
Semenjak pindah ke paviliun Nasha jadi lebih sering berdiam diri di kamar. Setiap pagi dia selalu mual, apalagi saat melihat makanan Nasha rasanya tidak ada niatan untuk memakannya.
Nasha keluar hanya siang hari ketika di tawari makan oleh Eby atau yang lainnya. Tapi yang Nasha makan hanya roti dengan selai coklat atau mentega ditaburi gula. Selain itu jika ada makanan lain di meja Nasha mendadak mual.
Terkadang Nasha juga membawa rotinya ke kamar agar tidak ada yang melihat saat dia merasa mual. Nasha tidak ingin ada yang memberitahu Farzan, padahal semua kegiatan pasti mereka laporkan walau bukan pada Farzan langsung.
Hari ini sudah ke 3 Farzan pergi entah kemana. Nasha tahu karena sempat beberapa kali menuju mansion setiap jam pulang kerja sampai sedikit larut, tidak ada yang mengetahui Nasha datang ke mansion setiap malam karena semenjak Nasha pindah mereka di sana hanya sampai jam 3 sore saja.
Dan lagi Nasha juga lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, jadi mereka juga bingung harus melakukan apa setelah selesai membersihkan seluruh bagian mansion.
Entah kenapa setelah tahu Farzan tidak ada di mansion Nasha jadi berpikiran negatif dan juga tubuhnya menjadi lebih lemas apalagi tadi perutnya sakit entah kenapa. Jadi satu harian ini Nasha hanya diam di kamar dan meminum air putih yang di simpan di dalam kamar.
Rasa tidak nyaman di perutnya membuat Nasha memegangi perut sambil memejamkan mata, hingga tidak sadar Nasha sudah tertidur sejak sore tadi.
...----------------...
Sekarang sudah hampir tengah malam dan Nasha merasa perutnya tidak lagi sakit tapi malah merasa nyaman? Mungkin. Dia juga merasa ada sesuatu yang berada di atas perutnya.
“Tangan? Tangan siapa? Bukannya aku tidak membukan kunci pintu sedari tadi?” batin Nasha ketika membuka matanya.
Di lehernya juga ternyata seperti ada yang mengganjal dan ternyata ada lengan seseorang yang menjadi bantalan tidurnya saat ini. Ingin menjerit tapi entah kenapa Nasha malah merasa nyaman berada di posisi ini.
“Kenapa malah diem sih! Udah tahu ini ada orang yang pegang pegang, mana ngga pake kerudung lagi, duh Cha kamu tuh gimana sih,” gerutu Nasha dalam hati.
Dengan segera Nasha melepaskan tangan yang ada di perutnya dan bangun dari ranjang karena otaknya baru saja memberi peringatan jika dia sudah menikah.
Tentu saja orang di sebelahnya ikut terbangun karena kaget dengan gerakan tiba tiba dari Nasha tadi.
“Kenapa? Kenapa?” tanya orang itu yang tidak lain adalah Farzan.
Setelah masuk dan membersihkan diri sedikit, Farzan langsung naik ke atas ranjang tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Malas jika harus mengambil dulu ke kamar. Dia sudah tidak kuat karena terlalu rindu dengan Nasha.
“Kamu siapa!” ucap Nasha sedikit berteriak.
“Ac, Arfa ini aku Farzan,” ucap Farzan yang sudah duduk di pinggir ranjang memperhatikan Nasha, hampir aja tadi salah sebut nama, Acha kan belum tahu, nanti dia pikir macam macam lagi, batin Farzan.
“Hah? Ma Mas Farzan?” kaget Nasha sekaligus gugup. Kenapa tiba tiba ada di sini? Harusnya kan ke kamarnya aja, batin Nasha menggerutu.
“Aw shh,” tiba tiba saja Nasha merasa perutnya seperti melilit.
“Hey kenapa? Mana yang sakit?” panik Farzan mendekati Nasha sambil menaruh sebelah tangan di bahu sebelah lagi di atas tangan Nasha yang ada di perutnya.
“Jangan di remas gini, nanti tambah sakit,” bisik Farzan dengan lembut dan dengan perlahan menggantikan tangan Nasha mengusap perutnya.
