
Sekarang Nasha sedang menghabiskan ice cream dengan dahi yang terkadang mengernyit memikirkan hal aneh di kepalanya.
“Oh aku tahu nanti aku bakal lewat pintu samping terus langsung naik becak motor yang ada di luar. Semoga aja mereka ngga sadar,” gumam Nasha pelan.
"Bayar dulu deh, tapi masih pengen. Beli satu cup kecil lagi ngga papa kali yah, sekali kali jajan banyak pake uang sendiri hihi,” kikik Nash kecil sambil berjalan menuju kasir.
“Permisi Mbak, saya mau bayar cup sedang ice cream vanila dan coklat, sama pesan satu cup kecil rasa oreo,” ucap Nasha langsung dengan tujuannya sambil mengeluarkan dompet dari dalam tas.
“Tambahan cup kecil oreo ya Kak? Baiklah sebentar,” ucap wanita itu sambil berlalu menyiapkan pesanan.
Setelah selesai cup ice cream langsung di berikan pada Nasha.
“Jadi berapa?” tanya Nasha sebelum mengeluarkan uang cash yang sepertinya ada 2 lembar kertas merah di dompetnya itu.
“Tidak usah Kak, untuk hari ini ada ice cream gratis bagi pengunjung yang beruntung. Dan Kakak orang yang beruntung itu,” jelasnya dengan sedikit gugup takut Nasha tidak percaya.
“Benarkah?” ucap Nasha berbinar, siapa juga yang tidak senang dapat gratisan kan? Hehe, batin Nasha senang.
“Iya benar Kak, selamat ya Kak. Semoga harinya menyenangkan,” ucap wanita itu dengan senyum lega.
“Baiklah, terima kasih,” ucap Nasha tanpa curiga dan berlalu menuju tempat mesin atm berada. Takut nanti kurang uang cash.
...----------------...
Sambil berjalan Nasha menghabiskan ice creamnya tanpa peduli jika dia diikuti oleh dua bodyguard yang terlihat walau dengan jarak yang lumayan jauh. Tenang saja masih banyak bodyguard tersembunyi yang sedari tadi sebenarnya mengikuti Nasha.
“Sisa tabungan kok jadi nambah banyak? Kemarin perasaan ngga sampe 20, kenapa sekarang udah 60 lagi,” gumam Nasha bingung saat melihat saldo di dalam kartu atmnya.
Sebelum menikah memang Nasha sempat memakai uangnya untuk makan dengan Rumi, dan dia sekalian melihat berapa lagi uang yang dia punya.
Dulu saat mendapatkan uang gajinya, Nasha membagi 3 untuk di simpan, di pakai dan juga uang kuliah yang dia bayar sendiri. Ada satu lagi yang di pakai Nasha menyimpan uang dari orang tuanya untuk bayar kuliah, tapi kartu itu sudah di berikan sebelum menikah tanpa sepengetahuan Farzan.
Dan kartu yang saat ini dia pegang merupakan kartu yang berisi uang simpanannya. Kartu yang dia pakai biasanya belum sempat di cek berapa saldonya, tapi dia pikir mungkin kurang dari 500 ribu.
“Coba liat di kartu satu lagi deh, ini nanti di urus dulu ke bank siapa tahu salah masuk,” gumamnya sambil mengganti kartu lain dan memasukkan pinnya.
“Loh kok yang ini jadi ada 80 sih? Kenapa pada gede semua isinya,” heran Nasha yang tidak mengerti semua kartunya terisi dengan nominal yang cukup tinggi.
“Apa jangan jangan Mas Farzan yang isi semuanya? Tapi tahu dari mana nomer rekening dan lainnya?” bingungnya dengan dahi mengernyit.
“Yaudahlah, pake dulu aja. Nanti kalau Mas Farzan sampe rumah baru di tanyain. Sekarang harus ke rs dulu mumpung lagi ngga di perhatiin,” gumam Nasha sambil melihat ke samping kirinya.
Tio dan Juan memang sedang berdiskusi dengan beberapa orang lain melalui sambungan dari alat canggih yang selalu terpasang di telinga dengan satu pengontrol pipih untuk mengatur suara dan berbicara pada satu atau banyak orang sekaligus.
Karena mereka pikir Nasha di dalam mesin akan lama jadi mereka diskusi agar tidak ada masalah nanti yang di sebabkan oleh karyawan atau hal lainnya.
...----------------...
Nasha berjalan dengan was was takut jika mereka masih mengikuti dan rencananya gagal.
Bukannya Nasha tidak ingin memberitahu tujuannya, hanya saja saat ini Nasha malas berurusan dengan Farzan yang bahkan tidak memberi kabar.
Dan juga Nasha takut Momy, Daddy dan Aletta tahu. Nanti yang ada Farzan di suruh pulang dan mereka harus menginap di mansion utama selama beberapa waktu yang tidak bisa di tentukan.
__ADS_1
Tidak terasa Nasha sudah sampai di depan dan menaiki satu becak motor untuk mengantarnya ke rs.
Beruntungnya bodyguardnya tidak mengikuti. Semoga saja dia aman selama beberapa menit ke depan.
Sesampainya di halaman rs Nasha langsung menuju resepsionis dan bertanya dimana tepat praktik dokter umum wanita yang ada di sini.
Nasha memang kurang suka jika di periksa oleh dokter pria, risih saja menurutnya.
“Anda bisa naik menuju lantai 3 dan mendaftar di sebelah kanan setelah keluar lift, nanti di sana ada beberapa nama dokter yang tertera, jadi bisa memilih langsung akan bertemu dokter siapa,” jelas wanita bernama Yui.
“Ah iya.. terima kasih,” ucap Nasa yang mengerti dan langsung pamit menuju lantai 3 gedung ini.
Rumah sakit ini memiliki 4 gedung dengan 1 gedung utama di depan khusus pemeriksaan pada dokter dan tempat administrasi dan segala hal yang di urus seperti kantor dari lantai 8 sampai 10.
Untuk IGD/UGD ada di gedung samping kiri dengan tinggi hanya 3 lantai saja. Gedung operasi dan observasi atau segala hal seperti itu ada di gedung tengah. Gedung perawatan ada di sebelah kanan dengan tinggi 6 lantai serta 1 lantai khusus yang di gunakan pemilik rumah sakit.
3 gedung itu bisa di akses melalui lorong lorong dan taman yang bisa di lewati karena saling berhubungan.
Sedangkan degan gedung utama, tidak langsung terhubung karena di tengah semua gedung selain jalan untuk mobil darurat, terdapat taman, kolam kecil dan juga street food. Sedangkan kantin pegawai ada di setiap gedung masing masing.
Nasha sedang menunggu namanya dipanggil setelah tadi menyelesaikan administrasi dan hal lainnya.
Hanya ada sekitar 4 orang di kursi depan ruangan dokter yang Nasha tuju. Ruangan dokter di sini ada di 4 lorong berbeda.
Setelah menunggu lumayan lama, nama Nasha di panggil juga untuk melakukan pemeriksaan.
“Selamat Pagi Nona, keluhannya di sini mual setiap pagi dan juga sore, lalu kurangnya nafsu makan, ada lagi?” tanya dokter Fani ramah.
“Pagi tadi juga sekitar 15 menit saya di dalam kamar mandi karena mual tapi tidak ada yang keluar hanya cairan bening saja,” lanjut Nasha selagi dokter mencatat keluhannya.
“Baik kalau begitu Nona bisa berbaring di ranjang,” ucap dokter tersebut sambil menyuruh suster membantu Nasha duduk.
Nasha berbaring dan mulai di lakukan pemeriksaan. Sebenarnya dari keluhan Nasha tadi, dokter sudah memiliki opini, tapi agar lebih jelas dia memeriksa Nasha terlebih dahulu.
Selesai dengan pemeriksaan Nasha kembali duduk di hadapan dokter sambil menunggu penjelasan.
“Sepertinya dugaan saya benar, saat ini Nona sepertinya sedang mengandung. Tapi untuk lebih jelasnya saya akan merujuk ke lantai 4 agar bisa di lakukan pemeriksaan oleh dokter kandungan,” jelas dokter Fani sambil mencatat.
“M-maksud dokter?” gagap Nasha dengan raut tidak terbaca.
“Ya, Nona kemungkinan sedang mengandung saat ini, maka dari itu agar lebih jelas lebih baik Nona periksa kembali di lantai 4.”
“Oh saya juga menyarankan dokter Jane karena beliau dokter terbaik di bagian kandungan juga saya lihat anda tidak terlalu suka jika di periksa oleh lawan jenis,” lanjut dokter Fani.
...----------------...
Dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan Nasha hanya mengangguk dan menyetujui usulan dokter Fani. Sambil menunggu surat selesai dan Nasha di antar oleh suster agar bisa langsung di periksa nanti.
“Silahkan masuk Nona,” ucap suster setelah selesai mengobrol dengan dokter Jane.
“Terima kasih sus,” ucap Nasha yang langsung masuk setelah dipersilahkan tadi. Hari ini memang tidak terlalu banyak orang yang di periksa oleh dokter Jane.
