
Suara adzan subuh berkumandang dan membangunkan Nasha yang masih terlelap di atas ayunan dengan tubuh sedikit menggigil kedinginan karena udara yang semakin menuju pagi semakin dingin.
Dengan sedikit gemetar dan tubuh yang sedikit mati rasa, Nasha menaiki lift menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
Nasha langsung membersihkan diri dan sejenak berendam di air yang di buat lumayan panas agar bisa menghangatkan tubuhnya. Jangan lupakan morning sickness yang juga ikut hadir di sela sela kegiatan mandinya.
Nasha tidak marah atau kesal karena selalu merasakan hal ini walau baru beberapa minggu terakhir, Nasha menikmati semua yang dia lalui sekarang. Baginya ini merupakan kebahagiaan karena bisa merasakan hal yang belum tentu bisa di rasakan banyak wanita di luaran sana.
Selesai dengan mandi yang singkat, Nasha menuju musala untuk menunaikan ibadah subuh. Setelahnya baru Nasha menidurkan dirinya di kasur karena badannya terasa tidak enak.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan dari luar pintu terdengar, membuat Nasha yang baru akan terlelap tidak jadi menutup matanya.
Nasha ingin berteriak dan menyuruh masuk, tapi kamar ini kedap suara dan tidak bisa di dengar oleh orang di luar sebelum alat kedap suara di nonaktifkan dengan menggunakan remot. Tapi Nasha lupa dimana remot itu di simpan.
Mau tidak mau Nasha harus membukakan pintu agar bisa melihat siapa yang mengetuk dan memiliki keperluan apa.
Ceklek..
“Iya kenapa?” ucap Nasha mencoba biasa agar tidak terdengar lemas.
“Ini Nona, Tuan berpesan jika Nona harus sarapan lebih dulu baru boleh tidur kembali. Jadi saya kemari untuk bertanya apa yang Nona mau makan hari ini?” tanya Eby yang tadi mendapat perintah dari Erni.
“Aku tidak mau sarapan sekarang tapi,” ucap Nasha menolak.
“Tapi ini harus Nona. Maaf bukannya saya memaksa, tapi Tuan sudah memberi amanah pada kami,” jelas Eby membujuk Nasha.
“Hm, baiklah aku mau makan sup mie soa dengan sayur oyong dan juga tahu,” pinta Nasha yang tiba tiba menginginkan itu karena terlintas dalam bayangannya.
“Baik Nona. Untuk susu hari ini mau rasa apa Nona?” tanya Eby sekali lagi. Eby tidak memaksa Nasha memakan nasi karena kemarin Tuannya bilang jika Nasha tidak menginginkan itu biarkan saja asalkan makanan yang dimakan mengenyangkan dan dihabiskan oleh Nasha.
Jika bersama dengan Farzan barulah nanti dia bisa membujuk Nasha agar mau memakan nasi walau sedikit.
“Em.. rasa coklat aja deh. Tapi mau apel sama kiwi juga boleh?” tanya Nasha.
__ADS_1
“Boleh Nona, kebetulan di kulkas masih ada kedua buah itu,” jawab Eby.
“Ada lagi Nona?” tanya Eby sebelum undur diri.
“Sepertinya tidak ada, terima kasih,” ucap Nasha sambil tersenyum.
“Baik Nona kalau begitu saya permisi,” pamit Eby.
“Em.. Eby, sebentar. Nanti boleh minta tolong antar ke sini saja? Aku sedikit males turun hehe,” ucap Nasha sebelum Eby melangkah.
“Ah iya Nona,” ucap Eby sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah Eby pergi Nasha menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju balkon dan duduk di kursi kayu yang terkena sinar matahari yang baru saja akan terbit.
“Kenapa perasaanku tidak enak ya? Semoga saja tidak terjadi hal yang tidak di inginkan,” gumam Nasha yang hatinya gelisah entah karena apa.
“Belum juga satu hari tapi udah kaya gini aja,” gumam Nasha lagi.
Udara sebenarnya masih dingin, tapi karena Nasha terkena sinar matahari membuat tubuhnya sedikit hangat walau ada angin dingin yang masih terasa.
Sambil memainkan game asal yang ada di ponselnya, Nasha berpindah duduk di sofa melingkar yang di buat sedikit menurun yang ada di depan kursi kayu tadi. Alasannya tentu saja agar bisa sambil berbaring.
“Halo,” ucap Nasha ketika ponsel sudah ada di sebelah telinganya.
“Hai, udah sarapannya?” tanya Farzan langsung.
“Masih di masak sama yang lain kayanya,” jawab Nasha dengan sedikit malas.
Terdengar helaan nafas di seberang sana sebelum menjawab perkataan Nasha.
“Ada yang buat kamu ngga nyaman?” tanya Farzan hati hati.
“Engga, biasa aja,” jawab Nasha dengan aneh.
“Emang kenapa sih,” heran Nasha.
__ADS_1
“Engga, nanti makan yang bener, vitamin sama pereda mual jangan lupa. Susu juga harus di minum habis,” nasehat Farzan yang selalu di ucapkan bahkan sebelum pergi kemarin.
“Iya iya,” ucap Nasha malas.
“Yasudah kalau gitu, aku haru kerja dulu. Assalamualaikum,” pamit Farzan sebelum mematikan panggilannya.
Nasha membalas salam dan menyimpan ponselnya di atas meja yang ada di hadapannya.
Sedari tadi Nasha mengeluarkan air mata tanpa suara, area balkon juga sebenarnya di lengkapi cctv sama dengan area kamar pribadi yang hanya bisa di akses oleh Farzan saja. Tapi karena posisi Nasha yang tiduran dan menghadap ke arah luar membelakangi pintu jadi Farzan tidak melihat air mata itu.
“Cengeng ih heran deh,” kesal Nasha pada dirinya sendiri sambil mengusap air mata yang berjatuhan.
Tak lama pintu di ketuk kembali, sepertinya sarapan sudah siap di sajikan karena sudah lebih dari 30 menit sejak Eby datang tadi.
Pintu dibuka dan benar saja Eby datang dengan membawa troli makanan yang di dorong dengan isi beberapa pesanan dan tambahan snack juga biskuit coklat yang di simpan dalam wadah kaca tertutup.
“Mau di taruh dimana Nona?” tanya Eby sebelum masuk.
“Di balkon aja deh, terima kasih ya,” ucap Nasha menjawab dan berterima kasih sambil mengikuti Eby dari belakang.
Selesai menata semua makanan, Eby keluar dengan membawa kembali troli makanannya dan meminta Nasha menghubunginya jika sudah selesai agar bisa dia bawa kembali ke dapur. Nasha mengiyakan dan kembali berterima kasih.
Sebelum menikmati sarapannya, Nasha ke dalam kamar dan mengambil plester demam yang ada di kotak obat khusus dalam kamar yang tersimpan dekat pintu masuk musala.
Terpaksa Nasha pakai itu karena tadi saat tangannya menyentuh area wajah terasa panas, mungkin efek dia tidur di luar juga semalam.
“Ini pake cabe enak pasti,” gumam Nasha sambil menikmati makanannya.
“Masih pagi tapi, nanti siang aja deh,” gumam Nasha lagi mengingatkan diri sendiri.
Nasha makan dengan lahap karena itu merupakan keinginan pertama saat mengetahui dia sedang mengandung. Apalagi masakan Mbok juga para chef enak dan pas di lidahnya.
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye