Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Mual dan sedikit keluhan


__ADS_3

“Belum ngantuk Kak,” rengek Nasha yang terus di paksa tidur, tapi apa daya matanya belum mau terpejam walau sudah di coba berulang kali, tetap saja dia tidak bisa terlelap.


“Kenapa, hm?” tanya Farzan yang sebenarnya sudah hampir terlelap dengan Nasha dalam dekapannya.


“Hiks ngga bisa tidur,” isak Nasha pelan. Entah kenapa malam ini dia begitu sulit terlelap padahal biasanya dia akan tidur dengan mudah.


“Eh kenapa nangis Sayang,” Farzan yang tadinya akan memejamkan kembali matanya sontak saja langsung terjaga.


“Engga tahu hiks,” Nasha masih terisak dengan mendekap Farzan erat.


“Sttt.. kamu mau apa hm?” ucap Farzan sambil mengelusi punggung Nasha. Sedikit mencoba melihat wajah Nasha namun dekapan Nasha cukup erat dan sulit di lepaskan jadi yang bisa dia lakukan hanya mengusap punggungnya.


Nasha hanya menggeleng masih dengan isaknya yang mulai mereda, tapi dekapannya belum merenggang masih sama eratnya.


Farzan menghela nafas pelan. Dengan sabar menunggu Nasha tenang dan mau bicara apa yang sedang dia rasakan saat ini.


Sekilas Farzan melihat jam yang ada di atas nakas, di sana tertera sekarang sudah memasuki pukul setengah satu malam.


Tangan Farzan sudah berpindah mengusap usap perut Nasha. Biasanya jika sulit tidur berarti Nasha sedang merasa tidak nyaman dengan perutnya.


“Kamu mau apa nak? Kasian Mami Sayang,” batin Farzan mengobrol dengan calon anaknya.


10 menit setelahnya hanya ada sisa sesenggukan yang terdengar dengan nafas yang teratur. Farzan yang merasakan Nasha sudah tidak terlalu erat mendekapnya, menggeser dirinya sepelan mungkin agar bisa melihat wajah Nasha.


“Hehe kamu kenapa gemesin banget sih hm? Tadi bilang susah tidur, sekarang beres nangis langsung pules tidurnya. Atau jangan jangan anak Papi yang pengen di usap sebelum tidur jadi buat Maminya bingung?” gumam Farzan terkekeh kecil sambil mengusap wajah Nasha menghapus sisa air mata yang ada di pipi, dan beralih mengusap kembali perutnya dengan tatapan yang melihat lurus pada perut Nasha yang mulai sedikit berisi.


“Mami Papi, kok lucu ya haha. Tapi nanti tanya dulu deh sama dia maunya kita di panggil apa,” gumam Farzan entah pada siapa.


Drama sulit tidur itu berakhir dengan Nasha yang kelelahan akibat menangis dan karena itu Farzan baru bisa kembali terlelap dengan mendekap erat Nasha juga tangan yang berdiam di atas perut Nasha.


...----------------...


Seperti pagi pagi sebelumnya pagi ini Nasha juga sudah berdiam dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Kali ini dia hanya sendiri karena tadi saat beranjak Farzan tidak terbangun, saat masuk kamar mandi juga dia berusaha sepelan mungkin membuka dan menutup pintu itu. Alasannya agar Farzan tidak selalu terganggu.


“Hiks cape.. tapi ngga boleh ngeluh terus hiks tapi cape hiks hiks,” isak Nasha pelan dengan kepala menunduk di depan closet duduk.


“Stt harus diem ih. Nanti kalau Kak Arza ke bangun gimana? Kasian tidurnya ke ganggu terus sama kamu,” monolog Nasha pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Nasha memang terkadang berpikir seperti itu, dia yang sering mengganggu Farzan karena rasa mual atau ngidam tengah malam yang tiba tiba datang. Dan Nasha merasa dia selalu menyulitkan Farzan.


Padahal sebenarnya dia yang paling sulit, dan Farzan pun akan merasa bersalah karena tidak ada saat Nasha membutuhkannya.


Hoek.. hoek..


Uhuk.. uhuk..


Nasha terbatuk karena tenggorokannya serasa kering padahal perutnya masih seperti di aduk aduk.


“Minum dulu air angetnya,” sebuah suara dari belakangnya dan juga segelas air hangat di pinggirnya membuat Nasha seketika menoleh dan mendapati Farzan sudah berjongkok di belakangnya. Tangannya pun tidak tinggal diam dengan mengelus pelan punggung serta leher belakang Nasha.


Nasha mengambil gelas dan meneguk air itu seperempat gelas dan memberikannya lagi pada Farzan yang di terima dan di simpan di lantai bawah.


Mata Nasha terasa kembali memanas dan mulai mengeluarkan kembali cairan beningnya dengan isakan.


“Cape hiks perutnya ngga enak hiks hiks,” pecahlah tangisnya dengan keluhnya tanpa sadar.


“Stt. Mana yang ngga enaknya, hm?” Farzan langsung membawa Nasha ke dalam dekapannya dan mendudukkan Nasha di pangkuannya. Nasha hanya diam menggeleng dengan isakan yang sedikit mereda.