Nasha hanya diam sambil memejamkan mata karena merasa nyaman dengan usapan Farzan di perutnya, sedikit demi sedikit rasa sakitnya itu mulai menghilang.
“Masih sakit?” tanya Farzan yang melihat Nasha hanya diam sambil memejamkan matanya yang di jawab Nasha dengan menggelengkan kepala saja.
“Lain kali jangan langsung bangun kaya gitu ya? Besok pagi kita periksa ke dokter,” ucap Farzan dengan lembut.
__ADS_1
“Tidak ada protes, kamu udah sering melewati makan dan hanya makan 1 kali aja, itu pun hanya roti,” lanjut Farzan melihat Nasha ingin membantah.
Farzan membawa Nasha untuk duduk kembali di pinggir ranjang dengan bersisian dengannya. Farzan melepaskan usapan tangannya dan beralih memegang kedua tangan Nasha dan duduk di hadapan Nasha.
Nasha membuka matanya merasa usapan yang membuatnya nyaman tidak ada lagi dan berganti memegangi tangannya sambil duduk di hadapannya.
“Maaf ya kemarin aku pergi ngga pamit dulu. Besok aku bakal jelasin semuanya. Sekarang kita istirahat lagi ya?” ucap Farzan sambil mendongak menatap mata Nasha yang juga menatapnya.
Nasha hanya terdiam sambil terus menatap Farzan. Di tengah keterdiamanya tiba tiba saja perut Nasha berbunyi seperti orang yang kelaparan.
Krucuk.. krucuk.. (anggap aja suara perut lapar hehe)
Dengan muka yang berubah memerah Nasha menundukkan kepala membuat beberapa helai rambutnya ikut terjatuh dan menutup wajahnya.
Farzan yang mengetahui itu hanya terkekeh sambil mengangkat kembali wajah Nasha dengan tangan yang menyelipkan rambut Nasha ke belakang telinganya.
“Hari ini kamu sama sekali ngga makan ya?” tanya Farzan dengan senyum lembutnya. Lagi lagi Nasha hanya menggelengkan kepala karena masih malu.
“Ngga usah malu ya? Sekarang kamu mau makan apa?” tanya Farzan yang mengerti maksud Nasha.
“Mau bikin mie cup boleh?” cicit Nasha karena takut Farzan tolak.
“Aku bikinin nasi goreng aja gimana?” tawar Farzan, beberapa hari yang lalu Nasha baru saja mie jadi sebisa mungkin Farzan menghindari Nasha makan mie sementara ini.
“Mau roti aja,” lirih Nasha sendu karena permintaannya di tolak oleh Farzan.
“Oke kita bikin mie cup. Tapi kamu di sini aja biar aku yang bikin sebentar ya?” ucap Farzan yang tidak bisa menolak jika ucapan Nasha sudah mulai seperti itu.
“Iya Sayang,” ucap Farzan sambil tersenyum.
Nasha yang menyadari itu langsung tersipu dengan mata yang melirik ke arah lain asal tidak melihat wajah Farzan.
“Ngga usah malu haha. Mulai sekarang biasakan mendengar itu dari mulutku. Siapa tahu nanti kamu juga akan mengucapkan itu kan,” ucap Farzan sambil tertawa, merasa lucu dengan tingkah Nasha yang seperti di mimpinya.
“Yaudah aku ke dapur dulu ya sebentar,” ucap Farzan sambil berjalan keluar kamar, sebelum itu dia mengecup singkat puncak kepala Nasha.
...----------------...
Nasha hanya diam mematung dengan isi kepala yang terus bekerja, bertanya tanya kenapa Farzan tiba tiba seperti itu. Memang sebelum itu juga Farzan sering seperti ini, tapi untuk kata Sayang itu belum pernah selama hampir tiga bulan pernikahan ini.
Tidak lama Farzan datang membawa nampan berisi 2 mie cup, beberapa roti dengan selai coklat, dan juga satu piring nasi.
Untuk minum, tadi Farzan sempat beli 2 air mineral kemasan dan juga beberapa minuman kemasan dengan rasa yang berbeda. Cemilan lain juga ada di sudut kamar.
Farzan sebenarnya merasa badannya masih tidak fit, tapi dari pada Nasha sendiri yang keluar kamar Farzan memilih dirinya saja yang keluar.
Tok.. tok.. tok..
Baru saja menaruh nampan di atas meja yang ada di kamar, sudah ada ketukan pintu dari luar sana.
__ADS_1
“Biar aku saja,” ucap Farzan ketika melihat Nasha mencari kerudungnya dan bergegas akan membuka pintu.
Pintu di buka dan ternyata itu dua orang bodyguard yang tadi Farzan hubungi untuk membawa meja makan portabel dan juga karpet bulu agar nanti mereka tidak kedinginan jika duduk di bawah.
Melihat Nasha juga masih memakai kerudungnya, Farzan meminta mereka masuk dan menggelar karpet serta meja di sana, baru setelahnya mereka kembali berjaga di dekat gerbang.
“Sini duduk di bawah,” ajak Farzan ketika sudah menaruh nampan di bawah. Mereka duduk bersisian sebelum mengambil mie cup masing masing.
“Makasih,” cicit Nasha saat baru saja duduk. Farzan hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya sayang.
“Tapi makan roti dulu ya? Sama pake nasi sedikit aja ngga papa,” ucap Farzan dengan senyumannya.
Nasha mengangguk pelan sambil bergumam pelan entah bicara apa. Baru mereka makan bersama, Farzan juga tadi merasa lapar maka dari itu dia membuat 2 mie cup, siapa tahu Nasha juga nanti kurang.
“Sini aku suapi,” ucap Farzan mengambil alih nasi dan mie cup Nasha. Jadilah mereka makan dalam satu sendok yang sama.
“Pengen nonton,” gumam Nasha sebelum satu sendok mie dan nasi masuk ke dalam mulutnya.
Farzan mengeluarkan ponsel yang ada di dalam sakunya dan memberikan kepada Nasha agar bisa memilih sendiri mau menonton lewat aplikasi apa.
“Ini?” bingung Nasha ketika ponsel Farzan sudah di tangannya.
“Katanya mau nonton,” jawab Farzan sambil terus menyuapi Nasha.
“Aplikasinya yang mana?” tanya Nasha yang masih scroll isi ponsel mencari aplikasi yang ada.
“Mau nonton apa? Kalau mau cari di sini,” ucap Farzan memberitahu dimana tempat aplikasi khusus menonton film.
“Mau nonton Frozen 2, kemarin liat ada iklan itu di TV,” ucap Nasha sambil menulis film yang dia maksud.
“Eh kalau di sini kan berbayar,” lirih Nasha ketika menyadari aplikasi nonton ini berbayar dan di sini belum ada pembayaran karena mungkin aplikasinya tidak di pakai.
“Oiya aku lupa buat berlangganan, langsung aja klik yang per tahun. Ini liat pin mbanking aku inget inget ya biar kamu tahu siapa tahu nanti butuh pembayaran lewat hp aku,” ucap Farzan sambil memberitahu pin nya. Mungkin nanti Farzan akan memberitahu Nasha semua pin nya yang merupakan tanggal dimana dulu mereka berpisah saat usianya 15 tahun dulu.
“Emang kamu sering nonton?” tanya Nasha heran karena Farzan langsung berlangganan selama satu tahun.
“Engga. Buat kamu aja. Lagian di rumah juga ada kok bioskop mini di deket ruang keluarga. Tapi setiap TV di mansion semua juga bisa akses film, jadi bisa nonton dimana aja,” ucap Farzan menjelaskan, sepertinya memang Nasha belum tahu itu karena sering ikut ke kantor dan juga mencari referensi skripsi.
“Em.. gitu ya? Jadi di kamar juga bisa nonton film dong?” tanya Nasha memastikan.
“Iya,” jawab Farzan.
Setelah itu hanya ada sedikit obrolan ringan seputar film yang sedang Nasha tonton. Nasha memang lebih menyukai film animasi atau action, bukan berarti yang lainnya tidak suka, tapi ya dia lebih menikmati film dengan genre itu.
Selesai makan mereka berdua menyelesaikan dulu menonton film sambil menunggu sebentar sebelum membersihkan diri dan kembali tidur. Besok Farzan akan ke rumah sakit dan jika memungkinkan dia juga akan membawa Nasha ke taman.
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yahh, hehe..
bye bye