
Mobil sudah memasuki gerbang perumahan dan mulai berjalan pelan untuk berhenti di pinggir rumah depan taman yang sudah anak buahnya sewa, eh tidak tapi beli. Farzan meminta anak buahnya langsung membeli saja rumah itu dan di bersihkan agar layak huni. Beberapa dari mereka akan menetap di sana dan tambahan untuk mengurus rumah. Jadi jika Farzan dan Nasha ingin menginap akan lebih mudah.
“Loh kok?” Nasha yang baru menyadari sekitarnya sedikit terkejut tapi bicara dengan nada pelan yang masih di dengar Farzan.
“Kita turun,” ucap Farzan pura pura tidak dengar.
“Kenapa Mas Farzan ke sini? Apa kemarin kemarin aku pernah ke sini jadi Mas Farzan tahu? Tapi sepertinya tidak,” batin Nasha bertanya tanya.
Farzan membawa Nasha menuju gazebo yang sering mereka gunakan untuk tempat berteduh atau bermain ketika panas terlalu terik atau hujan mulai turun.
Farzan menurunkan Nasha untuk duduk di kursi yang memang melingkar dalam gazebo itu. Setelahnya baru Farzan berlutut di hadapan Nasha dengan menggenggam erat tangannya.
“Kamu pasti bertanya tanya kenapa aku bawa kamu ke sini kan?” tanya Farzan mendongak menatap Nasha yang melihatnya penuh tanya. Nasha hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
“Apa kamu mau mendengar sebuah cerita?” tanya Farzan lagi yang masih dijawab dengan anggukkan.
“Oke. Dulu ada seorang anak laki laki yang tidak pandai bersosialisasi. Dia tinggal di dekat sini. Sampai akhirnya laki laki itu bertemu gadis kecil yang usianya lebih muda darinya. Gadis itu bilang jika dia tidak punya teman di rumah. Dia juga lebih sering mendapat perlakuan buruk baik dari orang terdekatnya mau pun teman sekolah atau rumahnya. Laki laki itu datang dan mengajaknya berteman karena laki laki itu seolah terhipnotis akan kecantikan dan juga kepribadian gadis itu. Gadis itu bahkan hanya tersenyum saat orang lain memperlakukannya buruk di depan laki laki itu. Mereka berdua berteman dan sering bermain bersama,” ucap Farzan mengambil nafas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya.
“Satu ketika saat hujan turun dan laki laki itu meminta gadis itu pulang tapi dia tidak mau, laki laki itu tidak sengaja membentaknya dan membuat gadis itu ketakutan. Dari sana laki laki itu tidak lagi mau melakukan kesalahan yang sama. Laki laki itu tidak ingin gadis kecil itu menangis dan ketakutan.”
“Tapi pada akhirnya laki laki itu tidak bisa menepati perkataannya yang akan selalu menjaga gadis itu. Laki laki itu di haruskan mempelajari banyak hal agar bisa memenuhi keinginan keluarganya. Dengan terpaksa laki laki itu pergi dan berpamitan pada gadis itu, sampai mereka mengucapkan janji untuk selalu menunggu satu sama lain.”
“Ternyata semua itu sulit. Banyak yang berubah. Laki laki itu beranjak dewasa dengan janji yang selalu di ingatnya, berusaha menemukan gadis itu agar menepati janjinya dan mereka bisa hidup bersama dan memudahkannya untuk terus menjaga gadis itu.”
“Bertahun tahun sudah laki laki itu mencari keberadaan gadisnya tapi tidak juga menemukan titik terang. Nyatanya bukan hanya waktu yang berjalan dan berubah, tapi manusia juga. Laki laki itu bahkan tidak mengenali wajah gadisnya sendiri,” Farzan mengakhiri cerita dengan menundukkan kepalanya. Tanpa sadar setetes air mata jatuh tanpa bisa di tahan.
...----------------...
“K Kak Ar za,” lirih Nasha terbata bata dan langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Farzan, menangis keras sambil memeluk erat Farzan.
Tanpa dijelaskan sekalipun Nasha mengetahui cerita itu tentang dirinya dan juga Kak Arza yang dulu selalu ada untuknya. Gadis itu dan lelaki itu, mereka berdua. Ternyata orang yang selama ini dia tunggu sudah ada di hadapannya.
“Iya Cha, ini Arza,” bisik Farzan dengan balas memeluk Nasha erat. Tanpa di cegah air mata keduanya terus bercucuran seolah menggambarkan semua emosi yang mereka rasakan. Rasa bahagia, terharu dan juga rasa syukur karena ternyata mereka bisa bersatu oleh takdir, walau awal pertemuannya saat mereka dewasa tidak terlalu baik.
“Ka Kakak kemana aja,” dalam isak tangisnya Nasha bertanya tanpa mau melepaskan pelukan keduanya.
__ADS_1
“Maaf. Kakak terlalu lama menemuimu,” hanya itu jawaban dari Farzan. Dia mengaku jika kurang bisa cepat menemui Nasha dan mengenalinya. Padahal perasaannya saja sedari awal sudah terasa berbeda tapi dia selalu saja mengelaknya.
“Kakak jahat. Tinggalin akunya lama,” seolah tidak ada lagi perasaan canggung antara keduanya, Nasha benar benar kembali pada sifat kecilnya saat bersama dengan Farzan yaitu manja.
Bahkan Farzan tidak keberatan dengan sifat Nasha yang manja dan juga kekanakan. Dulu saja jika Nasha meminta untuk bermain masak masak Farzan tidak protes dan mengikuti alur permainan Nasha agar dia senang.
