
"Kak Arza," panggil Nasha yang sedang mencari baju untuk dirinya.
"Hem?" dehem Farzan yang artinya bertanya ada apa, karena dia sedang mencari gaun juga baju yang pas untuk Nasha.
"Mau beli baju baby boleh?" tanya Nasha yang sudah paham arti deheman Farzan.
"Boleh. Sekalian kita beli perlengkapan kamarnya juga ya, nanti di rumah kita pake kamar sebelah kamar kita. Lantai 3 kayanya mau aku rombak lagi deh kayanya buat tempat main anak nanti," Farzan menyetujui sambil memikirkan tempat yang akan di gunakan untuk play room. Walau di taman belakang juga sudah ada, tapi dalam rumah masih belum sempat Farzan buat.
"Loh kan di taman belakang ada Kak? Kalau di dalem rumah pake kamarnya aja," protes Nasha karena beberapa bulan ini terlalu banyak merombak isi rumah.
"Beda lagi Sayang. Ini buat main sama anak anak yang lain juga, biar anak kita juga punya privasi di rumah," ucap Farzan kekeh dengan keinginannya.
"Masih kecil udah privasi privasian, dianya aja ngga akan ngerti," gerutu Nasha pelan tapi masih terdengar.
"Justru dari kecil harus diajarkan Cha. Kalau nanti saat sudah mengerti dia mau ajak sahabat atau temannya yang lain masuk kamarnya itu terserah, yang jelas sekarang jangan," ucap Farzan mutlak. Bagi Farzan anaknya bebas menentukan keinginannya nanti, tapi sekarang sebelum dia dewasa Farzan yang menggantikan sementara.
"Iya," Nasha menjawab dengan nada yang malas dan berjalan menuju rak lain yang memperlihatkan jaket jaket.
Nasha fokus pada beberapa model jaket dan outer yang menarik perhatiannya.
"Maaf Sayang, jangan marah ya," bisik Farzan di sebelah telinga Nasha yang di peluk olehnya.
Nasha kaget tentu saja, reaksi tubuhnya sedikit berlebihan karena takut, dia pikir ada orang yang lancang memeluknya, tapi setelah mendengar itu suara Farzan dia kembali rileks.
"Kaget!" ucap Nasha ketika sudah kembali dari keterkejutannya.
"Hehe, maaf ya," ucap Farzan yang terkekeh kecil melihat reaksi Nasha. Tapi wajar sih, kan dia yang ngagetinnya.
"Kesel ah! Kirain ada orang iseng yang peluk peluk. Nyebelin kamu mah!" kesal Nasha mencubit pelan lengan Farzan yang memeluknya.
"Oke maaf maaf, udah ya jangan tegang tegang, perutnya nanti sakit," ucap Farzan tidak mau menambah kekesalan Nasha, takut perut Nasha kram.
"Salah siapa?!" melotot Nasha dengan muka garang, menolehkan sedikit wajahnya.
"Iya iya aku yang salah. Maaf Sayang," ucap Farzan dengan nada pasrahnya. Tapi dia juga memang merasa salah.
"Hm," dehem Nasha singkat tidak mau membahas hal ini lagi.
__ADS_1
"Bagus ini atau ini?" tanya Nasha memperlihatkan outer berwarna hitam dan juga warna pastel.
"Yang lebih cerah," ucap Farzan menunjuk pada warna pastel.
"Mahal tapi," gumam Nasha pelan setelah melihat harga yang tertera.
"Kita beli semua macem warna," putus Farzan tanpa meminta pendapat Nasha. Farzan dengar gumaman Nasha tadi, dan sudah biasa jika belanja Nasha pasti melihat harganya dulu.
"Tolong siapkan semua warna dan model berbeda, kirim ke alamat saya," ucap Farzan pada salah satu pekerja yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Baik Tuan," ucap pekerja itu dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Ish kenapa malah beli semua warna," gerutu Nasha kesal.
"Biar bisa ganti ganti kalau bosen Sayang," ucap Farzan santai, membawa Nasha untuk berpindah tempat.
Tujuan mereka kali ini adalah toko perlengkapan baby.
"Kok lucu lucu sih!" pekik Nasha tertahan, karena terlalu gemas dengan berbagai macam model pakaian juga barang barang baby yang di pajang dalam toko ini.
"Hehe, malah kamu yang gemesin," gumam Farzan dengan raut gemasnya, Nasha sekarang sudah anteng melihat lihat barang yang akan bergunan nantinya untuk mereka.
"Permisi Nona, mohon maaf tolong jangan terlalu banyak menyentuh barang barang di sini, takut rusak," tiba tiba satu pekerja wanita datang dengan raut wajah di paksa untuk ramah bicara pada Nasha dengan larangannya.
Dari tadi wanita bernama Leni itu memperhatikan Nasha yang menurutnya terlalu kempungan karena seperti tidak pernah melihat barang bagus dan mahal saja.
Farzan juga sudah menyadari hal itu dan membiarkan wanita bernama Leni itu memulai lebih dulu, dia ingin lihat sejauh mana wanita itu berani.
"Oh iya kah? Padahal cuma pegang doang," ucap Nasha pura pura tidak tahu, dan menggumam di akhir kalimat.
"Iya Nona, mohon maaf sekali lagi," ucap Leni pura pura ramah dan sabar.
"Memang harganya mahal ya?" tanya Nasha mengangguk anggukkan kepalanya.
Farzan yang mendengar pertanyaan Nasha sebenarnya ingin tertawa, pertanyaan Nasha sungguh polos sekali, batinnya tertawa.
Raut wajah Leni sudah merah padam menahan rasa kesal dan juga marahnya karena ternyata wanita di depannya ini malah bertanya hal konyol.
__ADS_1
Sudah tahu ini pusat perbelanjaan besar dan kualitas di sini juga tidak bisa di ragukan lagi, jadi sudah pasti harganya pun tinggi. *Ini dia malah bertanya, menyebalkan, batin Len*i terpancing emosi.
"Ehkm. Tentu saja Nona. Kualitas di sini itu yang terbaik, jadi pasti harganya menyesuaikan," Leni berdehem sejenak untuk menetralkan suaranya, takut kelepasan karena terlalu geram.
"Ouh iya iya. Tapi ini bagus sih," ini Nasha lagi kesambet apa gimana sih? Biasanya Nasha tidak mau mencari ribut dan pergi begitu saja, tapi ini malah di ladenin. Mana sampe buka buka lemari bawahnya brutal lagi.
"Maaf Nona tolong jangan lakukan itu, nanti loker lokernya bisa lecet," Leni sudah hampir habis kesabaran menghadapi Nasha yang malah melakukan hal lebih dari apa yang dia katakan.
"Kenapa sih?! Masa mau beli ngga liat dulu dalemnya kaya gimana?! Nanti kalau isinya bolong gimana hah! Terus kalau catnya jelek gimana?!" kesal juga Nasha melihat orang sok tahu di depannya ini.
"*Baru bekerja di sini aja udah kaya gini, gimana kalau tahu aku yang punya mall ini coba? Masuk rumah sakit kali ini orang," batin Nasha meng*geram kesal.
"Ini MAHAL Nona, kalau rusak saya jamin anda tidak bisa menggantinya. Tolong jangan rusak barang barang di sini, kalau tidak saya bisa panggilkan security untuk mengusir anda," ucap Leni dengan nada meninggi dan menekan kata 'mahal'.
"Panggil aja!" tantang Nasha tidak peduli. Toh ada suaminya juga yang bantuin nanti, batin Nasha tertawa puas.
Nasha memalingkan wajahnya ke arah belakang untuk melihat apakah ada Farzan atau tidak. Ternyata saat berbalik, Farzan tidak terlihat dimana pun.
Nasha tentu saja panik. Bagaimana nanti kalau sampai dia dibawa security. Mana lagi hamil gede lagi.
Rasanya dia ingin menangis saja saat ini karena tadi malah bermain main dengan wanita sombong di sebelahnya ini.
"Kak Arza mana? Kok ilang sih. Nanti kalau aku dibawa gimana? hiks," batin Nasha menangis.
Wajah Nasha sudah muram dan terlihat pucat pasi, apalagi wanita di sebelahnya benar benar membawa 4 security langsung untuk menangkapnya.
Sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi nanti. Nasha hanya bisa pasrah saja. Lagi pula dia memang salah karena mencari gara gara tadi.
"Yasudahlah. Paling di bawa ke kantornya. Nanti kalau udah di lepasin aku kabur aja pulang ke rumah lama. Kak Arza jahat! Liat aja nanti aku bikin Kakak dimarahin sama Momy and Daddy," gerutu Nasha dalam hati merutuki Farzan yang tiba tiba menghilang.
Padahal Farzan hanya bersembunyi dengan duduk di tempat yang tertutupi banyaknya baju dan sepatu bayi beberapa langkah di belakang Nasha.
Farzan penasaran bagaimana raut panik istrinya saat tidak melihatnya dan juga apa yang akan di lakukan istrinya itu untuk menyelesaikan masalah kali ini.
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye