Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Perdebatan seperti biasa


__ADS_3

Pagi menuju siang ini para sahabat dari Reno dan Billa sudah berkumpul di ruangan yang sedang Billa tempati. Tepatnya untuk menengok baby boy yang baru saja lahir kemarin.


"Aaa cute bangett," gemas Kylla saat melihat bayi tampan berkulit putih yang di simpan di box bayi.


"Yaiyalah masa mau ugly sih cil," sewot Ana yang sedari tadi kupingnya sedikit berdengung mendengar pekikkan Kylla yang tepat berada di sampingnya.


"Ana nyambung terus deh perasaan," sewot Kylla juga dengan mendelik pada Ana.


"Suttt.. kalian berisik, nanti baby bisa bangun," ucap Eve melerai mereka berdua.


"Haha mereka berdua emang susah akurnya yah," Tery tertawa saja melihat perdebatan dari sahabat sahabatnya itu.


"Pusing tahu dengernya kalau tiap ketemu pasti ada aja yang di buat berantemnya," keluh Eve seolah begitu tertekan.


"Kamu juga suka ikutan debat ya!" ucap Ana melotot tak terima dengan ucapa Eve.


"Ehehe ya tapi kan yang sering kalian," cengir Eve malu tapi masih membela diri.


"Udah kalian lebih baik duduk sini. Baby juga belum boleh di gendong gendong sama kalian," peringat Sean sekalian melerai sebelum ada yang menangis nantinya.


Soal bayi yang belum boleh di gendong, memang Reno sendiri yang memberi ultimatum pada semua sahabat juga orang tuanya agar tidak dulu menggendong putranya, karena istrinya saja belum menggendong putra mereka.


Jadi untuk sementara tidak ada yang boleh menggendong, mencium, atau mencubit gemas anaknya.


"Ish iya, Billa masih bobo sih jadi belum boleh cubit cubit gemes babynya," kesal Kylla yang sekarang berjalan menuju Deon untuk duduk di pangku.


"Jangan menggerutu Sayang," bisik Deon setelah istrinya itu memeluknya.


"Ehehe," cengir Kylla tanpa membalas perkataan suaminya.


Yang lain juga sama mendekati pasangannya untuk duduk di pangku oleh suami masing masing, kecuali Tery yang masih belum sah jadi duduk di sebelah Brady saja.


"Ini Nasha sama Farzan pasti masih tidur karena kemarin ikut nunggu ke bawah," ucap Brady yang tidak melihat satu sahabatnya itu.


"Nasha pasti susah tidur semalem, apalagi ikut nunggu walau tidur juga sih, tapi ya tetep aja," sahut Zargio menimpali.


Malam tadi memang Nasha sering terbangun entah untuk ke kamar mandi atau karena merasa sesak dan tidak enak posisi untuk tidur.


Farzan setia mendampingi di setiap kesulitan yang sedang Nasha rasakan. Maka dari itu mereka sedikit terlambat ke ruangan Billa karena sehabis subuh tertidur kembali.


"Jangan ada yang ganggu mereka dulu," ucap Deon memperingati.


"Tenang aja," sahut Sean menanggapi yang diangguki yang lainnya.


"Mama sama Papa belum ke sini juga?" tanya Eve yang tidak melihat Orang Tua dari Reno.

__ADS_1


"Masih istirahat kayanya, kemarin terlalu excited karena nunggu liat cucu baru yang masih di bersihin," ucap Reno menjawab pertanyaan itu.


Billa juga masih tertidur setelah melahirkan kemarin, dan Reno bilang itu wajar karena kemarin dia sudah mengeluarkan banyak tenaga.


Kemungkinan satu jam lagi Billa baru akan terbangun untuk menyusui pertama kali juga sarapan pagi.


"Huft bosan," lirih Kylla yang hanya di dengar Deon.


"Mau apa?" tanya Deon cepat. Peka sekali dia.


"Engga tahu. Tapi ngantuk," Kylla mengedikkan bahunya dengan wajah bingung dan tatapan mata yang sayu.


"Sini senderan," ucap Deon sambil mengelusi punggun Kylla agar cepat terlelap.


Benar saja, dalam hitungan menit Kylla sudah kembali terlelap dengan nafas teratur juga dengkuran halusnya.


"Kita mau ke kamar dulu deh ya. Ini kasian pada tidur lagi," ucap Sean yang merasa Eve juga terlelap, lalu melihat ke arah yang lainnya.


"Iya itu Tery juga cuma senderan gitu aja, takut nanti sakit lehernya," ucap Zargio sambil melihat Brady yang merangkul Tery yang bersandar di bahu lelaki itu.


