Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Teman arisan yang julid


__ADS_3

Farzan dan Nasha turun saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat 30 menit. Telat memang, tapi tadi Zetta sudah bilang jika acara di tunda satu jam ke depan.


Zetta hanya bilang ada sedikit kendala dan tamu undangan juga mengerti, tidak ada yang protes sama sekali.


Bagaimana mau protes, orang sekarang aja banyak makanan yang sudah di suguhkan. Belum lagi suasana di taman belakang ini begitu menenangkan membuat siapa saja akan merasa betah untuk berdiam lama di sana.


Para sahabat Farzan juga tidak masalah jika kedua pemilik acara yang masih ada di kamar belum turun juga.


Mereka tahu kemarin malam Farzan keluar rumah dan baru kembali saat mendekati waktu subuh.


Jangan tanya mereka tahu dari mana, jawabannya tentu saja dari Zetta yang diberitahu langsung oleh Farzan.


Orang tua Reno juga baru saja datang pukul 7 tadi, kemarin malam mereka baru sampai di rumah, jadi baru bisa datang jam segitu.


Tapi Arni lebih suka menggendong cucunya dari pada bertemu dengan orang orang yang mengenalnya. Malas meladeni orang. Dari pada gosip mending liatin cucu kan.


Zetta juga tidak ingin bergabung dengan beberapa orang yang kenal dengannya, terkadang beberapa dari mereka suka sekali menjelekkan menantu kesayangannya. Kan Zetta jadi emosi sendiri. Jadi lebih baik dia sibuk sendiri atau bermain dengan dua cucunya yang lain bersama Arni.


"Halo jeng," sapa salah satu teman arisan Zetta yang tak tahu malu.


"Eh iya, jeng Yuni. Apa kabar jeng?" balas Zetta ramah, dalam hati beda lagi.


"Baik jeng alhamdulillah. Mana nih menantunya? Pasti telat deh. Ngapain aja sih? Harusnya dia kan udah stay di sini," ucap wanita bernama Yuni tersebut.


Kan, apa Zetta bilang, dia datang pasti ingin menjelekkan menantunya.


"Masih istirahat dikamar jeng. Lagi pula masih bisa saya handle jadi tidak perlu dia yang turun tangan langsung. Menantu kesayangan saya harus banyak istirahat soalnya," ucap Zetta memaksakan keramahannya.


"Duh jeng Yuni, menantu kami itu harus terjamin kesehatan serta ketenangan hatinya, jadi kalau dia banyak istirahat kita malah senang," sambung Arni yang tiba tiba datang bersama Elhan.


"Bener tuh jeng. Ya masa mantu cantik kita di suruh suruh sih, ngga elit sekali," kali ini sahutan berasal dari Fera, Ibu dari Ergi.


"Ya kan harusnya dia bisa stay di sini dong. Masa tamu yang dateng lebih dulu," walaupun terdeteksi akan kalah, Yuni tetap memaksakan untuk menjelekkan Nasha.

__ADS_1


"Kasian banget sih jeng, anaknya ngga bisa ya dapet mertua baik kaya kita? Kita mah bebasin mantu, asalkan tidak melanggar hukum agama," ucap Arni menatap julid Yuni, terlampau kesal dia tuh.


"Udahlah jeng, lebih baik nikmati saja dulu sajian yang ada selagi menunggu. Lagi pula kita juga masih menunggu beberapa orang dari panti juga tamu undangan lainnya. Yang telat bukan hanya mantu saya," ucap Zetta menengahi dan juga agar Yuni itu bisa pergi secepatnya dari hadapannya. Takut kelepasan dia.


"Itu orang kayanya sirik banget sama mantu kita," kesal Arni. Bukan pada Zetta saja Yuni seperti itu, tapi pada mantu mereka juga.


"Pengennya tuh anak dia yang kita jadiin mantu, tapi ya gimana, orang anaknya aja sama kaya dia. Mau di sukain gimana coba," ucap Fera melanjutkan.


"Hah, mau gimana lagi sifatnya sudah seperti itu. Udah ih jangan bahas itu orang lagi, kasian cucu cucuku pada denger gibahan kita," ucap Zetta menyudahi acara kesal mereka. Kasian juga anak kecil malah diajak gibah sama mereka kan.


"Eh iya, Oma lupa ada cucu di sini, duh maapin Oma ya," ucap Fera mencolek pipi Elhan dan Elard bergantian.


"Cucu Nenek maaf ya, tadi Nenek khilaf," lanjut Arni mengecup gemas kedua pipi Elhan dan Elard.


Sewaktu Elard lahir Fera dan suaminya Seno tidak bisa datang ke rumah sakit karena ada urusan. Diantara ketiga pasang paru baya ini, memang mereka berdua yang jarang ikut kumpul karena kesibukannya di luar negeri.


Jadilah hanya acara tertentu saja atau saat sedang ada di negara ini saja mereka berdua baru bisa ikut.


Farzan ke dapur dulu sebentar untuk membawakan Nasha roti agar perutnya terisi, jadi tidak mengetahui hal itu.


"Eh sini Sayang. Kamu sama siapa ke sini?" ucap Zetta celingukan mencari Farzan, ingin memarahi karena membiarkan Nasha sendiri.


"Sama Kak Arza, tapi lagi ke dapur dulu tadi. Maaf ya aku telat bangunnya tadi, jadi acaranya tertunda," ucap Nasha sedikit sedih, takut membuat Zetta dan keluarganya yang lain malu.


"Eh kok gitu sih? Ngga perlu minta maaf Sayang. Ngga papa kok, lagian masih banyak yang belum dateng tuh," ucap Zetta menenangkan Nasha yang terlihat akan menangis itu.


"Tapi kan," ucapan Nasha terpotong karena Arni lebih dulu menyelanya.


"Sutt ngga boleh ngomong kaya gitu lagi, oke? Pasti kamu tadi denger nenek sihir ngomong ya? Dia mah ngga usah di dengerin, masa semua mantu kita dia nyinyirin, giliran balik di nyinyirin dia marah sendiri, kan aneh," ucap Arni yang mengerti tadi Nasha pasti mendengar ucapan Yuni.


"Bener itu. Eh iya kita belum ketemu loh? Kenalin Mami ini Mamanya Mita eh Ergi deng. Nama Mama, Fera," ucap Fera memperkenalkan diri.


"Halo Tan.."

__ADS_1


"Jangan panggil Tante, panggil Mama aja, oke?" potong Fera mendengar Nasha akan memanggilnya Tante.


"Iya Mama. Aku Nasha," ucap Nasha mengangguk mengiyakan, dengan tangan mengambil tangan Fera untuk salam.


"Lucu ih, kaya Elhan pipinya tembem," ucap Fera mencubit pelan pipi Nasha.


"Hehe meleber kemana mana ya Ma? Hihi," kikik Nasha tidak marah sama sekali.


Bertemu Arni dan Fera seperti Nasha sedang bersama Zetta dan juga Orang tuanya dulu. Nasha jadi gampang nyaman pada mereka.


"Aku ajak pulang ke rumah ya Ta? Kamu kan ada Aletta," ucap Fera gemas dengan Nasha.


"Enak aja. Ngga bisa ya Ma," bukan Zetta yang menjawab melainkan Farzan yang baru saja datang dengan nampan berisi sepiring roti dan segelas air.


"Lah ini anak, baru ketemu bukannya salam malah langsung marah. Kenapa sih? Kan cuma sehari doang," Fera menaik turunkan alisnya menggoda Farzan yang sudah terlihat kesal.


"Engga bisa ya Ma, kan udah ada Elhan, bawa dia aja deh," gerutu Farzan, namun tangannya mengambil tangan Fera untuk dia salam.


"Kan beda. Mau ajak mantu Mama yang ini sekarang mah. Sekalian sama yang lain juga sih, udah lama Mama ngga ketemu mereka. Apalagi ada calonnya Brady juga," sewot Fera sedikit mengutarakan keinginannya.


"Yaudah Mama coba bilang sama yang lain aja, aku jamin mereka juga bakal nolak," ucap Farzan santai sambil membawa Nasha untuk duduk di sofa dekat mereka.


"Ck. Kalian kan satu server, ya pasti bakal larang larang. Kesel ah, mending ke belakang aja cari udara seger," dari pada emosinya bertambah, Fera langsung berjalan ke arah taman masih dengan Elard ditangannya.


Zetta dan Arni hanya tertawa saja melihat Fera yang kesal mendengar jawaban dari Farzan itu. Jangan lupa, mereka berdua juga sering mendapat jawaban mengesalkan itu dari anak anaknya. Jadi mereka sudah dapat menebak situasinya tadi.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2