Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Bertemu Acha?


__ADS_3

Sisi Farzan..


Dering ponsel..


Saat sedang mengarungi alam mimpi, terdengar suara dering ponsel yang di taruh di atas nakas sebelah tempat tidur. Dengan masih keadaan mengantuk aku mengangkat panggilan telepon itu yang terlihat sedikit dari salah satu anak buahku yang ditugaskan untuk mencari Achaku.


Ya walau sudah menerima Arfa, aku masih tetap mencari Acha/Cha teman masa kecilku. Bukan tanpa alasan, aku hanya ingin meyakinkan diriku jika dia baik baik saja. Aku masih taku dia menerima perlakuan kasar baik dari perkataan ataupun perlakuan secara fisik yang dulu sering diterima dari kedua Orang Tuanya.


“Hem?” jawab Farzan dingin.


“kemarin ada yang datang ke taman tuan, dari ciri cirinya sepertinya dia orang yang tuan cari selama ini,” ucap orang suruhan Farzan, Dirky namanya.


“Dimana?!” tekan Farzan dengan muka yang sangat bahagia.


“di taman yang selalu tuan datangi, kami mengikutinya pulang dan sudah mendapatkan alamatnya.”


“Bawa dia ke privat resto di pinggir kota,” suruh Farzan dengan hati yang masih dipenuhi kebahagiaan.


“baik tuan, akan kami laksanakan.”


Setelah itu Farzan menaruh handphone miliknya di atas nakas dan berlalu menuju kamar mandi walau tahu ini masih pukul 04.00 subuh.


Hatinya begitu bahagia tanpa menyadari keadaan sekitar. Bahkan saat sedang mandi pun, Farzan masih terus tersenyum bahagia karena kabar tadi.


Selesai mandi Farzan menuju lemari pakaian yang ada di sebelah kamar mandi jadi tidak menyatu dengan tempat untuk tidur, hanya terhalang lorong kecil di antara kamar mandi dan juga walk in closet juga lorong menuju kasur dan ruang santai di kamar.


Setelah menggunakan baju koko, Farzan mengambil handphone, dompet dan juga kunci motor matic yang biasa di gunakan untuk pergi ke masjid perumahan yang berada lumayan jauh dari mansionnya.


Farzan sepertinya lupa jika di dalam kamar ada seorang wanita yang tak lain adalah istrinya yaitu Nasha.


Dalam mansion ini masih sepi dan lampu yang menyala hanya lampu lampu yang di letakkan di sudut ruangan. Biasanya maid mulai bekerja saat selesai subuh, itu pun hanya memasak. Tapi sekarang Nasha yang biasa memasak karena menurut Farzan rasa masakan Nasha mirip dengan masakan Momynya. Jadi maid akan bekerja saat mereka sudah selesai sarapan.


Pergi menuju garasi dan memanaskan sebentar motor matic tak lupa mengabil helm hitam yang biasa digunakan, Farzan langsung pergi menuju masjid.


...----------------...


Selesai melakukan ibadah berjamaah dengan beberapa tetangga yang kebanyakan sudah pensiun dan ada juga yang menjadi pengurus masjid, Farzan mengobrol sebentar dan memberikan amplop yang sebelumnya di siapkan untuk keperluan masjid ini.


Walaupun memang sering berpartisipasi dan memberikan sedikit uangnya untuk keperluan masjid, tapi sangat jarang Farzan langsung yang memberikan. Biasanya Farzan menyuruh Brady atau salah satu bodyguardnya.

__ADS_1


Selesai dengan semua itu, Farzan tidak langsung pulang tapi menuju tempat dimana nanti dia akan bertemu dengan Achanya.


Sepertinya hari ini Farzan merasa dia masih sendiri dan belum memiliki pendamping hidup. Bahkan sampai siang hari Farzan tidak ingat dengan keadaan rumah. Karena selesai mempersiapkan diri, Farzan langsung memasak beberapa makanan yang akan dia sajikan nanti.


Resto itu memang salah satu cabang dari beberapa resto yang tersebar di beberapa kota dan negara yang berbeda. Jadi Farzan mempunyai ruangannya tersendiri saat mendatangi resto restonya.


Tapi untuk pertemuan kali ini, Farzan hanya memakai tempat di luar ruangan agar tidak berduaan saja. Setidaknya itu yang dia pikirkan.


Barulah setelah semua siap dan Farzan menunggu di meja, ada notifikasi pesan online dari Nasha yang masuk sejak pukul 8.00, tapi Farzan tidak menyadarinya dan baru membacanya saja tanpa di balas. Karena saat akan membalas pesan itu, ada seorang wanita yang mendatanginya.


“Kak Arza?” tanyanya dengan wajah yang berseri seri.


