
Orang orang di rumah sakit sekarang mulai panik, Nasha sedari tadi tidak membukakan pintu dan tidak terdengar adanya kehidupan di dalam ruangan itu. Mereka takut Nasha terluka atau bahkan pingsan.
Suara ketukan pintu dengan keras membuat Nasha yang tadi tertidur tersentak kaget dan mulai gemetaran kembali. Apalagi ada suara orang yang sedikit berteriak di luar sana menambah buruk suasana pikiran Nasha.
Nasha tidak tahu mereka bicara apa karena telinganya sedikit berdengung mengingat kejadian kejadian dulu sewaktu dia di rumah. Semua memori berputar layaknya film mengerikan.
“Nona. Apa Anda baik baik saja?” suara teriakan perawat di sana menggema. Beberapa perawat itu bergantian menanyakan keadaan Nasha yang tak kunjung membuka pintu.
“Apa kalian tidak ada kunci cadangan?” tanya bodyguard yang berjaga di sana. Mereka berdua tidak mempunyai akses masuk.
“Kita sedang coba tanya pada penjaga. Kami tidak tahu mengenai hal ini,” jawab salah satu perawat.
“Semoga Nona baik baik saja,” sahut salah satu di antara mereka dan di aminkan oleh semua orang di sana.
Farzan yang baru saja tiba di lantai atas itu mengernyit bingung melihat banyaknya perawat yang berkumpul di depan ruangan istrinya. Apalagi hampir semua memasang wajah panik.
“Ada apa ini?” tanya Farzan dengan suara dingin. Menyembunyikan rasa khawatir yang sedari tadi terus bersarang.
“Em i itu Tu Tuan,” ucap satu perawat dengan gagap dan tidak bisa menjelaskan.
“Ada apa Kit?” tanya Farzan dengan nada bertambah dingin pada salah satu bodyguard.
“Begini Tuan, kami mohon maaf sebelumnya. Tadi siang ada adik dari Nona datang untuk menjenguk dengan memaksa masuk yang akhirnya Nona perbolehkan. Tapi setelah adik dari Nona itu keluar, dia bilang jika Nona sedang beristirahat dan jangan mengganggunya. Kami pikir memang waktunya Nona untuk istirahat pada jam jam tadi. Saat makan siang perawat datang untuk memberikan makan siang dan jugs pemeriksaan rutin, Nona tidak menyahut saat pintu di ketuk berulang kali. Kami pikir mungkin Nona masih beristirahat dengan mengunci pintu ini agar tidak ada yang bisa masuk. Tapi sampai sekarang yang hampir malam Nona tidak juga membuka pintu ini,” jelas Kit tenang.
“Minggir,” ucap Farzan bertambah dingin saat mendengar penjelasan Kit.
Farzan maju perlahan sambil mengotak-atik ponsel dalam genggamannya. Membuka satu aplikasi yang dia punya untuk menjadi remot cadangan yang bisa mengontrol semua peralatan canggih yang dia punya.
“Jangan ada yang masuk dulu!” peringat Farzan sebelum membuka pintu dan menghilang di baliknya.
...----------------...
Suara buka tutup pintu yang terdengar oleh Nasha, membuatnya merapatkan diri antara dinding dan juga lemari nakas. Nasha tidak bersuara sama sekali karena takut akan di seret atau hal mengerikan lainnya yang terus berputar dalam otaknya.
Farzan yang memasuki ruangan merasa aneh karena di sekeliling ranjang Nasha di tutupi oleh gorden. Biasanya gorden di tutup saat Nasha mengganti pakaian atau kerudungnya, dan itu pasti dengannya.
Perlahan Farzan menyibak gorden ke arah kiri. Dilihatnya ranjang itu kosong dengan seprai kusut dan selimut yang berantakkan, belum lagi infus yang masih terpasang di tempatnya namun selang hanya menggantung saja dengan warna memerah. Farzan yakin itu sengaja di cabut.
__ADS_1
Dengan dahi yang mengernyit bingung, Farzan mencoba melihat ke segala arah agar bisa menemukan Nasha.
“Kemungkinannya ada 2, pertama, adik Nasha dengan sengaja membawa kabur Nasha. Tapi itu tidak mungkin karena tadi Kit bilang dia keluar sendiri. Kedua, Nasha yang melakukannya. Tapi kenapa bisa?” batin Farzan sambil memandang seluruh ruangan.
Farzan berjalan menuju setiap sudut di mulai dari dekat sofa, kamar mandi sampai bawah ranjang, tapi Nasha tidak ada. Hanya tinggal satu area dekat jendela luar saja yang belum Farzan lihat.
Farzan berjalan ke arah itu dengan sedikit tergesa sampai dia melihat sepasang kaki dengan bercak darah yang mengering di sekitar lemari nakas.
“Cha?” panggil Farzan lembut mendekati Nasha.
“Engga! Engga! Jangan ke sini. Aku ngga seperti itu. Jangan hukum. Engga!” teriak Nasha dengan terus memepetkan diri pada tembok di sebelahnya.
“Stt.. hey, ini aku Arza,” bujuk Farzan yang terdiam beberapa langkah dari Nasha.
