Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Pergi lagi


__ADS_3

Drt.. drt.. drt..


Getaran dari ponsel Farzan yang di simpan dalam saku terasa membuat Farzan sedikit menjauh saat mengetahui Brady yang menghubunginya.


Nasha masih asik dengan ice creamnya dan tidak memedulikan ke mana Farzan pergi dan siapa yang menghubunginya.


“Ada apa?” tanya Farzan to the point.


“Sepertinya Anda harus menuju Negara D hari ini Tuan. Beberapa investor komplain karena produk tidak sesuai dan ada penurunan harga saham perusahaan di sana karena kejadian ini. Untuk itu mereka minta rapat dadakan dengan Anda,” jelas Brady formal karena masih jam kerja.


“Tidak bisa di undur lusa?” tanya Farzan memastikan sambil memperhatikan Nasha.


“Tidak bisa Tuan. Jika tidak mereka menuntut ganti rugi 3 kali lipat pada Anda,” balas Brady dengan sedikit khawatir.


“Baiklah saya berangkat nanti malam. Tolong siapkan penerbangannya,” putus Farzan menutup panggilannya setelah mendengar Brady mengatakan iya.


Farzan bingung karena tadinya dia ingin menyelesaikan masalah 'Acha' dan juga menemani Nasha yang sedang mengandung. Tapi dia ingat tanggung jawabnya sebagai pemegang kekuasaan di beberapa perusahaan miliknya.


Bukan masalah berapa uang yang harus dia bayar untuk ganti rugi, tapi lebih pada tanggung jawab setiap individu yang bekerja dengannya. Prinsip Farzan di perusahaan, sekali hilang kepercayaan maka tidak akan ada lagi maaf bagi siapa pun itu.


“Arfa,” panggil Farzan sambil mengusap kelapa Nasha, yang di balas deheman saja oleh Nasha yang sedang menghabiskan ice creamnya.


“Aku harus pergi lagi nanti malam,” pamit Farzan yang sekarang di tatap intens oleh Nasha.


“Ngga papa kan aku tinggal dulu sebentar,” ucap Farzan lagi ketika melihat Nasha masih diam.


“Em.. iya ngga papa,” ucap Nasha pelan sambil melanjutkan makan ice cream. Farzan hanya mengangguk dan berjalan menuju lantai atas untuk berkemas.


Nasha yang melihat itu hanya berkaca kaca dan menundukkan kepala. Padahal harusnya dia biasa saja, namun lagi lagi hormon mempengaruhi emosinya yang bisa berubah dengan cepat.


“Udah ih jangan nangis, nanti di sangka kamu cengeng lagi,” gumam Nasha pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Nasha tidak lanjut menghabiskan ice creamnya dan menaruhnya kembali ke kulkas sebelum berjalan menuju kamarnya. Nasha harus membantu mengemasi barang Farzan kan.


Melihat Farzan tidak ada di area kamar, Nasha berjalan menuju walk in closet karena mungkin Farzan ada di sana. Benar saja Farzan sedang mengeluarkan beberapa kemeja dan juga jas untuk di masukkan dalam koper.


“Sini biar aku aja,” ucap Nasha mengambil alih baju baju di tangan Farzan.


“Kamu istirahat aja,” tolak Farzan agar Nasha duduk diam.


“Ish.. masa ngga boleh bantuin,” rajuk Nasha.


“Hah.. yaudah kamu masukin aja ke dalem koper, biar aku yang ambil dari lemari,” ucap Farzan mengiyakan agar Nasha tidak marah.


...----------------...


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, dan Farzan akan pergi pada pukul 21.00 dengan menggunakan helikopter agar lebih cepat sampai bandara.


Nasha sedari tadi murung walau dia menutupinya tapi tetap saja orang orang akan sadar dengan raut wajahnya yang di tekuk.


“Kenapa mukanya di tekuk gitu?” tanya Farzan pada akhirnya agar tidak jadi beban pikiran saat pergi nanti.


“Engga, orang aku biasa aja,” jawab Nasha sedikit sewot.


“Hm iya iya,” ucap Farzan mengalah.


“Aku usahain kurang dari satu minggu udah sampe sini lagi,” ucap Farzan agar Nasha tidak menekuk mukanya terus menerus.


“Mau satu bulan juga ngga papa,” ucap Nasha sedikit ketus.


“Bener nih satu bulan ngga papa,” goda Farzan yang di pelototi Nasha.


“Terserah,” ucap Nasha mengeluarkan kata kata keramat kaum wanita.

__ADS_1


“Engga dong, nanti pasti aku usahain lebih cepet malah,” ucap Farzan yang menyudahi menggoda Nasha agar tidak sedih lagi.


“Hm iya,” gumam Nasha malas.


Helikopter sudah ada di atas helipad yang ada di rooftop mansion. Nasha mengikuti Farzan sampai menaiki lift sampai lantai 5 yang jadi tempat santai terbuka di atas dengan kolam renang juga tempat barbeque privat yang biasa di gunakan keluarga inti saja.


Beda lagi jika dengan keluarga besar yang biasanya di lakukan di dalam atau di halaman belakang yang mempunyai kolam renang serta rerumputan panjang yang luas ditambah beberapa gazebo dan juga ayunan kayu di sekelilingnya.


Dari lantai 5 mereka harus menaiki beberapa anak tangga lagi agar bisa sampai di helipad.


“Aku berangkat ya,” pamit Farzan sambil menghadap Nasha.


“Iya,” singkat Nasha memilih untuk banyak diam.


Farzan hanya menghela nafas dan berjalan memasuki helikopter tanpa berbalik melihat Nasha, takut jika tidak bisa pergi.


Nasha hanya memperhatikan dan tidak berharap banyak. Farzan juga harus bertanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan. Walau semua terasa sangat berat.


“Nanti aku akan menghubungimu,” ucap Farzan sebelum benar benar naik yang di angguki Nasha walau dalam hati Nasha tidak percaya, kemarin saja Farzan lupa kan?.


Begitu helikopter dinyalakan dan terbang, Nasha berbalik lalu menuruni tangga untuk berdiam di ayunan yang terbuat dari rotan di lantai 5. Tidak peduli jika malam ini langit sedikit mendung dengan angin yang terasa menusuk kulit.


Saat ke atas tadi mereka hanya berdua saja, jadi tidak ada yang tahu Nasha belum kembali ke kamarnya.


Nasha hanya memandangi langit tanpa bintang dengan kaki yang di lipat memangku bantal sambil bersandar. Angin yang menerpa wajahnya membuat tanpa sadar matanya mulai tertutup dan tidak berapa lama dia terlelap dalam naungan mimpi.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..

__ADS_1


bye bye


__ADS_2