
Pukul 10 malam mereka baru kembali ke kamar masing masing setelah sebelumnya mereka menonton di mini bioskop yang ada di sebelah ruang keluarga.
Tentu saja itu permintaan para wanita yang katanya ingin menonton film animasi prinsess terbaru.
Besok pagi sekitar jam 9, acara pengajian akan dilaksanakan. Semua persiapan pun sudah selesai, tinggal menambah sedikit ornamen bunga di setiap sudut agar mempercantik ruangan. Sengaja membeli dadakan agar bunganya lebih segar dan terlihat lebih cantik.
...----------------...
"Ehm," lenguh Nasha yang merasa tidak nyaman karena pergerakan dari anaknya, juga sedikit tidak nyaman dengan posisi tidurnya saat ini.
Nasha dengan perlahan melepaskan lilitan tangan Farzan yang ada di sekitar perutnya dan memindahkannya. Nasha akan pindah menuju sofa di dalam kamar agar tidak menganggu Farzan.
"Tangan Kak Arza berat, jadi cape kalau mau mindahin doang," keluh Nasha dengan suara amat pelan dan menurutnya tidak terdengar oleh siapapun, tapi Farzan yang sudah bangun mendengar itu.
Nasha baru saja akan menaruh kakinya pada lantai sebelum suara Farzan membuat pergerakannya terhenti.
"Kenapa Sayang?" tanya Farzan dengan suara seraknya.
Farzan melihat ke arah nakas tepatnya pada angka yang tertera di sana, dan angka itu menunjukkan pukul 01.30.
"Maaf ya Kak aku pasti kurang pelan naruh tangannya, jadi kebangun," ucap Nasha yang masih suka merasa tidak enak.
"Engga Sayang. Kamu kenapa, hm?" tanya Farzan mengalihkan pembicaraan, kalau tidak dia takut kelepasan bicara yang tidak tidak pada Nasha.
"Begah," ucap Nasha singkat sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dibantu oleh Farzan.
"Ada yang mau di makan?" tanya Farzan, biasanya Nasha masih mengidam walau sudah memasuki bulan ke 7 masa kehamilannya ini.
"Mau teh madu anget," ucap Nasha menatap mata Farzan dengan wajah sedikit cemberut.
"Itu aja? Kenapa wajahnya seperti ini, hm? hehe," ucap Farzan terkekeh melihat raut wajah Nasha.
"Mau nasi goreng gerobak juga masa. Padahal perutnya udah kaya yang kembung," cebik Nasha kesal sendiri.
"Haha, ngga papa Sayang mungkin baby masih lapar. Nanti kalau ngga habis biar aku yang makan," ucap Farzan di selingi tawanya.
Nasha memang sering mengeluh seperti itu saat perutnya mulai membesar.
"Mau pedes boleh ngga?" tanya Nasha harap harap cemas.
"Sedikit aja ya? Nanti perutnya sakit Sayang," ucap Farzan lembut sedikit menolak.
"Em.. iya deh," angguk Nasha mengiyakan. Tidak mau membantah juga sih sebenarnya.
__ADS_1
"Oke, aku buat teh dulu nanti baru cari tukang nasi goreng yang pake gerobaknya," ucap Farzan beranjak menuju meja sudut ruangan yang terdapat kulkas dan juga penyimpanan makanan untuk di dalam kamar. Tidak lupa juga dispenser.
"Mau ikut ya? Makan di sana langsung," pinta Nasha menatap Farzan yang sedang mengambil teh kemasan.
"Oke. Kita cari ke luar seperti keinginan kamu dan baby," angguk Farzan tanpa ada penolakan, lagi pula mereka memakai mobil jadi Nasha tidak akan terlalu kedinginan, dan juga ada selimut dan lainnya di dalam mobil.
Bahkan kursi tengah pun Farzan tambah kasur angin yang bisa di bongkar pasang, khusus untuk dalam kendaraan. Jadi kalau Nasha mengantuk bisa tertidur di sana.
"Yey.. makasih Kak Arza," ucap Nasha senang.
Farzan hanya tersenyum lembut dan mengusap kepala Nasha sayang sambil menyerahkan gelas berisi air teh pesanan Nasha.
Selesai menghabiskan teh hangat yang tadi Farzan buat, mereka berdua memasuki kamar mandi dan mencuci muka. Baru setelahnya Farzan mengambilkan jaket dan kerudung untuk Nasha pakai.
"Tapi Kak Arza cape ngga? Kalau cape kita nunggu yang lewat aja ngga papa. Siapa tahu jam segini masih ada yang keliling," ucap Nasha yang sedang di pakaikan kerudung oleh Farzan.
"Engga Sayang. Kan katanya mau makan di tempatnya langsung. Sekarang kita berangkat ya?" ucap Farzan yang diangguki oleh Nasha.
