Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Pergi?


__ADS_3

Malam ini Farzan tidur sambil duduk di kursi tunggu dengan tangan yang memegangi sebelah tangan Nasha yang tidak di infus.


Farzan baru saja tertidur sekitar satu jam yang lalu karena masih harus mengerjakan beberapa berkas dan juga memberi kabar pada Deon.


Nasha belum terbangun sedari tadi. Sudah lebih dari 6 jam sejak pukul 07.30 malam pemeriksaan di lakukan.


Tapi sekarang mata itu terbuka secara perlahan dengan mengerjapkan mata. Ruangan ini sedikit gelap dengan lampu tidur yang menyala di kedua sisi nakas. Setiap malam memang lampu utama di matikan dan di ganti dengan lampu tidur.


Keheningan malam membuat Nasha tidak bisa tenang, ingin pergi jauh dari sini tapi kakinya bahkan tidak bisa digunakan dengan baik.


Nasha melirik ke samping dimana tangannya terasa di pegang begitu erat oleh seseorang seakan takut jika sampai pemilik tangan meninggalkannya.


Melihat wajah yang menghadap ke arahnya itu dengan tangisan yang tidak bisa dia cegah. Nasha hanya takut jika Farzan juga berpikiran sama seperti adiknya.


Nasha takut Farzan hanya berpura pura tidak apa apa padahal dalam hatinya dia marah karena Nasha tidak bisa menjaga anaknya.


Nasha takut Farzan juga berpikir itu bukanlah anaknya, anak mereka berdua. Entah kenapa pemikiran itu datang terus menerus, membuat Nasha hanya ingin pergi menjauh dari semua orang.


Nasha takut dia hanya menjadi pengganggu dan juga pembawa sial bagi setiap orang yang ada di dekatnya.


Nasha berusaha melepaskan genggaman tangan Farzan dengan pelan. Menggeser badannya sampai menempel pada ujung ranjang yang di batas oleh tiang besi.


Nasha mencari tuas pengunci agar sisi ranjang bisa di turunkan dan dia bisa turun dari tempat ini.


...----------------...


Farzan yang merasakan pergerakan Nasha tentu saja terbangun. Farzan merupakan orang yang peka saat tidur, gerakan kecil sekalipun bisa membuatnya terjaga.


Sementara Farzan hanya memperhatikan Nasha dengan pandangan sedihnya. Tidak bisa dipungkiri hatinya lebih sakit melihat keadaan Nasha sekarang ini.

__ADS_1


Tidak lama Farzan menaiki ranjang dan memeluk Nasha erat agar tidak melakukan hal lain lagi yang membahayakan nyawanya. Tadi Farzan melihat pisau buah yang dilirik oleh Nasha karena tidak menemukan tuas pengunci.


“Jangan. Aku mohon jangan seperti ini,” bisik Farzan pelan sambil mendekap Nasha erat.


“Engga mau di sini. Mau pergi,” gumam Nasha dengan air mata yang bertambah deras.


“Apa kamu tidak ingin lagi bersamaku?” bisik Farzan sendu.


“Mau pergi. Semua jahat. Ngga mau di sini,” lirih Nasha dengan kepala yang terus menggeleng.


“Meninggalkanku?” tanya Farzan dengan menangkup wajah Nasha, mengelus pelan kedua pipi yang terus dibanjiri air mata.


Nasha hanya menangis sambil memejamkan matanya. Satu sisi dia ingin Farzan terus bersamanya, tapi sisi lain dia tidak ingin Farzan malah membencinya dan hidup dalam kebohongan. Ya, menurut Nasha Farzan sedang berbohong sekarang.


“Kenapa? Apa kamu meragukanku?” tanya Farzan seolah tahu arti diamnya Nasha.


“Aku tidak berbohong apa pun. Kehilangan anak kita bukanlah salahmu, tapi karena takdir yang sudah Allah tetapkan. Tidak perlu dengarkan ucapan adikmu itu. Aku yang lebih tahu. Anak itu anakku, anak kita. Jangan pikirkan lagi soal itu. Kumohon,” lirih Farzan yang tahu ucapan apa yang tadi Ucan bicarakan.


Melihat Nasha yang semakin menangis Farzan membawa Nasha ke dalam dekapannya tanpa melanjutkan ucapannya. Farzan hanya mengelus kepala dan juga punggung Nasha, membiarkan Nasha menangis agar suasana hatinya lebih baik.


“Mau pergi. Ngga mau di sini,” gumam Nasha terus menerus sampai kedua matanya menutup dan tertidur masih dengan air mata bercucuran.


