Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Mual Di Pagi Hari


__ADS_3

Dua insan yang baru saja tertidur saat sudah pertengahan antara malam dan pagi itu masih tertidur walaupun adzan sudah berkumandang setengah jam yang lalu.


Sampai Nasha yang sebelumnya masih nyaman tertidur merasakan perutnya seperti di aduk aduk. Dengan tergesa Nasha melepaskan lilitan tangan Farzan dan sedikit berlari menuju kamar mandi.


Hoek.. hoek..


Farzan yang merasa Nasha melepaskan lilitan tangannya ikut bangun dan berdiri di belakang Nasha yang sedang terduduk di depan closet duduk.


“Ud dah, ka kamu keluar aja,” ucap Nasha terbata bata karena tubuhnya lemas. Beberapa hari belakangan dia sering seperti ini mual di pagi hari berakhir diam di kamar mandi selama kurang lebih satu jam.


“Ngga papa, masih mual?” tanya Farzan sambil mengikat rambut Nasha dengan ikat rambut yang tergantung di tembok dekat pintu, sepertinya selesai keramas kemarin Nasha lupa membawa ikat rambutnya.


Nasha menggeleng pelan sebagai jawaban. Farzan membantu membasuh mulut Nasha dan membantu Nasha berkumur. Baru setelahnya Farzan mengangkat tubuh Nasha dalam gendongannya dan mendudukkannya di pinggir ranjang.


“Ini minum dulu,” ucap Farzan yang membawa gelas berisi air hangat. Tadi Farzan mengambilnya di dapur.


“Udah,” ucap Nasha yang selesai menghabiskan air dalam gelas itu.


“Kita pindah ke kamar ya? Sekalian bersiap buat ke dokter,” ajak Farzan lembut sambil mengusap pipi Nasha. Nasha yang di perlakukan seperti itu memejamkan matanya, nyaman.


“Pake kerudung dulu,” ucap Farzan ketika anggukan kepala Nasha sebagai jawaban tadi. Farzan paham jika Nasha masih merasa lemas.


“Makasih,” lirih Nasha dengan suara kecil yang masih bisa Farzan dengar.


“Iya. Barang barang di sini nanti biar di bereskan oleh yang lain aja,” ucap Farzan mengecup pelipis Nasha sebentar, tadi Farzan juga lihat Nasha seperti melirik lemari dan juga kantung belanjaan yang Farzan bawa, jadi dia berkata seperti itu.


Farzan membawa Nasha ke dalam gendongan koalanya menuju mansion agar bisa sholat berjamaah di kamar nanti. Sebelum meninggalkan paviliun juga Farzan berpesan pada beberapa orang yang masih berkumpul di area dapur untuk membawa barang barang yang ada di kamar menuju kamar utama.


Baru setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dengan Nasha yang mengeratkan pelukan karena udara hari ini sangat dingin karena baru saja di guyur hujan.


“Dingin ya?” tanya Farzan menyadari badan Nasha semakin merapat dan juga sedikit bergetar.


“Sedikit,” gumam Nasha menjawab dengan mata yang terpejam. Nasha juga menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Farzan agar tidak dilihat orang lain, malu dia tuh.

__ADS_1


“Sebentar lagi kita sampe mansion,” ucap Farzan sambil sebelah tangannya mengusap usap punggung Nasha memberi kehangatan, sebelah tangan lagi menahan tubuh Nasha agar tidak jatuh.


Nasha juga hanya mengangguk saja, karena tidak terasa dia malah mengantuk dan mulai tertidur kembali saat Farzan baru saja sampai di dalam mansion.


...----------------...


Sesampainya di kamar Farzan yang tadinya berniat langsung menuju kamar mandi, tidak jadi karena baru menyadari Nasha tertidur karena nafas Nasha teratur dan juga genggaman tangan Nasha pada lehernya melemah.


“Gemes liat kamu kaya gini. Sepertinya kamu akan lebih menggemaskan nanti,” gumam Farzan sambil menidurkan Nasha di atas ranjang.


Setelahnya Farzan menarik ujung selimut sampai bagian dada Nasha agar Nasha lebih nyaman lagi. Mungkin sekitar 30 menit lagi Nasha akan di bangunkan untuk sholat dan bersiap.


Farzan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, untung saja badannya sudah lebih baik sekarang, sepertinya obat paling ampuh adalah di dekat Nasha. Terbukti dia bisa langsung sehat kembali setelah sampai kemarin, padahal tadi malam Farzan masih merasa sedikit pusing.


Sekitar 20 menit Farzan sudah selesai membersihkan diri dan keluar menggunakan kaos hitam dan juga celana bahan karena tadi sebelum masuk kamar mandi Farzan lebih dulu mengambil bajunya.


Tinggal memakai baju koko untuk sholat nanti, tapi lebih dulu Farzan menghampiri Nasha yang terlihat tidak nyaman dalam tidurnya.


“Sayang, bangun dulu yuk,” ucap Farzan sambil mengelus sebelah pipi Nasha.


“Hey.. bangun dulu sebentar, setelah ini kamu boleh tidur lagi sebentar. Nanti kita pergi ke rumah sakit siang saja,” melihat Nasha yang masih nyaman tertidur membuat Farzan tidak tega, tapi ibadah tidak bisa mereka tinggalkan.