“Selamat pagi menjelang siang Nona,” sapa dokter Jane ramah.
__ADS_1
“Mari kita langsung saja periksa agar tahu benar tidaknya,” lanjut Jane yang langsung mengiring Nasha menuju ranjang.
Selama beberapa menit Nasha di periksa menggunakan alat USG sambil di beri sedikit penjelasan oleh dokter.
Setelahnya Nasha kembali duduk dengan perasaan haru dan bingung menjadi satu.
“Sekali lagi selamat Nona Zaina. Ini kehamilan pertama kah?” tanya dokter selagi menulis vitamin yang harus Nasha minum nanti.
“Iya benar dok,” jawab Nasha seadaanya karena masih syok.
“Tidak papa, wajar jika masih terkejut karena ini reaksi yang wajar. Asal jangan sampai menjadi beban pikiran dan juga membuat anda stres,” jelas dokter Jane.
“Jujur saya bingung dokter. Tapi saya juga bahagia mengetahui hal ini,” ucap Nasha pada akhirnya.
“Wajar saja Nona. Apalagi ini kehamilan pertama anda. Pasti akan banyak kebingungan lainny. Tapi usahakan jangan sampai stres ya,” nasehat dokter Jane.
“Ini saya sudah resepkan vitamin dan juga pereda mual. Untuk vitamin harus rutin di minum agar janin dan juga ibunya sehat. Pereda mual bisa di minum saat mual datang saja. Kalau bisa satu hari ada nasi yang masuk agar ada asupan untuk si kecil. Paling tidak minum susu khusus untuk ibu hamil jika benar benar tidak bisa makan,” jelas dokter panjang lebar. (ini opini sera aja ya, belum pernah tau soalnya hehe)
“Baik dok, saya usahakan. Tapi tidak ada pantangan kan dok?” tanya Nasha.
“Tidak ada Nona, tapi jika nanti ada suatu hal yang mengganjal bisa langsung hubungi saya untuk bertanya,” ucap dokter Jane.
“Ini ada buku yang harus di bawa saat pemeriksaan rutin satu bulan sekali. Di sana juga ada kartu nama saya agar jika ada yang ingin di tanyakan Nona bisa langsung menghubungi saya,” jelas dokter Jane sambil memberikan buku dan juga kertas resep beserta foto USG.
“Sekali lagi selamat Nona. Semoga kehamilannya lancar sampai persalinan nanti,” ucap dokter Jane sambil menjabat tangan Nasha.
“Aamiin, terima kasih juga dok,” pamit Nasha dan berlalu meninggalkan ruangan praktik dokter menuju apotek yang ada di sebelah kiri lorong depan meja pendaftaran.
Nasha masih terkejut dengan kabar ini. Tapi dia begitu bahagia. Walaupun Farzan mungkin akan memilih wanita lain, tapi setidaknya Nasha masih mempunyai anak ini sebagai temannya nanti.
Pantas saja perubahan emosinya beberapa minggu belakang begitu berubah ubah. Di tambah dengan nafsu makan yang naik turun.
Usia kandungannya sudah menginjak 8 minggu.
Mungkin Farzan akan di beritahu saat sudah bersama dengan pasangannya nanti, setidaknya Farzan tidak melepaskan orang itu hanya demi dia saja. Nasha tidak ingin merenggut kebahagiaan Farzan.
“Kita bisa lewatin ini sama sama ya nak. Nanti Mami ajak ke tempat main Mami sama Kakak yang selalu nemenin Mami dulu ya. Semoga nanti kita bisa ketemu sama dia ya,” gumam Nasha haru sambil mengelus lembut perutnya yang masih datar.
Nasha bahkan lupa jika harus cepat kembali menuju Mall agar tidak di curigai atau bahkan membuat bodyguard khawatir.
“Astaghfirullah, habis ini harus cepet balik ke sana. Nanti yang ada mereka laporan lagi ke Mas Farzan,” gumam Nasha dengan nada khawatir.
“Pokonya untuk saat ini Mas Farzan ngga boleh tahu dulu,” gumam Nasha lagi.
Tidak lama vitamin Nasha sudah selesai di kemas dan juga di jelaskan cara pemakaiannya oleh bagian farmasi tersebut.
Selesai dengan obat dan pembayaran, Nasha langsung pergi untuk kembali ke Mall menggunakan taksi yang kebetulan baru menurunkan penumpang tadi.
Tidak butuh waktu lama, Nasha sampai di area pintu masuk Mall yang telah penuh oleh orang yang sepertinya tidak bisa masuk ke dalam.
...----------------...
tambah lagi nggak kira kira? hehe
__ADS_1