Farzan menoleh sebentar dan diam memperhatikan perempuan di depannya itu dengan perasaan bahagia, tapi entah kenapa hatinya bilang dia bukanlah Acha yang dimaksud. Tapi dari panggilannya sudah bisa di pastikan. Jadilah pemikiran itu di tepis dan berusaha membalas senyum itu.


“Acha?” hanya itu yang Farzan ucapkan karena wanita yang mengaku sebagai Acha itu langsung memeluknya dengan posisi Farzan masih duduk dan dia setengah bungkuk. Di tambah dengan rok pendek yang di kenakan wanita itu, hampir membuat roknya terangkat dan memperlihatkan aurat.


“Duduk dulu Cha,” suruh Farzan agar Acha melepas pelukannya.


Akhirnya dengan terpaksa Acha melepaskan pelukan itu dan duduk di hadapan Farzan. Mereka duduk di bangku 2 kursi yang ada di sebelah jendela dengan pemandangan samping resto yang memperlihatkan bukit bukit juga beberapa tanaman.


“Kak Arza kemana saja? Kenapa Kakak tidak mencariku sejak dulu?” tanya Acha dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Entah karena Farzan larut dalam cerita atau ikut menerawang jauh saat mereka melewati hari dulu, Farzan tidak lagi memikirkan perasaannya yang masih ragu jika di depannya adalah Achanya.


Makan siang sambil mengobrol dan juga melakukan hal lain yang membuat keduanya bahagia dan larut akan cerita dahulu.


...----------------...


Sampai malam hari Farzan baru mengantarkan Acha ke sebuah rumah deret yang diketahuinya merupakan kontrakan karena memiliki satu gerbang dan di dalamnya ada 3 tingkat juga jejeran pintu.


“Sejak kapan tinggal di sini?” tanya Farzan sebelum Acha turun.


“Mungkin sekitar 2 tahun yang lalu, soalnya Mama dan Papa sudah tidak ada lagi,” ucap Acha dengan muka sendu.


“Innalillahi wa inna illaihi rojiun, turut berduka cita. Maaf aku tidak tahu,” sesal Farzan melihat muka Acha berubah sendu.


“Tidak papa Kak, lagi pula itu sudah lama dan aku sudah ikhlas,” ucap Acha yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.


“Tapi aku sudah tidak memiliki siapa siapa lagi sekarang,” lanjut Acha dengan wajah menunduk.

__ADS_1


“Tidak papa sekarang kan kamu punya aku, jadi sudah tidak sendiri lagi,” ucap Farzan menenangkan.


“Iya, sekarang ada Kak Arza. Kakak akan selalu bersama denganku kan?” tanya Acha dengan kepala yang di miringkan.


Tok.. Tok.. Tok..


Kaca jendela mobil Farzan di ketuk dari luar sebelum Farzan menolak atau mengiyakan pertanyaan Acha.


“Ya? Ada apa?” tanya Farzan saat kaca sudah di turunkan.


“Maaf Pak jika ingin parkir jangan di sini, kebetulan mobil saya dan beberapa motor mau masuk dan parkir di dalam,” ucap seorang Bapak Bapak.


“Ah iya, maaf Pak. Saya hanya akan menurunkan teman saya saja,” ucap Farzan meminta maaf.


“Oh begitu, kalau bisa cepat ya Pak, takutnya di belakang jadi macet,” ucap Bapak tadi dan langsung pergi menuju kendaraannya setelah Farzan mengiyakan.


“Sekarang lebih baik kamu masuk ke dalam agar bisa membersihkan diri dan juga istirahat. Lain kali kita bisa bertemu lagi,” ucap Farzan menyuruh Acha keluar karena tidak enak pada orang orang yang menunggu di belakang karena posisi mobilnya menutupi gerbang masuk.


“Baiklah. Nanti aku boleh menghubungimu kapan saja kan?” tanya Acha sebelum keluar.


“Iya, kamu bisa menghubungiku kapan saja selagi aku bisa menjawab aku akan jawab,” ucap Farzan cepat agar Acha langsung keluar.


“Baiklah sampai jumpa lagi,” ucapnya sebelum keluar dari mobil.


Jika kalian bertanya dimana motornya, Farzan menyimpan di resto dan bergantian dengan Dirky.


Setelah Acha turun, Farzan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mansionnya.


“Selidiki kehidupan Acha dari usianya 10 tahun,” ucap Farzan pada Dirky dalam sambungan telepon.


“Baik Tuan akan saya laksanakan,” jawab Dirky.


“Saya tunggu secepatnya,” setelah berkata seperti itu, Farzan menutup panggilannya dan fokus pada jalanan di depannya.


...----------------...


happy reading♥️♥️


tandai typo yahh hehe..

__ADS_1


bye bye..


__ADS_2