
Mungkin memang benar kekesalannya tadi itu karena dia tidak ingin jauh dari Farzan dan merasa Farzan menolak jika dia terlalu dekat seperti ini. Padahal semua pemikiran tadi itu tidak benar.
Tapi masih ada yang mengganjal. Yaitu tentang wanita itu. Jika sampai Farzan memilih wanita itu bukankah dia harus tetap menyingkir nanti? Jadi apa yang harus dia lakukan.
“Hah.. kamu pasti mikirin hal negatif lain. Aku ngga bisa buat kamu berhenti sih. Tapi kalau itu tentang aku, aku cuma minta kamu percaya. Itu aja,” ucap Farzan yang sudah duduk di kursi meja makan. Tadi Farzan membalas perkataan Nasha tapi Nasha hanya diam melamun.
“Ya kan ngga tahu kenapa otaknya mikir mulu. Masa harus aku pukul dulu otaknya biar bisa mikir positif,” kesal Nasha dengan bibir cemberut.
“Hahaha.. ya jangan dong. Nanti kepala kamu sakit. Udah ah sekarang kita makan dulu aja,” ucap Farzan sambil membalikkan piring.
“Aku ambilin,” ucap Nasha hendak berdiri.
“Ngga papa aku aja. Kamu cukup duduk diam dan menerima suapan dari aku,” ucap Farzan santai. Nasha yang ingin protes tidak bisa karena mulutnya di isi oleh nasi dan juga brokoli.
“Mhasha lhangshung mhashukhin shih kheshel,” ucap Nasha tidak jelas karena mulutnya penuh.
“Jangan ngomong dulu, Sayang. Takut kamu keselek nanti,” ucap Farzan menahan gemas dengan menciumi pipi Nasha.
“Ya kan kesel masa langsung di masukin makanan. Padahal tadi mau bilang, mau makan pake nugget sama telor baru sayur,” omel Nasha dengan tangan bersedekap dada.
“Haha.. maaf maaf, aku lupa tanya sama kamu. Yaudah ini sekarang sesuai reques kamu,” ucap Farzan dengan tawanya. Semakin lama mungkin Nasha akan semakin bersikap seperti dulu. Dan Farzan akan memastikan hal itu pasti terjadi.
Mereka berdua pun makan dengan sesekali bergurau membuat suasana pagi menjadi lebih hangat dibandingkan beberapa menit yang lalu.
...----------------...
Selesai makan mereka bersiap untuk bertemu dokter di rumah sakit ARC Medic, menemui dokter kandungan yang cukup terkenal di negara ini, dokter Jane.
Farzan juga berencana menemui sahabatnya Reno. Sebenarnya mereka ada 8 orang, 2 lagi adalah kakak kelas mereka yaitu Ergi dan Mita. Masih ingat kan dengan mereka berdua? Orang yang dulu Nasha temui saat presentasi pertama bersama Farzan.
__ADS_1
Ergi dan Mita masuk dalam grup lain yang berisi mereka berenam dan pasangannya kecuali Nasha karena memang Farzan belum memasukkan Nasha dalam grup.
Sepertinya setelah nanti Farzan bercerita tentang semuanya, dia akan mengajak semua sahabatnya berkumpul sekalian silaturahmi.
Farzan masih menggendong Nasha karena dia masih merindukan Nasha walaupun sudah ada di hadapannya. Nasha tidak protes karena memang dia juga nyaman.
Tapi baru saja akan masuk mobil yang dikendarai Farzan sendiri, Nasha merasa aroma dalam mobil membuatnya mual. Di tambah Farzan juga belum masuk karena sedang memberi instruksi pada bodyguard.
“Hoek.. eh jangan sekarang please. Nanti mobilnya bau. Ugh aku tidak kuat dengan aroma ini,” gumam Nasha dengan menutup mulut agar tidak muntah di dalam mobil.
Nasha berusaha menahan mualnya, siapa tahu dia bisa bertahan sampai di rumah sakit nanti dan tidak membuat Farzan khawatir.
Namun ternyata semuanya salah, baru saja Farzan berjalan untuk masuk dan duduk di kursi kemudi, Nasha membuka pintu mobil dengan tergesa dan berlari menuju kamar mandi tamu yang ada di dekat tangga masuk.
Farzan yang melihat itu langsung mengikuti Nasha dan membantu memijat tengkuk leher Nasha. Farzan juga menopang tubuh Nasha yang berdiri dengan lemas di depan wastafel.
“Masih mau muntah?” tanya Farzan lembut, setelah Nasha menelungkupkan wajah di atas kedua tangannya yang mencengkeram pinggiran wastafel.
“Aku ambil air hangat dulu ya? Kamu duduk dulu di sini,” ucap Farzan, tadi saat Nasha menggeleng Farzan membalikkan badannya dan mengangkatnya agar bisa duduk di atas wastafel. Nasha juga hanya mengangguk pelan sambil menyandarkan badan pada kaca di belakangnya.
Tak lama Farzan datang membawa segelas air hangat dan handuk kecil di tangannya yang lain untuk membantu membasuh wajah Nasha.
“Ini minum dulu,” ucap Farzan menyodorkan gelas ke depan mulut Nasha. Nasha hanya meminumnya sedikit.
“Sedikit lagi ya?” bujuk Farzan karena Nasha hanya meneguk sedikit air. Farzan takut Nasha kekurangan cairan nantinya.
“Ngga mau hiks.. udah,” ucap Nasha yang mulai menangis.
“Stt.. oke oke udah cukup. Aku basuh dulu mukanya ya? Kamu mau makan lagi?” tanya Farzan sambil membasahi ujung handuk dan mulai membasuh mulut Nasha.
__ADS_1
Nasha yang di tanya hanya mengangguk dan menggeleng tanda tidak mau makan lagi. Dia malas sekali jika harus makan dan dikeluarkan lagi seperti ini.
“Aku bawa roti aja gimana? Cuma 1 lembar, buat ganjal perut sementara,” bujuk Farzan sambil mengusap mulut Nasha dengan handuk kering.
Nasha hanya memandang Farzan dengan mata berkaca kaca, dia ingin menolak tapi juga harus mengisi perutnya. Jadi Nasha mengangguk saja tapi wajahnya terlihat sekali tidak menginginkannya.
“Apa kamu tidak suka bau pengharum di dalam mobil?” tanya Farzan yang sudah berjalan menuju dapur dengan menggendong Nasha.
Nasha hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Farzan, bahkan kepalanya pun di sembunyikan di ceruk leher Farzan.
“Mau pake selai apa?” tanya Farzan ketika sudah sampai di dapur.
“Mentega kasih gula,” gumam Nasha.
“Oke,” Farzan langsung membuat beberapa roti seperti yang di inginkan Nasha. Farzan berniat membawanya ke dalam kotak bekal.
“Mau makan ini dulu ngga?” tanya Farzan ketika selesai memasukkan beberapa lembar roti dengan selai yang berbeda.
“Nanti aja,” ucap Nasha yang masih menghirup aroma Farzan. Baginya wangi tubuh Farzan lebih menyenangkan dibanding makan atau lainnya.
...----------------...
oiya maaf ya kalau penulisannya dari bab awal sampe tengah itu beda sama sekarang, masih cari cari referensi tulisan yang pas soalnya hehe..
insyaallah nanti kalau udah beres di benerin lagi biar lebih enak di baca..
okedeh..
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye