
Hari ini semua sahabat juga orang tua Ergi dan Reno akan kembali ke rumah masing masing.
Berhubung beberapa hari lagi mereka juga akan liburan jadi mereka mulai kembali ke rumah masing masing.
Selesai mengantar tadi, Zeroun dan Zetta kembali ke kamar entah untuk apa. Aletta pergi menemui temannya yang mengajak main dan beruntung di perbolehkan oleh Orang Tua dan Kakaknya.
Farzan dan Nasha juga akan pergi nanti untuk berbelanja sesuai keinginan Nasha, tapi tidak langsung sekarang.
Farzan tahu acara kemarin cukup menguras emosi dan juga tenaga Nasha, jadi dia tidak akan membaqa Nasha pergi hari ini. Paling tidak menunggu esok atau lusa.
"Bosen ih!" kesal Nasha yang di tinggal sendiri dalam kamar, sedangkan Farzan sedang berada di ruang kerja miliknya karena ada rapat.
"Kak Arza jahat tinggalin aku. Terus ngga boleh pergi sendiri juga, kan bosen," keluh Nasha dengan suara amat pelan seperti bisikan, hanya saja ekspresinya tidak bisa bohong.
"Ke balkon aja deh," ucapnya sambil menuruni kasur dengan amat pelan, takut terjadi sesuatu yang buruk.
"Baru gini aja udah cape. Gara gara Kak Arza yang sering gendong nih," sepenjang jalan menuju balkon Nasha terus menerus mengomel tak jelas.
Moodnya sedang tidak baik kali ini, jadi bawaannya marah marah mulu.
"Akhirnya sampe juga," ucap Nasha mengusap peluh yang bercucuran di area keningnya hanya berjalan beberapa meter saja.
"Lama banget deh perasaan, cuma ke balkon loh ini,"
"Harusnya tadi sebelum ke sini aku bawa minum sama cemilan ih! Terus sekarang cuma duduk bengong doang gitu? Apa bedanya sama di dalem kamar tadi,"
Masih banyak ocehan Nasha yang ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Bahkan sampai dirinya cape sendiri dan berakhir terdiam karena mulai mengantuk.
Udara sejuk antara pagi dan siang ini memang tidak bisa di ragukan lagi. Belum lagi suasana yang mendukung membuat Nasha terlena dan merebahkan dirinya di sofa, bersiap untuk terlelap.
...----------------...
Farzan baru menyelesaikan tugasnya sepuluh menit yang lalu.
Sedikit khawatir memang karena meninggalkan Nasha di kamar dan melarangnya keluar tanpa dirinya atau orang yang dia percaya.
Farzan yang biasanya menyempatkan untuk melihat Nasha dari cctv pribadinya, sekarang bahkan tidak sempat melihat karena masalah di perusahaan cukup serius.
Beruntung semua bisa teratasi dan menemukan titik terang, walau membutuhkan waktu yang lama.
Sekarang bahkan hari sudah hampir sore dan Farzan belum makan siang. Farzan pikir Nasha juga pasti sudah di ajak oleh Orang Tuanya untuk makan siang jadi dia tidak terlalu khawatir.
__ADS_1
Tapi sepertinya semua pikiran Farzan salah. Saat berpapasan dengan Zetta tadi dia mendapat ceramah panjang karena tidak membawa Nasha turun untuk makan siang.
"Dari mana aja Za? Kenapa Mantu Momy ngga di suruh turun buat makan! Kamu ngga kasian ngerem dia di kamar terus?!"
Farzan yang mendengar hal itu hanya bisa pasrah mendengar Momynya mengomel dan marah padanya. Dia juga merasa bersalah sebenarnya.
Tidak mau menambah waktu lagi, Farzan langsung meminta maaf dan berlalu menuju kamar agar memastikan Nasha baik baik saja dan mengajaknya makan nanti.
Masuk ke dalam kamar, suasana hening menyapa dengan terpaan angin dari luar yang begitu terasa karena sepertinya hujan sedang turun dan jendela juga pintu balkon tidak di tutup.
Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya.
Perhatian Farzan tertuju pada orang yang sedang di carinta saat ini.
"Jangan bilang dia sedang di luar?!" pikir Farzan panik.
Jika Nasha sedang ada di balkon, walaupun duduk di sofa dan tertutup tapi hujan di luar sedang sangat deras dan memungkinkan air membasahi sofa, jadi kemungkinan Nasha akan terkena cipratan air itu.
