Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Paviliun


__ADS_3

Nasha sebelumnya mengirim pesan pada Farzan dan hanya di baca sekitar pukul 11.00 siang. Tak ada balasan atau kabar apa pun dari Farzan yang membuat Nasha langsung menarik kesimpulan jika Farzan bertemu orang di masa lalunya.


Entahlah Nasha rasa perannya tidaklah penting di sini. Setidaknya kemarin kemarin Farzan masih sering memberi kabar jika ada urusan mendadak atau hal lainnya. Dan tanpa sadar itu menjadi kebiasaan agar Nasha tidak menunggu dan juga khawatir. Tapi saat ini sama sekali tidak ada kabar bahkan sampai sekarang sudah pukul 16.00.


Sedari masuk kamar Nasha juga tidak keluar, bahkan melewatkan makan siangnya juga. Tadi Nasha hanya meminum air putih yang di simpan di atas nakas.


Bukan hanya karena tidak ada kabar dari Farzan, tapi Nasha tidak merasa perutnya lapar dan juga sedang tidak ingin melihat makanan apa pun saat ini.


“Apa lebih baik aku pindah ke paviliun bersama dengan yang lain ya? Setidaknya di sana aku merasa mempunyai teman. Lagi pula Mas Farzan saja sepertinya lupa padaku karena sudah bertemu orang itu,” gumam Nasha pada dirinya sendiri.


“Lagi pula aku tadi sudah mengemasi pakaian yang dulu aku bawa. Tapi masih ada kamar yang kosong tidak ya? Kalaupenuh, nanti aku bisa tidur di masjid sementara sampai bisa keluar gerbang dengan bebas hehe,” entah kenapa Nasha bisa berpikir serandom ini.


Padahal kamr tamu banyak, tapi pilihannya paviliun bahkan masjid yang ada dalam kawasan mansion.


Tanpa banyak ba bi bu lagi, Nasha membawa tas berisi baju dan juga tas jinjing untuk membawa dompet yang berisi uangnya dan juga handphone, kartu atm dari Farzan Nasha simpan di laci nakas.


Nasha masih memiliki uang dari hasil gaji yang dia tabung dulu. Dan semenjak bersama Farzan, setiap mereka pergi Farzan yang akan membayar. Jadi uangnya tersimpan rapi tanpa tersentuh.


...----------------...


Paviliun belakang ternyata memiliki beberapa kamar yang memang belum terisi atau di biarkan kosong untuk pekerja baru atau jika para maid kedatangan keluarga yang berkunjung.


Nasha menempati kamar ujung di sebelah kanan kamar Eby.


Awalnya mereka yang melihat Nasha membawa tas terlihat bingung. Apalagi saat Nasha berkata ingin tidur di kamar belakang.


Sempat ada sedikit perdebatan antara beberapa orang karena ada yang takut dimarahi oleh Farzan dan ada juga yang mengiyakan karena mungkin Nasha sedang ingin sendiri.


“Nona yakin mau tidur di sini?” tanya Wati salah satu pekerja yang usianya hampir 50 tahun.


“Yakin Mbok, lagi males dikamar hehe,” jawab Nasha santai.


“Kan di sini kamarnya kecil Non,” ucap Wati lagi.


“Kamar saya dulu juga kecil kok. Ini malah lebih besar, ada kamar mandi di dalemnya juga lagi,” ucap Nasha yang memang kagum karena dia pikir paviliun belakang memiliki kamar mandi di luar kamar yang di gunakan bersama.


“Iya Non ini kan demi kenyamanan kami para pekerja di sini,” ucap Eti menyahut.

__ADS_1


“Yaudah kalian balik lagi ke kamar aja, aku mau beresin baju dulu hihi,” usir Nasha sambil terkikik.


“Kalau begitu kami permisi ya Non,” ucap mereka yang tidak ingin lagi memaksa Nasha kembali ke mansion.


“Oke,” balas Nasha singkat.


Nasha menutup pintu tidak lupa menguncinya juga. Baru setelahnya dia mulai membereskan barang bawaannya.


“Kayanya bikin mie instan enak, udah lama juga ngga bikin,” gumam Nasha setelah selesai menaruh baju ke dalam lemari dan memasang seprai kasur serta bantalnya.


Nasha membuat mie saat mendekati waktu magrib, para maid ada yang berada dikamar ada juga yang sedang di masjid karena setiap waktu sholat bagi yang melaksanakan akan selalu rutin berjamaah di sana. Ini juga cara Farzan agar mereka tidak lupa pada pencipta dan menjalin kebersamaan antar pekerja.


Terkadang Farzan dan Nasha ikut berjamaah di masjid, tapi biasanya mereka berjamaah di mushola kecil yang letaknya di sebelah walk in closet, bentuknya memanjang mengikuti balkon dengan lebar tidak terlalu besar. Setidaknya di sana bisa muat 4 orang juga keperluan beribadah lain yang tersimpan rapi.


Selagi yang lain persiapan sholat, Nasha malah makan mie karena dia juga baru makan sekarang. Jadi setelah selesai barulah dia beribadah setelah sebelumnya membereskan kembali peralatan masaknya.


Tidak ada yang tahu Nasha memakan makanan instan apalagi itu mie, jika ada yang tahu mungkin mereka akan melarang dan mengganti dengan makanan sehat lain. Farzan memang membatasi konsumsi makanan instan, bukan berarti dia tidak suka tapi karena dia tahu itu tidak terlalu baik bagi tubuh. Setidaknya 1 bulan hanya ada kesempatan makan mie 2 kali saja.


Dan bulan ini jatah makan mie instan Nasha sudah habis. Ditambah tadi dia makan bungkus sekaligus dengan tambahan telur, sayur juga cabai merah 8 buah.


Sepertinya kali ini Nasha tidak akan kena marah karena Farzan sedang fokus pada urusannya dan pasti melupakan keberadaan Nasha.


...----------------...


Selesai membersihkan diri juga Farzan langsung menuju ruangan kerja yang ada di sebelah kiri kamar melalui akses lemari pintu yang mengecoh siapa saja yang melihatnya.


Tadi Brady menghubunginya jika dia harus melakukan perjalanan bisnis menuju beberapa negra dan kota berbeda dalam waktu 1 bulan ini. Jadilah sekarang dia harus sedikit mempersiapkan semua yang dibutuhkan.


Selesai dari ruang kerja Farzan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper juga bag kecil. Farzan tidak membawa banyak barang karena jika ada yang kurang masih bisa dia beli di sana nanti.


Tapi pikirannya masih pada Acha yang membuatnya masih ragu jika dia adalah Achanya. Memang dari beberapa cerita yang Acha bicarakan tadi sama seperti yang dia alami, tapi masih ada kejanggalan.


di tambah sekarang Farzan harus pergi selama 1 bulan penuh. Tapi Farzan usahakan semua selesai sebelum 1 bulan agar masalahnya di kota ini cepat menemui titik terang.


Jam 2 malam Brady datang menjemput Farzan dan langsung pergi menuju bandara karena pesawat pribadi beserta para awak kabin sudah siap tinggal menunggu Farzan saja.


Sampai di bandara melalui jalur khusus karena Farzan juga investor dari beberapa maskapai penerbangan juga tempat dimana para pesawat lalu lalang ini.

__ADS_1


Perjalanan kali ini menuju 4 negara di benua c dengan 5 kota yang harus di kunjungi. 2 perusahaan yang ada di negara itu terjadi penggelapan dana dan juga penurunan kualitas bahan yang mengharuskan mereka mengecek pabrik dan tempat suplai bahan agar mendapat solusi.


Waktu penerbangan pertama ini sekitar 10 jam di udara. Tapi untuk nanti mungkin hanya memakan seperempat waktu atau setengahnya saja.


“Nasha tahu Lo pergi?” tanya Brady tiba tiba, karena mereka baru selesai membahas masalah yang Brady sampaikan sebelumnya.


“Nasha?” bingung Farzan dengan dahi yang mengernyit. Sepertinya dia memang lupa.


“Lah gimana sih, masa masih ngga inget udah berkeluarga,” ucap Brady sedikit meledek.


“Astaghfirullah,” Farzan yang kaget menyandarkan kepala dengan tangan yang memijat pangkal hidungnya.


“Nah kan beneran lupa ini mah,” tadinya niat Brady bercanda saja dengan meledek Farzan, tidak tahunya malah benar lupa.


“Lo gimana sih? Atau jangan jangan dari awal Lo pergi ketemu sama ‘Acha’ Lo itu, Lo ngga bilang sama Nasha?” tebak Brady tepat sasaran.


“Bener?” desak Brady karena Farzan diam saja.


“Astaghfirullah, Za Gue tahu Lo pasti seneng banget bisa ketemu sama orang di masa lalu Lo itu setelah sekian lama pencerian. Tapi Lo juga harus inget sekarang Lo ngga sendiri lagi. Katanya Lo ngga akan main main dengan pernikahan, nyatanya baru sehari ada kabar kalau Acha ketemu Lo udah lupa sama keluarga Lo yang tak lain Istri Lo sendiri. Gue kecewa sama Lo,” tentu saja Brady tahu karena Dirky juga memberi kabar padanya tadi, walau tidak sepenuhnya dan hanya pemberitahuan saja agar hari ini Farzan tidak di ganggu.


Tadinya Brady pikir Farzan pasti sudah bicara pada Nasha tentang hal itu, tapi kenyataan ini membuatnya sadar jika Farzan akan lupa segala hal ketika menyangkut Acha.


“Gue bener bener lupa,” lirih Farzan yang masih di dengar Brady.


“Gue harap Lo bisa selesaikan masalah ini secepatnya Za, takut Nasha salah paham,” nasehat Brady.


“Gue tahu, setelah ini Gue akan hubungi Arfa,” ucap Farzan mengiyakan.


Nyatanya saat akan menghubungi Nasha baterai handphonenya habis, dan juga ada sedikit kendala lain di perjalanan yang membuatnya tidak bisa langsung menghubungi Nasha.


Tapi semoga saja nanti Farzan langsung ingat saat sudah sampai di tempat tujuan. Jika tidak mungkin kesalah pahaman ini tidak akan cepat.


...----------------...


happy reading..


tandai jika ada typo yahh hihi..

__ADS_1


bye bye..


__ADS_2