Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Pulang, Nonton, Masak.


__ADS_3

“Ayo,” ajak Farzan pada Nasha yang sedang menelungkupkan kepalanya pada meja.


“Hem?” jawab linglung Nasha.


“Ayo kita pulang,” jelas Farzan sambil tersenyum manis.


“Hem.. iya,” ucap Nasha yang terpana melihat senyuman Farzan.


Mereka mulai meninggalkan resto, tapi sesaat setelah keluar Nasha ingat jika mereka tadi sepertinya belum bayar makanan tadi jadi dia berhenti yang otomatis membuat Farzan berhenti juga.


“Ada apa?” tanya Farzan dengan mengerutkan dahinya.


“Em.. tadi belum bayar kan?” tanya balik Nasha dengan muka yang dimiringkan.


“Haha.. saya kira kenapa. Sudah saya bayar tadi,” jawab Farzan santai.


“Hah? Kapan?” tanya Nasha bingung.


“Pokonya tadi sudah di bayar,” jawab Farzan.


“Sudah ayo jalan lagi, nanti takut kemalaman pulangnya,” lanjut Farzan.


“Oh.. Em.. iya,” walaupun bingung tapi Nasha percaya saja, lagian tidak ada juga pelayan yang mengejar mereka, pikir Nasha.


“Itu salah satu resto saya,” ucap Farzan tiba tiba saat mereka sudah di dalam lift. Lift khusus tentu saja.


“Hah?” kaget Nasha karena info tiba tiba itu.


“Haha.. saya kira kamu bakalan bisa tebak, karena kita tadi di berikan pelayanan khusus” jelas Farzan kalem.


“Ish.. pantes aja mereka baik banget kayanya tadi, biasanya engga kaya gitu kan, paling untuk minuman dan bumbu yang diantar sedangkan sisanya kita ambil sendiri,” ucap Nasha kesal. Dulu dia bersama Rumi pernah ke tempat tadi saat dia dapat bonus kerja, jadi dia sedikit tau tentang tempat tadi.


“Kamu pernah ke sana? Dengan siapa?” tanya Farzan, karena dia merasa sepertinya Nasha tau tentang pelayanan di restonya.


“Iya pernah. Dulu waktu pertengahan kuliah dan aku dapet bonus di kantor karena lembur dan sebagainya, jadi aku ajak dia makan makan. Kebetulan dulu lagi promo 50% kan lumayan, hehe,” jelas Nasha tanpa menutupi apapun.


“Hm.. begitu, sepertinya itu saat ada syukuran kecil kecilan karena baru membuka cabang di daerah lain dan saya menyuruh seluruh resto memberikan potongan harga seperti itu,” ucap Farzan sembari mengingat ingat.


“Kenapa ngga dibagi bagi ke mereka yang kurang mampu aja?” ucap Nasha ingin tau.


“Hem itu juga sebenarnya, tapi tidak harus orang lain tau tentang itu kan?” balas Farzan.


“Ooiya juga sih ya,” ucap Nasha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Farzan dengan di selingi beberapa obrolan dan juga sedikit candaan. Perlahan rasa canggung terkikis dan sepertinya mereka mulai akrab juga saling membuka diri untuk menerima satu sama lain.


Rumah...


Sesampainya mereka turun dari mobil, Farzan meminta salah satu pelayan di rumahnya untuk membawakan belanjaan mereka tadi dan membuatkan minuman serta cemilan untuk mereka berdua. Jika kalian bingung, Farzan memang membawa Nasha ke rumahnya terlebih dahulu. Rencananya setelah makan malam dia baru akan mengantarkan Nasha ke rumah orang tuanya.


“Kita nonton gimana?” ucap Nasha saat mereka sudah berada di ruang keluarga.


“Hem.. boleh, mau nonton apa?” balas Farzan mengiyakan.


“Film action aja,” ucap Nasha antusias.


“Mau nonton di home teater atau di sini?” tanya Farzan memastikan.


“Em.. di sini aja deh, males jalan lagi, hehe,” ucap Nasha, selain malas dia juga tidak mau berduaan di tempat tertutup, takut khilaf.

__ADS_1


“Oke, saya cari dulu filmnya,” balas Farzan sambil menyalakan tv kabelnya.


Mereka mulai menonton setelah menemukan film yang cocok. Makanan ringan dan juga minuman sudah ada di meja. Nasha duduk di bawah dengan membawa bantal kursi, sedangkan Farzan duduk di kursi panjangnya, tapi Farzan tidak terlalu fokus pada film karena baru saja mendapatkan file baru dari asistennya.


Film sudah selesai sejak tadi. Makanan dan minuman tinggal tersisa sedikit lagi. Tapi tidak ada suara yang terdengar lagi selain deru nafas teratur dari wanita yang menyenderkan kepalanya di pinggiran kursi dengan bantal yang di peluknya.


Menyadari tidak ada suara lagi, Farzan menoleh pada tv yang ada di depannya yang hanya memperlihatkan gambar layar dengan poster film yang tadi di tontonnya. Saat menoleh ke samping dia baru menyadari jika Nasha tidur tanpa disadarinya.