“Masih mual?” tanya Farzan lagi.


“Eng ga,” jawab Nasha terbata.


Mereka melaksanakan sholat dengan Nasha yang masih dalam posisi duduk di atas karpet bulu yang sedikit tebal. Masih ingatkan Nasha harus bedrest selama satu minggu.


Selesai membereskan alat sholat, tentu saja oleh Farzan. Mereka kembali duduk di atas kasur dengan Nasha masih mode manja. Padahal tadi dia tidak ingin merepotkan terus Farzan, tapi saat ada di hadapannya, Nasha seolah enggan melepas Farzan.


“Kamu ke kantor ya?” tanya Nasha pelan seakan ingat jika Farzan pasti harus ke perusahaan.


“Aku siapin dulu air anget buat mandi sama baju yang mau kamu pake ya,” belum Farzan jawab tapi Nasha kembali berbicara dengan sedikit lesu dan akan beranjak berdiri sebelum Farzan tahan agar tetap diam dalam dekapannya.


“Kenapa sih hm? Kamu ingetkan masih harus bedrest?” tanya Farzan hati hati dengan nada suara lembut mengingatkan Nasha yang sepertinya melupakan hal itu.


“Eh iya,” Nasha membenarkan dengan suara amat pelan dan tidak di dengar Farzan .


“Jangan dulu banyak gerak ya Sayang. Tadi kamu ke kamar mandi pasti sedikit lari kan,” ucap Farzan yang Nasha benarkan dalam hati dengan ringisan kecilnya.


“Engga lari kok, sedikit aja tadi,” ucap Nasha berbohong dengan membenarkan di dalam hati di akhir kalimat.

__ADS_1


“Jangan bohong Sayang. Aku tadi denger suara langkah kamu yang buru buru sedikit berlari itu,” ucap Farzan seakan mengetahui padahal dia memang tahu karena tadi ikut terbangun tapi masih menutup matanya.


Farzan bahkan mendengar gumaman Nasha juga isakkannya sebelum dia datang membawa air minum hangat. Hanya saja Farzan diam dan tidak mau menanggapi sebelum Nasha sendiri yang mau bicara padanya.


“Hehe maaf, tadi engga tahan soalnya. Mau bangunin kamu juga kasian kamu kemarin aku bikin kamu bangun terus aku juga sering bangunin tengah malem jadi tadi langsung ke kamar mandi sendiri aja,” tanpa di minta Nasha menceritakan isi hatinya yang tadi dia pendam, padahal niatnya tidak ingin di ungkapkan tapi entah kenapa mulutnya sangat lancar membicarakan itu.


Nah kan benar kata Farzan, Nasha akan bicara padanya dengan sendirinya tanpa harus dia minta. Ini menjadi salah satu kebiasaan Nasha sedari dulu, jika sedang membahas sesuatu dan dia merasa terpojok entah salah atau berbohong terkadang mulutnya selalu berbicara jujur apa yang sedang dirasakannya. Tapi itu hanya berlaku pada Farzan saja.


“Tapi beneran kok tadi engga lari,” lanjut Nasha lagi dengan wajah melasnya.


“Haha, iya iya aku percaya. Tapi kamu haru inget, aku ngga pernah merasa terbebani karena hal itu. Mau kamu bangunin aku atau bahkan minta tolong hal lain, aku pasti lakuin selagi aku bisa. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu ya?” ucap Farzan meminta Nasha untuk tidak lagi merasa tidak enak padanya.


“Hu um iya, maaf ya,” angguk Nasha pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat.


“Sekarang kamu mau makan apa?” tanya Farzan mengalihkan pembicaraan.


“Em.. apa ya?” bingung Nasha sambil melihat ke arah atas seperti sedang berpikir dan Farzan menunggu jawabannya dengan sabar.


“Kalau makan mie boleh?” ucap Nasha sedikit antusias.


“No. Bulan ini kamu ngga bisa makan mie lagi. Bulan depan baru boleh,” geleng Farzan pelan menjawab pertanyaan Nasha.


“Yahh,” lesu Nasha karena sepertinya memang sulit mengubah hal itu.


“Maaf ya, tapi itu demi kebaikan kamu sendiri. Aku buat zupa soup aja gimana?” tawar Farzan agar Nasha melupakan kekecewaannya.


“Boleh?” setidaknya itu berhasil karena Nasha kembali antusias saat menjawab.


“Hehe, boleh Sayang. Aku buat ke dapur sebentar ya, kamu liat dari sini aja,” ucap Farzan yang akan beranjak menuju ujung ruangan yang di pakai menjadi dapur dan masih bisa terlihat dari atas kasur karena hanya di batasi sekat geser dan bisa di buat memanjang dan memendek tergantung keinginan.


“Yaudah, tapi sekatnya buka,” ucap Nasha dengan nada sedikit manja.


“Iya Sayang. Tunggu sebentar ya,” ucap Farzan mengecup pelan kening Nasha sebelum beranjak membuatkan makanan yang akan mereka makan.


Sepertinya Farzan melupakan jika di mansion masih ada para sahabatnya yang menginap semalam.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye..


__ADS_2