
“Silahkan Princess,” ucap Farzan layaknya seorang pelayan yang melayani keluarga kerajaan, dengan menyuguhkan makanan hasil buatannya 30 menit yang lalu.
Nasha yang melihat makanan yang dia inginkan sudah tersaji di hadapannya, tidak bisa berpaling dari makanan itu dengan mata yang berbinar tak sabar mencicipinya.
“Hey, jangan bengong gitu haha,” Farzan yang melihat Nasha seperti itu tertawa saja karena wajah Nasha saat mendapatkan apa yang dia inginkan begitu menggemaskan menurutnya.
“Ehehe, makasihh Kak Arza,” cengir Nasha dengan wajah menggemaskan.
“Iya, habisin ya makanannya,” ucap Farzan yang duduk di sebelah kanan Nasha.
Tanpa banyak kata Farzan mengambil sendok dan juga piring Nasha untuk menyuapinya. Nasha yang melihat hanya diam sambil terus tersenyum bahagia.
“Aaaa kok enak banget sih,” pekik Nasha tertahan karena menurutnya makanan yang masuk dalam mulutnya begitu enak dengan perpaduan rasa melebihi ekspektasi dalam bayangannya.
“Kalau enak harus habis semua ya?” ucap Farzan sambil tersenyum ikut bahagia. Membahagiakanmu ternyata semudah ini, batin Farzan.
“Huum aku abisin semua. Kakak boleh minta tapi dikit aja ya?” ucap Nasha dengan mulut yang baru selesai mengunyah makanan.
Farzan yang mendengar itu hanya tertawa saja sambil sesekali mengusap saus yang ada di sekitar mulut Nasha. Entah karena terlalu enak atau bagaimana tapi cara mengunyah Nasha seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu jatah makanan kesukaannya.
“Kenapa ini kok kedengerannya seneng banget,” Zetta yang akan mengisi air minum dalam gelas yang selalu tersedia dalam kamar sedikit kaget karena mendengar tepuk tangan kecil dan juga kekehan gemas yang lainnya.
Biasanya dalam setiap kamar tersedia dispenser agar tidak perlu keluar jika haus atau membuat minuman, tapi ternyata isi galon di kamarnya sudah habis dan belum di ganti. Jadilah dia hharus ke luar untuk mengambil minum.
“Loh Momy kok udah bangun,” kaget Nasha yang melihat Zetta datang dan mengisi gelas yang di bawanya.
“Momy haus. Biasanya galon di cek terus, tapi ternyata tadi udah habis, jadi harus keluar deh,” jawab Zetta yang ikut duduk di meja pantry sebelah Nasha.
Nasha hanya mengangguk tanda mengerti dengan mulut yang tak pernah berhenti mengunyah. Bahkan nasi yang mendadak di masak tadi hampir habis karena Nasha ingin terus menambah.
“Momy mau?” seakan ingat ada Zetta di sini, Nasha baru menawarkan makanan yang sedang di makan olehnya.
“Boleh?” tanya Zetta tidak serius, dia hanya ingin menggoda Nasha yang seperti tidak mau makanannya di bagi.
__ADS_1
“Huum boleh,” walau sedikit tak rela tapi Nasha tetap memberikan cup yang berisi makaroni ke hadapan Zetta. Tadi Farzan membuat lebih dari 6 cup sedang makaroni, dan sudah 2 cup Nasha habiskan.
“Nanti Kak Arza bikin lagi yang kaya gini ya?” pinta Nasha.
“Iya Sayang,” jawab Farzan lembut.
“Ini enak banget loh,” ucap Zetta yang baru menyuapkan makaroninya. Tadinya dia ingin melewatkan makanan ini karena sekarang masih terlalu pagi untuk makan, tapi ternyata melihat Nasha yang masih semangat memakannya, Zetta tergiur dan mencobanya.
“Habisin Momy,” ucap Nasha dengan wajah di angguk anggukkan. Entah kenapa dia belum selesai dengan makanan di hadapannya itu.
Selesai menghabiskan 3 cup makaroni dan satu piring tumisan beserta nasinya, Nasha baru menyelesaikan acara makannya.
“Kenyang,” ucap Nasha sambil menyandarkan tubuhnya pada meja yang ada di belakangnya karena dia memutar kursinya.
“Gimana ngga kenyang, ini makanannya kamu habisin bersih haha,” ucap Farzan mengusap pucuk kepala Nasha.
“Hehe, habisnya masakan Kak Arza enak,” ucap Nasha sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Momy baru percaya kalau kamu memang punya resto karena masakanmu memang seenak itu,” puji Zetta pada Farzan karena memang tidak cukup makan sedikit makanan yang Farzan buat.
“Kamu belajar masak dari kapan Za?” tanya Zetta penasaran karena jika di mansion Farzan tidak pernah memasak atau memasuki dapur.