Farzan langsung mengangkat Nasha ke dalam gendongannya agar Nasha tidak terlalu banyak bergerak dan mengakibatkan dirinya kecapean. Apalagi pagi nanti acara akan di laksanakan.
...----------------...
Dalam mobil, Farzan akhirnya membawa 2 orang bodyguard yang akan mengemudi dan menemani, agar tidak banyak penjagaan juga karena sudah larut malam.
Di belakang juga di buat seperti layaknya kasur dengan menambah kasur khusus untuk mobil yang sengaja Farzan siapkan untuk kenyamanan Nasha.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang sampai melaju sedikit lebih lambat saat mendekati tempat yang menjajakan banyak kuliner malam hari.
"Depan sana berhenti dulu," ucap Farzan dari sambungan telepon yang dapat menghubungkannya dengan orang yang ada di kursi kemudi.
"Baik Tuan," jawab bodyguard yang sedang memegang kemudi.
Mobil mulai berjalan pelan dan tak lama kemudian berhenti di pinggir jalan yang ternyata cukup ramai di malam hari.
Sebelum keluar Farzan memastikan dulu apakah tempat ini aman atau tidak, dan juga semua makanannya dapat terjamin kebersihannya atau tidak.
"Mau makan di mobil aja boleh ngga?" gumam Nasha yang sedang melihat sekitaran jalan yang terdapat banyak orang, lebih tepatnya pria.
"Boleh dong. Baru aja aku mau bilang tadi. Oiya kamu mau apa jadinya?" tanya Farzan sebelum keluar.
"Mau nasi goreng sama sate padang. Tapi Kak Arza ngga boleh turun," jawab Nasha dengan cepat dan juga mengucapkan permintaannya dengan nada melas.
"Kenapa? Kan cuma ke situ aja deket," tanya Farzan mengusap sebelah pipi Nasha.
__ADS_1
"Pengen peluk, pengen nyender, pokonya Kakak ngga boleh turun," ucap Nasha melilitkan tangan di sekitar perut Nasha.
"Hehe, yaudah aku di sini. Sebentar ya," ucap Farzan terkekeh gemas dengan tangan balas memeluk Nasha.
"Tolong pesankan nasi goreng pedas 1, sate padang 2, dan juga teh hangat. Jika kalian mau kalian bisa memesan juga," ucap Farzan pada bodyguard yang masih berada dalam mobil.
"Ada lagi Tuan?" tanya mereka menanyakan kembali.
"Untuk sekarang itu saja. Jangan lupa tawari mobil di belakang, saya tahu beberapa bodyguard yang ikut menyusul juga tadi," ucap Farzan melirik kaca spion sebelah kanan.
"Baik Tuan," ucap mereka serempak sebelum keluar dan memesan apa yang tadi di minta Farzan.
Farzan juga langsung mengeluarkan meja untuk mereka makan nanti.
Para bodyguar menjaga di dekat mobil menempati satu meja kecil yang biasa di pakai untuk menikmati makanan di sana.
Tenang saja, mereka yang berjaga tidak menggunakan seragam khusus karena memang mengetahui tugas untuk menjadi bayangan atau berjaga tapi tidak terlihat karena berbaur dengan orang orang.
sekat mobil juga Farzan turunkan agar bisa melihat keadaan sekitar, tenang saja kunci mobil sudah di cabut dan di simpan di tengah tengah kursi dan bisa Farzan ambil.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi Tuan, ini baru teh hangat dan juga nasi goreng pedas. Untuk sate masih dalam proses," ucap bodyguard yang mengetuk kaca sebelah kanan.
"Ya terima kasih," ucap Farzan menerima nampan berisi 2 teh hangat juga satu piring nasi goreng.
"Kita makan ini dulu ya? Sepertinya sate padang masih harus menunggu giliran, penuh sekali di sana," ucap Farzan pada Nasha menaruh nampan pada meja yang sudah dia atur tadi.
"Iya, kayanya masih banyak pesenannya jadi harus nunggi dulu. Em.. aku mau baso tahu juga boleh ngga?" ucap Nasha saat melihat gerobak baso tahu di sebelah gerobak sate.
"Ahaha.. iya Sayang boleh. Sebentar ya," tawa Farzan langsung pecah mendengar tambahan Nasha. Farzan tahu jika Nasha diijinkan jajan keluar maka akan banyak makanan yang dia beli, kalau tidak habis maka Farzan yang akan menghabiskan nantinya.
"Ehehehe, abisnya tempatnya deketan jadi aja pengen juga," cengir Nasha malu.
"Iya Sayang ngga papa. Sekarang makan ini dulu ya," ucap Farzan memberikan satu suapan nasi dalam sendok ke depan mulut Nasha dan di terima dengan senang hati.
Mereka berdua mulai memakan nasi goreng sembari menunggu makanan lain yang masih di buat oleh penjual, karena walau sudah larut malam jalanan di sini masih ramai menjadi tujuan bersantap sekaligus bercengkrama.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
__ADS_1
bye bye