Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Lapar tengah malam


__ADS_3

Entah ada apa dengan Nasha tapi saat ini dia mulai gelisah kembali dalam tidurnya, walau tidak melakukan pergerakan yang berarti.


Melihat jam di atas nakas di sebelahnya, sekarang baru masuk pukul 2 dini hari yang berarti dia baru tertidur satu setengah jam yang lalu.


“Kamu masih mau di elus elus? Sama tangan aku aja ya? Kasian Papa kamu kalau digangguin sama kita terus. Besok dia harus kerja. Kalau kita kan cuma diem aja di rumah,” batin Nasha negosiasi dengan anaknya.


Tangan Farzan masih memeluk Nasha, tapi sudah tidak di atas perut Nasha lagi. Sekarang posisi mereka tidur berhadapan dengan kepala Nasha berada di depan dada Farzan. Tangan Nasha juga berada di depan perut Farzan juga perutnya jadi memudahkan dia menyentuh perutnya dan sedikit mengelusnya.


“Kenapa ngga mau hiks aku pengen tidur bentar lagi aja. Tapi masa pengen makan lagi. Tidur aja ya? Besok aja kita sarapan,” batin Nasha.


Nasha bingung harus bagaimana sekarang. Dia mengantuk tapi juga lapar dan juga perutnya tidak nyaman lagi karena sudah tidak di elus oleh Farzan.


Nasha mencoba untuk kembali tertidur dengan tangan yang perlahan mengelus perutnya sendiri, berusaha melupakan rasa lapar yang tiba tiba saja datang.


Entah kenapa di kepalanya ada gambaran makaroni pasta dengan creme brulee yang di panggang dengan oven. Di tambah tumis brokoli yang di masak dengan sosis dan juga tofu yang lembut, jangan lupa dengan tambahan nasi hangat sebagai pelengkapnya.


Dalam bayangannya pasti jika ketiga makanan itu di satukan akan ada perpaduan rasa yang begitu menyenangkan. Apalagi tambahan saus yang sedikit pedas, semua itu pasti lebih sempurna lagi.


Tidak tahan dengan gambaran yang selalu ada bahkan sudah berusaha Nasha hilangkan, perlahan Nasha melepaskan tangan Farzan yang memeluknya agar tidak sampai mengganggu tidur Farzan dan membangunkannya.


...----------------...


Membutuhkan waktu cukup lama sebelum tangannya berhasil di pindahkan. Farzan juga terlihat masih terlelap mungkin karena masih belum terlalu sehat dan juga kelelahan karena perjalanan kemarin malam.


Nasha duduk di karpet bulu yang ada di depan kasur sambil membawa ponselnya untuk melihat resep yang akan dia masak. Tapi di tengah membaca, Nasha baru ingat jika ini bukan di rumah Farzan melainkan di rumah orang tua Farzan. Nasha jadi ragu jika harus memasak di dapur, takut mengganggu yang lain juga.


“Kalau kita masak takut ngga ada bahannya atau mau di pake nanti bahannya sama yang lain. Apa kita beli dulu bahannya ke minimarket 24 jam di depan gerbang perumahan? Lumayan jauh sih tapi, bisa 20 menit jalan kaki ke sana, beda lagi kalau naik kendaraan 5 menit juga sampe. Terus gimana dong? Di aplikasi makanan ada ngga ya yang masih buka tempatnya,” batin Nasha sambil melamun.


“Kenapa?” suara serak Farzan terdengar dari sebelah kanan telinganya dan itu cukup membuat Nasha kaget karena tidak menyadari ada orang di sebelahnya.

__ADS_1


“Kok bangun?” tanya Nasha setelah menetralkan rasa kagetnya, sedikit membuat perutnya bereaksi.


“Maaf aku bikin kaget ya? Perutnya sakit?” bukannya menjawab Farzan malah balik bertanya dengan tangan yang langsung mengusap perut Nasha lembut.


Nasha hanya menggeleng memejamkan matanya sejenak menikmati usapan Farzan yang selalu mampu membuatnya nyaman. Farzan juga menarik Nasha untuk duduk lebih dekat di depannya dengan tangan terus mengusap perut Nasha.


“Kenapa bangun, hm?” tanya Farzan lagi karena Nasha belum menjawab pertanyaan Farzan sebelumnya.


“Engga papa,” jawab Nasha sambil menggeleng dan menyandarkan kepalanya di dada Farzan.


“Jangan menutupi apa pun Sayang. Aku ngga ngerti kalau kamu kaya gitu,” ucap Farzan lembut sambil mencium pelipis Nasha.


“Maaf,” ucap Nasha dengan kepala tertunduk merasa jika dirinya salah.


“Bukan itu maksudku Sayang. Tapi jika ingin sesuatu apa pun itu, tolong kamu bicara, agar aku mengerti dan bisa memenuhi keinginan kamu,” ucap Farzan sambil membalikkan badan Nasha ke arahnya dan membawanya untuk duduk di pangku.


“Mau makaroni creme brulee sama tumis brokoli pake sosis sama tofu,” setelah lama terdiam Nasha menjawab pertanyaan Farzan dengan bibir sedikit melengkung ke bawah.


“Hehe, kamu ini aku kira mau apa. Yaudah aku bikin dulu ya? Nanti kalau udah jadi aku bawa ke kamar,” ucap Farzan sambil terkekeh gemas melihat raut wajah Nasha yang seperti itu.


“Mau ikut,” bukannya beranjak, Nasha malah memeluk Farzan erat karena tidak ingin di tinggal.


“Di bawah dingin Sayang,” ucap Farzan gemas melihat Nasha yang baru baru ini sering menunjukkan sifat manja seperti dulu saat mereka masih kecil.


“Engga mau di sini. Mau ikut,” bukannya merenggang, pelukan Nasha di leher Farzan malah mengerat dengan badan yang di gerak gerakan ke kanan dan kiri.


“Uuuhh gemas nyaa. Yaudah kamu boleh ikut tapi pake jaket sama kerudung dulu ya, takut ada yang lewat nanti,” ucap Farzan ikut mengeratkan pelukan gemas sebelum mengangkat Nasha bersama agar memakai jaket dan kerudung yang di simpan dekat pintu masuk.


“Aku suka kalau kamu manja kaya gini. Aku jadi inget dulu waktu masih kecil,” ucap Farzan sambil berjalan menuju dapur bersih di lantai 2 yang juga di isi bahan makanan sama seperti di bawah.

__ADS_1


“Masa?” tanya Nasha sambil memiringkan kepalanya.


“Haha, iya. Soalnya kamu kalau manja cuma di depan aku aja, tapi di depan anak lain kamu galak,” ucap Farzan sambil tertawa kecil karena memang Nasha dulu sedikit galak jika di ganggu saat sedang asik bermain.


“Kan kalau lagi kesel aja galaknya,” ucap Nasha membela diri.


“Iya iya, kan biar ngga di bully terus, tapi tetep aja kena bully,” ucap Farzan sambil membuka kulkas dan mencari bahan untuk mulai memasak.


“Aku turun aja, nanti Kak Arza susah,” ucap Nasha merenggangkan pegangan tangannya.


“Etss.. tidak boleh. Nanti yang ada kamu malah mau ikut masak,” ucap Farzan hanya bercanda karena tidak ingin Nasha jauh dari jangkauannya.


“Ih kok tahu,” lirih Nasha yang masih di dengar Farzan.


“Tuh kan, padahal tadi cuma bercanda aja eh malah bener kaya gitu,” ucap Farzan dengan sebelah tangan dan kaki bekerja membereskan dan mengambil bahan yang di perlukan.


“Ih kan engga jadi. Yaudah deh aku duduk aja di kursi sana, nanti kamu susah,” mohon Nasha yang membuat pergerakan Farzan berhenti sebentar.


“Oke, tapi kamu cuma boleh duduk diam dan melihat aja,” putus Farzan agar Nasha nyaman juga. Nasha mengangguk semangat mendengar ucapan Farzan itu.


Setelah memastikan Nasha duduk dengan nyaman, Farzan kembali dengan rutinitasnya membuatkan keinginan Nasha.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2