“Dari dulu aku belajar masak Mom. Apalagi Acha dulu sering ajak main masak masakan, jadi sedikit banyak aku tahu jika Acha menyukai hal itu. Dan ternyata benar saja, Acha sampai sekarang pun menyukai hal tentang masak memasak,” ucap Farzan menjelaskan sambil mengusap punggung Nasha yang sudah berpindah duduk di pangku olehnya.
“Pantas saja. Tapi Momy selalu bangga dengan apa pun yang anak anak Momy lakukan, selama itu masih hal yang positif,” ucap Zetta sambil memperhatikan cara anaknya menatap menantu kesayangannya.
“Sebaiknya kamu kembali ke kamar Za, Sha sudah terlelap kembali sepertinya. Sekarang juga masih jam 3 pagi, jadi ada waktu sampai nanti masuk subuh. Tapi kalau bisa kamu tahajud dulu,” ucap Zetta menasihati Farzan sambil beranjak kembali ke kamar, takut suami tercintanya bangun dan mencarinya.
“Iya Mom,” ucap Farzan sambil ikut berlalu menuju kamarnya juga.
Setelahnya mereka kembali menuju kamarnya masing masing, dengan Farzan yang menggendong Nasha yang baru saja tertidur, entah karena kekenyangan atau memang masih mengantuk karena sedari tadi dia tidur gelisah.
“Aku akan lebih berusaha lagi untuk membuatmu bahagia. Semoga saja kita bisa membentuk keluarga sesuai dengan apa yang ada dalam pikiranmu dan juga yang telah di tetapkan-Nya,” bisik Farzan sambil mengecup kening Nasha yang sudah di pindahkan ke atas kasur.
__ADS_1
Farzan menutupi badan Nasha sampai ke atas dada menggunakan selimut, memastikan bahwa dia akan tertidur nyenyak selagi dia melaksanakan sholat sunat. Jika memungkinkan dia akan menemani Nasha sebentar sampai sudah waktunya melaksanakan sholat subuh.
Biasanya memang mereka akan sholat sunat berjamaah, hanya sekarang Nasha baru saja terlelap karena tadi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi biasanya setiap pagi Nasha selalu merasakan mual, jadi Farzan membiarkan Nasha beristirahat sebentar.
Farzan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat. Mungkin nanti dia akan menunggu Nasha bangun atau membangunkannya sebentar jika sudah waktunya sholat subuh.
Selesai dengan kegiatannya, Farzan mendudukkan dirinya di atas kasur sambil memeluk Nasha, dengan mengganti baju sebelumnya. Sekarang dia hanya memakai pakaian santai kaos polos putih dan celana pendek coklat.
Farzan hanya diam sambil memperhatikan wajah Nasha yang menurutnya begitu cantik dan damai saat tertidur seperti ini. Seperti tidak ada beban yang dia tutupi.
Bukan tanpa alasan, Farzan terkadang melihat Nasha yang menekan rasa kecewa di balik tawa dan senyuman palsu yang selalu dia tampilkan. Apalagi saat baru saja pulang dari rumah mertuanya yaitu orang tua Nasha sendiri.
Adiknya bahkan termakan ucapan Grasya yang merupakan sahabatnya, bukannya mempercayai Nasha yang tak lain Kakak kandungnya sendiri. Orang tua Nasha juga sama saja, lebih mempercayai ucapan Grasya dibanding anak nya sendiri.
Saat masih kecil pun, Nasha sering mendapat bentakan dan juga pukulan yang membuatnya mengalami trauma tanpa di sadari oleh dirinya sendiri.
Farzan yang lebih cepat memahami hal itu karena pernah membaca buku tentang mental atau kejiwaan saat tidak sengaja melihatnya ada di meja perpustakaan sekolah. Dulu Farzan lebih sering diam di perpustakaan untuk membaca hal apa pun tentang bisnis dan juga berbagai macam pengetahuan yang menarik menurutnya.
Dari sana Farzan mengetahui tentang gestur tubuh dan juga sikap seseorang saat takut atau merasa khawatir atau hal lainnya. Walaupun Farzan tidak ahli karena hanya mempelajarinya dari buku, tapi setidaknya dia mengerti hal apa yang harus di lakukan agar orang itu nyaman dan sedikit menghilangkan rasa takut orang itu.
Dan Farzan mengaplikasikannya pada Nasha saat sedang ketakutan dulu. Mungkin untuk sekarang juga sama. Tapi mungkin nanti Farzan akan benar benar membawa Nasha bertemu dengan Billa istri dari Reno.
...----------------...
aaa.. maaf kalau kurang nyambung atau lainnya, lagi banyak kegiatan jadi belum sempet nulis banyak banyak
makasih buat yang udah baca dan menikmati bacaannya♥️♥️
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1