“Engga! Semua jahat! Aku ngga mau di sini!” Nasha terus berteriak dengan kedua telinga yang terus ditekan oleh tangannya.
“Cha.. tenang dulu ya? Ini aku, Arza,” ucap Farzan begitu lembut sambil berjalan perlahan.
“Semua jahat! Harusnya aku juga mati!” gumam Nasha dengan suara mengecil. Kepalanya dengan sengaja dia benturkan pada tembok di sebelahnya agar semua bayangan itu hilang.
Tanpa banyak kata, Farzan mendekati Nasha dan mendekapnya erat agar bisa memberi ketenangan. Walaupun Nasha terus memberontak dan memukulinya dengan tenaga yang melemah.
“Mati! Aku harus mati!” gumam Nasha semakin melirih hingga kesadarannya perlahan hilang.
“Jangan bicara seperti itu. Hey.. bangun Sayang? Jangan seperti ini,” ucap Farzan yang mulai panik saat Nasha kehilangan kesadarannya. Farzan berusaha menepuk nepuk pipi Nasha sebelum mengangkatnya menuju ranjang dan juga menekan tombol darurat.
“Aku harus pastikan apa yang terjadi tadi,” ucap Farzan dengan sorot mata menajam menahan segala amarahnya.
...----------------...
Selagi dokter dan juga perawat memeriksa Nasha, Farzan masuk ke ruangan sebelah yang mana itu merupakan ruangan Farzan di rumah sakit. Farzan memastikan apa yang terjadi sebelumnya melalui cctv yang ada.
Tangan Farzan mengepal begitu mengetahui apa yang di bicarakan oleh Cheryl Sausan yang tak lain adik dari Nasha. Walau ada beberapa suara berupa bisikan, tapi Farzan bisa mengetahuinya karena ada perekam suara di beberapa tempat tersembunyi dalam ruangan itu.
Farzan tahu Ucan, panggilan dari adik Nasha, berbicara seperti itu karena di pengaruhi oleh Grasya. Tapi mau bagaimanapun seharusnya Ucan tahu jika Nasha bukan seperti apa yang di bicarakan oleh sahabatnya itu.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, mungkin nanti Farzan harus menasihati Ucan agar tidak mudah di hasut. Farzan memang marah, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak karena sedikitnya semua ini bukanlah hal yang Ucan sengaja.
__ADS_1
Pemeriksaan Nasha telah selesai, salah satu dokter mengetuk ruangan Farzan untuk menjelaskan kondisi dari Nasha.
“Maaf Tuan, sepertinya kondisi mental Nona tidak baik dan membuat kesehatan fisiknya menurun dengan drastis. Saran kami, Nona membutuhkan tenaga ahli agar bisa mengendalikan diri,” ucap Dokter Reno dengan tenang.
“Ya aku tahu. Bisa panggilkan Billa untuk melakukan terapi?” tanya Farzan.
Reno merupakan orang kepercayaannya di bidang medis yang baru saja tiba dari negara F menghadiri seminar kesehatan di sana. Billa merupakan istri dari Reno yang memang berprofesi sebagai psikiater.
“Tentu. Besok saya pastikan Billa datang kemari,” ucap Reno menyetujui. Lagi pula setelah menikah, istrinya hanya boleh bekerja setengah hari saja. Biasanya Billa mendapat banyak pasien karena dia merupakan salah satu psikiater terbaik yang ada di negara C ini.
“By the way, selamat atas pernikahannya,” ucap Reno lagi setelah selesai dengan profesinya.
“Hm.. terima kasih,” cuek Farzan.
“Hah.. susah emang bicara sama Lo. Tapi kalau masalah dia Lo pasti semangat banget,” ejek Reno santai sambil menyandar pada senderan kursi.
“Karena dia hidup Gue,” ucap Farzan tak kalah santai. Farzan tidak terburu buru datang ke kamar Nasha karena tadi Nasha di berikan obat agar bisa istirahat. Lagi pula Farzan selalu memperhatikan lewat cctv.
“Lo harus inget sekarang udah ngga sendiri lagi,” ucap Reno mengingatkan. Apa Farzan gila masih memikirkan masa lalunya saat sudah ada wanita itu di hidupnya, batin Reno heran.
“Karena dia sudah jadi istri Gue,” santai Farzan sambil memperhatikan layar tabnya.
“Hah?! Jadi dia itu?” ucap Reno kaget dengan mata membulat yang diangguki Farzan.
“Ya, aku baru mengetahui ini sebelum kecelakaan itu,” ucap Farzan dengan pikiran yang menerawang.
“Sudahlah yang penting sekarang dia sudah ada di sini, jangan lagi mengingat hal yang buruk itu,” nasihat Reno, saat kecelakaan memang Brady menghubunginya, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan seminar yang sudah di undur beberapa kali itu.
“Ya Lo benar. Yasudah Gue harus temani lagi Acha,” ucap Farzan sambil meninggalkan ruangan. Reno hanya menggelengkan kepala dan mengikuti Farzan keluar ruangan.
...----------------...
happy reading, hope you enjoy..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1