
"Sepertinya anda orang baru," ucap Farzan sebagai pembukaan.
"Ma af Tuan, saya benar benar tidak tahu," gagap Leni karena terlalu takut.
"Bawa dia ke markas dan suruh pemilik toko sendiri yang mengurus orang ini. Biarkan jadi urusan mereka. Kecuali kalau mereka sendiri sudah angkat tangan," ucap Farzan pada bodyguard yang ada di depan pintu.
"Maafkan saya Tuan! Saya mohon jangan bawa saya!" ucap Leni menyesal, tidak mau di bawa ke tempat dimana semua akan berakhir. Semua pekerja yang ada di bawah naungan ARC Coporation tahu jika ada kesalahan, pasti mereka akan di bawa ke tempat asing dan jauh dari mana mana.
"Tidak ada keringanan. Kamu juga berani menghina ISTRI saya tadi," santai Farzan dengan menekan kata istri.
"Bawa langsung. Jangan buat istri saya terganggu," ucap Farzan langsung tanpa mau menanggapi apapun lagi.
"Kasian," gumam Nasha pelan, tapi tidak mau membantu.
"Habiskan makanannya Sayang. Kita masih akan pergi ke tempat makanan. Bukannya kamu mau bawa banyak makanan?" ucap Farzan mengingatkan Nasha dengan tujuan lain mereka saat ini.
"Oh iya! Tapi males sama kamu. Kalau ngga mau nemenin mending kamu pulang aja sana," usir Nasha yang sedang malas melihat Farzan. Kesalnya belum hilang.
"Huft.. kalau lagi marah gini bawaannya pengen kurung dalem kamar aja, kok bisa gemesin sih? heran," gumam Farzan yang memperhatikan wajah Nasha.
"Saya ijin duduk dulu ya Pak, masih kenyang soalnya, hehe," ucap Nasha pada security yang sudah akan kembali pada tugasnya di sekitaran pintu masuk mall.
"Silahkan Nona. Nona bisa berdiam di sini sampai jam berapa pun Nona inginkan. Kami permisi dulu," pamit security itu dengan sedikit menunduk karena Farzan tidak ingin ada yang menatap lama Nasha.
"Terimakasih Pak," angguk Nasha membiarkan mereka kembali pada pekerjaannya.
"Ngapain masih di sini? Sana pulang aja," ketus Nasha tak mau menatap Farzan, malah asik bermain ponselnya.
"Yaudah kalau gitu aku pulang duluan," ucap Farzan sambil bangkit berdiri dari duduknya.
Farzan kira Nasha akan menahannya, tapi ternyata Nasha hanya cuek saja dan mengucapkan "hati hati" tanpa menengok sama sekali.
__ADS_1
Tapi Farzan sempat melihat Nasha mengusap pelan matanya, dan dia tahu apa artinya itu.
"Udahlah emang aku yang usir juga. Mending belanja aja lah, nanti pulang pake taxi aja, kan pasti Kak Arza juga duluan pergi," gumam Nasha sedih. Sebenarnya memang dia tidak bermaksud mengusir Farzan dan masih ingin ditemani, tapi melihat Farzan sudah beranjak dia tidak bisa melakukan apa pun. Gengsi.
Nasha berjalan pelan menuju tempat dimana semua kebutuhan rumah tangga tersedia. Dari mulai sayur mayur sampai makanan ringan. Supermarket.
Selama berjalan Nasha lebih banyak melamun dan juga menundukkan kepalanya, memperhatikan jalan yang akan dia pijak, takut terjadi sesuatu pada baby.
Nasha tidak sadar saja, Farzan mengikutinya selalu tepat 2 langkah di belakangnya.
Tidak mungkin juga Farzan langsung mengiyakan permintaan Nasha yang menurutnya tidak masuk akal.
"Huft.. cape juga ya, tapi ngga papa, kan tadi baru di pijet jadi ada tenaga, hehe," gumam Nasha pelan yang dapat di dengar Farzan.
Melihat ada kursi kosong yang di sediakan untuk pengunjung, Nasha berjalan dengan sedikit tergesa. Nasha seperti melihat air di gurun pasir yang sangat jarang.