Dengan langkah tergesa Farzan berjalan menuju sofa balkon. Benar saja, dugaannya Nasha sedang terlelap dengan kaki yang hanya di tutupi bantal sofa dan tangannya mendekap perut seolah memberikan kehangatan untuk bayi yang ada di dalam sana padahal dirinya sendiri kedinginan.
"Maaf Sayang, aku terlalu sibuk sampai lupa ada kamu yang harus aku perhatikan. Maaf juga baby kamu dan Mami pasti bosan ya," bisik Farzan mengecup kening Nasha dan beralih mengecup perut Nasha yang di balas tendangan kecil oleh baby.
Farzan yang melihat itu langsung mengangkat Nasha dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dia sangat merasa bersalah karena bukan hanya abai pada diri sendiri tapi juga pada dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.
"Kak Arza," panggil Nasha pelan dengan suara serak dan juga mata yang menyesuaikan cahaya.
"Makan dulu ya," ajak Farzan sebelum mendudukkan Nasha yang ternyata terbangun.
"Ehm nanti," gumam Nasha masih mengantuk.
Farzan mendudukkan Nasha di atas kursi pijat khusus agar badannya lebih terasa enak walau tidak seberapa. Mungkin besok dia akan mengajak Nasha untuk pergi ke tempat pijat khusus ibu hamil yang pastinya sudah terjamin keamanan dan kenyamanannya.
"Sekarang ya?" ucap Farzan berlutut di depan Nasha memijat tangan juga kakinya bergantian.
"Kak Arza pasti belum makan ya?" tebak Nasha tepat sasaran.
"Hehe kan tadi masih rapat jadi belum sempat," ucap Farzan terkekeh salah tingkah.
"Yaudah yuk," angguk Nasha paham, tidak mau mengajak ribut atau berdebat.
__ADS_1
"Sebentar," ucap Farzan berjalan menjauh mengambil kerudung langsung untuk Nasha.
"Kita makan di bawah?" tanya Nasha sebelum mereka keluar kamar.
"Engga, di lantai 2 aja. Di bawah juga sepi," ucap Farzan membiarkan Nasha jalan karena tadi permintaan Nasha sendiri.
"Maaf," ucap Farzan tiba tiba membuat Nasha berhentu berjalan, padahal sebentar lagi mereka akan duduk.
"Untuk?" kening Nasha mengkerut bingung karena ucapan Farzan itu.
"Maaf karena aku lalai. Aku harusnya lebih memperhatikan kamu, bukannya malah sibuk sendiri," sesal Farzan melanjutkan jalan agar Nasha duduk terlebih dahulu.
"Kata siapa?" cebik Nasha kesal mendengar permintaan maaf Farzan itu. Padahal tadi Nasha mengomel sendiri karena ditinggal sendiri.
"Aku yang merasa seperti itu. Kamu juga jadi terlambat makan karena itu kan?" tanya Farzan tepat sasaran. Bukan hanya karena tertidur, Nasha juga menunggu Farzan agar bisa makan bersama.
"Engga kok. Tadi ketiduran, terus bangun juga sebentar tapi abis itu tidur lagi," jujur Nasha walau tidak bicara keseluruhan.
"Aku tahu kamu pasti nunggu aku, apalagi aku juga bilang kamu jangan keluar kamar sendiri, jadi pasti kamu nunggu," ucap Farzan yang dibalas cengiran canggung Nasha karena ucapan Farzan benar adanya.
"Ehehe, yaudah sih, kan sekarang juga mau makan ini," ucap Nasha salah tingkah dan mengalihkan agar tidak di pojokkan.
"Udah yuk makan," alih Nasha agar mereka cepat mengisi perutnya.
"Huh.. Oke, kamu mau makan apa? Ada ayam kecap, sayur bayam, telor balado, sama tumis jamur," ucap Farzan mengabsen semua menu yang ada di atas meja.
"Ini juga ada spageti sih kayanya," tambah Farzan melihat ke arah dapur di belakangnya.
"Em.. mau telur sama tumis jamur dulu. Nanti kalau udah mau ambil spageti," ucap Nasha memilih makanan yang sekiranya enak menurutnya.
"Oke," angguk Farzan mengambilkan lauk dan juga nasi untuk mereka berdua. Sudah pasti Farzan yang akan menyuapi Nasha, itu sudah jadi satu kebiasaan.
Setelahnya mereka makan dengan tenang, sesekali di selingi obrolan ringan atau permintaan Nasha yang tiba tiba.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1