“Kenapa perginya lama? Aku sering ke sini tapi ngga pernah ketemu Kakak. Tapi pas kuliah aku jarang ke sini, karna aku harus kerja juga. Aku ngga mau di marahin terus, jadi aku cari uang biar ngga minta lagi sama Ayah. Aku pengen ngadu selain sama Allah, tapi aku ngga tau harus ngadu kemana,” cerita Nasha dengan tangisan yang bertambah deras, bahkan suaranya tersendat sendat karena sesenggukannya tidak bisa berhenti saking kuatnya dia menangis.
“Stt.. udah Sayang, nanti nafasnya sesak,” ucap Farzan menenangkan. Bahkan Farzan tahu cerita Nasha dari buku yang dia simpan.
“Ngga bisa hiks hiks susah hiks huaa,” bukannya berhenti Nasha malah semakin menangis. Entahlah saat ini emosinya begitu membuncah. Bahagia tak terkira karena bisa bersama orang yang ternyata memang sudah dia tunggu dan menunggunya.
“Iya tidak apa. Kamu sudah tidak perlu membuat benteng untuk dirimu. Ada aku yang akan menjadi tamengmu,” bisik Farzan menenangkan dengan tangan bergerak mengelus punggung Nasha dan juga memberikan kecupan dalam di puncak kepalanya.
...----------------...
Hampir satu jam lamanya Nasha menangis dan baru berhenti beberapa menit yang lalu dengan sisa sesenggukan yang masih terdengar.
“Udah ya? Kamu belum makan siang. Kita juga belum sholat,” ucap Farzan yang sudah berpindah duduk di atas kursi dengan Nasha masih dipangku Farzan.
Nasha tidak perlu lagi mencari tahu apakah Farzan berbohong atau tidak. Dari sorot matanya saja sudah memperlihatkan kejujuran. Bahkan selama diam tadi Farzan menjelaskan tentang kebohongan Grasya dan juga rekan bisnisnya.
“Ja hiks jadi dia itu bohong? Hiks hiks,” tanya Nasha lagi dengan suara pelan.
“Hm iya. Dia bilang di suruh oleh orang itu. Dia juga ambil buku diary kamu dikamar,” ucap Farzan membalas pertanyaan Nasha.
Farzan menjelaskan dengan rinci tanpa di lebihkan atau di kurangkan. Farzan juga sama tidak perlu mencari tahu lagi apa Nasha benar benar gadisnya dulu atau bukan. Dari reaksi Nasha saja sudah jelas jika dia memang gadis itu. Bahkan tanpa itu pun Farzan sudah yakin. Semakin lama memperhatikan Nasha wajahnya terlihat sama seperti gadisnya dulu, bedanya sekarang Nasha berkerudung.
“Diary? Yang di gembok?” tanya Nasha yang mendongak menatap mata Farzan dengan mata bengkaknya juga muka yang terlihat merah karena terlalu lama menangis.
“Iya,” jawab Farzan balas menatap lembut Nasha.
“Ih Ka hiks Kakak baca dong?” ucap Nasha dengan sisa sesenggukannya.
“Sedikit,” ringis Farzan memperagakan dengan dua jari yang di beri sedikit jarak.
__ADS_1
“Malu,” bibir Nasha melengkung kembali ke bawah dan menubrukkan kepalanya pada dada Farzan.
“Hehe ngga papa Sayang. Kan aku juga pengen tahu tentang kamu. Nanti aku ceritain semua tentang aku,” Farzan terkekeh kecil melihat reaksi Nasha yang bisa bisa menangis kembali.
“Udah yuk kita sholat dulu, abis itu kita makan sebelum nanti ke rumah Momy dan Daddy buat kasih tahu kabar bahagia ini,” ucap Farzan mengangkat Nasha ke dalam gendongannya dan berjalan menuju rumah yang berhadapan dengan taman.
Nasha sebenarnya mengantuk tapi jika dia tidur waktu sholat semakin sempit, bisa bisa dia tertinggal dan melewatkan waktunya. Jadi sekuat mungkin dia memaksa untuk tetap membuka mata.
...----------------...
“Selamat datang, Tuan,” sapa bodyguard yang menjaga di dekat gerbang.
“Ya. Saya minta tolong pesankan beberapa makanan sekalian untuk kalian juga. Nanti tagihannya kirim ke saya,” ucap Farzan sebelum memasuki pintu di depannya.
“Baik Tuan. Terima kasih,” ucap bodyguard itu dengan sedikit menunduk. Farzan juga hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
“Tunggu! Ini rumah siapa?!” kaget Nasha saat menyadari Farzan langsung masuk ke dalam sebuah rumah.
“Tenang Sayang, jangan seperti itu, nanti dia juga ikut kaget,” ucap Farzan mengingatkan dengan lembut agar Nasha tidak takut.
“Maaf,” ucap Nasha menunduk sadar jika dirinya salah.
“Ngga papa. Tapi jangan gitu lagi ya? Soal rumah ini, ini di beli buat jadi salah satu markas bodyguard aku waktu nyari kamu,” jelas Farzan sambil memasuki kamar yang tidak sebesar kamarnya di mansion tapi merupakan kamar terbesar di rumah ini.
“Ohh gitu,” sahut Nasha mengangguk anggukkan kepalanya. Farzan hanya terkekeh saja melihatnya.
Mereka berdua langsung memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudu agar bisa langsung melaksanakan sholat dzuhur. Tenang saja semua peralatan sholat memang sudah ada di dalam kamar itu bahkan baju baju pun ada, tapi untuk baju hanya milik Farzan saja karena dulu Acha belum di temukan.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1