Kakinya terasa sedikit bengkak, apalagi dia sudah berjalan cukup jauh.
"Duduk dulu sebentar deh, nanti baru lanjut lagi jalannya," gumam Nasha memejamkan mata menyandar pada kursi berbentuk sofa yang ada di dekat toilet pengunjung.
Farzan yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas pasrah dengan sifat Nasha yang terkadang keras kepala. Apalagi jika Nasha sedang kesal dia hanya akan banyak diam dan mengabaikannya.
Farzan tidak tega melihat Nasha yang selalu mudah lelah atau merasa sedikit tidak nyaman jika dirinya terlalu memaksakan diri.
"Eh!" kaget Nasha yang merasa kakinya di pijat oleh seseorang.
"Kak Arza!" pekik Nasha tertahan melihat Farzan sedang berlutut dan memijat lembut kedua kakinya bergantian.
"Masih sakit, hm?" tanya Farzan tanpa menatap mata Nasha yang dapat dia pastikan sedang memperhatikannya.
"Kakak kenapa di sini? Maaf ngerepotin, tapi aku ngga papa kok, cuma sedikit cape jadi istirahat dulu sebentar. Ini mau lanjut jalan lagi kok," jelas Nasha dengan halus menepis tangan Farzan yang masih memberi pijatan di kakinya.
__ADS_1
"Maaf Kak, permisi," lanjut Nasha sediit lebih keras menepis tangan itu, dan berusaha berdiri walau harus bertumpu pada pegangan sofa.
"Pleas Cha, maafin aku. Jangan kaya gini. Kasian kalian," ucap Farzan memeluk Nasha dari belakang menahan wanita itu agar tidak lagi berjalan.
"Kakak ngga salah kok! Aku yang emang emosian. Harusnya Kakak yang marah sama aku karena udah kasar dan ngga nurut. Jadi mending tinggalin aku aja," ucap Nasha mencoba melepas belitan tangan Farzan di perutnya. Bukannya lepas malah lebih erat, tapi masih memperhatikan perut besar itu agar tidak terhimpit.
"Engga Sayang. Tadi juga aku memang salah, aku cuma liatin kamu dari jauh aja, hehe. Tapi kamu hebat loh bisa lawan dia kaya tadi. Lain kali kamu langsung bilang aja siapa kamu dan buktikan kekuasaan kamu di sini. Oke?" ucap Farzan panjang yang malah membuat Nasha terharu.
"Tadi aku jahat ya? Dia sampe di pecat sama kamu loh. Maaf ya aku buat malu," cicit Nasha mulai merasa bersalah.
"Engga Sayang. Dia memang pantas mendapat hal itu. Dan yang memecat dia bukan aku, tapi atasannya alias pemilik toko. Lagi pula memang sudah ada laporan tentang dia yang sering seenaknya dan bersikap seolah dia adalah pemiliknya, jadi tadi apa yang kamu lakukan, membantu aku untuk mengurusnya," jelas Farzan panjang.
"Udah ya jangan pikirin itu lagi. Sekarang kita belanja aja," lanjut Farzan yang langsung membawa Nasha dalam gendongannya dan berjalan menuju supermarket yang ada di lantai 1 ini.
Perdebatan dalam suatu hubungan apalagi rumah tangga pasti akan selalu terjadi. Ada kalanya rasa marah, kesal ataupun kecewa menghinggapi salah satu dari pasangan.
Tapi jika komunikasi dan juga pembawaan diri dapat dilakukan dengan baik, maka masalah juga redaman emosi yang sedang terjadi dapat di atasi dengan waktu yang singkat dan tidak berlarut larut.
Perdebatan yang berlarut larut hanya akan menyakiti salah satu atau bahkan kedua manusia yang sedang menjalin hubungan. Bahkan mungkin kemungkinan terburuknya adalah perpisahan.
Tapi jika memang rasa cinta dan kasih sayang yang ada dalam pasangan itu kuat, maka mereka pasti akan mencari jalan keluar dari masalahnya dengan saling mengalah.
...----------------...
ngomong apa sih aku wkwk
happy reading..
maaf kalau udah bosen, idenya lagi mampet, hehe
tandai typo yah, hehe..
__ADS_1
bye bye