
Tok.. tok.. tok..
“Masuk,” ucap Farzan yang duduk di sofa bersama Nasha di sebelahnya yang menyandarkan kepala di bahu Farzan.
“Permisi Tuan, Nona, ini pesanannya,” ucap salah seorang bodyguard yang tak lain adalah Juan dengan beberapa pelayan dari resto ternama.
Mereka menata makanan di meja tanpa bisa melirik atasannya yang sedang mengecupi kepala istrinya, karena ada bodyguard yang mengawasi.
“Semua sudah selesai Tuan. Kalau begitu kami permisi,” lapor Juan sambil menutup pintu ruangan setelah mendapat anggukan kepala dari Farzan.
“Sekarang makan nasi dulu yah,” ucap Farzan sambil meminta Nasha duduk dengan benar.
“Lemes,” gumam Nasha yang masih bisa Farzan dengar.
Hah..
“Kalau gitu kamu senderan aja, nanti aku yang suapin,” ucap Farzan yang meminta Nasha menyandar di sandaran kursi saja.
Nasha mau tak mau menurut karena tidak ingin Farzan kesal dan tidak jadi makan.
Kalau Nasha yang tidak makan sih sebenarnya tidak papa. Tapi lagi lagi ada janin yang butuh asupan makanan darinya.
Farzan dengan telaten menyuapi Nasha dengan sesekali dirinya juga makan di sendok yang sama.
Baginya ini hal yang menyenangkan karena bisa berbagi makanan bersama.
Tanpa sadar Nasha makan banyak sekali kali ini. Di tambah dengan mie yang ternyata spageti dengan saus mashroom habis tak tersisa. Walau Nasha makan dengan ogah ogahan.
“Ini minum air mineral dulu,” ucap Farzan menyodorkan gelas berisi air mineral.
“Mau makan es krim tapi,” ucap Nasha sebelum meminum airnya.
“Masih belum kenyang, hm?” tanya Farzan yang khawatir Nasha kekenyangan.
“Mau yang cup sedang aja. Rasa coklat. Tadi di stand bawah ada yang kasih es krim gratis tahu,” cerita Nasha yang malah membuat Farzan tersenyum.
“Iya gratisnya buat kamu aja, haha,” batin Farzan.
“Boleh ngga?” tanya Nasha memastikan.
__ADS_1
“Iya Boleh. Tapi makan di jalan aja ya, takut kemaleman pulangnya,” ucap Farzan yang diangguki Nasha.
“Eh iya lupa. Aku minta tolong ambilin tas boleh?” pinta Nasha.
“Sebentar,” ucap Farzan berjalan mengambil tas Nasha yang ada di kamar.
Nasha tidak mungkin diam saja dan tidak meminum vitamin yang tadi di resepkan dokter. Tadi saja perutnya terasa keram.
Jadi Nasha memutuskan untuk tetap bicara walau nanti akhirnya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
“Ini tasnya,” ucap Farzan menyimpan tas Nasha di pinggir sofa.
“Ada yang mau aku sampein,” ucap Nasha serius.
“Ada apa?” tanya Farzan yang jadi ikut serius.
Amplop yang berisi foto USG serta keterangan lainnya Nasha sodorkan pada Farzan yang di terima dengan dahi yang mengernyit.
“Apa ini?” bingung Farzan.
“Buka aja,” ucap Nasha dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Takut dan gelisah menjadi satu.
“Ini? Beneran?” ucap Farzan gagap karena terkejut sekaligus haru.
Nasha hanya mengangguk karena masih tidak menyangka.
“Alhamdulillah,” ucap Farzan mensyukuri anugerah yang telah di titipkan untuk mereka berdua.
“Kamu ngga marah kan?” tanya Nasha takut takut.
“Kenapa harus marah?” tanya Farzan bingung.
“Tadi aku ngilang karna mau periksa kesehatan. Terus malah dapet kabar itu, karna syok aku jadi diem dulu di rs dan hampir lupa buat balik lagi ke sini,” jelas Nasha sambil memainkan kedua jari tangannya.
“Astaghfirullah. Kenapa kamu ngga bilang Fa? Kalau tau kamu mau periksa aku bakal usahain sampe tadi pagi,” ucap Farzan yang memang kurang memperhatikan wajah Nasha kemarin kemarin.
Padahal jika dilihat sekarang pun wajah Nasha masih pucat. Dan sepertinya itu sudah dari Nasha masuk ke ruangan rapat.
“Maaf,” lirih Nasha dengan wajah menunduk dan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
“Kenapa minta maaf hm? Tidak papa. Terima kasih yah,” ucap Farzan sambil memeluk Nasha haru.
Masalah Acha akan di bicarakan nanti saat semua maslah selesai. Dia sepertinya semakin tidak yakin dengan orang itu.
“Em.. aku mau beli susu khusus untuk ibu hamil dulu, boleh?” ijin Nasha yang akan pergi sendiri ke supermarket bawah.
“Cuma sebentar kok, janji. Kamu pulang duluan aja ngga papa,” ucap Nasha lagi karena Farzan hanya memperhatikannya.
“Ini minum dulu vitaminnya, susunya biar aku aja yang beli. Kamu harus banyak istirahat,” ucap Farzan menyodorkan vitamin dan gelas yang di terima Nasha dengan baik.
“Tapi,”
“Eh engga kok, aku pulang aja duluan ngga papa,” entah kenapa Nasha jadi ingat saat dia terus merengek saat kecil dan berakhir mendapatkan hukuman dari Ayahnya dengan cara dipukul oleh rotan pada bagian kaki.
“Kalau gitu aku pulang duluan,” ucap Nasha sambil sedikit gemetar ketakutan yang bisa di lihat jelas oleh Farzan.
“Tidak papa, semua baik baik saja,” ucap Farzan menenangkan dengan mengangkat Nasha ke dalam gendongan koalanya.
“Jangan marahin, maaf ngga nurut,” gumam Nasha terus menerus.
“Stt.. ngga ada yang marah. Udah ya. Sekarang kita pergi bersama aja,” ucap Farzan membawa tas Nasha sekaligus Nasha yang masih di gendongannya.
Farzan meminta pada bodyguard yang ada di depan ruangannya untuk memperhatikan pelayan yang membersihkan bekas makannya agar tidak mengambil sesuatu yang penting dari sana.
Nasha yang mulai mengantuk sudah terlelap saat Farzan berbicara dengan bawahannya.
“Gio nanti tolong kumpul di markas, saya ingin bicara. Tapi saya tidak akan langsung datang, hanya melalui video saja,” ucap Farzan pada Zergio yang dipanggil Gio.
“Baik Tuan,” patuh Gio mengiyakan.
Sedari tadi dia sudah ketar ketir karena takut Farzan marah. Apalagi tadi istrinya sedikit di interogasi oleh Tio.
...----------------...
alhamdulillah.
sampai sini dulu ya hehe..
jangan lupa tandai typo..
__ADS_1
bye bye