
Langit sudah berubah menjadi senja, yang menandakan waktu sudah mulai petang.
Farzan terbangun lebih dulu, jujur memeluk Nasha memang membuat tidurnya selalu nyenyak, apalagi satu minggu terakhir ini dia hanya tidur 2 jam sehari.
Tak lama Nasha menggeliat dan mulai mengerjapkan matanya dengan tangan memijat dahinya karena kepalanya terasa begitu berat.
Dengan dahi yang mengernyit bingung Nasha bangun secara mendadak karena terlalu terkejut melihat postur seorang pria tengah tertidur di sebelahnya. Membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri.
“Hey jangan langsung bangun begitu, nanti kepalamu pusing,” ucap Farzan sembari memijat kening Nasha lembut.
“Jangan sentuh,” pelan Nasha yang masih belum sadar jika di sebelahnya adalah Farzan.
“Ini aku, tenanglah. Hm,” ucap Farzan menenangkan sembari tangannya memijit kembali kepala Nasha.
Mendengar itu Nasha hanya terdiam membeku entah harus melakukan apa. Antara takut dan juga ada ha lain yang tidak bisa dia jabarkan.
“Tenanglah, tidak usah seperti ini. Jangan takut lagi,” ucap Farzan menenangkan.
“Maaf. Kalau kamu mau marah ngga papa. Besok aku bakal pergi kok dari rumah biar ngga nyusahin lagi,” Nasha menepis tangan Farzan dan berdiri menjauh dari jangkauan Farzan.
“Uang yang dikirim ke atm aku juga bakal dibalikin hari ini. Maaf sekali lagi,” lirih Nasha dan berlalu jalan menuju pintu dengan kaki yang sempoyongan.
Beruntung pintu dekat dengan Farzan berdiri saat ini jadi bisa mencegah Nasha pergi.
“Hey tunggu dulu,” ucap Farzan sambil memeluk Nasha lembut agar tidak terjatuh. Tadi Nasha sudah hampir jatuh ke lantai jika tidak dia peluk.
Nasha tidak memiliki tenaga untuk menepis atau menjauh. Seluruh tubuhnya lemas dan tidak bisa di ajak kerja sama.
Membawa Nasha duduk kembali di atas kasur sambil terus memeluknya yang terasa sedang menangis itu.
Farzan hanya dim mengusap punggungnya agar Nasha bisa lebih baik setelah menangis nanti.
“Tenanglah, tidak usah takut. Aku tidak marah,” ucap Farzan perlahan setelah Nasha lebih baik.
Nasha masih diam dan mengeluarkan air matanya. Entah kenap saat ini dia hanya ingin menangis mengeluarkan segala emosinya.
Sedikit kekuatan membuat Nasha bisa melepas tangan Farzan dan menjauh sedikit dari lelaki itu.
“Maaf sudah membuatmu susah. Aku akan pulang sekarang," ucap Nasha pelan, dengan kaki yang masih gemetar jika dia memaksa berdiri.
“Huh.. kita harus bicara dulu sebentar. Duduklah. Kamu juga tidak mungkin berjalan dengan keadaan lemas begini,” jelas Farzan setelah menghela nafas frustrasi.
__ADS_1
Nasha hanya berdiri diam dan tidak lama ikut duduk di ujung kasur berjauhan dengan Farzan setelah ingat kandungannya.
“Aku minta maaf,” ucap Farzan pada awalnya.
“Kemarin ada kabar dari salah satu orang suruhanku jika teman masa kecilku sudah di temukan,”
Setitik air mata keluar lagi dari kedua mata Nasha.
“Terlalu bahagia membuatku lupa memberi kabar,” lanjut Farzan perlahan.
“Saat sampai rumah, tidak lama Brady menghubungiku, katanya ada masalah di beberapa tempat yang harus membuatku pergi malam itu juga,”
“Aku lupa memberitahu karena saat pulang kamu tidak ada di kamar,”
“Di pesawat aku baru ingat dan akan menghubungimu, tapi ternyata baterai ponselku habis dan handphone ku mati,”
“Besoknya aku langsung menangani masalah dan aku pikir jika menjelaskan lewat telepon juga akan sulit karena bisa saja apa yang di sampaikan kurang tepat dan tidak di mengerti yang akhirnya ada kesalah pahaman yang baru,”
“Jadi aku hanya titip pesan pada seluruh penghuni yang ada di mansion agar menjagamu sementara aku pergi dan membiarkanmu tidur di paviliun jika memang kamu menginginkan itu,”
“Tapi hari ini kamu bilang akan pergi berbelanja, mereka sudah bilang padaku dan aku mengijinkan asal keamananmu terjamin. Tapi saat ada kabar kamu tidak di temukan dimana saja, itu membuatku begitu khawatir,”
“Aku mengumpulkan mereka semua dan menyuruh mereka mengosongkan pengunjung agar kamu bisa lebih cepat di temukan,”
“Tadinya aku memberikan ultimatum pada mereka semua yang lalai dengan mendapat hukuman berat di tempa tersembunyi. Dan aku pun akan menyusul dan ikut dihukum.”
