Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Bosan dan rengekan


__ADS_3

"Kak Arzaa... please," rengek Nasha sambil menggoyangkan tangan Farzan dari samping tempatnya duduk.


"Kenapa, hm?" gemas Farzan melihat rengekan istrinya ini.


Mereka berdua saat ini sedang duduk di sofa sudut ruangan karena tadi Farzan baru saja mengadakan rapat online dan Nasha menemani di sampingnya.


"Aku mau jalan ke bawah ya? Di sini kan Kak Arza juga lagi sibuk kerja, jadi aku mau ke kebun aja, mau liat sama makan strawberry, jeruk, apel, anggur, terus apalagi ya?" ucap Nasha sambil terus berpikir apa yang sedang dia mau untuk cemilannya kali ini.


Ya sedari tadi Nasha merengek untuk diijinkan ke bawah sendiri. Nasha sangat bosan jika harus melihat Farzan bekerja dan diam saja di sampingnya.


Padahal di hadapan mereka berdua sudah ada snack juga minuman dan lagi di hadapan mereka ada layar tv yang sedang memutarkan salah satu series film barbie.


"Kan itu lagi nonton kartun," ucap Farzan tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop yang menayangkan materi presentasi.


"Ish tau ah, serah Kakak aja," kesal Nasha dengan suara menggumam karena tidak ingin mengganggu Farzan lagi.


Nasha yang begitu kesal, kembali menatap pada layar tv di hadapannya dengan mata berkaca kaca tidak memperdulikan salah satu film kesukaannya sedang memperlihatkan part terseru sekalipun.


Farzan masih fokus pada laptopnya karena hanya sebentar lagi presentasi ini akan selesai. Sebenarnya Farzan khawatir, namun rapat kali ini sedang membahas rencana baru yang tidak bisa di tunda kembali, jadi dengan terpaksa dia mengabaikan Nasha sementara ini.


"Sabar ya nak, nanti aja kita diem diem keluar sendiri kalau Papi lagi ngomong," batin Nasha menggerutu.


"Tapi ngga jadi deh, kan ngga boleh bantah suami," tambahnya lagi bimbang.


"Yaudah deh ngga usah aja, maaf ya Sayangnya Mami, nanti kalau kamu mau marah juga ngga papa deh," sesal Nasha mengobrol dengan Anaknya.


Nasha sedari tadi hanya menatap kosong ke depan karena terlalu fokus berbicara dengan anak dalam kandungannya, sampai tidak sadar jika Farzan sudah selesai sedari beberapa menit yang lalu.


Farzan yang melihat Nasha hanya melamun seperti itu jadi merasa bersalah karena tadi terlalu fokus pada pekerjaannya yang membuat istrinya ini kebosanan.


"Cha," panggil Farzan lembut dengan sedikit menggoyangkan badan Nasha.


Butuh beberapa panggilan yang membuat lamunan Nasha buyar dan beralih menatap Farzan dengan deheman bingung.


"Maaf ya Sayang," ucap Farzan saat Nasha sudah menatap matanya.


Alis Nasha berkerut bingung karena mendengar permintaan maaf Farzan.


"Kenapa maaf?" bingung Nasha yang sepertinya belum ingat dia sedang kesal tadi.


"Maaf karena bikin kamu bosan dan juga mengabaikan kamu tadi," ucap Farzan dengan merasa bersalah.


"Heem," angguk Nasha dengan deheman sebagai jawaban setelah ingat jika dia tadi sedang kesal.

__ADS_1


"Sekarang mau ke kebun, hm?" tanya Farzan lembut, dia tidak masalah dengan tanggapan singkat Nasha karena sadar dirinya salah.


"Engga," geleng Nasha pelan dengan mata sudah menatap layar tv kembali.


"Achaku Sayang, maaf ya? Bukan maksud aku untuk mengabaikan kamu, tapi tadi memang sedang mendesak sekali," jelas Farzan dengan selembut mungkin agar Nasha tidak tersinggung dan merasa bersalah.


Tapi tetap saja, Nasha yang pada dasarnya tidak enakan di tambah dengan hormonnya sekarang, jadi semakin merasa tidak enak dan merasa bersalah.


"Maaf. Harusnya aku lebih paham sama kesibukan kamu, bukannya ngeluh dan nyusahin gini. Maaf banget," lirih Nasha merasa dirinya terlalu kekanakan, bahkan matanya pun kembali berkaca kaca.


Sekuat tenaga Nasha menahan tangis dan beranjak berdiri untuk menuju kamar mandi agar bisa benas menangis nanti.