Sedari tadi memang dia tidak fokus menonton, hanya ketika Nasha berkomentar tentang film dia menoleh sebentar dan melanjutkan aktivitasnya. Jadi dia tidak tau sejak kapan Nasha tertidur.


“Tuan,” panggil seorang ART bernama Erin dengan suara yang lumayan keras. Tanpa menyadari panggilannya membuat Nasha terkejut dan langsung bangun.


“Kenapa?!” dingin Farzan yang langsung menoleh pada Nasha.


“Ma af Tu an, saya hanya ingin memastikan, Apa Tuan dan Nona makan malam di sini?” gugup Erin, dia pikir Tuannya tidak akan marah karena memang sempat beredar kabar jika pernikahan yang akan di langsungkan nanti tidak akan seperti pernikahan pada umumnya, dan yang mereka tau, Nasha juga sama seperti mereka, jadi tidak perlu terlalu hormat. Awalnya dia berniat mengerjai Nasha karena itu, tapi melihat reaksi Farzan membuatnya berpikir ulang untuk rencananya itu.


“Ya,” jawab Farzan datar.


“Siapkan semuanya sekarang,” lanjut Farzan dengan tatapan yang menyuruh Erin untuk pergi dari hadapannya. Erin hanya menjawab dengan anggukan dan membungkukkan badan sebelum pergi.


Nasha dari tadi hanya menyimak ditambah dia masih kaget, dia pikir ini di rumah yang memang terkadang jika dia tidak sengaja tertidur orang tuanya sering membentak atau hal lain yang membuatnya kadang terbangun karena kaget dan juga takut.


“Kamu tidak apa apa?” tanya Farzan dengan nada suara lembut.


“Em.. Iya gapapa kok,” jawab Nasha seadanya. Bagai kaset yang terus mengulang rangkaian isi di dalamnya, otaknya sekarang melakukan hal itu, membuatnya buntu.


“Mau ke kamar dulu?” tanya Farzan lagi, sepertinya dia juga menangkap ada yang salah dari sikap Nasha. Mungkin nanti dia akan membawa Nasha ke psikiater untuk memeriksakan kondisinya.


“Hm.. boleh? Aku cuma mau cuci muka aja sih,” jawab Nasha dengan sedikit raut wajah tidak tenang.


“Iya boleh, istirahat dulu saja di kamar. Nanti kalau makan malam sudah siap saya jemput,” ucap Farzan.


Mereka berdua beranjak menuju kamar yang di pakai Nasha sebelumnya. Farzan mengantar sampai depan pintu, setelahnya dia beranjak menuju ruang kerjanya.


Beberapa saat di kamar yang dilakukan Nasha hanya terduduk di lantai sambil menelungkupkan kepalanya. Rasanya terlalu sesak, karena setiap kilasan rasa sakit terngiang dalam kepalanya. Dia berusaha menekan semua dan mengganti dengan kenangan manis, tapi tetap saja sulit.


“Sudah cukup! Jangan seperti ini terus. Berdamai dengan semuanya dan jalani. Kita pasti bisa melewati ini semua,” gumam Nasha dengan samar di sela tangisnya. Jika kalian pernah mengalaminya maka kalian pasti tau bagaimana rasanya menangis sendiri tanpa ada yang tau. Menahan rasa sesak sendirian itu memang tidak mudah. Jika kalian bisa, kalian adalah orang terhebat.


Lumayan lama Nasha menangis, sampai dia ingat tadi pamit pada Farzan untuk cuci muka saja, tapi dia malah menangis begini. Akhirnya dia berdiri menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya dan berjalan keluar kamar setelahnya.


...----------------...


Melangkah menuju ruangan yang ada di lantai pertama rumah ini dan menuju salah satu ruangan yang berada di belakang rumah. Apa kalian bisa menebak kemana kaki Nasha melangkah?


Yap benar. Dapur. Dia sedang berjalan ke sana untuk membantu mereka yang sedang memasak. Terlepas di ijin kan atau tidak, yang penting dia sudah mencoba. Em.. lebih tepatnya memaksa, hehe.


“Bu? Boleh saya bantu?” panggilnya pada beberapa perempuan yang sedang memasak di sana.


“Ya? Eh Nona ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang di sana saat melihat yang sedang bertanya adalah Nasha.


“Panggil saya Nasha atau Sha aja Bu, tidak perlu seperti itu,” ucap Nasha lembut.


“Saya boleh bantu masak kan?” lanjutnya lagi.


“Eh? Jangan dong No.. Nasha, lebih baik Anda menunggu saja di ruang makan, sebentar lagi makanannya juga siap,” ucap Ferna salah satu orang yang kelihatannya lebih mudah dari mereka.


“Bosen saya kalau cuma liatin aja, mending saya bantu kan,” ucap Nasha mulai berjalan menuju tempat sayur yang belum di potong potong.


“Tidak apa, kalian bisa pergi sekarang,” ucap seseorang yang dari tadi melihat dan mendengarkan percakapan tadi. Siapa lagi jika bukan Farzan.

__ADS_1


“Baik Tuan,” ucap 3 orang yang sedang bertugas di dapur. Mereka lalu pergi meninggalkan Nasha dan Farzan di sana.


“Ish.. kenapa malah disuruh pergi? Kan jadi ga enak,” ucap Nasha cemberut, sambil masih memotong beberapa sayur.


“Kan sudah di ambil alih,” ucap Farzan santai, sambil melanjutkan masakan yang tadi.


“Eh.. kenapa kamu juga ikut ikutan? Emang bisa masak?” ledek Nasha pada Farzan.


“Tidak perlu saya jawab menggunakan kata kata, cukup lihat dan nikmati masakannya nanti,” jawab Farzan dengan sedikit sombong.


“Terserah,” ucap Nasha malas meladeni.


Pada akhirnya mereka memasak bersama, setelahnya makanan tersebut di taruh dalam piring berbeda jenis dan mulai menata meja makan.


“Aku mau bersih bersih dulu ya?” ijin Nasha pada Farzan.


“Iya, saya juga akan ke kamar dulu. Baju kamu juga ada dalam lemari, nanti jika sudah waktunya baru akan dipindahkan ke kamar saya,” ucap Farzan mengijinkan karena dia juga ingin mandi terlebih dahulu.


...----------------...


Setelah mereka selesai dengan urusan masing-masing, mereka sekarang sedang duduk di meja makan dengan Farzan berada diujung dan Nasha di sebelah kirinya. Nasha mengambilkan makanan dan juga mengisi gelas yang kosong dengan air mineral, setelah itu baru dia mengisi piringnya sendiri.


Mereka mulai menyantap makanan. Dengan Nasha yang terlihat sekali sangat antusias dalam menyantap makanan yang ada di depannya. Bahkan beberapa kali dia menambah. Mungkin karena menurutnya ini merupakan makanan dengan perpaduan yang pas, jadilah dia tidak bisa mengontrol diri.


“Gimana enak kan?” tanya Farzan ketika mereka sudah menyelesaikan acara makannya.


“Untuk kali ini aku acungin jempol 2, kalau bisa yang banyak. Ini salah satu manan terenak di lidah aku, hehe,” sahut Nasha bersemangat dengan wajah konyol serta cengiran garingnya.


“Kamu ini ada ada saja,” ucap Farzan dengan kekehannya, ingin mencubit pipi tapi gengsi jadilah dia hanya meremas kedua tangannya, terlalu gemas haha.


“Tapi aku beneran kok. Kamu jago masak juga ternyata,” ucap Nasha.


“Hem.. soalnya dulu saya tinggal sendiri. Dulu keluarga kami pindah saat saya masih kecil, setelah masuk sekolah menengah atas saya memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen dan mulai bekerja tanpa sepengetahuan Mom and Dad karena saya mempunyai janji pada seseorang. Tidak semua berjalan baik, tapi saya terus mencoba agar semua berjalan baik sampai sekarang. Tapi.. ternyata semua itu tidak ada gunanya, saat semua sudah saya capai, orang yang saya cari tidak pernah saya temukan sampai sekarang. Mungkin Allah swt lebih tau apa yang saya butuh kan. Mungkin suatu saat kami dipertemukan dengan jalan kami masing-masing. Maaf saya jadi bercerita banyak. Tapi ini memang sudah jalannya dan saya benar benar mencoba melupakannya sekarang.” Ucap Farzan yang tanpa sadar menceritakan setiap hal yang dia pendam sendiri. Walau tidak sengaja memang, tapi cepat atau lambat Nasha juga harus tau kan?


“Tidak apa. Bukankah aku juga bilang jika aku dulu menunggu seseorang, tapi mungkin ini memanglah takdir kita. Mungkin sekarang kita bisa jadi lebih terbuka dengan diri masing-masing kan? Aku juga sedang mencoba,” ucap Nasha dengan senyumnya yang menenangkan.


“Ya kita jadi lebih terbuka sekarang,” ucap Farzan dengan senyuman.. kelegaan? Mungkin. Dia merasa mempunyai teman bicara sekarang. Biasanya dia irit bicara dan terkesan dingin dan datar.


“Heem..” gumam Nasha.


“Em.. tapi.. apa aku masih boleh bekerja?” ini merupakan saat yang tepat untuk bernegosiasi kan? Kesempatan dalam kesempitan, hehe.


“Tidak!” tegas Farzan datar. Bisa bisanya dia mencari kesempatan, batin Farzan sedikit kesal.


“Hehehe kan cuma nanya, sensitif banget sih,” ucap Nasha dengan kekehan yang terkesan garing.


Suasana menjadi sedikit canggung setelahnya, tapi karena Nasha tidak ingin terus begitu jadilah mereka mengobrol lagi dengan Nasha yang memulai obrolan sampai waktunya Nasha pulang kembali ke rumah orang tua Farzan. Walau sedikit melebihi waktu yang tadi mereka berdua sepakati sih.


.


.


.


tbc..


happy reading..


tandai jika ada typo, hehe..

__ADS_1


__ADS_2