya Farzan duduk di bawah Nasha dan mulai memijat pelan kaki Nasha.


"Shh ini bengkak banget Sha. Lain kali kalau udah ngga nyaman langsung bilang ya? Di sini ngga ada air wadah air panas jadi kakinya ngga bisa di rendam seperti biasa," oceh Farzan dengan tangan yang aktif memijat.


...----------------...


Tbc..


Aku sebenernya bingung mau lanjutin apa engga, kaya udah ngga nyambung aja gitu hehe...


Apa udahin aja ya? Gimana menurut kalian?


Happy reading semua..

__ADS_1


__ADS_2