“Tapi saat kamu sudah di temukan dan di bawa ke ruangan tadi membuatku sedikit lega. Sampai ada perkataanmu yang malah membuatku merasa begitu marah,” jelas Farzan panjang lebar dengan Nasha yang malah kembali menangis merasa bersalah juga.
“Aku tidak marah padamu. Sungguh,” ucap Farzan meyakinkan sambil mendekati Nasha.
“Aku hanya terlalu khawatir,” lirih Farzan yang berhasil memeluk Nasha.
“Hiks.. ma af hiks.. maaf,” gumam Nasha terus menerus.
“Sttt.. tidak papa. Sudah jangan terlalu banyak menangis,” ucap Farzan menenangkan sambil terus mengusap punggung serta mengecup pelipisnya.
“Lebih baik kita sholat ashar dulu, sudah hampir magrib. Nanti habis isya kita makan di sini,” ucap Farzan yang menggendong Nasha menuju kamar mandi agar bisa mengambil air wudhu.
Mereka berdua sholat bersama dan juga membersihkan diri bergantian dengan Nasha yang selalu bilang saat sudah selesai karena badannya masih begitu lemas.
...----------------...
__ADS_1
“Kamu mau makan pake apa?” tanya Farzan yang sedang mengirim pesan bawahannya untuk membawa makanan ke ruangannya ini.
“Apa aja,” balas Nasha dengan suara serak.
“Apa kepalanya masih sakit, hm?” tanya Farzan sambil mendekat pada Nasha yang bersandar di kepala ranjang.
Nasha hanya menggeleng karena memang masih terasa pusing. dan juga perutnya sedikit nyeri.
"Aku panggil dokter saja ya," khawatir Farzan yang bersiap menghubungi dokter.
"Jangan," mohon Nasha dengan suara yang pelan.
“Baiklah, tapi sekarang harus makan dan juga minum obat sementara. Kalau tidak sembuh juga nanti kita ke dokter,” ucap Farzan mengalah.
Jujur saja saat bertemu Acha dia tidak merasakan apa pun. Berbeda saat di samping Nasha yang selalu membuatnya bergetar dan merasa hangat.
Bahkan mendengar cerita Acha yang menyedihkan dia tidak khawatir atau risau. Beda halnya jika itu menyangkut Nasha.
“Mau makan mie tapi,” lirih Nasha takut takut.
“No. Kamu udah masak mie 2 bungkus minggu kemarin, padahal jatah makan mie kamu udah abis,” ucap Farzan menolak. Bahkan Farzan mengetahui apa saja aktivitas Nasha seminggu terakhir, kecuali tadi saat menghilang.
“Hiks.. masa ngga boleh,” nah kan Nasha malah nangis lagi.
“Ini perasaan aku aja atau emang kamu yang jadi cengeng ya,” ucap Farzan sambil terkekeh geli.
“Huaa.. kamu malah ngejek aku,” tangis Nasha malah bertambah kencang dan membuat Farzan gelagapan.
“Engga Sayang. Maaf ya maaf,” ucap Farzan yang tanpa sadar memanggil Nasha sayang.
“Hiks.. tapi mau mie,” ucap Nasha memelas. Nasha juga tidak sadar Farzan bilang apa tadi.
“Oke, asal kamu makan nasi dulu,” putus Farzan agar Nasha berhenti menangis.
“Ta tapi nasinya dikit aja,” tawar Nasha yang tidak akan sanggup makan banyak nasi.
“Harus banyak. Kalau engga nanti mienya ngga jadi,” ucap Farzan yang kali ini tidak mengalah.
“Gimana?” tanya Farzan memastikan.
“Iya,” setuju Nasha sekarang, nanti kan bisa merengek lagi biar nasinya dikit hehe, batin Nasha terkekeh.
__ADS_1
Farzan akhirnya memesan makanan dengan menyuruh bawahannya. Selagi menunggu mereka melaksanakan ibadah sholat isya terlebih dahulu agar sampai rumah bisa langsung istirahat.
...----------------...