
Tanpa kedua orang itu tau, Farzan mendengarkan perkataan mereka tadi. Memang dia sudah akan pergi tadi, hanya saja dia lupa memberikan laporan kerja sama dari salah satu bidang yang masih harus dirombak. Mungkin nanti Farzan harus sedikit lebih tegas agar mereka bekerja dengan teliti nanti. Tapi dia tak jadi keluar karena mendengar pembicaraan mereka yang ternyata membicarakan dirinya. Dan karena dia penasaran, jadi dia menguping.
Tidak biasanya dia menguping seperti ini, apalagi karena penasaran dengan orang yang membicarakannya. Biasanya dia akan acuh, tapi entah kenapa dia sangat tertarik dengan jawaban Nasha. Apalagi pembahasan tentang pendamping. Dia merasa kagum pada pemikiran Nasha yang ternyata sangat sederhana namun bermakna.
“Kenapa gue jadi nguping gini sih, kenapa juga harus penasaran, bukan gue banget, tapi jawabannya menarik juga, apa sementara dia saja yah?” gumam Farzan setelah dia kembali ke tempat duduknya karena tadi dia berdiri di dekat pintu.
“Tapi dia juga ternyata amanah, setidaknya dia bisa di percaya untuk saat ini, selagi aku masih mencari, dia tameng yang cukup kuat, apalagi Dad juga sudah mengenalnya,” gumam Farzan lagi. Tapi dia baru ingat jika Nasha belum makan siang, dan dirinya sendiri pun belum, jadi dia berpikir akan membeli makanan lewat online atau meminta tolong pada Brady untuk membawakannya sekalian.
Setelah pemikiran cukup lama, Farzan akhirnya meminta tolong pada Brady untuk sekalian membeli makanan, dan dia membeli 3 porsi untuknya, Brady dan Nasha. Dia yakin Nasha belum makan. Karena di cctv terlihat Nasha sedang membuat kopi di pantry, dia baru saja menghabiskan segelas besar teh manis hangat, dan mungkin akan bertambah satu gelas lagi sekarang.
“Lucu juga,” gumam Farzan dengan sedikit senyuman.
“Siapa yang lucu Za?” tanya seseorang yang baru saja membuka pintu, dia Brady yang baru saja datang.
“Kenapa ga ketuk pintu sih?! Kebiasaan lo,” ucap Farzan kesal, dan merubah ekspresinya menjadi datar kembali. Jika mereka sedang tidak bekerja memang mereka tidak menggunakan bahasa yang formal, karena mereka sudah bersahabat sedari kecil. Dan hanya Brady yang tau tentang masa lalu Farzan, karena Farzan yang terus bercerita jika dia sedang merindukan seseorang.
“Ya gapapa dong, masih jam istirahat juga, btw ini makanan yang lo minta, tumben beli 3, kan kita berdua disini,” ucap Brady yang terdengar menggelikan ditelinga Farzan.
“Apaan sih lo, gue beli buat anak pantry yang suka diomong-in Dad kalau dirumah, gue kira Dad hanya melebih lebihkan cerita, ternyata memang orangnya seperti apa yang Dad ceritakan,” terang Farzan sambil sedikit memuji orang yang dia bicarakan.
“Tunggu tunggu, lo tadi habis ngomongin Bu Eno nih? Masa lo mau sama Ibu Ibu sih, lagian tumben banget ngomong-in orang lo, jangan jangan beneran lagi jatuh cinta sama Bu Eno, dih parah lo,” ucap Brady meledek Farzan. Sebenarnya Brady tau kalau orang yang di maksud Farzan adalah Nasha, karena dia lebih dulu datang ke sini dan bertanya pada Tery waktu itu. Tidak mungkin juga kan Farzan memuji Bu Eno, apalagi ini orang yang sering Ayahnya bicarakan.
“Enak aja, masa iya gue ngomong-in Bu Eno, gue lagi ngomong-in Arfa juga,” ucap Farzan tak terima, dan memanggil dengan nama Arfa yang membuat Brady bingung.
“Apa ada orang baru di bagian sana ya? Bukannya minggu ini belum ada lowongan apa pun,” pikirnya.
Brady hanya diam sembari menaikkan sebelah alisnya saja, dia masih belum menemukan jawaban siapa itu Arfa.
“Maksud gue Nasha,” ralat Farzan karena melihat temannya itu hanya diam saja.
“Lo punya panggilan sendiri buat dia? Apa lo udah lupa-in dia dan berganti pada anak itu?” kaget Brady, karena tidak biasanya Farzan seperti ini. Walau hanya sebuah panggilan, tapi biasanya Farzan tidak mengingat atau memanggil seseorang dengan nama yang tidak biasa dipanggil orang lain bahkan orang itu sendiri. Dan Brady tau, Farzan mengetahui panggilan Nasha atau Zaina yang di pakai oleh kebanyakan orang.
“Ap apa sih, orang gue spontan doang, lagi pula hati gue masih berisikan namanya, belum berubah dan tidak akan berubah sampai kapan pun, gue cuma belum menemukannya saja, tapi gue yakin sedikit lagi gue menemukan jawabannya,” tegas Farzan walau di awal dia sempat ragu, tapi dia yakin hatinya tidak akan goyah. Hanya ada satu nama dan itu berlaku selamanya.
“Ya terserah lo lah, gue cuma gamau liat lo sendiri terus, lagi pula gue juga udah sering di teror Om Zeroun biar lo mau nikah, umur lo udah tua jadi harus cepet nikah, haha,” ucap Brady sembari tertawa. Memang bukan hanya Farzan saja yang di teror untuk segera menikah, tetapi Ayahnya meminta tolong pada teman sekaligus asisten pribadinya ini untuk selalu memberitahu Farzan agar cepat menikah.
__ADS_1
“Gue udah punya rencana untuk itu, dan masalah umur gue ini masih 26 tahun, dan itu belum termasuk kategori tua,” ucap Farzan sambil menyeringai dan diakhiri suara yang datar.
“Dan sepertinya lo juga harus cari pendamping, jangan cuma pikir-in gue aja, suruh suruh orang nikah tapi sendirinya juga belum, gimana sih lo,” ledek Farzan karena memang Brady juga belum memiliki pasangan untuk saat ini.
“Apaan, gue mah nanti aja, masih ingin menikmati hari sendiri, biar gaada yang ngerecok-in, haha,” ucap Brady diakhiri tawa.
Sekian lama mereka berbincang mereka lupa jika belum makan, dan Farzan juga lupa jika Nasha belum makan siang, dan waktu makan siang hanya 10 menit lagi, sepertinya dia akan menambah waktu istirahat.
“Gue lupa dia belum makan siang, dia gue suruh diem di lantai atas dan ga ke bawah sebelum gue boleh-in, lo sih dari tadi ngajak ngobrol jadi lupa kan,” kesal Farzan dan memasang wajah paling datar pada temannya.
“Apaan lo nyalah-in gue, lo nya aja yang ngajak ribut, eh tapi dipikir pikir lo kenapa mikirin anak itu, bener kan lo suka sama dia, ngaku lo,” desak Brady karena dia semakin yakin akan hal itu.
“Apaan sih, udah lo bawa makanannya di sofa, gue mau telpon dulu Ar.. eh Nasha,” elak Farzan dan langsung mengambil telepon kantor dan memencet nomor pantry agar menghentikan perkataan Brady yang akan membalas ucapannya.
“halo, ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Nasha, karena telepon menyala berkerlip di angka 001 dan angka tersebut memang sambungan dari ruangan utama, jadi dia langsung tau jika itu dari Presdir disini.
“Ke ruangan saya sekarang, bawa juga 2 gelas kopi hitam jangan terlalu manis,” ucap Farzan
“Baik Pak, apa ada lagi?” tanyanya
“Baik Pak, berarti kopi hitam 2 dan piring 3, ada lagi?”
“Air mineralnya 3, bawa 5 menit dari sekarang, kalau bisa kurang,” ucap Farzan terakhir sebelum menutup telepon secara sepihak.
Disisi lain..
“Huh.. namanya juga Bos, Bos mah bebas, harus ekstra sabar, sekarang siapin semuanya sebelum 5 menit. Semangat Cha,” gumam Nasha menyemangati dirinya sendiri.
