Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Dijenguk adik?


__ADS_3

Sarapan telah selesai, Farzan juga beberapa menit yang lalu baru saja pergi menuju perusahaan walau dengan langkah yang sangat terlihat sekali jika dia malas. Tapi setelah pintu di tutup barulah langkahnya jadi tergesa agar semua masalah bisa cepat di selesaikan.


Nasha yang di tinggal juga tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi kakinya belum bisa digunakan dengan baik.


Karena efek dari obat membuat rasa kantuk datang dan Nasha mulai memejamkan mata sebelum pintu di buka secara kasar dan juga keributan yang membuat kantuknya menghilang.


Di sana ada Ucan yang datang dengan wajah kesal, tapi berubah setelah melihat Nasha. Raut wajahnya menjadi manis seakan tidak terjadi apa pun.


“Kak masa aku ngga boleh masuk sih?” ucap Ucan dengan nada manja seperti tidak pernah terjadi masalah antara keduanya.


“Maaf Nona, orang ini memaksa masuk tanpa ijin,” ucap penjaga meminta maaf.


Kenapa Ucan bisa masuk ke lantai atas padahal sudah pasti penjagaan dari bawah saja sudah ketat. Di tambah lift yang berbeda dengan pengunjung yang ingin berobat, bisa di pastikan Ucan tidak bisa sampai.


Namun entah keberuntungan atau apa, saat itu pas sekali ada beberapa orang dokter dan suster yang berganti jaga dengan yang kemarin malam sekitar pukul 09.30.


Karena itu Ucan menyelinap masuk dengan baju berwarna putih yang hampir mirip dengan seragam mereka.


“Tidak apa, dia adikku,” lerai Nasha dengan senyumannya.


Walau ragu meninggalkan Nasha berdua, tapi kedua bodyguard itu tetap mengiyakan dan keluar ruangan dengan menutup pintunya.


“Apa kabar Kak?” ucap Ucan sinis. Berbeda sekali dengan tadi.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Nasha dengan mengernyitkan dahinya. Berbeda sekali dengan tadi, tapi tak apa mungkin dia tidak sadar, batin Nasha.


“Salah Kakak sendiri sih. Kakak udah rebut kebahagiaan sahabatku. Jadi ini karma untuk Kakak,” lanjut Ucan sambil duduk di sofa dengan mata yang menyiratkan kebencian.


“Apa maksud kamu?” bukannya menghilang, dahi Nasha semakin mengernyit bingung dengan kata kata adiknya itu.


Ucan berjalan menuju ranjang Kakaknya dengan amarah yang terlihat jelas, lalu duduk di sisi Nasha yang sudah mulai gemetar ketakutan.


“Kalau Kakak tidak menikah dengan orang yang sudah lama sahabatku tunggu, dia pasti sekarang sudah bahagia dan tidak lagi sendirian,” bisiknya geram.

__ADS_1


“Seharusnya dulu aku langsung saja menolak dan membuat kalian tidak jadi menikah dengan menyembunyikan keberadaan Kakak,” tambah Ucan menerawang jauh.


“Oh atau jangan jangan bener kalau Kakak menikah karena sudah hamil? Apa jangan jangan anak itu bukan anak Kak Farzan lagi!?” ucap Ucan dengan menutup mulut pura pura kaget.


Nasha menggelengkan kepalanya ribut ingin bicara melawan, tapi entah kenapa malah air matanya yang keluar. Semakin Ucan berbicara semakin banyak bayangan kelam yang datang ditambah kejadian kecelakaan, membuat Nasha menutup kedua telinga, tapi tidak bisa karena di tahan kedua tangannya oleh Ucan.


“Anak siapa itu Kak? Mungkin akibat kebohongan Kakak ini sekarang anak itu sudah mati!” sarkas Ucan senang melihat kondisi Kakaknya yang mungkin memburuk.


“Seharusnya Kakak juga ikutan mati agar tidak jadi beban,” bisik Ucan dengan nada sinisnya sebelum pergi meninggalkan Nasha yang menangis tambah histeris dengan tangan menutupi telinganya.


Sebelum pergi Ucan juga menutup gorden yang ada di sekitar ranjang dan berpesan pada bodyguard agar tidak ada yang mengganggu Nasha karena dia baru saja tertidur.


Walau sedikit heran mereka mengangguk saja karena biasanya selesai meminum obat Nasha akan tertidur dan Farzan juga selalu berpesan agar tidak ada yang mengganggu istirahat Nasha.


...----------------...


Ucan berjalan dengan seringai liciknya saat sendiri dan mengubah ekspresinya dengan senyum manis ketika ada orang lain, berjalan meninggalkan rumah sakit dengan memasuki mobil yang sudah terparkir di depan gedung.


“Misi selesai. Aku pikir dia mungkin akan gila atau lebih parahnya bunuh diri, hahaha,” tawa jahat Ucan saat berbicara dengan orang di balik kursi depan.


Usaha mereka tidak semudah itu, satu minggu di hutan tanpa arah tujuan membuat mereka hampir mati frustrasi. Tapi entah keberuntungan dari mana, mereka bisa menemukan gerbang tinggi yang memisahkan area itu. Apalagi saat itu sedang ada pengiriman hasil panen dari para pekerja di desa yang membuat mereka bisa meninggalkan tempat itu.


Kekacauan di perusahaan Farzan juga sengaja mereka buat agar Farzan pergi dari sisi Nasha dan mereka bisa menjalankan rencananya.


Tidak tahu saja kesempatan tidak akan datang tiga kali. Mungkin kemarin mereka masih selamat karena Farzan juga belum memberikan hukuman, tapi saat mereka tertangkap lagi mungkin hukumannya lebih parah dari yang mereka duga.


“Tidak. Untuk apa? Dia saja sudah berani menyakiti sahabat baikku ini,” ucap Ucan santai tanpa rasa bersalah.


“Hahaha kamu memang sahabat baikku,” puji Grasya dengan mengarahkan kedua jempolnya.


Mereka sedang perjalanan menuju ke luar kota agar tidak bisa di jangkau Farzan nantinya. Ucan yang mulai mengantuk menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata, tapi tidak tertidur.


“Dia tidur?” tanya Hadi yang tidak mendengar suara Ucan lagi.

__ADS_1


“Ya dia tidur,” ucap Grasya sesudah melihat ke belakang.


Mereka berbicara dengan sedikit berbisik walau Ucan masih mendengarnya tapi berusaha terlihat memang dia sudah tertidur.


“Dia memang bodoh, haha. Padahal Ziana adalah Kakak kandungnya sendiri, tapi dia lebih percaya pada orang lain,” ejek Grasya dengan ekspresi meremehkan.


“Sutt jangan bicara itu sekarang. Bisa gawat jika dia terbangun,” ucap Hadi hati hati sambil melihat spion tengah.


“Tenang saja, dia jika tertidur tidak akan mendengar persis seperti kerbau,” Grasya yang memang tahu kelakuan sahabat ralat orang yang dia manfaatkan sekarang itu dengan santai terus berbicara.


Bahkan tanpa sadar Grasya membicarakan semua rencananya dengan Hadi sampai membuat Ucan menjadi marah dan juga kecewa. Ternyata pilihannya salah.


“Jadi ini kamu yang sebenarnya? Dulu Kakak pernah menasihatiku sekali tapi aku mengabaikannya. Sekarang aku mendengar langsung dari mulutnya sendiri. Selama ini dia menghasutku agar membenci Kakak dan tidak menyukai pernikahannya. Harusnya aku sadar dari dulu, penyesalan memang selalu datang terlambat,” batin Ucan geram.


“Tunggu sepertinya mobil di belakang terus mengikuti kita sejak tadi,” ucap Hadi yang menyadari ada beberapa mobil yang sama selalu mengikuti arah dari mobilnya.


“Perasaanmu saja kali, mana mungkin ada yang menyadari. Kita kan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang,” ucap Grasya yakin jika mereka aman.


“Benar juga. Kita sudah mempersiapkan semuanya, termasuk membuang dia nanti,” ucap Hadi membenarkan dengan melirik Ucan di akhir kalimatnya.


“Sudah lebih baik kamu menyetir dengan benar. Kita harus cepat sampai sana agar bisa melanjutkan rencana,” ucap Grasya yang ingin cepat cepat bebas.


Hadi hanya mengangguk saja dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan lumayan tinggi agar bisa sampai tempat singgah pertama dengan cepat.


Sampai di sebuah gubuk pinggir jalan yang sepi, mereka memberhentikan mobil. Grasya turun dengan membawa sapu tangan di belakang tubuhnya. Membuka pintu belakang dan membekap hidung Ucan agar kehilangan kesadarannya.


Setelah Ucan tidak lagi memberontak dia meminta Hadi menyimpan Ucan di dalam gubuk dengan alas rotan itu dan melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tidak di kejar mobil yang ternyata memang mengikutinya.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..

__ADS_1


bye bye


__ADS_2