“Kenapa kamu terus ingin pergi? Bagaimana denganku jika kamu pergi?” lirih Farzan sambil mengeratkan pelukannya.


Perlahan Farzan menidurkan Nasha agar bisa tidur dengan nyaman. Tadinya Farzan akan menarik pelan tangan yang menjadi sandaran kepala Nasha dan menaruhnya pada bantal agar dia bisa pindah lagi di kursi samping. Tapi saat itu Nasha terperanjat bangun dan menjadi gelisah.


Melihat itu Farzan kembali memeluk Nasha dan mengelus punggungnya. Barulah Nasha kembali tidur dengan lelap dan tidak lagi gelisah.


“Sekarang kamu tidak bisa melepasku, hm? Apa mungkin maksud ucapanmu tadi, hanya pergi dari kota ini? Mungkin suasana pedesaan bisa membuatmu lebih tenang. Ya benar, aku mengerti sekarang. Jika begitu tidak apa, kita bisa tinggal sementara di desa sekitar kota G. Tapi aku belum tahu apakah kamu boleh bepergian dengan memakan waktu lebih dari 10 jam jika menggunakan mobil. Tapi naik kendaraan lain pun aku tidak tahu sudah di perbolehkan atau belum,” gumam Farzan memikirkan kembali ucapan Nasha dan maksudnya.

__ADS_1


“Besok aku akan konsultasikan pada Reno dan juga Billa agar bisa dengan cepat mengambil keputusan. Di sana juga jadi tempat di sekapnya orang orang itu jadi bisa sekalian aku hukum,” gumam Farzan yang diakhiri rasa geramnya sebelum akhirnya ikut tertidur.


Beberapa markas memang ditempatkan sekitar hutan pinggir kota yang jarang di lirik oleh banyak orang. Tujuannya juga agar tidak terdeteksi musuh. Fasilitas di markas tidak main main, dari mulai pesawat tempur, helikopter sampai peralatan medis ada di setiap markas yang Farzan punya.


Markas itu di bangun sesuai dengan perusahaan yang ada di negara itu. Jadi jika ada penghianat Farzan akan dengan mudah membawanya ke tempat pengasingan dan juga setelah selesai dengan hukumannya, mereka akan langsung di bawa polisi setempat agar mengikuti proses hukum di negara itu.


Bagi Farzan penjara saja tidak cukup untuk memberikan efek jera, jadi harus ada hukuman lain darinya agar mereka bisa berpikir berulang kali jika ingin mencari masalah dengannya.


...----------------...


Tadi pagi selesai membantu Nasha membersihkan diri dan juga meminum obat, Farzan meminta Reno datang ke ruangannya agar bisa membicarakan masalah memindahkan Nasha ke kota lain yang cukup memakan banyak waktu. Juga mencari tahu kendaraan apa yang cocok untuk di gunakan nanti.


Beruntungnya Nasha tidak sehisteris kemarin, tapi masih belum mau banyak bicara pada Farzan. Jika ditanya Nasha hanya menjawab dengan menggelengkan kepala atau mengangguk saja.


Billa juga datang sebelum Farzan menuju ruangannya, walau Nasha terlihat takut dan enggan Farzan meninggalkannya hanya berdua saja, tapi Farzan bisa mengatasinya dengan berbisik jika dia selalu melihat Nasha dari kamera tersembunyi yang ada di kamar, barulah Nasha mengangguk dan membiarkan Farzan keluar.


“Gimana? Menurut Lo mana yang lebih aman,” tanya Farzan setelah menceritakan keinginannya.


“Kita lihat kondisi dari Nasha dulu sih. Kayanya semua kendaraan juga aman, tapi tetap harus ada tenaga medis, takut terjadi sesuatu di perjalanan,” terang Reno sambil memikirkan risiko dan sebagainya.


“Gue mau Lo sama Billa juga ikut sementara sampai keadaan Acha lebih baik. Kalau pun di sana ada dokter terbaik di markas, Gue tetap mau Acha di rawat kalian sementara. Gue takut Nasha ngga nyaman dengan orang baru, setidaknya sampai traumanya hilang,” ucap Farzan yang sedang memperhatikan Nasha yang hanya mengangguk atau menggeleng saat di tanya oleh Billa.


“Ya Gue setuju. Tapi kita tunggu beberapa hari lagi agar memastikan kondisi Nasha tidak drop di perjalanan nanti,” saran Reno sambil mengetuk meja beberapa kali.


“Oke. Gue harus balik ke ruangan Acha, sepertinya dia mulai tidak nyaman,” ucap Farzan yang diangguki Reno yang ikut menuju kamar Nasha agar menjemput istrinya.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye..


__ADS_2