Kembali ke ruangan lain..
“Tuh kan, lo emang beda sama dia, udahlah jangan ngelak lagi, lagian belum tentu juga masa lalu lo masih sendiri kan, siapa tau dia udah bahagia juga sama yang lain,” ucap Brady yang terus merecoki Farzan.
“Ga ada yang bisa ganti-in Zacha sampai kapan pun, dan lo jangan berkata buruk tentang dia, kalau sampai gue denger lo ngomong gitu lagi, lo bukan temen gue lagi!!” Tegas Farzan, dia tidak rela jika ada yang merendahkan atau menghina seseorang yang biasa dia panggil Zacha. Menurutnya tak akan ada yang menggantikan tempat Zacha dihatinya. Dan itu mutlak.
“O oke, gue ga akan kaya gitu lagi, tapi saran gue, jangan halangi hati lo untuk menentukan pilihan lain, setidaknya jika nanti memang dia lo temu-in, lo yakin jika hati lo tetap untuk dia,” saran Brady pada akhirnya. Brady memilih mengalah agar suasana tidak berubah canggung.
__ADS_1
Tak lama dari itu ada yang mengetuk pintu dan sudah dipastikan itu adalah Nasha, setelah di persilahkan masuk Nasha pun membuka pintu sambil membawa nampan berisi permintaan yang tadi disebut oleh Farzan.
“Permisi Pak, saya bawa kopi hitam 2 dengan sedikit gula, air mineral 3, piring beserta sendok 3, sudah kan Pak? Ada lagi yang Bapak perlukan?” tanya Nasha kembali setelah menyebutkan lagi apa yang tadi diminta oleh Farzan.
“Ada lagi, saya mau kamu bawa nampan itu ke sofa dan tata makanan yang ada disana ke dalam piring Dan taruh gelas gelasnya disana,” ucap Farzan
“Baik Pak, saya ijin ke sana dulu,” ucap Nasha dan berlalu menuju sofa untuk membereskan apa yang diminta oleh Farzan tadi.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk melakukan apa yang Farzan perintahkan, karena sekarang semua sudah tertata dengan rapih dan juga disusun sedemikian rupa.
“Disini kan cuma ada Pak Farzan dan Pak Brady tapi kenapa makanannya ada 3 yah, dan air minumnya juga sama, ah.. sudahlah mungkin nanti akan ada yang datang untuk memakan makanan ini, kalau gaada mending aku minta buat makan haha,” batin Nasha yang sedikit bingung karena kelebihan makanan dan minuman yang disimpan disana.
“Sudah selesai Pak, saya pamit untuk ke pantry lagi ya Pak, jika ada yang di butuh kan Bapak bisa telepon saya lagi,” ucap Nasha setelah selesai dan pamit untuk kembali lagi ke pantry, karena mungkin belum ada pekerjaan untuknya lagi.
“Kamu tunggu dulu disini. Dy kita makan dulu, setelah ini kita lanjutkan obrolan setelah makan. Dan untuk kamu Nasha duduk disini dan makan makanan kamu,” ucap Farzan terdengar sangat memerintah dan tidak ingin dibantah.
“Tapi Pak rasanya tidak sopan jika saya duduk disini, apa boleh saya bawa makanannya ke pantry saja?” tanya Nasha tanpa ragu, walaupun terkadang dia makan bersama siapa pun itu, tapi karena atasannya masih baru dikenal rasanya tidak sopan jika makan di tempat yang sama seperti sekarang. Beda halnya jika mereka bertemu di suatu tempat makan yang memang bangkunya tidak bisa ditempati sendiri, jika sudah di luar kantor mereka bukan atasannya kan, mereka hanya manusia yang lapar dan ingin makan di tempat tersebut.
“Tidak perlu merasa tidak enak, sudah duduk disana dan tidak perlu banyak bertanya lagi,” tegas Farzan yang tidak ingin ada penolakan lagi.
“Bingung, iya-in atau ngga yah? Kalau di iya-in males, kalau ngga di iya-in nanti marah marah, duh bingung kan,” batin Nasha bingung.
.
.
.
.
.
.
tandai jika ada typo...
__ADS_1
happy reading :)