Nasha yang sedikit di guncang badannya mulai terusik dan mengerjapkan kedua matanya, tangannya juga baru akan mengucek mata sebelum di hentikan Farzan.


“Jangan di kucek nanti matanya perih,” ucap Farzan lembut dengan menggantikan Nasha mengusap pelan kedua mata Nasha.


“Bangun dulu ya?” Farzan kembali berkata sambil membantu Nasha untuk bersandar di kepala ranjang.


“Jam berapa?” tanya Nasha dengan mata masih terpejam. Sepertinya setelah beberapa hari dia susah tidur, hari ini dia begitu nyaman dalam tidurnya. Bahkan sangat nyenyak.


“Jam setengah 6, kita juga belum subuh kan. Siap siap dulu ya? Ambil air wudhu dulu aja ya, mandinya nanti,” ucap Farzan yang diangguki Nasha.


Belum sembat beranjak dari duduknya, Nasha sudah diangkat lebih dulu oleh Farzan dan di dudukkan di atas wastafel yang sebelumnya di taruh handuk kecil agar Nasha tidak merasa dingin.

__ADS_1


Farzan membantu Nasha membasuh muka dan juga menyikat gigi sebelum beranjak menuju keran air untuk mulai berwudhu. Nasha juga tidak memprotes perlakuan Farzan karena entah mengapa dia merasa sangat nyaman.


...----------------...


Mereka berdua mulai melaksanakan sholat berjamaah dan juga membaca beberapa lembar ayat suci Al-Quran sebelum membereskan kembali peralatan sholat, hanya mukena dan mengembalikan Al-Quran pada tempatnya saja.


“Nanti jadi ke rumah sakit? Ngga usah aja gimana? Kan ngga ada yang sakit juga,” ucap Nasha saat mereka sedang duduk di luar balkon dengan selimut membungkus tubuh keduanya sambil menunggu matahari terbit.


“Aku mau pastiin keadaan kamu aja. Tadi pagi aja kamu mual mual. Aku takut kamu kenapa napa,” alibi Farzan, karena aslinya dia ingin mengetahui apa Nasha benar sedang mengandung atau tidak. Kalaupun tidak juga Farzan tidak kecewa, mungkin setelah itu dia bisa memperkenalkan diri dan membuat Nasha kembali nyaman saat bersamanya seperti dulu.


“Tapi kan sayang uangnya kalau di pake berobat. Mending di pake kebutuhan lain,” ucap Nasha dengan kepala yang mendongkak. Nasha memang sedang menaruh kepalanya di atas dada Farzan.


“Siapa bilang? Justru kalau ngga berobat aku makin khawatir karena ngga tahu harus ngapain kalau kamu lagi ngerasa mual,” ucap Farzan dengan menatap kedua mata Nasha.


“Yaudah deh, maaf aku bantah tadi,” ucap Nasha sambil menundukkan kepala dan memejamkan matanya.


“Ngga papa, kamu juga bebas berpendapat saat bersamaku. Jangan takutkan apa pun mulai sekarang. Cukup takut pada sang pencipta,” ucap Farzan mengusap kepala Nasha.


“Orang tua bukan untuk di takuti tapi di hormati, biarkan jika memang mereka tidak sejalan dengan kita, yang penting kita sudah menerima pendapat mereka untuk di jadikan pertimbangan. Jika orang tua salah juga ingatkan saja, mereka juga manusia biasa tempat dimana dosa dan salah. Tapi tetap harus berkata sopan, kalaupun mereka tidak mendengarkan biarkan saja yang penting sudah diberitahu,” lanjut Farzan mengutarakan isi pikirannya. Farzan teringat beberapa tulisan Nasha tentang orang tuanya yang selalu menuntut dan juga sering bersikap kasar baik ucapan atau perbuatan.


Sewaktu kecil saja Nasha sudah sering terkena amarah mereka, apalagi saat sudah besar. Walau sesudah besar lebih pada perkataan yang menyakiti hati, tapi itu akan terasa lebih menyakitkan, karena tidak ada dukungan dari orang tua.


Nasha yang mendengar itu tiba tiba saja menangis. Mengingat dia sering mendapat pukulan saat kecil dan semakin besar usianya dia lebih sering mendapat perkataan buruk dari mereka. Di sekolah juga dia di bullying entah karena apa, bahkan dari kecil. Hanya Arza saja yang tidak membullynya dan menjadi tamengnya.


Farzan membiarkan Nasha menangis agar perasaannya membaik, dengan tangan yang terus mengusap kepala sampai punggungnya. Farzan juga tanpa sadar mengingat kejadian sewaktu mereka kecil dulu.


Tepat saat matahari mulai terbit, Nasha kembali tertidur karena kelelahan menangis, Farzan yang terkena silaunya mentari pagi mulai kembali dari lamunannya dan baru menyadari jika Nasha sudah kembali tertidur.


Mungkin nanti sekitar pukul 9 pagi baru Farzan akan membangunkan Nasha kembali agar bisa bersiap menuju rumah sakit. Sebelumnya dia juga akan membuat janji agar nanti bisa langsung menemui dokter.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2