Saat ini dalam pikirannya dirinya itu begitu kekanakan dan juga egois karena tidak tahu situasi. Farzan sudah seharusnya bekerja di perusahaan, tapi masih tetap ada di rumah untuk menemaninya. Dan dia malah banyak mau dan mengeluh terus.


Bagaimana jika Farzan jengah dengan sikapnya ini? Apa nanti Farzan akan berpindah ke lain hati? Apa dia akan di tinggalkan sendiri? Atau hal lain yang lebih buruk lagi nanti?.


Entahlah memikirkannya saja sudah membuat Nasha tidak kuat, apalagi jika suatu saat benar benar merasakannya. Nasha rasa tidak ada tempat lagi yang akan mau menampungnya nanti.


Keluarganya saja sudah meninggalkannya lebih dulu, yang berarti tidak ada lagi tempat untuknya pergi nanti.


"Cha. Hey, jangan berpikiran macam macam," ucap Farzan yang tahu betul sifat istrinya ini, apalagi selama sedang mengandung.


"Bukannya aku ngga ngebolehin, tapi aku khawatir kalau kamu ke bawah sendiri, walau ada maid dan bodyguard, tapi aku tetap takut," jelas Farzan memeluk Nasha yang sudah mulai terisak.


"Sttt.. engga Sayang. Tadi beneran aku khawatir aja," ucap Farzan lagi.


Farzan terus menjelaskan dan menenangkan Nasha agar tidak lagi merasa bersalah dan merasa egois, padahal sikapnya tidak ada yang salah.


Manusia bosan itu wajar kan? Orang yang melakukan rutinitas setiap hari saja bisa bosan, apalagi jika harus menunggu pasti lebih terasa bosan lagi. Benar kan?.


"Udah ya? Ini masa film yang nontonin kamu, bukan kamu yang nonton film," canda Farzan agar Nasha menyelesaikan sisa tangisnya.


"Aaa.. biarin aja. Masih mau nangis," rengek Nasha sudah mulai seperti biasa lagi.


"Hahaha.. gemes tahu kalau kamu lagi kaya gini," ucap Farzan sambil tertawa.


"Abis nyebelin banget Kak Arzanyaa," ucap Nasha cemberut.


"Haha.. Iya iya maaf ya Sayangnya aku," ucap Farzan sambil mengecup gemas pelipis Nasha.


Nasha hanya mengengguk dengan sisa sesenggukkan akubat menangis tadi.


...----------------...

__ADS_1


Lama mereka terdiam, karena fokus pada tontonan di layar tv yang sekarang sudah berganti menjadi animasi lain, yaitu SpongeBob SquarePants.


"Kenapa squidward suka marah marah sama spongebob ya?" tanya Nasha random.


"Mungkin dia bete karena terganggu," jawab Farzan tanpa melirik pada layar tv.


"Tapi kasian juga jadi suka kena yang jelek jeleknya," ucap Nasha lagi.


"Karakternya sudah dibuat seperti itu Sayang," ucap Farzan dengan sabar.


"Hm.. iya ya," angguk Nasha pelan.


Nasha kembali fokus pada layar di depannya, Farzan pun masih dengan rutinitasnya yang memainkan rambut Nasha.


"Mau makan siang apa?" tanya Farzan tiba tiba setelah tadi mendengar ada suara adzan dzuhur.


"Em.. mau spageti boleh?" tanya Nasha lagi.


"Nasi dulu ya," ucap Farzan menolak halus.


"Yaudah mau teriyaki aja," ucap Nasha pada akhirnya karena tidak mau ribet.


"Jangan lupa sama nugget ayam ya," tambah Nasha.


"Oke, aku buatin sebentar ya," ucap Farzan mengecup kening Nasha sekilas sebelum berjalan ke ujung lain di ruangan itu yang merupakan dapur.


"Kak Arza mau aku bantuin ngga?" tanya Nasha sambil memperhatikan Farzan yang sedang menyiapkan bahan bahan.


"Engga usah. Kamu duduk manis di sana aja," tolak Farzan dengan senyum lembutnya.


"Makasihh Kak Arza," angguk Nasha dengan berterimakasih.


"Anything for you," balas Farzan.


Farzan memulai masak makanan yang sedang Nasha inginkan, sesekali dia mendekati Nasha untuk menanyakan apa yang kurang dari masakannya, tapi Nasha selalu bilang semua sudah enak. Jadi Farzan tinggal mematangkan dan menyajikannya nanti.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2