
"Hari ini baby mau liat Unclenya masak pasta. Dan tidak ada yang boleh nolak!" ucap Farzan saat mereka sudah berkumpul di meja makan.
"Lo yang bener aja Za. Kita mana bisa masak kayak Lo," ucap Sean kesal melihat ekspresi menyebalkan Farzan.
"Diantara kita semua, yang bisa masak cuma Lo, Reno sama Deon doang Za," sahut Zargio mengelus dadanya agar sabar.
"Lagian ini yang mau baby apa Lo sih. Kok muka Lo yang keliatan senengnya," heran Brady melihat ekspresi berbeda antara Farzan dan Nasha.
"Kek nya Lo cuma ngerjain kita doang ya?" tebak Ergi tepat sasaran.
"Maaf ya kita ngerepotin. Engga papa kok kalau ngga mau juga, nanti biar aku masak sendiri aja," ucap Nasha tak enak hati, walau sebenarnya Nasha malah merasa begitu ingin memakan masakan buatan mereka. Sepertinya baby menghasutnya agar bisa mengikuti permainan Farzan.
"Mampus Lo, di tolak Farzan ngamuk," bisik Sean di dekat Zargio.
"Jangan cari mati," Farzan mengucapkan ini hanya dengan menggerakkan bibirnya saja agar Nasha tidak melihat.
"Eh tenang aja Sha kita mau kok. Iya ngga? Iya ngga?" ucap Brady menatap para sahabatnya yang lain dengan sedikit pelototan. Jadilah mereka hanya mengangguk pasrah, kecuali Deon dan Reno yang hanya diam menyimak.
"Yaudah kalian cepet masak dulu, waktunya cuma 30 menit," ucap Farzan mengikuti ucapan salah satu ajang memasak di tv diakhir kalimatnya.
"Berasa ikut kompetisi Gue," ucap Sean yang menarik kerah Zargio dan Brady yang berada di dekatnya.
Ergi, Reno dan Deon berjalan santai mengikuti sahabatnya yang lebih dulu berjalan di depannya.
Memang diantara mereka yang bisa memasak hanya Farzan, Deon dan Reno. Ergi juga bisa, hanya saja kemampuannya tidak sebaik mereka bertiga.
"Maaf ya, aku malah nyuruh kalian," ucap Nasha menunduk merasa merepotkan.
"Ini kalau diem doang ntar dia nangis, diamuk nanti sama Arza," gumam Brady ketar ketir.
"Eh tenang aja Sha. Kita mah ngga ngerasa di repotin kok. Santai aja santai, iya ngga?" ucap Brady sebelum menghilang di balik tembok sekat antara dapur dan ruang makan.
"Iya Sha santai aja," sahut Zargio dan juga Sean.
"Ngga papa Sayang, mereka pasti seneng bisa ikutin maunya baby," ucap Farzan menenangkan dengan sedikit menatap tajam Brady, Sean dan Zargio yang tadi sempat menolak.
"Udah Sha mending duduk dulu aja, kita bakal buatin pastanya sekarang," ucap Sean cari aman agar Farzan tidak mengamuk nantinya.
Jika Farzan mengamuk, mereka bisa bisa harus berada dalam matras dan melawan Farzan yang tak lain adalah master dari berbagai cabang beladiri yang pernah Farzan ikuti.
__ADS_1
Walau mereka juga tak kalah jago, hanya saja diantara mereka bertujuh Farzan berada di urutan pertama dalam hal ini. Baru setelahnya Deon, Reno, Ergi, Brady, Zargio dan Sean. Tapi untuk mengalahkan orang lain, mereka mempunyai keunggulan masing masing dalam melumpuhkan lawannya.
Kembali lagi pada saat ini. Keenam lelaki yang sedang memasak terlihat mulai membuat pasta cukup banyak agar bisa di makan oleh semua orang.
Sean, Zargio dan Brady hanya bisa diam dengan wajah bingung di tengah dapur melihat yang lain sedang menyiapkan bahan bahan dan juga alat untuk memasak.
"Lo bertiga mending bantuin potong sayuran sama bumbu deh dari pada bengong di sana," ucap Ergi menatap jengah pada ketiganya yang hanya melihat saja bagai patung di sana.
"Kita aja jarang pegang pisau Gi, gimana mau siapinnya," ucap Brady menatap nanar pisau juga bumbu bumbu.
"Ngha usah banyak ngeluh. Sekarang kalian cuci ini semua dan mulai potong potong sesuai contoh ini," ucap Reno yang ikut jengah melihat ketiga orang yang hanya diam saja itu.
Akhirnya mau tidak mau mereka berjalan mendekat dan mulai melakukan apa yang diminta Ergi walaau dengan susah payah.
Yang terjadi bukannya baik, malah sebaliknya. Semua bahan yang sedang di pegang oleh ketiga orang itu malah berybah bentuk menjadi aneh dan tidak bisa digunakan.
"Kalian memang tidak bisa di harapkan. Sudahlah lebih baik kalian diam saja," kesal Ergi yang tadinya ingin semau cepat selesai, sekarang malah kebalikannya.
Ketiga orang yang dimarahi itu hanya bisa meminta maaf dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Mau bagaimana lagi, mereka memang sangat jarang memakai dapur dan alat alatnya, paling paling mereka hanya bisa goreng telor dan masak mie saja.
...----------------...
Semua yang ada di meja makan sengaja menunggu pasta buatan keenam pria itu dengan tenang tanpa protes.
Yang pasti, jika sudah ada Deon, Reno dan Ergi masakannya tidak akan gagal.
"Asik! Makasih ya semuanya," ucap Nasha senang.
"Tidak perlu berterima kasih pada mereka Sayang," ucap Farzan dengan sigap mengambilkan pasta ke dalam piring Nasha.
"Aku juga mau," ucap Eve, Kylla, Ana, Billa, Mita, dan Tery bergantian.
"Ini tiga bumil harus makan nasi dulu loh," ucap Mita pada Eve, Ana dan Kylla.
FYI, kabar kehamilan Eve dan Ana sudah diketahui oleh semua orang sekarang. Terakhir kali di rumah sakit sewaktu Billa melahirkan, mereka langsung melakukan pemeriksaan dan hasilnya Eve mengandung 4 minggu sedangkan Ana 5 minggu.
Ternyata sebelum kembali, Sean dan Zargio sudah mengetahui kehamilan mereka, karena mereka berdua juga sedikit lupa jadilah Sean dan Zargio mengambil tindakan langsung untuk memeriksa.
__ADS_1
"Mama kamu katanya mau ke sini Ren?" tanya Zetta memastikan, kemarin dia berkirim pesan dengan Arni katanya dia akan ikut menginap di mansion sebelum acara.
"Tadinya mau Mom, tapi Papa ada kerjaan mendadak kemarin lusa, besok baru pulang. Sepertinya selesai acara baru Mama dan Papa menginap," jelas Reno yang mendapat giliran mengambil pasta untuknya dan Billa.
"Yah, padahal Mom mau ajak belanja loh. Tapi yaudahlah, besok aja, hihi," ucap Zetta sambil terkikik melirik suaminya.
Zeroun bukannya melarang istrinya ini belanja, tapi saat sudah membeli barang, apalagi untuk cucunya, Zetta terlalu kalap dan berakhir membeli semua barang. Zetta seperti baru pertama kali mempunyai bayi saja.
Bahkan jika ada ukuran yang cocok untuk Elhan dan Danish, Zetta maupun Arni akan saling membeli banyak barang. Terkadang diiringi dengan keributan kecil karena memperdebatkan yang terlucu menurut keduanya.
"Udah dong Mom, itu baju di kamar kosong udah kaya gundukan sampah. Mau nambah apalagi?" peringat Zeroun pada istrinya itu.
"Ehehehe, kan untuk cucu Dad masa ngga boleh sih," cengir Zetta dengan pipi bersemu, malu.
"Kemarin juga ada mobil box datang ke rumah, ternyata kiriman Mom," ucap Mita menimpali. Bukannya tidak senang, hanya saja, masa pakaian anaknya sekali pakai buang karena saking banyaknya yang dikirimkan Zetta dan juga Arni.
"Bukan lagi Kak, ke rumah juga ada loh," timpal Billa yang juga mendapatkan hal serupa.
"Kayanya kalau mereka bertiga udah mendekati lahiran juga bakal sama deh, apalagi udah ada baby nya, pasti sama juga," ucap Mita lagi yang dibalas cengiran malu malu dari Zetta.
"Ini kenapa cuma dia doang yang di salahin ya? Harusnya Arni juga ada jadi kan dia tidak sendirian," batin Zetta menggerutu.
"Nikmatin ajalah, lumayan ngga beli baju buat beberapa bulan ke depan, hehe," ucap Nasha tersenyum pada Zetta. Kasian juga dia kalau Zetta di sudutkan begitu. Walau bukan itu sih maksud mereka.
"Nah! Ini anak kesayangan Momy juga ngga marah. Kalian ngga bisa protes sama Momy lagi," ucap Zetta sombong karena Nasha membelanya.
Jika Nasha sudah bicara maka Farzan juga akan ada di belakangnya, dan selama ini belum ada yang berani mengusik manusia nekat satu itu.
Sekali Nasha di buat bad mood maka mereka akan mendapat sedikit hukuman darinya. Kecuali pada Momy dan Daddynya.
"Kita kalah sebelum berperang ini mah," ucap Sean yang di balas tawa dari semuanya.
Mereka makan dengan di sertai canda tawa sesekali, biasanya saat makan bersama tidak ada pembicaraan dan fokus pada makanannya dulu, baru setelahnya mereka mengobrol di ruang keluarga. Tapi suasana seperti ini jarang terjadi jadi tidak apalah mereka melakukan hal itu sesekali.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
__ADS_1
bye bye