
Selesai membayar ongkos taksi, Nasha berjalan menuju pintu masuk untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Permisi, ini ada apa ya? Apa Mall aan tutup sementara?” tanya Nasha pada empat orang berbadan kekar yang ada di depan pintu masuk.
Ke empatnya yang merupakan bodyguard bayangan yang ikut mengawasi Nasha tersentak kaget saat mengetahui Nonanya ada di hadapannya.
Salah satu dari mereka yang ada di ujung jalan langsung memberikan info pada orang di seberang sana yang tak lain adalah, Tio.
“Maaf apa Nona bisa mengikuti saya ke dalam?” tanya balik orang itu yang membuat Nasha mengernyit bingung.
“Apa saya berbuat salah?” tanya Nasha.
“Tidak Nona, bukan begitu. Tapi ada yang ingin bertemu dengan anda,” ucapnya yang hanya di angguki Nasha dan mengikuti 2 orang di depannya menuju lift yang berbeda dari yang dipakai pengunjung.
Tidak lama setelah Nasha di bawa, Mall kembali di buka untuk umum dan yang tadi ada di luar dan terusir sementara di beri kompensasi berupa makan siang gratis di seluruh resto yang ada.
“Kemana ini?” tanya Nasha yang sudah sedikit takut.
“Boss kami ingin bertemu dengan anda Nona,” jawab salah satu dari mereka.
“Kenapa?” Nasha semakin bingung dan sekarang begitu gelisah takut jika dia menyusahkan Farzan nantinya.
“Nanti anda bisa tahu,” jawabnya singkat.
...----------------...
Mereka sampai di lantai 6 yang merupakan lantai teratas gedung ini yang digunakan untuk para petinggi dan pemilik Mall.
Nasha diantarkan menuju satu ruangan rapat bersebelahan dengan ruangan yang bertuliskan “Pemilik sekaligus Pemegang saham tertinggi” walau dengan warna senada dari pintu yang menyulitkan orang membaca tulisan tersebut.
“Silahkan masuk Nona,” ucap salah satu pria itu sambil membukakan pintu.
Nasha masuk dan mendapati ada Tio, Juan yang tidak dia kenal. Dia adalah Zargio, dengan tab yang ada di depannya.
“Selamat siang Nona,” ucap mereka bertiga serempak.
“Siang, ini ada apa ya?” tanya Nasha to the point.
“Maaf Nona, anda dari mana saja?” tanya Tio tanpa menjawab pertanyaan Nasha.
__ADS_1
“Saya ada urusan di sebelah gedung ini tadi,” jawab Nasha sedikit gugup tapi masih menjawab dengan tenang.
“Kami sudah mencari anda di seluruh bahkan di sekitar gedung ini, tapi anda tidak ada,” ucap Tio yang mulai menyudutkan Nasha.
“Memang kenapa? Apa yang kalian takutkan? Tidak ada juga yang akan menyakitiku? Memang apa peduli kalian dan juga atasan kalian? Kenapa juga kalian harus mencariku? Aku baik baik saja jadi tidak perlu takut. Farzan juga tidak akan peduli,” ucap Nasha beruntun dengan dada yang terasa sesak. Sudah dibilangkan emosinya sedang tidak stabil.
“Apa kalian akan menghukumku? Atau akan langsung membawaku menuju surga?” tantang Nasha yang mulai melantur.
Entahlah dia tidak tahu kenapa kata itu bisa terucap tadi.
Nasha hanya berdiri mengepalkan kedua tangannya, sambil memperhatikan mereka bertiga yang menundukkan kepala.
“Kalian bisa tunggu di luar.”
Sebuah suara yang Nasha kenal terdengar dari tab yang ada di hadapan pria yang tidak dia ketahui itu. Memerintahkan mereka keluar ruangan.
Nasha memalingkan wajah melihat jejeran buku yang ada di samping tanpa mau memperhatikan sekitar. Kepalan tangannya menguat agar air mata tidak turun saat ini juga.
“Kenapa ada suara itu sekarang? Bahkan dia bisa menghubungi mereka, tapi memberi kabar padaku saja tidak,” batin Nasha begitu marah.
Nasha mengatur nafasnya agar lebih stabil. Dia baru ingat jika ada anaknya yang bisa merasakan emosinya juga.
Nasha masih diam tidak menghiraukan keberadaan Farzan yang bahkan bisa memperhatikannya melalui cctv yang tersembunyi.
“Arfa!” panggil Farzan dengan nada tegas.
Nasha yang menganggap itu adalah bentakan langsung menjatuhkan air matanya yang tidak bisa di cegah lagi sambil menundukkan kepalanya.
Hiks.. hiks.. hiks..
Hiks.. hiks.. hiks..
Suara sesenggukan yang terdengar meyakinkan Farzan yang melihat Nasha sekarang tertunduk. Helaan nafas juga terdengar begitu frustrasi karena sekarang dia masih ada di Negara V.
“Siapkan heli sekarang juga.” Perintah Farzan entah pada siapa yang tidak di dengar Nasha karena masih terus menangis.
Masalah di 2 negara lainnya memang belum Farzan selesaikan, tapi dari pada dia tidak tenang melihat Nasha yang sedari tadi belum berhenti menangis, memutuskan untuk kembali secepat mungkin.
Beruntung negara yang sekarang lebih dekat dengan negaranya saat ini, jadi memudahkannya menggunakan helikopter dengan jarak tempuh 2 jam saja.
__ADS_1
...----------------...
Nasha yang sudah lelah memilih duduk menyandar di sisi rak dengan wajah yang di sembunyikan di antara kedua kakinya.
Hampir satu jam Naha menangis dan Farzan hanya memperhatikan melalui video di tabnya.
Sebenarnya Farzan khawatir karena Nasha belum juga berhenti sedari tadi, tapi juga Farzan tidak bisa mempercepat kecepatan heli ini takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
30 menit berlalu dan tidak ada lagi suara tangisan, tersisa hanya sesenggukan kecil yang masih terdengar serta dengkuran halus.
Farzan yang sudah sampai di helipad di atas Mall dan turun menggunakan lift yang langsung terhubung ke ruangan miliknya.
Farzan membuka pintu rahasia yang tertutup rak buku sama seperti di kamarnya mulai membuka perlahan takut Nasha ternyata tidur di dekat pintu.
Beruntung Nasha ada di sudut yang tidak terlalu dekat dengan pintu ini jadi tidak akan membuatnya terluka.
“Kenapa kamu sedikit berbeda? Apa yang sudah aku lewatkan belakangan ini?” gumam Farzan pada dirinya sendiri.
Farzan mengangkat Nasha menuju ruangan miliknya yang mempunyai ruang istirahat pribadi di sisi satunya.
Di baringkannya Nasha perlahan agar tidak membangunkan gadis itu.
“Jangan marah. Jangan pergi,” gumam Nasha tapa sadar dengan suhu tubuh yang mulai meningkat.
“Stt.. hey, tidak ada yang marah dan pergi, tenang lah. Stt.. stt,” gumam Farzan menenangkan sambil mengusap punggung Nasha dengan ikut berbaring berdampingan.
Tanpa sadar Nasha juga memegang erat kemeja Farzan, enggan untuk melepaskan.
Farzan mengambil plester penurun demam yang di simpan di laci nakas samping tubuhnya untuk di tempelkan di dahi Nasha.
Tadinya dia ingin memanggil dokter, tapi tidak jadi karena takut Nasha terbangun dan malah kembali menangis.
Farzan hanya memperhatikan wajah Nasha yang berada di depan dadanya dengan rasa bersalah yang belum bisa hilang.
Kesalah pahaman minggu lalu belum di selesaikan, tapi sekarang sudah ada lagi hal baru yang membuat Farzan bertambah menyesal.
“Maaf bukan maksudku membentak tadi, aku hanya khawatir dan tidak bisa mengontrol diri. Tolong jangan marah padaku,” gumam Farzan mengecup pelipis Nasha dan ikut tertidur.
...----------------...
__ADS_1