"Yaud.." belum sempat Brady menyahut sudah ada suara lain yang terdengar seiring dengan terbukanya pintu kamar.


"Assalamualaikum semuanya," sapa Arni dengan semangat sampai membuat hampir semua wanita yang terlelap kaget namun tak sampai terbangun.


"Ma jangan terlalu sering teriak teriak dong, kasian itu anak sama cucu Papa masih tidur," ucap Frans sambil melirik ranjang dimana Billa tertidur dan bergantian melirik box bayi.


"Itu anak sama cucu Mama juga ya Pa," sinis Arni merasa di salahkan, walau memang sedikit salah sih.


"Iya Ma iya," jawab Frans dengan nada malas.


Arni berjalan mendekati ranjang Billa untuk melihat dari dekat menantu yang selalu dianggap anaknya sendiri ini.


"Sayangnya Mama masih cape ya jadi belum bangun," ucap Arni mengelus pelan rambut Billa dan mencium sayang kening Billa setelahnya.


"Ma jangan gang.." belum selesai Reno bicara suara lenguhan pelan mengalihkan atensinya yang sedang menatap protes Mamanya.


"Uh.. ini dimana?" lenguh Billa dengan mata yang masih menatap samar sekelilingnya, dan dia tahu jika ini bukan di kamar di rumahnya.


Dengan kernyitan di dahinya, Billa baru menyadari jika tadi malam dia baru saja melahirkan. Tapi setelah anaknya berhasil dia lahirkan, dia tidak ingat lagi apa pun karena semuanya langsung terasa gelap.


"Anak aku?" panik Billa menatap ke arah perutnya yang sudah tidak terlalu besar.


"Hey tenang Honey, anak kita masih tidur di boxnya," jelas Reno yang mengerti kepanikan istrinya ini.


"Eh iya," tenang Billa saat melihat box yang berisikan anaknya.

__ADS_1


"Kan karena Mama istri aku jadi bangun," kesal Reno mendengus kecil, tidak mungkin terang terangan, bisa bisa nanti dia dijadiin bebek goreng sama Papanya.


"Ih ngga ya, tadi Mama cuma cium dikit aja kok," bela Arni tak mau di salahkan.


"Ngga papa ih, masa Mama ngga boleh cium aku sih," melotot Billa dengan suara pelan karena masih merasa lemas.


"Tuh kan anak Mama aja ngga papa," ledek Arni dengan mencium gemas kedua pipi Billa.


Efek tidak punya anak perempuan, sekalinya punya disayang lebih lebih dari anaknya sendiri. Apalagi satu server, tambah menjadi saja keduanya ini.


"Mama kapan datengnya? Maaf ya kemarin ngga dengerin Mama buat ngga pergi, jadi aja kaya gini," ucap Billa merasa bersalah dengan mata berkaca kaca.


"Eh ngga papa dong Sayangku, kemarin juga ngga bener bener ngelarang kok, cuma khawatir aja, eh beneran babynya mau lahir sekarang," ucap Arni menenagkan anak kesayangannya.


"Mau peluk," manja Billa yang langsung mendapatkan pelukan dari Arni yang sudah ikut duduk di ranjang.


"Anak kesayangan Mama," gemas Arni.


"Eh iya baby udah dikasih nama belum?" tanya Arni dengan melirik anak cantiknya.


"Ma yang anak Mama siapa sih sebenernya? Ini aku ngga di tanya?" heran Reno walau dalam hati dia begitu bersyukur karena Mama dan istrinya bisa dekat seperti ini.


"Ya ini lah yang cantik, baik, nurut lagi, walau kadang bantah sih, tapi ngga papa, ngga kaya kamu yang sedikit amburadul," ucap Arni tanpa beban, padahal anaknya sukses dengan usahanya sendiri.


"Terserah Mama aja deh," malas Reno dengan kembali mengecupi tangan Billa kembali. Ya sedari tadi Reno hanya mengecupi tangan Billa yang terdapat infus.


"Jadi gimana namanya?" desak Arni kepo tingkat tinggi.


"Nanti aja Ma, nunggu Farzan sama keluarganya. Pasti bentar lagi Momy sama Daddy dateng ke sini," ucap Reno yang tidak ingin mengulang kembali perkataannya nanti.


"Hah yaudahlah terserahmu," malas Arni dengan mendelik kesal.


"Ma matanya," melotot Frans tidak suka ketika istrinya memainkan mata seperti itu.


Arni hanya menyengir saja dan kembali mengobrol dengan anak kesayangannya, Billa.


Yang lain juga baru menyapa setelah beberapa saat kemudian karena sedari tadi Reno dan Arni selalu berdebat atau kalau tidak Reno yang kesal karena istrinya pasti di monopoli oleh Mamanya itu.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2